The Seven

The Seven
Akhir Dari Sebuah Kisah


__ADS_3

...Part 1...


Diego dan Paman Varlino sekarang ini sedang berjalan berdampingan. Paman Varlino beberapa kali melirik Diego kemudian menghelai nafas pelan 'walau Diego sering menginap di rumah ku tapi kami seperti orang asing saja ini karena aku terlalu sibuk di akademi dan Federasi perdamaian sih'


Paman Varlino hanya bisa menghelai nafas dengan berat.


"Ada apa Paman sampai menghela nafas berulang kali" tanya Diego. "Paman hanya berpikir pekerjaan di akademi dan Federasi perdamaian sangat banyak sampai Paman jarang pulang ke rumah" Paman Varlino menghelai nafas lagi.


"Federasi perdamaian ya ....dari dulu aku bingung paman kenapa anggota federasi perdamaian seperti diri mu bisa masuk ke sekolah...maksud ku kenapa organisasi sebesar itu repot-repot memasukkan anggota nya di berbagai instansi" Diego sudah pernah berpetualang ke berbagai tempat yang berada di bawah naungan Federasi yang berbeda. Namun hanya Federasi perdamaian yang memasukkan anggota-anggota nya di berbagai instansi seperti sekolah, rumah sakit, serikat dagang, guild petualang dan masih banyak lagi.


"Federasi ini berbeda dengan yang lain Diego. Federasi ini menerima orang dari berbagai suku dan ras tidak peduli dari mana diri mu berasal, apa kasta mu dari keluarga mana kamu berasal dan apa lambang sihir mu. Federasi ini menerima siapa pun dan menganggap semua orang itu sama" ujar pria yang bergelar profesor itu.


"Oleh karena itu tercipta lah masyarakat majemuk dengan berbagai budaya yang mengalami akulturasi, serta perkawinan antar suku menjadi hal lumrah di sini, karena itu lah Federasi menyebarkan seluruh anggota nya ke berbagai instansi untuk menjadi penjaga perdamaian di setiap instansi karena kita harus memulai sesuatu dari kecil terlebih dahulu " Diego terdiam ia mengerti maksud dari perkataan Paman Varlino.


Membina perdamaian mulai dari tempat terkecil seperti di kelas. Saat para siswa bisa membina perdamaian di dalam kelas itu sangat berpengaruh di masyarakat. Federasi ini menamakan sebuah kebiasaan yang dapat membina perdamaian.


"Oh iya Diego apa kamu tertarik menjadi anggota federasi perdamaian" tanya Paman Diego. "Tidak paman, aku tidak tertarik" jawab Diego dengan cepat.


"Setidaknya pikirkan terlebih dahulu, kau tau banyak orang yang ingin bergabung dengan federasi perdamaian" Paman Varlino kembali menghela nafas nya. "Tapi tidak dengan ku paman" mendengar hal itu membuat Paman Varlino menghela nafas dengan berat.


"Sebenarnya dimana tempat pendaftaran nya Paman" tanya Diego. "Di depan gerbang utama Colosseum akademi" ujar Paman Varlino.


"Oh iya paman kenapa tiba tiba ada pelajaran baru di sekolah ini" tanya Diego. "Sebenarnya banyak siswa yang gagal dalam misi dan tidak sedikit siswa yang tak pernah kembali ke akademi maupun rumah mereka, kami pun menerima banyak tuntutan dari para wali siswa sehingga kepala sekolah memutuskan untuk membuat satu pelajaran khusus untuk kegiatan petualang ini" Diego terdiam mendengar perkataan Paman Varlino.


Di gerbang utama Colosseum


"Huh masa tidak ada yang mendaftar sih" gerutu seorang pria. "Bersabar lah Pak guru Gerald pasti asa petualang yang tertarik" ujar seorang guru.


"Tapi Buk guru Luna sejak aku di sini tidak ada satu pun petualang yang mendaftar, ini benar benar membuatku kesal" gerutu Pak Guru Gerald. "Mau bagaimana lagi petualang biasa nya tidak tertarik dengan pekerjaan membosankan seperti ini" timpal seorang wanita.


"Membosankan, mereka itu belum tau saja seru nya menjadi guru dan mereka belum tau perasaan kita saat melihat murid mu berhasil melakukan sesuatu" ujar Pak Guru Gerald dengan penuh semangat.


"Pak Gerald benar benar orang yang berpikir positif ya Miss Evy" ujar Buk Guru Luna.


"Ya kau benar Luna karena itu lah dia disukai banyak murid" timpal Miss Evy.


"Huh coba saja tiba tiba petualang terkenal seperti Blade of Justice atau Spears Wood, Dance Titan atau Hunter of Nightmare datang dan mendaftar pasti sangat seru" ujar Pak Guru Gerald.


"Itu sih tidak mungkin mereka itu sangat terkenal lagi pula hanya Blade of Justice yang masih aktif menjadi petualang" ujar Buk Guru Luna.


Petualang-petualang terkenal seperti mereka memiliki jam terbang tinggi. Mereka pasti tidak memiliki waktu untuk mengajari murid di akademi.


"Hai semua"


...Part 2...


Ketiga guru itu menoleh ke sumber suara dan mendapati Professor Varlino dan seorang pemuda berambut biru yang tak lain adalah Diego.


"Professor Varlino!?" ketiga guru itu terkejut.


"Bagaimana keadaan di sini" tanya sang profesor.


"Buruk sekali Professor! tidak ada yang mendaftar hari ini" seru Pak Guru Gerald. "Begitu ya bagaimana dengan kemarin" tanya Paman Varlino. "Kalau kemarin ada beberapa" jawab Miss Evy.


"Begitu ya ngomong-ngomong aku membawa satu petualang yang ingin mendaftar menjadi guru" Paman Varlino melirik Diego.


"Bukan nya dia siswa ya" ujar Miss Evy. "Tidak lagi dia sudah keluar" ujar sang profesor.


"Kalau begitu mari sini aku bantu, tolong tunjukkan lencana petualang mu sebagai bukti" Pak Guru Gerald langsung mengeluarkan kertas formulir dan sebuah bulu angsa.


"Nama lengkap mu dan nama petualang serta rank petualangan mu".

__ADS_1


Pemuda berambut biru itu mengeluarkan sebuah tas penyimpanan yang sudah lusuh. Ia mengeluarkan sebuah lencana petualangan yang berwarna emas.


"Nama ku Diego dan nama petualang ku Archer Form Blue Moon rank ku emas dengan empat bintang" ujar Diego membuat semua orang terdiam.


"Hahaha jangan bercanda tidak mungkin kau ini Archer Form Blue Moon" Pak Guru Gerald tertawa mendengar penuturan Diego.


"Tolong di lihat terlebih dahulu" Diego memberikan lencana petualang nya pada Gerald. Ia menerima pemberian dari pemuda berambut biru itu.


"Kau....kau benar benar Archer Form Blue Moon" tangan Gerald gemetaran saat menyentuh lencana itu. "Apa itu asli" tanya Miss Evy.


"Tentu saja ini asli" Pak guru Gerald menunjukkan lencana itu pada senior nya itu. Miss Evy yang melihat lencana itu menghela nafas pelan "luar biasa di usia yang begitu muda kamu bisa menjadi petualang dengan rank emas itu adalah sebuah prestasi yang sangat luar biasa" ujar guru tersebut.


"Iya kamu benar benar hebat" mata pak guru Gerald berkaca-kaca. "Sebagai guru mu aku benar benar bangga" ia mengusap air mata nya dengan lengan baju nya.


"Tapi itu belum cukup menyakinkan ku, coba aktif kan lencana Petualang ini" Buk guru Luna mengambil lencana petualang Diego dari tangan Pak guru Gerald dan memberikan nya kembali pada pemuda berambut biru itu.


"Baiklah" Diego menerima lencana nya kembali Ia pun langsung menggenggam lencana itu.


Ting


Buk guru Luna membulatkan mata nya dengan sempurna. "Sudah lah Luna, mari sini ku bantu mengisi formulir pendaftaran nya" ajak Pak guru tersebut.


Setelah itu Diego mengisi formulir pendaftaran dengan bantuan dari Pak guru Gerald. Diego pun menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Pak guru Gerald dengan baik.


"Baiklah sudah selesai, tes seleksi nya akan diadakan dua hari lagi di tempat ini semua peserta wajib datang pukul delapan pagi jangan sampai terlambat ya" pak Guru Gerald memberikan kertas formulir itu pada Diego.


Diego menerima kertas formulir itu "kalau boleh ku tau seperti apa tes nya nanti" tanya pemuda berambut biru itu.


"Untuk tes nya nanti masih dirahasiakan, jadi tunggu saja dua hari lagi" Pak guru Gerald tersenyum lebar dan melambaikan tangan nya pada Diego.


"Baiklah kalau begitu sampai jumpa dua hari lagi" ujar Diego. "Ayo Diego kita pulang" ajak paman Varlino. Diego mengangguk dan berjalan mengikuti suara langkah kaki Pama Varlino.


...Part 3...


Diego mengenali pemilik suara ini "Sally kamu sedang berbelanja ya" tanya Diego. "Iya aku belanja untuk makan malam nanti, kamu mau dibuatkan apa Diego" tanya gadis itu.


"Ehm....aku juga ada di sini lho Sally" ujar Paman Varlino. Pipi Sally bersemu merah dan ia langsung menundukan kepala nya "Ma....maaa..maaf...maaf tuan Varlino aku tidak melihat mu tadi".


"Tidak apa Sally aku tau rasa nya saat lagi kasmaran, oh iya ayo pulang aku lapar" Paman Varlino berjalan mendahului Diego dan Sally. Diego mencoba mengingat hal yang berkaitan dengan Sally. Sally memiliki rambut pirang yang di kuncir dua dan mata berwarna hijau ia adalah salah satu dari empat maid yang di temukan Nora di hutan dan yang paling muda di antara yang maid yang lain.


Walau begitu Sally lebih tua dua tahun dari Diego. Sally juga memiliki izin dari bibi Stella untuk berbicara dalam waktu yang lama dengan Diego.


Banyak kejadian yang tidak mengenakan antara tiga maid lain dengan Diego. Dulu Diego pernah di beri ramuan cinta oleh salah seorang maid dan hampir saja ia memperkosa maid itu untung lah Bibi Stella datang tepat waktu.


Sejak saat itu maid di rumah Paman Varlino tidak boleh berbicara dengan Diego terlalu lama kecuali Sally. "Diego.... Diego!" suara Sally menyadarkan Diego dari lamunan nya.


"Iya ada apa" tanya Pemuda berambut biru itu.


"Apa kamu merasa tidak enak badan" Sally langsung berjinjit untuk menempelkan dahi nya di dahi Diego.


"Suhu tubuh mu normal kok" Sally langsung menjauh wajah nya dari wajah nya dari wajah pemuda berambut biru itu. "Apa perlu ku hubungi Dokter Oliver untuk memeriksa mu" usul Sally.


"Aku baik baik saja Sally ayo kita pulang" anak pemuda berambut biru itu. Mereka pun berjalan berdampingan sesekali Sally memandang pemuda berambut biru itu.


"Oh iya Diego apa kamu akan tinggal selama nya di rumah Tuan Varlino" tanya Sally dengan sedikit khawatir.


"Entahlah aku sudah lama tidak pulang ke gubuk ku mungkin aku harus memperbaiki gubuk agar layak huni" jika di ingat lagi sejak ia bersekolah Diego tidak pernah pulang ke gubuk nya.


"Kenapa kamu masih suka tinggal di gubuk tua itu!!" pekik Sally. "Gubuk itu tidak layak huni bahkan hewan ternak pun tidak layak di tinggal di sana apa lagi kamu, lebih baik tinggal di rumah Tuan Varlino" tambah nya.


"Terima kasih perhatian nya tapi sejak jadi petualang aku sudah diajari untuk dapat hidup di mana saja tetapi percayalah dengan ku jika gubuk itu diperbaiki sedikit maka gubuk ku bakal lebih keren dari rumah bangsawan" ujar Diego dengan bangga.

__ADS_1


"Haha iya deh"


Sally jadi teringat saat Diego memperbaiki gubuk nya sendiri. Pemuda berambut biru ini memiliki kemampuan pertukangan yang sangat buruk dan entah kenapa Diego terlihat bangga dengan pekerjaan nya itu.


Mereka akhirnya sampai di rumah "sudah dulu ya aku mau memasak kalau ada sesuatu panggil saja aku" Sally berjalan mendahului Diego dan memasuki rumah.


"Tentu"


...Part 4...


Diego berjalan memasuki rumah namun tiba tiba ia terjatuh ke lantai karena tersandung sesuatu.


"Diego!" seru seorang wanita kemudian ia berlari ke arah Diego. Tangan nya langsung menarik tangan Diego untuk berdiri "apa ada bagian yang sakit" suara itu terdengar sangat khawatir.


Diego mengenali pemilik suara tersebut "Bibi Sophia aku tidak apa apa lagian hanya tersandung" pemuda berambut biru itu tersenyum untuk menenangkan bibi Sophia.


Tiba tiba hidung nya di tarik sesuatu "jangan selalu bertingkah sok kuat ya bibi tidak suka itu" ujar Bibi Sophia.


"Aduh duh duh duh...sakit bibi lepaskan" Diego meraih tangan bibi Sophia namun tangan nya semakin kuat menekan hidung Diego.


"Maaf bibi...aku minta maaf aku tidak akan bertingkah sok kuat lagi" ujar Diego pasrah. Bibi Sophia tersenyum dan berjalan melewati Diego tak lupa menarik tangan pemuda berambut biru itu.


Mereka memasuki rumah Paman Varlino "Apa bibi bolos kerja lagi" tanya Diego.


"Iiih jahat sekali perkataan mu Diego, jam kerja ku sudah selesai jadi sekarang aku bebas pergi kemana saja" ujar bibi Sophia dengan santai.


Akan tetapi langkah kaki Bibi Sophia berhenti "oh Varlino sahabat baik ku, apa kabar mu? apa masih jadi kacung federasi perdamaian?" sapa Bibi Sophia dengan antusias.


"Kabar ku baik dan Sophia harus kau ingat ini aku bukan lah seorang kacung" Paman Varlino menghelai nafas berat kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan sahabat dan anak dari sahabat nya itu.


"Varlino apa Stella ada di rumah" Bibi Sophia menarik tangan pemuda berambut biru itu membuat Diego terkejut sehingga hampir terjatuh.


"Dia sedang berada di pemukiman bangsawan" Paman Varlino duduk di sofa ruang tamu. "Bagaimana kabar Oliver apa dia sudah kembali kekaisaran Magnolia" tanya Varlino.


"Iya dia sudah berangkat pagi tadi" bibi Sophia duduk di depan Paman Varlino. Bibi Sophia masih memegangi tangan Diego sehingga pemuda berambut biru itu harus mengikuti bibi Sophia kemana pun.


"Ya ampun padahal aku dan dia belum bertemu sama sekali" gerutu Paman Varlino. "Salah sendiri karena terlalu sibuk" timpal bibi Sophia.


"Oh iya Diego baru saja mendaftar menjadi guru di Akademi Kaum lho" ujar Paman Varlino. "Eh benar kah!? itu bagus sekali Diego" Sophia langsung memeluk Diego dengan sangat erat.


"Bibi aku tidak bisa bernafas" Diego berusaha melepaskan pelukan bibi Sophia. Bibi Sophia memang mempunyai fisik yang sangat tangguh bahkan Diego pernah dikalahkan dalam waktu tiga puluh detik.


Bibi Sophia melepaskan pelukannya "aku jadi teringat dia tapi Diego pasti bisa lebih hebat dari dia bibi percaya itu" ujar bibi Sophia dengan memberi penekanan pada kata dia.


"Tapi kamu percaya diri sekali mendaftar jadi guru Varlino saja harus menempuh pendidikan yang sangat lama untuk menjadi seorang pendidik" Bibi Sophia mengelus pucuk kepala Diego.


"Paman Varlino yang meminta ku mendaftar" ujar Diego. "Terus bagaimana dengan status mu sebagai siswa, rasa nya agak aneh saat seorang siswa menjadi guru secara tiba tiba" ujar bibi Sophia.


"Tenang saja Sophia pekerjaan ini memang diperuntukkan bagi petualang seperti Diego...sebuah mata pelajaran baru di akademi nama nya Bimbingan petualang sangat cocok buat Diego yang seorang petualang berpengalaman" ujar Varlino.


"Aku jadi lega kalau begitu" ujar Bibi Sophia.


"Oh iya Diego sudah lama kamu tidak menginap di rumah bibi, bagaimana kalau menginap di rumah bibi" Sophia menatap Diego dengan mata yang berbinar binar. "Hm Baik lah tapi sebelum itu..." Diego terdiam sejenak.


"Paman, dulu aku pernah diajari oleh seorang pria bernama Shoul. Kak Shoul mengajari ku banyak hal mulai dari bertarung, membuat potion, mengajariku sihir dan memberikan banyak pengalaman dan tak lupa melatih kedisiplinan ku, lalu aku bertemu dengan seorang pria bernama Vincent dia adalah seorang kutu buku dari nya aku mulai membaca banyak buku, ia mengajari aku tentang yang baik dan yang buruk, dia lah yang mengajari untuk berpikir realistis dan selalu membantu ku untuk berdamai dengan masa lalu ku......."


"Karena itu lah paman izin kan aku mengajarkan apa yang aku pelajari dari mereka agar ilmu berharga yang mereka berikan pada tetap hidup" Diego menundukkan kepala nya di di hadapan Paman Varlino.


Suasana menjadi hening namun sebuah senyum terukir di wajah pria satu anak itu. "Huh....kau berkata seolah-olah bisa lolos tes nya dengan mudah...dan asal kau tau Diego.....menjadi guru itu berat kau harus memahami bukan hanya satu siswa tetapi banyak siswa dengan berbagai kepribadian....kau boleh mengajarkan apa yang diajarkan pria bernama Shoul dan Vincent itu tetapi ada buku pegangan yang harus kau ikuti" Varlino menatap pemuda itu dengan tajam.


Diego tersenyum "tentu saja karena aku lah yang akan mendapatkan pekerjaan ini lagi pula dibutuhkan petualang yang punya banyak pengalaman kan" tertawa kecil. Bibi Sophia menatap pemuda berambut biru itu dan ikut tersenyum kemudian memeluk Diego dengan sangat erat "Tentu saja karena Diego adalah anak yang paling hebaaaaaat".

__ADS_1


'Lihat lah Kalista betapa hebat nya anak ini, bahkan dia jauh lebih hebat dari diri mu dan keluarga Balserion yang selalu kau agung-agungkan'.


__ADS_2