
Duaaaaaaar
Duaaaaaaar
Suara ledakan terdengar "Ini sudah invasi ketiga dalam bulan ini" ujar seorang pria tak lain adalah Sir Varlino.
"Jangan banyak mengeluh Varlino, ini sudah jadi kewajiban kita sebagai Salah satu petinggi fraksi perdamaian"
Seorang pria yang menunggangi seekor naga bumi. "Aku tau tugas ku Marqus"
"Kalian berdua berhenti mengobrol pasukan iblis itu makin mendekat" teriak seorang elf dengan rambut pirang dan bertelinga runcing.
"Kami tau itu Ferdinand" dua orang itu memandang segerombolan mahluk hitam yang terbang di angkasa.
***
Saat ini Diego sedang membaca buku di perpustakaan. Perpustakaan ini cukup ramai banyak siswa yang membaca buku atau belajar di sini.
"Diego"
Sapa seseorang gadis tak lain adalah Karand. "Oh kau disini juga ya karand" sapa balik Diego.
"Kau sedang apa disini" tanya Karand duduk di depan Diego dan meletakan buku tulis nya di meja.
"Hanya membaca kau sendiri" tanya balik Karand tanpa menatap Karand. "Aku gagal di ujian tertulis dan harus mengambil kelas tambahan dan ku pikir aku bisa belajar sendiri tapi ternyata cukup sulit" keluh Karand.
"Memangnya kelas mu belum mengadakan ujian untuk persiapan akhir semester ya" tanya Karand lagi. "Belum tapi kelihatan nya tidak lama lagi kami juga akan mengadakan persiapan ujian akhir semester" Diego menutup buku nya dan menatap Karand.
"Jadi ada yang bisa ku bantu" tanya Diego. "Setelah perdebatan kemarin kau akhirnya mengerti aku jadi terharu" ucap Karand dengan antusias.
"Ya begitu lah, lagi pula aku juga ingin tau seperti apa ujian nya" jawab Diego dengan santai.
Setelah itu Karand menjelaskan beberapa soal yang di ingat dan selebihnya Diego menjelaskan kembali pelajaran kepada Karand.
"Permisi"
Diego dan Karand menoleh ke arah sumber suara. Seorang pemuda berambut hitam dengan rambut yang sudah sedikit memutih.
"Maaf aku mendengar penjelasan mu tadi, penjelasan mu sangat mudah di pahami bagaimana kalau aku dan teman ku bergabung belajar bersama kalian"
"Tentu saja"
Diego menghelai nafas pelan karena Karand menjawab tanpa pikir panjang sama sekali.
Pemuda itu duduk di samping karand "oh iya perkenalkan nama ku Petra" ujar pemuda itu.
__ADS_1
"Nama ku Karand dan dia Diego" karand memperkenalkan diri nya dan Diego.
"Petra" panggil seorang perempuan yang tak lain adalah Abigail Clancy. "Ayo Abigail kita akan belajar bersama mereka" perempuan dengan rambut hitam di kuncir kuda dengan kulit serta mata berwarna coklat.
Abigail duduk di samping Diego namun pemuda berambut biru itu hanya fokus mengajari karand.
"Ayo lah Diego apa kau bisa sederhana kan kata kata mu semua orang memiliki kapasitas otak yang berbeda beda" gerutu Karand.
"Semua orang memiliki kapasitas yang berbeda beda karand tapi kau harus berkonsentrasi dalam menyimak penjelasan ku" ujar Diego kemudian diam sejenak.
"Berikan aku buku mu" ujar Diego.
Karand langsung memberikan buku nya tanpa bertanya lagi. Diego menyobek beberapa kertas dan memotong nya menjadi beberapa bagian dan menulis beberapa kata.
Diego juga membuatkan jadwal belajar untuk karand. "Karand apa kau pernah mendengar istilah orang yang rajin bisa mengalahkan orang pintar" tanya Diego.
Perempuan berkulit sawo matang itu mengangguk "jadi lah orang yang rajin itu sudah cukup".
"Metode belajar yang bagus kau mencatat rune sihir di kertas untuk lebih mudah di hapal" Petra akhirnya buka suara.
Diego bangkit dari tempat duduk "mau kemana" tanya Karand. "Mau mengembalikan buku buku ini" ujar Diego sambil menujuk buku yang di baca nya tadi.
"Oh biar kan aku saja kebetulan aku juga ingin mengambil buku" Petra mengambil buku dari tangan Diego dan berjalan pergi.
"Apa apaan dia" gumah Diego kesal.
Diego menghelai nafas pelan dan duduk bersandar dikursinya. Sekarang ini yang tersisa hanya Diego dan Abigail dalam kesunyian.
Abigail sesekali melirik Diego yang sedari tadi hanya membaca buku. "La...la...lama tak bertemu" ujar Abigail gugup.
"Ya lama tak bertemu bagaimana kabar mu" jawab Diego tanpa menoleh sedikit pun.
"Aku senang bisa bertemu dengan mu lagi" Abigail menatap Diego. "Aku minta maaf" ujar Abigail lagi.
"Kenapa" tanya Diego singkat tanpa memandang Abigail sedikit pun.
"Karena perlakuan ku dan ibu ku di masa lalu" Abigail berhenti sejenak. "Aku sekarang paham rasa nya di campakan dan di anggap berbeda" ujar Abigail.
"Begitu kah" jawab Diego singkat.
"Terus bagaimana kamu bisa kembali ke dunia ini" ujar Diego membuat Abigail terkejut. "Bagaimana kamu tau" ujar Abigail waspada.
"Karena aku menyaksikan semua nya saat penyerangan iblis di hari itu" ujar Diego santai.
Abigail terdiam sejenak "maafkan aku".
__ADS_1
"Andai kata maaf itu bisa mengembalikan ibu ku" Diego tertawa kecil.
Abigail terdiam sejenak ia sadar apa yang sudah ia dan ibu nya perbuat pada ibu Diego dan Diego. "A...aa...aku....aku akan mengabulkan satu permintaan mu Diego, aku akan memenuhi nya" ujar Abigail memandangi saudara tirinya itu.
"Kenapa tiba tiba sekali" tanya Diego dengan nada menyelidik.
"Aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita ku pikir hanya itu yang bisa ku lakukan" Abigail terdiam sejenak.
"Baiklah ku rasa aku bisa menerima nya, baiklah permintaan ku adalah jangan pernah temui aku lagi"
"Kenapa begitu kita kan saudara kenapa aku tidak boleh menemui kamu" Abigail terang terangan menolak permintaan Diego itu.
"Karena itu akan jadi masalah untuk ku dan untuk mu, ayah mu tidak akan membiarkan kita bertemu apa lagi sampai identitas kita terbongkar bisa bisa masa depan mu suram karena ku"
"Ba..ba..baiklah aku akan menghormati keputusan mu" ujar Abigail kecewa.
Abigail bangkit dan berjalan pergi meninggalkan Diego dengan mata yang berkaca kaca.
"Kau bisa keluar sekarang Petra" ucap Diego.
"Kenapa kau tidak memaafkan nya Diego, aku tau masa lalu kalian berdua cukup buruk tapi sebagai teman Abigail aku melihat diri nya berjuang mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan mu harus nya kau menghargai itu" Petra berjalan mendekati kursi yang di pakai Abigail tadi.
"Aku titip Abigail pada mu, perlu kau tau aku sudah memaafkan mu tetapi dendam ku pada James tidak akan pernah padam"
"Aku ingin kau di sana untuk menyaksikan aku memenggal kepala pria bajingan rendahan itu"
"Suatu saat nanti tetapi yang pasti itu tak akan lama lagi" Diego mengambil buku karand kemudian bangkit dan berjalan pergi meninggalkan Petra.
Petra tersenyum kecil "pemuda yang menarik" gumah Petra.
***
Ia dan karand saat ini sedang berjalan di lorong sekolah. Sejak keluar dari perpustakaan karand terus bercerita tentang toilet berhantu di toilet perpustakaan.
"Kenapa ramai sekali" tanya Karand.
"Entah lah tapi mari kita lihat" ujar Diego sedikit tertarik.
Mereka pun menerobos kerumunan siswa yang menghalangi jalan mereka. Sumber kehebohan ini berasal dari sebuah gedung yang tak lain adalah gedung pertandingan antar siswa.
Saat melihat asal muasal kehebohan tersebut. Sebuah senyum terukir di wajah Diego.
"Luar biasa dia bisa mengalahkan semua murid berlambang atas"
"Dia itu monster"
__ADS_1
Saat ini Samuel berdiri di tengah kobaran api yang mengelilingi dirinya. Di luar kobaran api itu terlihat sekumpulan murid yang terluka para.
"Burung yang biasa hanya melihat dari dalam sangkar akhirnya terbang , terbang tinggi dan jauh dari sarang lalu mendapatkan kekecewaan, aku tidak sabar bertarung dengan mu Samuel"