
...Part 1...
Seorang pemuda berambut biru dengan kedua mata yang di perban oleh kain putih. Pemuda itu memakai celana dan baju kaos yang berwarna hitam dengan baju kemeja berwarna hitam berlengan panjang.
"Horeee akhirnya Diego sembuh" seru seorang wanita berseru dengan riang gembira.
"Sophia jangan berteriak di rumah sakit nanti pasien yang lain terganggu hmmp" seorang wanita dengan rambut model Bob berwarna perak yang memakai bando kuning sedang duduk di sofa sambil menikmati secangkir kopi.
"Tenang saja Stella aku ini adalah suami Dokter Oliver Direktur rumah sakit ini jadi aku bisa melakukan apa saja di sini" ujar Sophia membusungkan dada nya dengan bangga.
"Dari dulu aku bingung kenapa Oliver mau dengan gadis seperti mu" Stella menghirup kopi nya. "Mudah saja Stella karena cinta itu saling melengkapi Oliver adalah orang pemurung dan kutu buku jadi dia membutuhkan ku yang cantik dan asik ini untuk menjadi suami nya"
"Dasar narsis" cibir rekan kerja nya itu.
"Jika memang sesederhana itu mungkin ibu ku masih hidup sekarang" Diego tertawa kecil membuat Stella mau pun Sophia merasa tidak enak telah mengungkit penyebab kematian ibu pemuda berambut biru itu.
"Baiklah aku akan pergi berkeliling kota untuk melatih kemampuan melihat ku yang baru" Hembusan angin yang cukup kuat muncul dari Diego.
"Diego kamu harus melatih pengendalian mana mu lagi" Stella melihat menggunakan skill nya untuk melihat aliran mana di tubuh Diego.
"Aku mengerti" jawab Diego singkat.
Diego menarik nafas dalam dalam kemudian membuang secara perlahan. Perlahan hembusan angin itu menjadi lebih pelan dan teratur.
Di kepala Diego perlahan tergambar kondisi di sekitar diri nya. Ruangan ini terdiri dari satu tempat tidur dan lemari pakaian lalu ada sebuah sofa diruangan ini ada dua orang yang sudah pasti Tante Sophia dan Tante Stella.
Tiba tiba puluhan benda dan kejadian tergambar di kepala Diego membuat ia langsung menghentikan teknik nya itu.
Diego terengah-engah kemudian mengatur nafas nya kembali "apa semua nya baik baik saja Diego" tanya Tante Stella.
"Iya Tante hanya saja aku sangat terkejut melihat berbagai hal memasuki kepala ku secara bersamaan" Diego menarik nafas dan menghembuskan nya dengan lega.
"Aku akan mencoba nya di luar " Diego berjalan dengan hati hati karena ia masih belum terbiasa dengan indra pengelihatan nya yang baru.
"Aku pergi dulu Tante Stella Tante Sophia" Diego berjalan meninggalkan kamar perawatan.
Diego berjalan di lorong rumah sakit sambil mengatur sihir angin yang ia keluarkan.
Kelelawar tidak memiliki pengelihatan yang baik namun ia tidak akan menabrak saat terbang di malam hari.
Kelelawar memiliki kemampuan sensorik yang sangat bagus. Dia memancarkan gelombang ultrasonik dari mulut nya
Gelombang ultrasonik nya itu akan memantul jika mengenai suatu objek.
Diego mencoba menerapkan metode itu pada diri nya. Sebenarnya dia bisa saja menyuruh Batsy untuk terbang di sekitar diri nya tapi ia harus melatih teknik ini agar tidak bergantung terus pada nya.
Dalam hal ini Diego mengganti gelombang ultrasonik dengan sihir angin nya
Metode nya hampir mirip seperti gelombang ultrasonik milik kelelawar. Jika gelombang ultrasonik kelelawar memantul saat mengenai objek tetapi sihir angin nya akan melewati semua objek yang di lalui nya.
Lalu Diego bisa merasakan objek objek yang harus ia hindari dan tak perlu khawatir untuk menabrak.
"Eeh Diego"
Diego berhenti berjalan ia mengenali pemilik suara itu. "Karand kau kah itu" tanya Diego memastikan.
"Kenapa kau berkeliaran di sini" tanya Karand mengabaikan pertanyaan Diego.
"Aku sudah pulih dan sudah boleh pulang" jawab Diego singkat.
"Begitu ya padahal aku mau menjenguk mu" gerutu Karand. "Aku sudah susah payah menolak semua ajakan teman teman ku agar aku bisa menjenguk mu"tambah nya.
Diego tersenyum kecil "kau sangat populer ya Karand" ujar Diego.
"Tidak juga tapi apa kau benar benar sudah pulih padahal aku sudah membawa banyak makanan untuk mu" Karand menghelai nafas dengan kecewa.
"Maaf kalau begitu" jawab Diego singkat.
"Kenapa kau minta maaf lagian kamu mau kemana" Karand baru memperhatikan pakaian Diego yang sangat rapih
"Aku mau berkeliling kota melatih pengelihatan baru ku apa kau mau ikut" tanya Diego.
...Part 2...
Karand terdiam sejenak "sebenarnya aku ingin membicarakan sesuatu dengan mu" ujar Karand pelan.
"Tapi karena kau baru saja pulih , mari kita rayakan " Karand berseru dengan semangat.
Diego tersenyum kecil dia memang gadis yang unik. Mereka berjalan meninggalkan rumah sakit "Diego" panggil Karand tiba tiba.
"Ada apa" tanya pemuda biru itu.
"Jadi bagaimana dengan pengelihatan baru mu" Karand memandang pemuda berambut biru itu dengan penasaran.
"Tadi sebelum kita bertemu aku sudah mencoba nya dan bisa di bilang percobaan pertama lumayan mengagetkan " Diego memang cukup kaget saat muncul denah kota kaum dikepalanya.
"Diego seperti apa pengelihatan mu yang baru itu" tanya Karand dengan santai.
"Hitam tapi aku bisa merasakan lingkungan di sekitar ku" pemuda berambut biru itu dapat mengetahui hal tersebut karena angin nya melewati objek yang berada di sekitar nya.
Sebenarnya ia tidak mengetahui dengan pasti apa saja yang ada di sekitar nya.
"Kamu benar benar jenius Diego pantas saja kamu bisa menjadi petualang" ujar Karand.
Mendengar perkataan gadis itu membuat ia teringat beberapa kenangan lama. "Aku tidak jenius tetapi sedang mencari cara untuk bertahan hidup....lagi pula aku mendapatkan banyak pengalaman saat menjadi petualang" Diego tersenyum kecil ia kembali teringat saat dia bertemu dengan orang yang berbeda beda dan mendapat berbagai pelajaran cara bertahan hidup dari mereka.
"Diego ayo makan di bawah pohon itu" sebuah tangan yang sedikit kasar dan hangat meraih tangan pemuda berambut biru itu.
Setelah itu mereka berjalan menuju pohon yang di tuju. Sesampainya di sana Diego mencoba menganalisis tempat tersebut.
"Diego sebenarnya baru baru ini aku dan party ku mengambil misi petualang" Karand berhenti sejenak "Tapi misi kalian berakhir dengan kegagalan dan memakan korban kan" Diego tau betul dengan hal seperti itu.
"Kenapa kau bisa tau" tanya Karand singkat.
"Itu sudah biasa terjadi pada petualang pemula Karand, biasa nya orang orang seperti itu kurang persiapan, terlalu menganggap enteng misi, lalu party yang berisi pemula dan tak memahami apa yang di hadapi" mendengar itu Karand terdiam kemudian bangkit "maaf aku baru teringat kalau aku ada janji dengan teman ku" Karand hendak bangkit dan pergi.
"Biasa nya jika ada anggota party yang selamat mereka akan mencari pembenaran yang mereka ingin kan dan menolak semua fakta , aku sudah sering melihat hal itu Karand. biasa nya mereka yang selamat berhenti menjadi petualang atau bergabung dengan party lain yang lebih berpengalaman" Diego tersenyum kecil.
"Aku tidak bisa mengatakan bahwa kamu datang ke orang yang tepat tapi aku bisa membantu mu menjadi lebih kuat agar bisa bertahan hidup saat menjadi petualang" mendengar hal itu Karand membulatkan mata nya dan berbalik menghadap Diego.
"Bagiamana cara nya Diego ?! beritahu aku ? Apa pun akan ku lakukan" desak Karand.
__ADS_1
"Baiklah tapi kita harus ke asrama ku terlebih dahulu untuk mengambil sesuatu, sekarang tenang kan diri mu dan terima fakta bahwa kau adalah satu satu yang selamat dari party mu" Karand duduk dan memangku keranjang nya kemudian memberikan roti lapis pada Diego.
Diego menerima nya dan memakan nya dengan lahap "asin" ujar Diego. "Itu buatan Kaisha" jawab Karand singkat.
"Diego sejak kapan kau menjadi petualang" tanya Karand.
"Sejak umur sepuluh tahun"
"Bukan kah itu terlalu muda setau ku ada aturan usia untuk menjadi petualang"
Diego terdiam sejenak "awal nya aku menjadi pendukung petualang lalu saat umur ku sepuluh tahun aku baru menjadi petualang resmi" ujar Diego.
"Pendukung petualang maksud mu orang yang bertugas membantu petualang membawa barang barang mereka" Karand menatap pemuda yang mata nya di perban itu.
Diego mengangguk pelan
***
Seorang anak laki laki berusia tujuh tahun sedang duduk bersandar di sebuah dinding.
"Permisi apa kamu Diego"
Anak laki laki itu mengangkat kepala nya dan mendapati seorang elf berkulit hitam dengan rambut putih.
"Iya benar apa kamu mau memakai jasa ku" tanya Diego dengan antusias.
"Iya benar staf guild merekomendasikan mu pada ku, apa kamu mau bekerja dengan kelompok ku" tanya Dark elf itu.
"Tentu saja" jawab Diego tanpa pikir panjang.
Diego bangkit dan mengambil tas sangat besar namun Diego dengan mudah nya mengangkat tas tersebut.
Mereka berjalan menuju sebuah menara raksasa yang menjulang tinggi ke langit.
"Itu Dia kelompok ku Diego"
Diego mengikuti tunjuk dark elf itu. Ia melihat seorang Beastman singa putih yang bertubuh besar dengan surai putih dan mata berwarna emas dipunggungnya terdapat sebuah pedang besar.
Ada seorang wanita Dwart yang membawa tongkat sihir dengan kristal berwarna ungu di atas nya.
Lalu seorang pria manusia yang berambut hitam dengan sebuah tombak berwarna hitam di tangan nya.
Lalu ada seorang wanita berambut merah muda dengan armor hitam dan sebuah perisai besar berwarna hitam.
"Teman teman, aku sudah membawa orang yang direkomendasikan guild pada kita perkenalkan namanya Diego"
"Ya ampun ternyata seorang anak kecil" ujar Wanita berambut merah muda itu.
"Bercermin lah Mars kau juga seorang anak kecil"ujar sang Beastman singa putih itu.
"Jaga ucapan mu kucing berbulu" seru wanita bernama Mars itu.
"Sudah lah Leois jangan bandingan umur Beastman dengan manusia Marsh itu sudah dua puluh tahun lho walau bagi kita itu masih anak anak" ujar wanita dwart itu.
"Sena sama saja" teriak gadis itu.
"Maaf ya kelompok ku memang seperti ini" ujar dark elf itu.
"Selamat datang di party Tetra Fang"
Diego terdiam sejenak "perkenalkan nama ku Diego Bal.....maksud ku perkenalkan nama ku Diego aku seorang Arrow semoga bisa membantu petualangan kalian" setelah itu suasana hening sejenak.
"Baiklah karena semua orang sudah berkumpul mari kita memulai petualangan ini" ucapan Joe disetujui oleh semua anggota party Tetra Fang.
"Bagaimana dengan rencana, persiapan dan sebagainya" tanya Diego. "Hm benar juga tapi karena kami baru tiba di kota ini jadi lebih baik kita meninjau terlebih dahulu Dungeon ini" ucapan Joe membuat anak berambut biru itu tersenyum kecil.
"Aku sudah pernah mendampingi beberapa party petualang ke Sky Tower bisa di bilang aku mengetahui banyak hal tentang Dungeon Sky Tower" ucapan Diego membuat semua anggota ber'oh' ria.
"Baiklah Diego bisa kau jelaskan tentang Dungeon Sky Tower" pinta Joe.
Diego mengangguk kemudian meletakkan tas nya di tanah dan mengambil sebuah gulungan kertas. Diego berjalan dan membentangkan gulungan kertas itu di tanah.
"Ini adalah peta Sky Tower yang ku buat" semua orang membulatkan mata nya melihat hal itu.
"Kau pasti sangat jenius bisa membuat peta di usia yang begitu muda" Sena yang seorang Dwart sangat akrab dengan hal hal yang berbau kerajinan sejak kecil ia selalu berlatih membuat peta untuk memudahkan memetakan tempat yang memiliki bahan baku membuat kerajinan.
"Tidak kok aku di ajari oleh teman ku yang juga seorang pendukung petualang"
"Dia pasti sangat jenius" tambah Sena.
"Benar dia itu sangat luar biasa" Diego tersenyum kecil. "Sky Tower adalah Dungeon yang masih penuh misteri menurut sejarah Dungeon ini sudah ada sebelum kota ini di bangun bahkan ada rumor yang mengatakan kalau Dungeon ini adalah istana salah satu jendral raja iblis tapi terlepas dari asal usul yang tak jelas Dungeon ini adalah tambang penghasilan bagi para petualang"
Semua orang setuju dengan kata kata anak itu. Dungeon yang masih banyak memiliki misteri adalah sumber penghasilan terbesar bagi petualang.
Apa pun yang mereka temukan akan berpengaruh pada reputasi sebagai petualang.
"Namun jika di lihat dari Dungeon pada umum nya maka aku berani berasumsi jika Dungeon ini mempunyai tiga tingkatan seperti Dungeon lain nya"
"Sudah berapa lantai yang berhasil di taklukan dan yang berhasil di buka" tanya Maru tiba tiba. "Untuk lantai yang di taklukan baru ada lima tapi untuk yang berhasil di buka sejauh ini belum ada" jawaban Diego membuat Maru sedikit bersemangat.
"Walau pun hanya meninjau Dungeon berarti keselamatan kita juga di pertaruhkan" ujar Mars menatap peta buatan Diego itu.
"Arti nya kita harus mempersiapkan semua nya dengan matang dari persenjataan sampai perbekalan bagaimana mana menurut mu Joe" tanya Leois.
"Benar Dungeon ini sangat berbahaya dan tak boleh diremehkan bagaimana kalau kita bersiap terlebih dahulu" tanya Joe pada anggota party nya.
"Tapi bagaimana jika ada orang yang berhasil lebih dulu membuka lantai nya" tanya Maru.
"Keselamatan kita lebih penting dari uang Maru" tegur Sena.
"Baiklah mari kita bersiap terlebih dahulu dua hari lagi kita akan menjelajah Dungeon ini" Semua orang mengangguk setuju.
Party Tetra Fang kemudian menyiapkan berbagai hal mulai dari persenjataan , gulungan mantra sihir, lalu obat obatan sampai racun dari alkemis dan perbekalan.
Dua hari kemudian Diego sedang berdiri di gerbang Dungeon Sky Tower. "Diego" anak berambut biru itu kemudian berbalik dan mendapati party Tetra Fang sudah datang.
"Petualangan di mulai"
...Part 3...
Setelah melakukan persiapan terakhir Diego dan Party Tetra Fang langsung memasuki Dungeon ini.
__ADS_1
"Diego boleh aku bertanya" tanya Mars. "Iya tentu saja Nona Mars" jawab Diego.
"Kenapa kamu tidak gunakan peta nya"
"Aku tidak mau mengacaukan petualangan kalian aku akan menggunakan peta saat kita terdesak saja" teman Diego yang mengajari diri nya menjadi pendukung petualang mengatakan bahwa tugas mereka hanya mendampingi dan mendukung petualang bukan menuntun mereka dan mempermudah mereka.
"Begitu ya" ujar Mars terlihat kecewa.
Mereka sekarang mulai memasuki dungeon. Walau sudah beberapa lantai yang taklukan bukan berarti monster-monster didalamnya ikut ditaklukan.
Dungeon adalah sarang monster jika kau mengalahkan monster di dalam Dungeon. Monster itu akan bangkit dengan perasaan kebencian dan dendam karena sudah dikalahkan.
Bukan hanya petualang dan monster yang bertarung di dalam Dungeon. Sesama monster Dungeon pun mereka saling bertarung.
Dungeon pun juga menjadi salah satu ancaman bagi petualang itu sendir karena tempat ini memiliki banyak jebakan.
Saat ini kelompok Tetra Fang sudah di sambut oleh puluhan monster kelinci berwarna putih dengan mata merah dan bertanduk perak.
"Rabbit Cursed"
"Kau tau mereka Diego" tanya Joe. "Iya mereka adalah yang terburuk di lantai satu sky tower" perkataan Diego membuat kerutan di dahi sang dark elf.
"Oh iya mereka itu mahluk yang hidup bergerombol dan mempunyai bos bernama Big Rabbit Boxing Cursed yang biasa nya bersembunyi di sekitar rabbit cursed yang sedang bertarung"
"Oh ayo lah Diego jangan memperkeruh suasana" teriak Leois.
"Kau sendiri diam lah bola bulu lihat lah mereka menuju ke arah kita" teriak Mars.
"Maru Leois maju habisi mereka Sena siapkan mantra sihir mu dan Mars halangi kelinci yang berhasil lolos dari Maru dan Leois aku akan melindungi sisi buta kalian"
"Baik"
Diego berjalan mundur "kerja sama tim yang bagus tapi Rabbit Cursed juga monster yang selalu bekerja sama dalam hal apa pun" Diego mengumpulkan beberapa batu kerikil.
Teman nya pernah mengajari untuk menjadikan lingkungan sekitar sebagai senjata.
Contoh paling kecil adalah memasukkan sihir ke dalam kerikil dan lempar ke target yang di tuju namun ia mengurungkan niatan membantu party tersebut.
Pertarungan party petualang Tetra Fang dan kelompok rabbit cursed di mulai.
Maru menggunakan tombak yang cukup ringan sehingga membuat diri nya bisa bergerak lebih efisien dan berhasil membunuh banyak rabbit cursed.
Namun tidak dengan Leois dia menggunakan pedang besar dan gaya bertarung nya lebih menonjolkan kekuatan belum lagi tubuh besar membuat dia menjadi sasaran empuk bagi rabbit cursed.
Sesuai yang Joe katakan, dark elf itu melindungi titik buta dari Leois dan Maru.
Sedangkan Mars menghadapi beberapa rabbit cursed yang lolos dari pandangan Leois dan Maru.
Puluhan bulir air bermunculan di udara dan bergerak ke satu titik menjadi bola air raksasa.
"Terima ini kelinci sialan" teriak sang Dwart. Bola air raksasa itu meledakan dan menyebarkan puluhan belati air yang menghabisi seluruh rabbit cursed.
"Apa sudah selesai" ujar Mars
"Tidak itu hanya gelombang pertama ayo pergi dari sini Big rabbit Boxing Cursed sebentar lagi akan keluar" Diego langsung berlari mendekati Mars dan memungut beberapa kepala rabbit cursed dan mematahkan tanduk nya dan mengambil mata merah milik kelinci itu.
"Cepat tunggu apa lagi ikuti aku" Diego berlari di ikuti Joe dan party nya.
"Kelinci itu mengejar" seru Sena panik melihat puluhan kelinci mengejar mereka.
Tiba tiba lantai berguncang membuat bebatuan tajam yang ada di langit berjatuhan.
"Astaga Dungeon ini benar benar gila apa ini benar benar lantai satu" teriak Mars.
Tiba tiba seekor kelinci melompat di atas kepala mereka. Kelinci dengan tinggi sekitar dua meter dengan sebuah sarung tinju di kedua tangan nya.
"Sialan bos nya mendatangi kita secara langsung" gerutu Diego.
"Mau bagaimana lagi kita akan bertarung" ujar Joe. Diego terdiam sejenak 'bagaimana sekarang'
"Diego " panggil Joe.
Diego menoleh pada pria dark elf itu. "Kami ini adalah party petualang yang berisi petualang berperingkat perak dengan empat bintang jadi kami ini cukup kuat lho" Diego memejamkan mata ia kembali mengingat wajah teman nya itu.
Diego membuka mata "aku akan membantu kalian sebisa ku jadi berjuang lah" ucap Diego.
"Baiklah Maru kau hadapi kelinci-kelinci itu dan aku akan melindungi mu dari belakang seperti biasa, Leois dan Mars Sena kalian ajak kelinci besar itu bermain sebentar sampai kami selesai mengurus gerombolan kelinci itu" teriak dark elf itu.
"Baik" teriak semua orang.
Pertarungan kembali di mulai. Seperti ia bisa memahami kenapa Joe yang berlambang Arrow bisa menjadi ketua party.
Pria itu memiliki kemampuan dalam mengambil keputusan yang cepat dan tepat untuk kelompok nya.
Diego memperhatikan pertarungan ini. Pertarungan yang cukup seimbang Maru dan Joe menghabisi banyak Rabbit Cursed sedangkan kelompok Leois lebih unggul karena ada Sena yang menggunakan sihir.
Diego kembali batu kerikil dan memasukan sihir nya ke dalam batu tersebut kemudian melemparkannya ke arah seekor rabbit cursed.
"Lemparan yang cukup bagus Diego , teman teman ayo kita pergi " seru Joe. "Baik" teriak Mars.
"Terima ini kelinci sialan" Leois menendang tubuh Big rabbit Boxing cursed.
"Sekarang bocah pink" teriak Leois.
"Aku sudah dua puluh tahun dasar bola bulu!!! Skill ketiga Lord Guardian!!!"
Sebuah tembok raksasa muncul lalu Mars meninju tembok itu. Tembok itu melesat dan menghimpit Big rabbit Boxing cursed.
"Ayo pergi semua nya aku tidak tau seberapa lama dinding ini bisa menahan makhluk itu, ini kesempatan untuk kita kabur" Mars , Leois dan Sena berjalan menjauh dari dinding itu.
"Akhirnya selesai juga ayo pergi" ajak Sena.
Diego mengumpulkan beberapa tanduk dan mata Rabbit Cursed. "Kenapa kau mengambil mata mereka juga" tanya Joe.
"Mata ini mempunyai cairan yang dapat membuat mahluk yang memakan menganggap musuh sebagai teman nya"
"Itu sangat luar biasa tapi dari mana kamu mengetahui nya" tanya Sena tertarik.
"Aku mendengar itu dari petualang di guild Sky Tower" Diego memasukan bola mata dan tanduk Rabbit Cursed itu ke kantung yang berbeda.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan" ajak Joe
__ADS_1