The Seven

The Seven
Pertempuran Di Mall Kota Kaum (Part 3)


__ADS_3

...Part 1...


"Tapi bukan kah menangis tak menyelesaikan masalah" Abigail memeluk pria yang menjadi ayah angkatnya sejak ia kembali ke dunia ini.


"Memang benar tapi setelah menangis bangkitlah dan selesaikan masalah mu" sir kaizer tersenyum lalu gadis itu menangis tersedu sedu membenamkan wajah di dada bidang miliknya.


"Aku....aku tak bisa menyelamatkan mereka....kenapa orang orang itu merenggut nyawa orang tak bersalah kenapa....hiks...hiks...hiks....kenapa sir apa yang mereka perbuat sehingga orang orang berjubah hitam itu membunuh mereka"


Abigail menumpahkan seluruh emosi nya pada sir kaizer. "Cup... cup....Abigail anak baik kan jadi berhenti menangis sekarang" Abigail menatap guru sekaligus ayah angkat nya.


"Sekarang ayo kita cari orang orang jahat itu dan tendang pantat mereka" sir kaizer tersenyum kecil.


"Tapi aku tidak bisa mengaktifkan semua lambang sihir ku" Abigail kembali murung.


"Tenang saja aku disini bersama mu" ujar sir kaizer. Setelah cukup tenang mereka akhirnya melanjutkan perjalanan mencari tempat yang dijadikan pemanggilan.


Abigail menatap punggung pria itu. Dia sosok pria yang menjadi ayah angkat nya sejak ia kembali ke dunia ini.


***


Di sebuah ruangan terdapat meja dengan lebar lima puluh sentimeter dan panjang enam puluh sentimeter lalu dengan tinggi tujuh puluh lima sentimeter di setiap sisi nya terdapat pembatas yang terbuat dari papan kayu.


Meja meja itu dikelilingi oleh rak yang di penuhi oleh buku. Seorang pria tua sedang duduk di meja resepsionis sambil menikmati secangkir kopi.


Di dekat pria itu tertempel sebuah kalender September 1989 di dinding.


Di luar sana puluhan bulir air sedang menghujani tanah yang merindukan dirinya lalu di lengkapi dengan sebuah lantunan orkestra alam.


"Hujan ini semakin deras seharusnya kamu sudah pulang beberapa jam yang lalu Abigail" pria bersandar di kursi kayu kesayangan nya.


Perempuan berambut hitam panjang berkuncir kuda menutup buku yang ia baca dan memundurkan kursi nya.


"Memangnya kenapa lagi pula tidak ada salah nya menghabiskan waktu di perpustakaan" Abigail memandang pria tua itu.


"Ini sudah jam dua belas malam kamu harus segera tidur nanti kamu akan terlambat sekolah aku juga yang akan repot nanti" pria itu menggerutu melihat perilaku gadis yang selalu berkunjung keperpustakaan tak tau waktu.


"Apa anda percaya dengan karma pak" tanya Abigail. "Kamu pasti akan membicarakan tentang perbuatan mu pada saudara tiri dan ibu tiri mu kan" pria itu tertawa kecil kemudian mengangkat gelas nya yang berisi kopi.


"Aku sudah mendengar cerita itu tiga ratus enam puluh satu kali Abigail, aku paham betul apa yang akan kamu bicara kan" pria tua itu menghirup kopi nya.


Abigail tertawa garing "lalu apa kamu percaya dengan dunia lain" tanya Abigail lagi.


"Percaya"


"Kenapa bapak percaya" tanya Abigail dengan antusias.


"Ada nama nya alam kematian, lalu tempat kita tinggal sekarang alam dunia kemudian alam sebelum kita lahir di dunia ini" jawab pria itu kemudian ia meletakan gelas nya di tempat semula.


"Bukan yang seperti itu pak tua maksud ku seperti dunia sihir dan hewan dalam dongeng seperti naga , unicorn , pegasus dan masih banyak lain" Abigail bangkit dari duduk nya dan berjalan mendekati pria tua itu.


"Kamu terlalu banyak membaca novel Abigail itu hanya karangan imajinatif seorang penulis karena kisah yang menarik banyak orang yang mengembangkan kisah itu dan membuat kisah kisah yang sekarang di kenal sebagai legenda dan mitos" tiba tiba lantai bersinar terang.


"Eh apa yang terjadi" seru pria itu melihat ada sebuah lingkaran dengan tulisan yang tak dimengerti oleh nya.


Abigail berada tepat di tengah lingkaran itu. "Jangan jangan ini" Abigail membulatkan matanya dan menjatuhkan rahang nya.


"Abigail pergi dari sana" teriak pria tua yang diketahui bernama Hardi. "Pak Hardi apa anda bisa menjaga rahasia" tanya Abigail kemudian tersenyum.


"Apa maksud mu Abigail"tanya pria itu panik. "Aku tidak lahir di dunia ini , aku hanya pendatang" Abigail berhenti sejenak.


"Anak muda jangan berbelit-belit, apa yang terjadi sekarang" tanya pak Hardi.


"Terima kasih sudah mau menjadi teman ku pak Hardi, di dunia ini aku sendirian semua orang yang ku kenal berada di dunia lain"


"Aku senang sebentar lagi aku akan bertemu dengan mereka"


"Tapi aku juga sedih" air mata mengalir di pipi Abigail. "Karena aku akan meninggalkan Pak Hardi, satu satu orang yang tidak menganggap ku monster"


"Pemerintah dari berbagai negara memperebutkan diriku dan meneliti tubuh ku, aku kabur dari laboratorium dan berakhir di laboratorium lain aku senang saat bertemu dengan mu kau tidak menganggap ku monster kau mengulurkan tangan pada ku, menjadi wali ku dan menyekolahkan aku walau di sekolah diriku selalu di bully dan anda terkadang tak bisa membela diriku , aku senang saat anda memeluk dan berkata 'tenang Abigail ada aku disini , aku akan selalu ada untuk mu' aku sangat senang saat kita bersama sama memancing di sungai lalu menggarap sawah miliki juragan dan mendapat upah berupa beras dan makanan pokok lain nya" Abigail mengusap air mata nya dengan lengan baju nya.


"Bapak Hardi Wijaya mantan narapidana namun sangat baik kepada gadis kecil yang menjadi subjek eksperimen pemerintah , ia mengulurkan tangan kepada anak itu, lalu ia memeluk nya saat gadis itu merasa sedih dan ia membesarkan gadis itu selama tiga tahun seperti anak sendiri, Pak Hardi terima kasih banyak" Abigail bersujud di depan pak Hardi.


Pak Hardi tersenyum mata nya berkaca-kaca "awal nya aku dibebaskan dengan syarat yaitu aku harus membunuh mu tapi aku.......aku merasa heran kenapa gadis seperti diri mu harus dibunuh, aku kabur dari misi ku dan hidup bersama mu membesar mu bagai anak ku sendiri"


Abigail terkejut mendengar pernyataan pak Hardi "maaf aku berbohong pada mu tapi asal kau tau selama dua tahun terakhir bersama mu benar benar menyenangkan"


"Pak Hardi"


Abigail tak kuasa menahan tangisnya. "Saat sampai di dunia mu, pertama cari lah saudara tiri mu dan minta maaf ajak dia mulai semua dari awal lagi lalu aku titip sebuah tinju untuk ayah mu , mendengarkan dia selalu memperlakukan ibu tiri mu dengan kasar membuat ku naik pitam" Pak Hardi tersenyum kecil dan melambaikan tangan nya.


Abigail mengangkat tangan nya dan melambaikan tangan nya. Lingkaran sihir itu bercahaya terang membuat Pak Hardi menutup mata nya.


Perlahan cahaya itu meredup Pak Hardi membuka mata nya dan mendapati Abigail sudah tak ada di sana.


"Sampai jumpa Abigail si anak ajaib" ia tersenyum kecil. Tiba tiba terdengar derap langkah kaki di luar perpustakaan.


Ia tersenyum kecil kemudian tertawa terbahak "hahahahaha rezim ini benar benar meremehkan aku" pak Hardi berjalan menuju kotak besar yang ada di dekat rak buku.


Tangan pria yang sudah keriput itu membuka kotak itu. Saat kotak itu terbuka terlihat puluhan pistol , senjata api, granat dan beberapa senapan.


Pria tua itu membawanya menuju salah satu meja. Ia mengambil jaket hitam dan memasukan tangan nya ke kantung jaket itu.


Lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi rokok dan sebuah korek api.


"Hardi Wijaya menyerahlah kau sudah terkepung keluarlah dan angkat tangan mu"


Pak Hardi tertawa dan kemudian menyalakan rokok nya lalu menghembuskan asap nya.


"Aku benar benar benci dengan rezim yang sudah mengkhianati ku jadi aku tidak akan pernah melakukan apa yang kau suruh" pak Hardi mengambil beberapa granat dan pistol serta senjata apa dan beberapa senapan lain nya.


"Abigail sudah pergi artinya aku bebas bertarung sampai mati" pria itu tersenyum dan berjalan menuju pintu kemudian membuka nya.


"Selamat malam anjing anjing rezim"


...Part 2...


Abigail menutup matanya karena cahaya yang menyilaukan mata. Saat ia membuka mata ia bisa melihat sebuah ruangan gelap dengan penerangan berupa obor.


"Abigail" teriak seorang pria dengan badan besar ia memakai armor berwarna merah keemasan dengan jubah berwarna putih serta pedang besar di punggungnya.


"Abigail sayang" teriak seorang wanita yang sangat mirip dengan dirinya dengan rambut hitam panjang di urai dengan anting di kedua telinga ia memakai gaun berwarna hijau dengan sarung tangan berwarna putih.


"Ibu ayah" teriak Abigail berlari dan melompat ke arah kedua orang yang amat dia rindukan.


"Abigail ini benar kau....ini benar kau.... Abigail ini benaran kau" ibunya memeluk Abigail dengan sangat erat dan lalu mencium pipi putrinya berulang kali.


"Abigail selamat datang" ujar sang ayah. "Ayah ibu dimana Diego" pertanyaan nya sukses membuat mereka berdua terdiam.

__ADS_1


"Maaf menganggu reuni keluarga kalian tapi boleh kah aku bicara sebentar pada mu nona Abigail" Abigail menoleh dan mendapati seorang pria yang terlihat sangat mencurigakan di matanya.


"Nama ku Issac Alexander William pemimpin fraksi perdamaian, boleh kah kita berbicara ditempat yang lebih layak" pria itu memberi hormat kepada Abigail.


"Maaf tapi aku ingin berbicara dengan ayah dan ibu ku terlebih dahulu" tolak Abigail.


"Maaf nona aku tidak menerima penolakan mu, pelayan bawa nona Abigail ke kamar nya dan perlakukan dia dengan baik jika ku dengar dia mengeluh karena pelayanan kalian. kepala kalian akan menggelinding di tanah" Abigail tau kata kata itu penuh ancaman walau orang yang menyebutkan nya tampak santai.


"Mari nona ikuti kami" salah seorang pelayan langsung memegang tangan nya. "Tunggu dulu tuan Isaac tapi aku masih ingin bersama dengan ayah dan ibu ku" Abigail menghempaskan tangan pelayan itu.


"Kau harus istirahat nona Abigail dan kamu bisa bertemu dengan ayah dan ibu mu sebulan lagi" Tuan Isaac tersenyum pada Abigail.


"Tapi kenapa harus sebulan" tanya Abigail heran kenapa ia tidak boleh melepas rindu pada kedua orang tuanya.


"Tidak apa Abigail satu bulan itu tidak lama" ujar sang ayah menyakinkan Abigail walau di mata nya terpancar kerinduan pada sang putri.


Abigail menghelai nafas nya lalu mengangguk "tunggu aku satu bulan lagi ayah ibu" Abigail tersenyum kecut. Ini sama seperti saat ia di tipu oleh negara yang bilang akan membawa ia kembali ke dunia nya dulu tapi malah berakhir di laboratorium mereka.


"Mari nona Abigail" ujar pelayan itu.


Abigail kemudian di bawa ke sebuah kamar yang sangat mewah "nona apa anda ingin makan atau anda ingin membersihkan diri anda" ujar pelayan itu.


"Tidak , aku akan langsung tidur " Abigail menggeleng pelan dan berjalan menuju sebuah kursi dekat jendela.


Ia membuka jendela itu dan menatap langit penuh bintang dan bulan kembar berwarna hijau.


"Akhirnya aku pulang" Abigail tersenyum ia bahkan merindukan bulan kembar yang dulu tak pernah ia perhatikan.


"Maaf nona kami harus undur diri dulu" ujar salah seorang maid. "Silahkan, hati hati dijalan" Abigail berbalik dan melambaikan tangan.


Para pelayan itu terkejut dan mengangguk lalu pergi dari kamar nya tak lupa menutup pintu.


"Pak Hardi apa yang sedang kau lakukan sekarang" tanya Abigail pelan.


***


Besok nya para pelayan pagi pagi buta sudah datang ke kamar dan langsung menyiapkan segala keperluan Abigail.


"Nona seperti apa dunia lain?" tanya seorang pelayan yang sedang menyisir rambutnya.


"Ada baik nya ada buruknya, baiknya teknologi mereka sangat maju mereka bahkan bisa membuat sebuah pesawat yang dapat terbang di langit"


Abigail memang kagum dengan teknologi di dunia itu. Bahkan saat melihat motor tua memilik pak Hardi ia tak bisa berhenti bertanya.


"Seperti sapu terbang ya" tanya pelayan itu. "Tidak pesawat itu menggunakan mesin yang buatan manusia"


"Eeeeh" ujar semua pelayan yang mendengarkan. "Artinya manusia di dunia itu sangat cerdas ya" tanya pelayan lain. "Bisa dibilang begitu tapi buruk nya sihir cuma dianggap mitos dan khayalan" Abigail tentu saja tidak akan menceritakan pengalaman buruk yang ia dapatkan di dunia itu.


"Nah sekarang sudah selesai nona" ujar pelayan itu. "Cantik bukan" tanya nya.


"I..iya sangat cantik terima kasih" Abigail tersenyum. "Permisi apa aku menganggu" Abigail dan beberapa pelayan menoleh ke sumber suara itu.


Seorang pria dengan rambut hitam dan celana hitam serta baju putih tangan pendek ,rompi coklat dan sarung tangan hitam yang memperlihatkan ujung jarinya.


"Si...siapa anda"


"Nama ku Kaizer seorang guru di Akademi Kaum kamu bisa memanggil ku Sir Kaizer , mulai sekarang aku adalah ayah angkat mu" sir kaizer tersenyum membuat beberapa pelayan bersemu merah.


"Apa maksud mu ayah angkat...dimana ayah ku" entah kenapa ia seperti di halangi untuk menemui keluarga nya.


"Bagaimana aku bisa percaya kenapa aku dilarang bertemu dengan ayah dan ibuku" teriak Abigail.


"Nona maaf tapi menurut saya lebih baik bersama Sir Kaizer saja untuk satu bulan ke depan dan kau akan mengerti...saya jamin itu" ujar seorang pelayan meyakinkan Abigail.


"Aku ingin jawaban atas pertanyaan ku" Abigail masih teguh dengan pendirian nya.


"Kamu boleh mengajukan pertanyaan apa pun tapi belum tentu mendapatkan jawaban" sir kaizer menatap gadis ini dengan serius.


"Kruuuurk"


Sir Kaizer tersenyum "seperti kita harus mengisi perut mu itu terlebih dahulu ayo kita makan aku tau dimana tempat yang enak untuk sarapan"


Hari itu adalah pertemuan pertama mereka sebagai ayah dan anak.


...***...


...Part 3...


Di luar Mall kota kaum


Terlihat puluhan pasukan sedang berhadapan dengan pasukan skeleton. Sekitar lima puluh naga tengkorak juga ikut meramaikan pertempuran ini.


Namun tiba tiba puluhan tengkorak itu berhenti bergerak dan jatuh ketanah "apakah sudah selesai" tanya seorang prajurit.


"Akhirnya selesai juga" ujar prajurit lain kemudian menghelai nafas dengan berat.


"Bertarung dengan skeleton cukup muda tapi Dragon Undead itu lain lagi" ucapnya.


"Jangan cepat berpuas diri kita harus menyelamatkan orang orang yang terkurung dalam mall itu" seorang pria meninggikan volume suara nya.


"Unit Magus dan Arrow bersiap untuk melakukan serangan ke Barrie itu" teriak nya.


"Baik wakil kapten Roberto"


Unit Magus dan Arrow langsung berkumpul dan bersiap melakukan serangan.


"Pasukan bersedia....siap....tembak" Roberto langsung memberi aba aba pada para pasukan nya.


Puluhan panah api melesat menuju Barrie itu. Panah yang diperkuat dengan sihir namun itu masih tidak cukup untuk menghancurkan.


"Barrie yang sangat kuat"


Itu lah yang tergambar saat kepulan asap menghilang dari Barrie itu. Memperlihatkan Barrie yang sama sekali tak tergores.


Tiba tiba puluhan tengkorak itu berteriak dan bangkit kembali. "Waspada" teriak salah seorang prajurit.


Aura hitam muncul di mengelilingi para skeleton dan Dragon Undead itu. mereka yang awalnya hanya menghalangi prajurit agar tidak mendekati mall kota kaum sekarang mulai menyerang dengan agresif.


"Semua jangan gentar, bersiap untuk gelombang kedua" teriak wakil kapten Roberto menyemangati anak buah.


***


"Kenapa kau mengaktifkan lambang sihir mu Diego" tanya Hall. Belum sempat Diego menjawab pertanyaan pemuda Elf itu tiba tiba lantai bersinar terang.


Tiba tiba Diego tidak bisa melihat apa pun dengan Indra magis nya. "Apa yang terjadi" tanya Diego. "La..lantai berubah jadi merah" nian berseru panik.


Nian menyentuh dada nya dan berjalan mundur beberapa langkah. "Ada apa Nian" tanya Steve panik.

__ADS_1


"Mundur jangan mendekat"


Tubuh Nian mulai berubah Rambut nya bertambah panjang tinggi nya juga bertambah tangan nya tubuh nya ditumbuhi bulu berwarna abu abu.


"Eeeh"


"Apa yang terjadi" tanya Ariel membulatkan matanya.


"Sepertinya aku kembali ke wujud asli ku" nian menatap kedua tangan nya. "Jadi kamu ini Beastman kelinci" tanya Steve kaget.


"Tak usah kaget seperti itu" tukas Nian.


"Lupakan itu ayo kita pergi dari sini"


Ajak Nian menatap teman teman nya.


Sementara itu Diego terus mencoba mengaktifkan lambang sihir nya namun gagal. "Ayo pergi dari sini " ajak Hall.


Semua orang mengangguk dan mulai berlari kecuali Diego. Pemuda berambut biru itu mengambil satu anak panah dari tasnya dan mengetuk lantai dengan ujung anak panah yang merupakan besi.


"Diego ada apa" suara Nian terdengar dikepala Diego. "Aku sedang menyesuaikan diri ku" Diego berusaha meningkatkan konsentrasi nya.


"Menyesuaikan diri" tanya balik Nian.


"Iya sama seperti kelelawar mereka tidak memiliki pengelihatan yang baik tapi mereka tidak akan menabrak jika terbang dimalam hari" Diego tidak bisa melihat raut wajah gadis itu sekarang.


Semua yang ia lihat hanya kegelapan. Sekarang ia harus mengandalkan apa yang ia tau untuk bertahan.


Diego terus mengetuk lantai itu. Suara yang terhambat oleh benda tidak dikenal adalah hambatan yang harus ia hindari.


"Baiklah aku siap" Diego tersenyum kecil berharap metode yang ia gunakan berfungsi dengan baik


Diego terus mengetukan ujung anak panah nya di lantai. Menangkap suatu objek yang bergerak mencuriga.


Diego langsung mengambil satu anak panah di tas punggung nya dan tanpa basa basi ia langsung melempar anak panah itu.


"Diego apa yang kau lakukan" teriak Nian. "Ayolah bung ini aku " ia mengenali pemilik suara itu yaitu Hall.


"Pergerakan mu terlalu mencurigakan" Diego mengangkat bahu tanpa rasa bersalah.


"Apa yang kau sembunyikan Hall" tanya Diego to the point. "Tunggu apa maksud mu Diego" tanya Steve tidak mengerti.


"Aku tidak akan mengatakan nya dua kali Hall" tanya Diego berjalan sambil mengetuk lantai.


"Apa yang kau sembunyikan Hall" desak Ariel. "Kita ini teman Hall kenapa kau menyembunyikan sesuatu dari kami" Nian menatap pemuda Elf itu dengan tatapan tidak percaya.


"A....aku tau apa yang terjadi saat ini" hall menatap lantai. "Orang yang merencanakan ini pasti seorang Magus" hall mengepalkan kedua tangannya.


"Jangan berbelit-belit Hall" desak Ariel. "Ki...kita akan ditumbalkan untuk pemanggilan tapi aku tidak tau mahluk apa yang akan di panggil" ujar Hall membuang mukanya.


"Tapi dari mana kau tau" selidik Nian. "Kami Magus pernah belajar sihir pemanggilan dan sihir pemanggilan dapat memanggil mahluk sesuai dengan kriteria pemanggilnya, jika pemanggilnya lemah maka monster lemah akan terpanggil tapi___"


Diego mengangguk ia mengerti garis besar dari perkataan Hall. "Berarti mahluk yang akan di panggil di mall adalah mahluk berbahaya kan" Diego mengetuk ujung anak panah nya.


"Apa kau tau cara membatalkan ritual pemanggilan itu" tanya Steve. "Aku tidak yakin tapi kita bisa membatalkan dengan mengacaukan proses nya" hall mengepalkan kedua tangannya.


'mari berpikir seperti penjahat jika ini benar ritual pemanggilan, mahluk yang dipanggil pasti harus kuat dan bisa memenuhi keinginan penjahat itu, untuk memanggil mahluk yang kuat pasti butuh banyak pengorbanan, seperti yang dikatakan Hall tadi orang orang di mall ini akan ditumbalkan'


"Diego" panggil Nian.


"Aku mengerti kita dapat mengacaukan proses ritual itu dengan meminimalkan korban" Diego membuka mata nya walau ia tetap tidak bisa melihat.


Teman teman Diego melihat mata yang dulu berwarna biru namun sekarang tak ada lagi warna mata sebiru laut yang ada hanya mata abu abu.


"Bagaimana cara nya Diego" tanya Steve dengan antusias. "Hall bilang kita yang ada di dalam mall akan di korban kan,berarti kita hanya perlu menyelamatkan orang orang sebanyak mungkin" Diego mengatakan hal itu namun di dalam hatinya ada sebuah keraguan.


Dulu ia selalu berpikir jika harus menyelamatkan banyak orang tinggal habisi saja akarnya. Sama seperti misi melindungi warga dari goblin yang menyerang desa dulu.


Ia tidak menjaga desa namun menghabisi goblin di sarang mereka sendiri. Lalu menunggu sisa goblin yang akan menyerang desa.


Namun pemikiran seperti itu tidak akan diterima oleh mereka. "Ada apa Diego" tanya Nian.


"Tidak apa" Diego menggeleng pelan.


"Kita harus berpencar dan menyelamatkan banyak orang sekarang" ujar Steve.


"Tidak kita harus bersama sama, kita tidak bisa mengaktifkan lambang sihir ini jelaskan akan jauh lebih sulit" Diego sendiri masih ragu dengan apa yang ia katakan.


"Kalau begitu tunggu apa lagi ayo kita lakukan" Ariel berseru memberi semangat kepada teman teman nya.


Padahala kaki nya sedang terluka dan dia hanya akan jadi beban tapi ia tidak ragu sama sekali untuk menolong orang lain.


Diego tak mengerti kenapa gadis itu bisa berpikiran seperti itu. Mereka langsung berlari mencari para korban lain.


Namun mereka dikejutkan dengan puluhan mayat para pengunjung bergeletakan di tanah.


"Kita terlambat" Steve membulatkan mata nya melihat puluhan mayat itu.


"Tidak tempat ini sangat luas setidak pasti ada orang lain disekitar sini" Ariel kelihatan nya masih bisa berpikir jernih.


"Kita turun ke lantai bawah" Ariel memberi instruksi. Diego mengikuti langkah kaki teman teman nya itu.


Namun mereka dikejutkan dengan dua puluh yang mereka temui di tangga.


"Wah....wah...wah ternyata masih ada orang selamat" seorang pria berjalan menaiki satu tangga.


"Benar adik ku mereka anak anak yang tampan dan cantik lagi" terdengar suara perempuan mendekati pria itu.


"Steve berikan Ariel pada hall , Steve Nian kita akan bertarung melawan mereka" bisik Diego.


"Aduh kakak ini, mereka itu kelihatannya pasti belum genap tujuh belas tahun, aku heran kenapa kakak sangat suka anak kecil" pria itu menggeleng pelan.


"Diamlah kau adik bodoh, anak anak mau tidak main sama Tante"


"Ya..yan....yang benar saja tentu saja aku tidak mau main sama Tante Tante" teriak Steve. Tiba tiba sebuah kaki menendang lutut bagian belakang Steve membuat ia terjatuh di tangga.


"Aduh apa yang kau lakukan bodoh" ia melihat kearah Nian dan Diego.


"Perkataan mu tidak sesuai dengan pikiran mu" Nian menatap pemuda itu dengan tatapan setajam belati.


"A...aku.....aku minta maaf" Steve menggaruk kepala nya yang tak gatal.


"Kalian berdua sudah lah mereka pasti bukan orang sembarangan kita harus berhati hati" perkataan Diego sukses membuat kedua teman nya itu tersadar.


"Hooh si biru ini punya pengamatan yang tajam juga" wanita menghelai nafas dengan berat "kamu adalah tipe anak yang tidak ku suka....kenapa kamu tidak diam saja dan menjadi anak baik"


"Sudahlah kakak mari kita habisi mereka"

__ADS_1


__ADS_2