
...Part 1...
Tiba tiba sebuah tangan memeluk leher Diego. "Kamu akan menjadi korban pertama Tante ya, kamu ini kan anak yang nakal" wanita menempelkan pipinya di pipi Diego.
Diego berusaha melepaskan diri namun tangan wanita ini sangat kuat membuat ia kesulitan membebaskan diri.
Tiba tiba sebuah tombak menembus perutnya. "Ya ampun kamu benar benar anak nakal ya padahal Tante mau menusuk jantung mu tapi karena kau terus bergerak gerak malah perut mu yang Tante tusuk deh" ujarnya dengan manja.
"Habisi dua sisa nya" teriak pria itu. Derap langkah kaki terdengar melewati Diego dan wanita itu menuju Steve dan Nian.
Diego langsung mengepalkan tangan dan menghantam perut wanita itu dengan siku nya.
"Aaargh"
Wanita itu melepaskan kuncian nya dan mundur beberapa langkah. Diego menarik tombak yang bersarang di perutnya.
Diego menahan sakit saat mencabut tombak dengan kepala trisula itu. Lalu melemparkan tombak itu sembarang tempat.
"Kurang ajar kau" teriak wanita itu. Diego berputar dan menendang ke udara kosong. ia merasakan sesuatu mengenai lututnya sehingga ia menekuk lutut nya.
Apa itu wanita yang dilawan tadi, semoga saja.
Terdengar suara tabrakan di sisi kirinya. Diego mengatur nafasnya "ini benar benar sulit tapi aku harus membiasakan diri bertarung tanpa mata seperti ini"
Sebuah tinju menghantam muka nya. Pemuda berambut biru itu terhuyung ke belakang namun sebelum jatuh ia meraih tangan orang yang meninju nya itu.
Diego jatuh di tangga namun ia tak memperdulikan rasa rakit di punggungnya lalu mengangkat kaki dan menghantam kaki ke kepala orang itu.
Lalu memelintir tangan nya tiga ratus enam puluh derajat. Tiba tiba sebuah benda menembus bahunya.
Ia mengambil benda itu dan mengetahui dari bentuk nya ini adalah anak panah.
Lalu puluhan anak panah mulai menghujani dirinya. Ia menarik pria yang sudah ia kalah kan tadi menjadikan nya tameng untuk berlindung.
Tiba tiba sebuah tendangan mendarat di kepala nya bagian belakang . "Diego" teriak Nian.
Diego terpental ke arah para pemanah itu dan menabrak mereka. "Dasar anak nakal...anak nakal harus di habisi" wanita itu berjalan menuruni tangga.
"Tidak akan ku kubiarkan" teriak Nian. Wanita itu berbalik dan menggeser sedikit kepala nya membuat tinju Nian meleset.
Alhasil tinju Nian malah mengenai tangga membuat tangga sedikit retak.
"Jadi klan Beastman seperti mu kembali ke wujud asli mu ya" saat ini Nian sedang berada dalam wujud asli seorang Beastman.
Rambut Nian bertambah panjang tinggi nya juga bertambah tangan nya tubuh nya ditumbuhi bulu berwarna abu abu.
Klan Beastman memiliki beberapa jenis perubahan. Wujud pertama atau lebih tepatnya adalah wujud asli mereka yaitu Beastman. Mereka adalah mempunyai kaki dan tangan serta berjalan layak nya manusia.
Wujud ketiga Humanoid beast mereka menggunakan kekuatan sihir untuk merubah diri mereka menjadi manusia namun ada beberapa bagian yang tidak bisa dirubah seperti ekor dan telinga.
Lalu wujud Beast dimana mereka berubah menjadi hewan raksasa sesuai. Sama seperti saat Diego melawan Roard.
Diego berusaha bangkit namun tubuh nya di tubuh nya dihantam sesuatu. Tak lama berselang puluhan benda yang tak ia ketahui menghujani tubuhnya.
Pemuda berambut biru itu bisa merasakan nyeri yang tak tertahan namun perasaan ini bukan lah yang pertama kali baginya.
Diego berusaha bangkit sebuah benda langsung menghantam kepalanya namun kali ini Diego tak terjatuh.
Diego langsung meraih benda yang tertempel dikepalanya itu. Ia pun menyadari ini adalah sebuah kaki lalu menariknya sampai jatuh kemudian langsung melompat ke atas tubuhnya dan langsung memukuli wajah pria itu.
Suara pertemuan antar kulit itu membuat beberapa orang bergedik ngeri dan mundur satu langkah.
Kedua kakak beradik itu memperhatikan Diego. "Hooh menarik" ujar sang adik.
"Dasar anak nakal" gerutu sang kakak.
"Beraninya kau bocah brengsek"
Diego bisa merasakan suatu objek panas mendekati dirinya dengan cepat dan tak dapat menghindarinya.
Suara ledakan terdengar membuat tangga ini bergetar. "Terima itu bocah karena kamu sudah melukai teman ku" teriak pria itu tertawa kegirangan.
"Jadi kamu ingin membalas ku karena sudah melukai teman mu"
"Diego" teriak Nian san Steve mendengar suara pemuda itu dari kepulan asap ia membentuk lambang x dengan kedua tangannya.
Tangan nya terbakar begitu juga dengan pakaian di beberapa bagian tubuhnya menunjukan kulit gosong yang masih panas.
"Apa kau serius melakukan hal ini" Diego tersenyum kecil mata yang dulu berpupil berwarna biru sekarang sudah berubah menjadi abu-abu.
"Ha"
"Haha"
"Hahahahaha"
Diego tertawa terbahak bahak membuat pertarungan berhenti sejenak. Tawa Diego menggema membuat orang orang menatapnya dengan penuh rasa takut.
"Kalau begitu kenapa kau tidak menyusul teman mu itu" Diego menyeringai "majulah dan akan ku habisi kalian" pemuda itu sadar diri. Sekarang ia tak bisa melihat dia juga tidak punya kesempatan untuk memikirkan strategi untuk melawan.
Indra magis nya menghilang secara tiba tiba. Membuat ia hanya bisa bertahan tanpa menyerang seperti sekarang ini.
Diego merasakan sesuatu mendekat ia mundur dua langkah. Terdengar suatu bunyi retakan di depan 'kemungkinan ini orang ini adalah seorang Warriors yang menyerang dengan senjata jarak dekat tapi apa aku bisa menyerang ya'
Ngiiiiiiiiing
Dikepalanya tergambar denah wilayah ini. Ada sekitar dua belas orang disekitarnya dan yang paling dekat ada orang yang menggunakan kapak didepannya ini.
Pemuda berambut biru itu langsung melompat ketempat dan menendang pria dengan kakinya.
Pria itu terjungkal ke belakang. Pemuda itu mendarat dengan mulus di lantai lalu ia langsung menendang kapak itu sehingga menghasilkan bunyi denging lagi.
Ia terus menendang kapak itu sebanyak lima kali. Sekarang semua tergambar jelas dikepalanya.
"Steve , Nian apa yang kalian tunggu cepat singkirkan mereka" pemuda biru itu berseru.
Steve yang melihat kondisi Diego hanya bisa tertegun. "Sial dia terlihat sangat keren sekarang" Steve tidak ingin kalah dari pemuda berambut biru itu.
Steve langsung berlari ke arah salah satu pria mencengkram baju lalu melemparkan di dari tangga.
"Maju kalian semua aku Steve akan menghabisi kalian"
Nian langsung menuruni tangga untuk membantu Diego namun pria yang merupakan adik wanita itu menghadangnya.
"Kakak bisa kau urus gadis kelinci ini" tanya pria itu. "Heeh kenapa kamu tidak mengurusnya sendiri bukan kah jarak dia dan diri mu sangat dekat" tanya balik sang kakak.
"Aku akan mengurus si biru itu" pria itu berjalan menuruni tangga.
"Tidak akan ku biarkan" teriak Nian ia langsung melompat ke arah pria itu dengan posisi tangan yang siap meninju pria itu.
'kena kau'
Pukulan Nian akan mengenai pria itu tapi pria itu melompat sambil berputar di udara sebanyak tiga kali dengan posisi tegak lurus.
Tinju Nian berakhir di udara kosong sedangkan pria itu mendarat dengan sempurna di lantai.
"Sebagai seorang dari suku Beastman kau memang kuat tapi aku tidak tertarik melawan mu" pria itu berjalan menuruni tangga dengan santai.
Diego sendiri masih sibuk menyingkirkan orang orang yang ia hadapi.
"Bocah biru" panggil pria itu.
Namun Diego tidak menghiraukan panggilan pria itu. Ia masih sibuk jual beli serangan.
Dahi pria itu berkerut ia langsung menghilang. Tiba tiba Diego terpental dan menghantam dinding dengan sangat keras. Hantaman tubuh Diego membuat kawah berbentuk jaring laba laba.
Pelaku serangan itu tak lain adalah pria itu. "Bagus Keith segera habisi dia " teriak beberapa orang berjubah hitam.
"Siapa nama mu bocah biru" tanya Pria bernama Keith berjalan mendekati Diego.
Pemuda berambut biru itu jatuh ke tanah kemudian berusaha bangkit lagi.
"Ha....ha.....ha..Dieg...o"
Ujarnya dengan kepayahan.
"Perkenalkan nama ku Keith Wilz dan wanita itu kakak Katrin Wilz" pemuda itu membulatkan matanya.
"Jadi kalian Wilz Bersaudara ya" Diego adalah petualang solo, pada umum petualang melakukan misi bersama kelompok yang disebut party dan biasanya mereka membagi tugas namun tidak dengan Diego.
Diego mengurus segala urusan sendiri mulai dari persediaan, peralatan, dan informasi.
Dia pernah mendengar tentang kisah dua orang anak bangsawan yang membantai bangsawan lain di sebuah pesta ulang tahun.
Mereka lah Wilz Bersaudara.
"Sepertinya ini akan jadi pertarungan yang panjang ya" Diego sekarang berdiri dengan tegak.
...Part 2...
"Kamu yakin " Keith Wilz itu tersenyum girang. "Kalau begitu buktikan ucapan mu itu ya" di akhir kalimatnya Diego merasakan udara terbelah menjadi dua. Sebuah benda tajam mengincar dirinya.
__ADS_1
Diego menangkap benda itu sebelum mengenai tubuhnya 'sebuah tombak rupanya' namun tombak itu tiba tiba hilang. 'Apa yang terjadi' Diego langsung melompat ke samping.
"Keith jangan bermain-main habisi dia" teriak salah seorang pria. "Orang lemah seperti kalian beraninya memberi perintah kepada ku" Keith berbalik menghadap mereka dan perlahan kabut bermunculan.
Tiba tiba terdengar suara teriakan kesakitan dari dalam kabut. "Keith kenapa kamu melakukan ini!!" Teriak seorang pria.
"Keith Si Tombak Kabut aku tidak akan memaafkan mu!!!"
Puluhan sumpah serapah keluar dari rekan pria bernama Keith itu. "Orang lemah tak pantas memerintah yang kuat...jadi lebih baik kalian mati saja" Diego tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Diego langsung berlari kearah Keith dan langsung melompat ke udara sambil berputar satu kali di udara dan menendang pria itu tepat di pelipis.
Pria itu terhuyung kesamping namun tidak sampai terjatuh. Diego mengernyit dahi ia tidak mendengar suara tubuh terjatuh.
Diego mendarat dengan mulus di lantai. "Diego mundur" teriak Nian berlari ke arah Diego.
Diego merasakan sensasi sebuah benda tajam baru saja menyayat kedua mata nya.
Aaaaarrrggh
Diego berteriak kesakitan dan menyentuh kedua matanya yang terus mengeluarkan darah.
"Sialan kau" teriak Nian melompat kearah arah pria itu namun wanita bernama Katrin itu tiba tiba muncul dihadapan Nian dan menebas tubuh gadis Beastman kelinci itu.
Nian mendarat ditanah dengan tubuh yang penuh darah. "Diego , Nian" raung Steve melihat kedua teman nya yang terluka parah.
Duaaaaaaar
Duaaaaaaar
Duaaaaaaar
"Eh kenapa mereka yang diluar biasa mencapai Barrie yang menyelimuti mall ini" Katrin mengingat-ingat rencana awal penyerangan mall ini.
"Seperti nya ada yang terjadi pada wanita mermaid itu" ujar Keith berjalan mendekati kakaknya.
"Tapi seingatku Yuyu ada di dalam gedung mall ini juga tidak mungkin ia dikalahkan dengan mudah dan lagi pula pasti ia mendapatkan penjagaan ketat" Katrin kemudian mengeluarkan sebuah bola kaca dari tas penyimpanan nya.
"Bola ajaib tunjukan dimana Yuyu si Mermaid" Katrin membuat perintah pada bola ajaib itu.
Bola ajaib itu menampilkan seorang gadis mermaid yang tak berpakaian sedang terikat di kursi dengan keadaan sudah tidak bernyawa lagi.
"Apa yang terjadi sebenarnya" tanya Keith.
"Bola ajaib tampilkan apa yang menimpa Yuyu" titah Katrin.
Bola kaca itu langsung menampakkan kejadian yang dialami gadis mermaid itu. Yuyu pergi dari kelompok nya dan pergi ke kamar mandi lalu tersesat dari rombongan nya dan masuk kedalam sebuah toko yang menjual peralatan dapur kemudian bertemu dengan tiga orang gadis dan seorang pria yang kelihatan adalah ayah mereka.
Mereka langsung menangkap Yuyu dan melucuti semua pakaian nya dan lalu mengintrogasinya dengan cara yang terbilang cukup unik.
"Kakak"
Namun kakaknya tidak menghiraukan panggilan Keith sang adik.
Mata tetap fokus pada introgasi yang unik itu. "Jika kakak mau pria itu nanti akan ku tangkap untuk kakak" ujar Keith dengan polos.
Katrin terkejut mendengar ucapan sang adik. "Eekhm lanjutkan apa yang terjadi bola ajaib" pipi Katrin bersemu merah.
Setelah introgasi yang unik itu sepertinya Yuyu tidak memberikan informasi apa pun pada mereka lalu seorang gadis memukul kepala nya dengan sebuah pipa.
"Itu menjelaskan kenapa musuh bisa menyerang Barrie yang menyelimuti mall ini"
"Ayo kita pergi cari pria itu" ujar Katrin.
"Mak.....maksud ku ayo kita selesaikan ritual ini secepatnya dan pergi" ucap Katrin meralat ucapannya.
Tiba tiba gedung ini bergetar lalu seekor naga hitam dengan cakar ungu dan mata berwarna kuning keluar dari bawah tanah membuat bangunan hancur lebur tanpa sisa.
"wah sepertinya ritual nya sudah selesai kalau begitu ayo kita pergi" Katrin memandang sang adik kemudian Keith pun mengangguk pelan lalu menyentuh pundak kakaknya.
Katrin memegang tombaknya dengan kedua tangan lalu mengetukan ujung tombak nya ke lantai lalu portal muncul dan menghisap mereka berdua tepat sebelum gedung ini hancur lebur.
***
Di luar mall
"Kapten James "
Seorang pria dengan badan besar ia memakai armor berwarna merah keemasan dengan jubah berwarna putih serta pedang besar di punggungnya menoleh kepada seorang prajurit yang memanggilnya.
"Para skeleton dan Dragon Undead itu tak bisa dikalahkan , mereka tetap bangkit walau tulang tulang mereka sudah di bakar" pria itu melaporkan situasi terkini.
"Wakil Kapten Roberto sedang bertarung di garis depan memimpin para ahli sihir untuk membuka paksa Barrie itu" ujar seorang pria itu.
"Kapten lihat itu" teriak seorang prajurit lain.
Barrie itu perlahan menghilang dan terlihatlah bangunan yang dulu nya megah dan menjadi kebanggaan kota ini hancur tak bersisa.
Diatasnya terdapat seekor naga hitam dengan mata berwarna kuning dan memiliki pupil seperti reptil lalu cakar yang berwarna Ungu.
"Naga jahat"
James membulatkan matanya saat naga itu membuka mulutnya dan mengumpulkan energi sihir yang sangat besar mulut.
Dragon break
...Part 2...
Naga itu menembakan energi penghancur itu ke arah mereka. Semua orang berlari menjauh namun terlambat.
Dragon break menghancurkan apa saja yang ia lewati. James terdiam melihat kekuatan mahkluk itu.
"Kekuatan macam apa itu"
***
Di dalam puing reruntuhan.
Abigail membuka mata yang pertama ia lihat ada seorang laki laki yang sedang menindih tubuhnya.
Muka Abigail langsung memerah "aaaa...aapa yang anda lakukan sir" teriak Abigail panik.
"Sudah jangan buang buang udara, Abigail" ujar sir kaizer tersenyum kecil.
"Sir Kaizer anda tidak apa apa" tanya Abigail dengan khawatir. "Sudah ku bilang jangan banyak buang buang udara Abigail" sir kaizer kembali mengingatkan gadis itu.
"Apa yang terjadi" tanya Abigail lagi.
"Ritual pemanggilan selesai ternyata mereka sudah memanggil makhluk peliharaan mereka untuk menghancurkan kota ini" ujar sir Kaizer.
"Sudah jangan banyak bertanya aku akan mengeluarkan kita sekarang" ujar sir Kaizer lalu muncul sebuah lambang sihir Sword berwarna hitam metalik muncul diantara pundak dan leher.
"Skill pertama Reserve"
Perlahan puing puing itu berubah menjadi kerikil. Sir Kaizer bangkit merenggangkan tubuh nya melakukan sedikit pemanasan lalu mengulurkan tangan pada anak angkat nya itu.
Abigail menerima uluran tangan nya dan bangkit lalu menepuk baju nya yang kotor.
Tiba tiba puluhan puing puing terpental keudara "ayo kesana" ajak sir Kaizer.
Abigail mengangguk dan berjalan mengekor pada pria itu. "Gilda, Elizabeth, Karand" teriak Sir Kaizer melambaikan tangan nya saat melihat ketiga putri dan satu orang laki laki yang digendong Gilda dipundaknya.
"Ayah" Karand balas berseru sambil melambaikan tangan yang memegang pedang nya. Ketiga putrinya itu langsung berjalan mendekati mereka.
"Bukan kah ini waktu tidak tepat untuk bertemu dengan saudarimu yang lain Abigail" sir Kaizer berbalik menghadap gadis itu dan tersenyum.
"Tapi...apa kah mereka mau menerima ku" Abigail menundukan kepala dan memegang lengannya. "Ayo" ajak Abigail.
"Apa ayah tidak apa apa" tanya Elizabeth. "Tidak apa kalian sendiri bagaimana" tanya balik Sir Kaizer.
"Kami sih tidak apa tapi Samuel dia terluka parah" ujar Karand. "Samuel" tanya Abigail kaget.
"Kamu kenal dia" tanya Sir Kaizer. "Iya....iya....maksud aku kenal dia" ujar Abigail masih menatap ke bawah.
Tiba tiba sebuah tangan memegang dagu Abigail. Pemilik tangan itu tak lain adalah Gilda.
"Jadi kamu saudari baru kami ya?"
"Apa!!" teriak Elizabeth dan Karand tak kalah kaget.
Tiba tiba sebuah tangan menarik kerah baju sir Kaizer "apa ini maksud mu ayah!!! Merahasiakan saudari kami yang lain" teriak Elizabeth.
"Iya apa yang sudah menikah diam diam dari kami" tukas Karand.
"Tenang lah kalian berdua ayah itu terlalu pengecut untuk melakukan hal seperti itu" Gilda masih mengamati muka Abigail dengan seksama.
"Iya juga sih" Karand akhirnya sadar.
"Benar juga terakhir kali kita melemparkan ayah kerumah bordil untuk mencari wanita baru malah ia bersembunyi di toilet" Elizabeth mengingat kejadian setahun lalu.
Ia menyewa satu rumah bordil untuk ayah nya tapi malah ayah bersembunyi di toilet.
__ADS_1
'Apa salah ku wahai dewa kenapa putri aku bisa mempunyai anak anak yang sangat perhatian pada diriku' pikir Sir Kaizer.
Tiba tiba sebuah pedang menempel di leher Sir Kaizer. "Ayah kenapa kau tidak melindungi adik kami dengan benar" pedang itu tak lain adalah milik Gilda.
"Maaf tapi ini cuma luka kecil" Abigail berusaha menenangkan Gilda. "I...iya....Ke... kelihatan nya itu cuma luka kecil lho "Sir Kaizer hanya bisa menelan ludahnya.
Tiba tiba angin berhembus kencang membuat rambut mereka berdiri. Puluhan puing puing terbang keudara terlihat lah pemuda berambut biru berjalan sambil memegangi matanya.
"Diego" seru Karand ia menghampiri pemuda itu namun sebuah tangan mencengkram bahunya.
"Jangan dekati dia" ujar sang ayah.
"sihir anak itu benar benar dingin bahkan lebih dingin dari es" ujar sang ayah.
Tiba tiba terlihat lah empat tubuh terbang mendekati mereka dan mendarat dengan selamat di depan mereka.
Diego berjalan pelan dan bersandar di puing puing bangunan. "Diego" teriak Karand khawatir dan melepaskan cengkraman sang ayah.
"Diego"
"Diego kau tidak apa apa" tanya Karand namun tak ada satu pun jawaban. "Karand...."ujar Diego lemah.
Karand langsung memeriksa denyut nadi tubuh pemuda itu. Gadis itu menghelai nafas pelan "kamu ini mau membuatku jantungan tau" Karand tersenyum dan duduk disampingnya.
"Aura mu benar benar suram Diego...itu membuat ku takut" Karand tersenyum kecil.
***
Naga jahat terus menembakan dragon break nya kerumah penduduk. "Disini naga jelek" teriak seorang laki laki tak lain adalah kapten James melepaskan pisau angin nya ke kepada naga itu.
Membuat naga itu hilang keseimbangan "pasukan bersedia siap tembak" teriak seorang pria dengan rambut hitam panjang bergelombang dengan kumis tipis ia memakai baju besi full armor.
'Roberto'
Sebuah suara muncul dikepala Roberto. "Aku akan membuka Barrie kota kaum kau dan James serta pasukan mu harus bisa mengusir naga jahat itu dari kota".
Roberto kenal pemilik suara ini "Tapi Tuan Isaac apa kah tidak bisa kita menggunakan kekuatan benteng kota kaum untuk mengalahkan naga ini" tanya Roberto.
"Sebenarnya bisa sih tapi naga jahat ada mahluk kuat dan cerdas terlalu beresiko melakukan hal itu, aku mengharapkan hasil baik Roberto'
"Baik tuan aku akan melakukan"
Sambungan mereka terputus
"Pasukan berkumpul" teriak Roberto. seluruh pasukan langsung berbaris di hadapan nya.
"Unit Pasukan Rider dan Uni pasukan Magus lalu Archer serta unit Shield bentuk tim yang beranggotakan empat orang aku ingin kalian memancing naga jahat itu ke luar dari kota kaum"
"Maaf wakil kapten tapi bukan kah ada Barrie kota kaum yang menghalangi naga itu keluar" ujar salah satu prajurit
"Tuan Isaac akan membuka Barrie itu sampai kita bisa membawa dia keluar jadi kita harus membawa ia keluar secepat"
"Sword dan Lancer kalian urus pasukan skeleton dan Dragon Undead itu"
"Apa kah kalian mengerti!?" tanya pria itu.
"Baik Wakil kapten laksanakan" ujar seluruh pasukan.
Sang Wakil kapten berbalik dan dan mengeluarkan pedang nya. Pedangnya memancarkan cahaya yang sangat terang.
Criiiiizzzzztttt
Petir keluar dari pedangnya dan menyelimuti kaki dan tangan nya. "Sepertinya akan sulit" Roberto menghilang dan terlihatlah cahaya biru yang bergerak dengan sangat cepat.
Di udara James dengan menembaki naga jahat itu sihir anginnya. Roberto naik kesebuah menara lalu melompat kearah naga itu.
"Skill kedua Thunder slash" teriak Roberto mengincar leher sang naga jahat. Roberto membulatkan mata nya saat melihat leher naga itu tak tergores sedikitpun.
"Kau pikir aku akan menyerah begitu saja" teriak Roberto mengerahkan seluruh kekuata nya.
...Parti 3...
"Haaaaaaa terima ini" teriak Roberto petir yang keluar dari pedang nya menyambar segala arah.
Namun naga jahat itu tidak terluka sama sekali. Naga jahat itu kemudian terbang meninggi di udara. Lalu membuka mulutnya untuk melakukan Dragon break.
Roberto langsung menahan dragon break itu dengan pedangnya. Untung baju besi itu bukan lah baju besi biasa.
Baju besi yang itu di tempah langsung oleh suku Dwart dan diberi mantra pelindung oleh suku elf.
Roberto tak mampu bertahan membuat ia terpental dan menghantam tanah.
Naga itu akan melakukan Dragon break lagi kepadanya ia langsung melompat sejauh mungkin untuk menghindari serangan naga itu.
'kapten kami sudah siap di posisi' sebuah telepati terdengar di kepala. "Baiklah tunggu aba aba dari ku" Roberto langsung berlari dan berubah menjadi kilat cahaya lalu muncul diatap sebuah bangunan.
"James mundur" teriak Roberto.
"Pastikan rencana mu berhasil Roberto , jika rencana mu gagal maka tamat riwayat kita" seru James.
"Cih aku tau karena itu aku tidak akan membiarkannya gagal" Roberto menatap naga itu dengan seksama.
"Semua unit dengar kan aku" ia menghubungi seluruh tim yang bertugas untuk memancing naga ini keluar dari kota kaum.
"Operasi pengeluaran naga jahat dari kota kaum dimulai" teriak pria berkumis tipis itu.
"Naga adalah makhluk yang kuat mereka tertarik dengan lawan yang kuat" Roberto berlari dan melompat dari atap ke atas lain.
"Gunakan serangan terkuat kalian, jangan khawatir saat naga itu mengincar kalian aku dan James akan memberikan kalian pulang untuk kabur dan bersembunyi dari naga itu" Roberto mendarat di atap toko perhiasan.
"Baiklah sekarang serang mahluk itu" Roberto memberi perintah pada mahluk itu.
Lima buah anak panah yang di perkuat mantra sihir ditembakan namun naga itu cukup gesit dalam menghindar.
"James kau dengar aku" Roberto menghubungi kapten nya itu.
"Aku dengar Roberto" jawab James.
"James kita serang dia bersama sama dengan kekuatan penuh" ujar Roberto. "Baiklah aku mengerti" ujar James.
Tubuh Roberto bersinar terang petir memancar dari tubuh nya. Roberto melesat dengan cepat naga itu menuju naga itu namun naga itu melakukan Dragon break.
Namun sebelum dragon break siap James sudah melepaskan tebasan anginnya.
Naga itu tidak dapat menghindar. Naga itu langsung terbang meninggi lalu di langit muncul puluhan lingkaran sihir.
Para prajurit yang sudah ditugaskan tadi pun langsung menembaki naga itu dengan kekuatan penuh namun naga itu sama sekali tidak bergeming.
Kali ini Roberto memberikan serangan beruntun. Ia menebas naga itu dari berbagai sisi namun tidak mampu melukai naga itu.
Sabetan ekor naga itu mengenai Roberto. Roberto terpental namun pusaran angin menahan tubuhnya. "Kau tidak apa apa Roberto" tanya James.
"Aku tidak apa apa"tukas Roberto.
"Kita harus menyatuhkan kekuatan kita Roberto untuk mengalahkan naga itu" ujar James.
Pusaran angin menyelimuti kedua kaki nya pedang nya terselimuti oleh angin. "Cih seperti kai benar, mau mengkombinasi ulitmate skill kita" tanya Roberto.
"Tunggu apa lagi ayo" James menatap naga itu dengan tajam.
"Roberto perintahkan unit Shield dan Magus membuat sihir pelindung sekarang" James melirik wakil nya itu.
"Baik" ujar Roberto.
"Semua unit dengarkan aku ini adalah perintah kapten langsung, unit Shield dan Magus buat sihir pelindung karena kami akan menggunakan kombinasi ultimate skill"
'Wakil Kapten itu berbahaya "
'kerusakan yang ditimbulkannya akan sangat besar wakil kapten tolong diskusikan lagi dengan kapten'
'Tidak lakukan perintah Roberto'
'Tuan Isaac'
Semua orang kaget saat mendengar suara pemimpin fraksi perdamaian itu tersambung dengan telepati mereka.
'Dibandingkan dengan rencana ku rencana James dan Roberto lebih baik....jadi lakukan saja'
Tuan Isaac memutuskan sambungan telepati.
"Kalian mengerti tunggu apa lagi" ketus Roberto.
"Baik wakil kapten"
Naga itu meraung terlihat ia benar benar marah sekarang.
"Baiklah kau siap" tanya James.
"Sangat siap" Roberto tersenyum kecil.
Mereka berdua saling mempertemukan kedua ujung pedang mereka. "Skill kombinasi"
__ADS_1