The Seven

The Seven
Prolog Dalam Sebuah Kisah


__ADS_3

...Part 1...


Diego langsung memasang tas anak panah itu dipunggungnya. Ia pun langsung mengambil lima anak panah dari tas tersebut.


Ke lima anak panah itu langsung mengeluarkan cahaya yang berwarna-warni. Diego langsung memasang anak panah itu di busur dan menembakan nya.


Anak panah itu melesat dengan sangat cepat kemudian cahaya yang berwarna-warni seketika berubah menjadi warna hijau itu pun berubah menjadi pusaran angin yang menyelimuti panah tersebut. lalu panah melesat jauhlebih cepat.


Kelima anak panah itu melesat dan meliuk-liuk bagai ular yang merayap di atas tanah. Namun Cordon tidak berniat menghindar ia pun memasang kuda-kuda dan bersiap menerima serangan Diego. Pedang Cordon mengeluarkan petir yang menyambar apa saja yang ada di dekat nya.


Zriiiiiiing......ctaaaaar..... triiiiiiing


Saat ke lima panah Diego itu mendekat. Cordon tiba tiba menghilang dan muncul di atas Diego. Ia pun langsung menebaskan pedangnya pada Diego tetapi pemuda berambut biru itu menahan serangan dengan busur hitam nya.


Diego pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menarik nafas nya dan menepis pedang Cordon ke samping.


Diego langsung memutar busur nya dengan kedua tangan nya. Busur Diego menghantam rahang bawah Cordon membuat pria itu terhuyung ke samping.


Namun serangan itu tidak cukup untuk membuat ia jatuh. Diego memutarkan busur nya dengan kedua tangan kemudian berputar dan menyerang kaki Cordon.


Cordon terjatuh dengan posisi telentang. Diego langsung mengangkat kaki kanan setinggi mungkin. Kaki nya mengeluarkan cahaya yang berwarna warni itub berubah menjadi warna hijau dan merah.


Sebuah badai api tercipta dari kaki nya. Diego langsung menyerang Cordon yang masih terbaring di lantai namun tepat sebelum hantaman kaki Diego mendarat di muka Cordon. Pria berambut merah itu menghilang.


Diego merasakan perubahan udara yang cepat di belakang tanpa pikir panjang ia langsung menggunakannya kedua tangan nya untuk menahan benda tersebut.


Namun Diego terpental ke samping dan menghantam dinding arena lalu terjatuh ke tanah.


"Skill pertama Booster"


Warna pedang Cordon berubah menjadi merah. Ia pun langsung berlari secepat kilat menuju Diego.


Cordon menyerang Diego secara bertubi-tubi namun pemuda berambut biru itu berhasil menangkis semua serangan dari pria yang berjuluk Blade of Justice.


Diego terus menyerang Cordon dengan busur panah yang telah dialirkan mana nya. Tetapi Cordon dapat menahan serangan Diego.


Diego mundur dua langkah ke belakang kemudian berputar. Ia hendak memukul Cordon dengan busur nya tetapi pria itu menahan serangan Diego dengan pedang nya.


Diego langsung mengambil anak panah nya dan menembakkan anak panah itu pada Cordon.


Cordon langsung melompat menjauh namun ia memberikan serangan balasan pada Diego berupa tebasan petir dari kaki nya.


Diego menahan serangan itu menggunakan busur nya. Membuat ia terdorong sampai ke tepi arena.


Zriiiiingg...... triiiiiiing


Diego mengeratkan pegangan pada busur nya kemudian memutar busur dengan kedua tangan.


Serangan Cordon berhasil ia tangkis. Diego menarik nafas dan mengambil satu anak panah dan langsung menembakan nya pada Cordon.


Tidak sampai di situ Diego menembakan puluhan anak panah pada Cordon.


Cordon dengan mudah menghindari semua serangan Diego. Ia pun langsung berlari menuju Diego yang berada di tepi lapangan.


Sebuah panah api melesat ke arah nya namun serangan seperti ini cukup mudah dihindari. Tiba tiba Diego sudah berada di belakang diri nya dan menembakkan sebuah panah api.


Cordon langsung melompat ke samping untuk menghindari serangan itu. Dua panah itu bertemu dan menciptakan ledakan besar membuat Cordon terhempas di tanah.


Duaaaaaaaaaaar


Arena dipenuhi oleh api sedangkan Diego berdiri di tengah kobaran api tersebut. Di sisi lain Cordon menggeram kesal karena lagi lagi dia terperdaya oleh pemuda berambut biru itu.


Ternyata anak itu sudah memasukan sihir teleportasi di dalam panah yang ia tembakan sebelum nya. Pantas saja dia memberikan serangan yang mudah dihindari.


...Part 2...


Cordon bangkit dan memandang pemuda berambut biru itu. Ia berlari dan menghunuskan pedangnya ke arah leher Diego.


Diego mundur dua langkah. "Skill dua Cut area" Cordon memasang kuda kuda dan seketika muncul lingkaran berwarna hitam yang mengelilingi pria berambut merah itu.


Diego langsung membuat dindingnya angin untuk menandingi skill Cordon. Diego harus mengorbankan cukup banyak mana untuk melawan Skill kedua Cordon atau dia akan terbelah menjadi dua bagian


Diego mengeratkan pegangan pada busur nya. Ia pun langsung bersiap dalam posisi menembak dan mulai menarik tali busur nya.


Sebuah panah angin raksasa muncul di langit. Ia melepaskan tali busur nya lalu panah itu melesat menuju Cordon.


Syuuuuuuur..... duaaaaaaaaaaar.....kretaak.... kreeeetak


Pusaran angin Diego perlahan menghilang tiba tiba Cordon berlari mendekati Diego dan menebas tubuh pemuda itu.


Darah segar keluar dari tubuh pemuda berambut biru itu. Diego langsung melompat mundur dan mengambil sebuah anak panah.


Ia pun menembakan panah itu namun Cordon dengan mudah menghindari nya. Pertarungan sengit pun di mulai. Diego melancarkan banyak serangan pada Cordon mulai serangan jarak jauh, dekat, dan menengah namun itu belum cukup membuat pria ini kalah.


Diego mundur dua langkah dan menghindari semua serangan Cordon dan melakukan serangan balasan.


Cordon mendaratkan sebuah tinju di dagu Diego. Membuat pria berambut biru terlempar ke udara. Tidak sampai di situ Diego mendaratkan sebuah tinju di perut. Membuat Diego terpental dan menabrak dinding arena sampai hancur.


Diego berjalan keluar dari reruntuhan dengan ukuran busur panah yang bertambah besar dan munculah sebuah zirah di tubuh Diego. Zirah yang menutupi tubuh nya namun tak menutupi kedua lengan nya.


Diego berhenti berjalan dan bersiap untuk menembak kemudian menarik tali busur panah nya. Puluhan anak panah angin muncul di udara lalu melesat ke arah Cordon.


Cordon langsung berlari menghindari semua anak panah Diego sesekali ia menangkis nya. Sebuah anak panah muncul di busurnya lalu ia melepaskannya.


"Judgment Arrow"


Namun entah kenapa Diego tidak menembakan nya pada Cordon. Cordon membulatkan mata nya ia baru menyadari sesuatu.


'Sialan aku selalu terperdaya oleh teknik bocah ini'


Tiba tiba anak panah itu muncul dihadapan Cordon namun sebenarnya diri nya lah yang muncul dihadapan panah tersebut.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang ia langsung menangkis panah itu menggunakan pedang nya. Namun ia tak sanggup menahan serangan itu dan terdorongnya sampai dinding arena.


"Aaaaaarrrrrrrgg"


Cordon berteriak kesal dan hendak menepis serangan Diego namun pemuda berambut biru itu tidak membiarkan hal itu terjadi.


Panah angin yang Diego buat tadi langsung melesat ke arah Cordon.


Duaaaaaaaaaaar


Ledakan besar terjadi debu debu berterbangan. Diego menghelai nafas pelan dan perlahan armor nya menghilang dan panah nya kembali ke ukuran semula.


Pemuda berambut biru itu berbalik dan berjalan menuju tongkat kayu nya. "Padahal aku ingin menggunakan benda ini tapi ya sudahlah" Diego menarik tongkat nya dan berjalan mendekati dinding arena kemudian menyandarkan diri nya di sana.


Diego mendengar derap langkah kaki berjalan memasuki arena. "Diego!!" teriak seorang pria yang berlari ke arah nya.


Ia mengenali pemilik suara ini "ada apa Paman Varlino" tanya Diego. "Ada apa kata mu? lihat kondisi mu sekarang benar benar parah!!" bentak paman Varlino.


"Paman akan menyembuhkan mu sekarang" Paman Varlino mengaktifkan lambang sihir nya. Sebuah lambang sihir Sword muncul di dahi kanan nya.


Di tangan kanan nya muncul sebuah rapier berwarna putih dengan gagang berwarna kuning.


"Skill ke tiga Light Healing full power"


Rapier paman Varlino mengeluarkan cahaya berwarna emas dan meletakkan ujung rapier di bahu Diego.


Cahaya dari rapier itu perlahan merambat ke tubuh Diego. Semua luka nya perlahan menghilang, setelah luka Diego sembuh cahaya itu pun menghilang.


Elemen cahaya bertipe penyembuhan itu sangat langkah. Jika ada orang yang terlahir dengan elemen itu bisa nya mereka akan menjadi saint namun paman Varlino tidak menjadi saint ia malah menjadi seorang pendidik.


Padahal kehidupan seorang saint benar benar enak. Mereka dihormati oleh banyak orang, dan di gaji jika mereka berbuat baik pada orang lain.


"Ya ampun aku sangat beruntung bisa melihat elemen cahaya tipe penyembuhan yang sangat langkah, apa anda seorang saint?" paman Varlino dan guru guru lain terkejut mendengar suara itu.


Terlihat seorang pria berambut merah yang tak lain adalah Cordon. Kondisi cukup parah baju nya hancur menyisahkan celana yang sobek-sobek dan tubuh di penuhi oleh luka.


"Cordon bisa kau berhenti melakukan itu" ketus Diego. Berbeda dengan pertemuan mereka di restoran bersama Nona Mars dan saat mengantar Tuan White sekeluarga meninggalkan kota kaum. Waktu itu ia benar benar tidak merasakan kedatangan pria ini.


Akan tetapi sekarang secara samar-samar ia bisa merasakan kedatangan pria ini. "Melakukan apa ?" tanya Cordon dengan polos.


Diego menghelai nafas panjang "sudahlah tidak usah dipikirkan" ketus Diego.


...Part 3...


"Sepertinya kau terluka parah akan ku sembuhkan luka mu juga" ujar Paman Varlino ia meletakkan ujung rapier di bahu Diego.


Seketika luka yang di derita Cordon langsung menghilang. "Ah aku teringat sesuatu, Diego apa kau ingat anak yang kita tolong dari sekelompok petualang psikopat di kota Gringang" Diego mengangguk ia ingat pada anak kecil itu dia memiliki elemen cahaya bertipe penyembuhan sama seperti paman Varlino.


"Beberapa minggu lalu ia ditemukan terbunuh di rumah nya dan terdapat mayat lain yang merupakan anggota dari pasukan sayap kebebasan" ujar pria itu menyarungkan pedang nya.


"Aku tidak peduli Cordon lagian dia bukan tanggung jawab kita lagi" Paman Varlino sangat terkejut saat mendengar penuturan Diego tersebut.


"Iya memang sih kita berdua sepakat harus menghormati keputusan nya untuk hidup mandiri waktu itu tapi yang lebih penting kau juga harus berhati hati banyak petualang yang menghilang dan hilang nya mereka selalu berkaitan dengan sayap kebebasan" ujar pria berambut merah itu memandang Diego.


"Ya apa salah nya memastikan kali saja kau sudah mati kan, sebagai teman aku harus memastikan" Cordon tertawa kecil dan memandang pemuda berambut biru itu.


"Permisi seperti nya kau sangat mengenal Diego, boleh ku tau apa hubungan kalian" tanya Paman Varlino.


"Kami teman seperjuangan sejak misi di kota Tonren setelah misi itu pun kami masih sering melakukan misi bersama" ujar Cordon.


"Begitu ya mungkin kita bisa bicara setelah ini tetapi kami harus melakukan sesuatu yang penting sekarang" ujar Paman Varlino memandang seorang guru yang membawa nampan berisi sebuah seragam.


"Gerald tolong aktifkan bola kristal nya" paman Varlino memandang pak guru Gerald yang membawa bola kristal.


"Bola kristal nya sudah menyala sejak kita masuk arena tadi Professor" Pak guru Gerald memandang bola kristal tersebut.


"Semua nya setelah melakukan pertandingan yang sulit dan sangat sengit akhirnya keputusan pun sudah dibuat....dengan ini Diego atau Archer Form Blue Moon akan menjadi guru baru di akademi ini...kepada kepala sekolah Brilindia Joshua kami persilahkan untuk melakukan pelantikan pada guru baru kita" ujar Pak Guru Gerald dengan penuh semangat.


Setelah melalui prosesi pelantikan Diego akhirnya resmi menjadi guru baru di akademi kaum.


Setelah pelantikan Diego bersama Paman Gilbert, Paman Varlino, Bibi Stella dan Bibi Sophia serta Nora, Slyphim sedang berjalan pulang.


"Baiklah untuk merayakan keberhasilan Diego mari kita makan bersama" ajak Paman Gilbert. "Ayo" teriak Bibi Sophia, Nora dan Slyphim dengan penuh semangat.


***


...Part 4...


Seorang gadis berambut panjang berwarna hitam dengan poni yang menutupi dahi nya dan pipi chubby. Ia sedang menatap sebuah papan pengumuman yang tertempel banyak kertas.


Karand mengambil beberapa kertas dan hendak berjalan pergi meninggalkan papan pengumuman itu.


Namun sebuah tangan menyentuh pundak Karand. Membuat gadis itu menoleh dan mendapati pria yang menepuk pundak nya itu adalah Hall.


"Karand kenapa dari tadi kau melamun" tanya Half elf tersebut. "Aku ingin mengambil misi ini tetapi aku masih takut, kau tau tentang kejadian yang menimpaku kan" ujar Karand lirih.


"Begitu ya aku turut berduka cita untuk mereka tetapi kau tidak bisa seperti ini terus Karand, kau harus melawan ketakutan mu"ujar Hall.


Karand mengangguk pelan dan menatap half elf nya itu. Umum nya Elf murni berambut pirang jika rambut nya tidak pirang kemungkinan besar ia bukan lah Elf murni.


"Oh iya kenapa kau tidak bergabung dengan party lain saja" Hall menatap gadis di depan nya ini dengan tatapan serius.


"Aku ini sangat lemah Hall, diri ku hanya akan jadi beban bagi orang lain... lihatlah misi yang ingin ku ambil ini hanya misi pemula" Karand memberikan kertas itu kepada Hall.


Hall terdiam sejenak, ia tau kabar buruk yang menimpa Karand dan Party nya tetapi bukan hanya Karand yang mengalami hal seperti itu.


Bahkan di kelas tiga pun yang notabene nya adalah kelas paling kuat. Banyak dari mereka yang hilang dan tak pernah kembali ke sekolah atau pun rumah.


Hall memandang gadis yang merupakan salah satu individu yang disukai banyak orang di akademi.


Tiba tiba ia teringat sesuatu yang penting "Karand bukan kah kamu punya kakak yang bekerja di guild" tanya Hall.

__ADS_1


Karand mengangguk pelan "memang nya ada apa" tanya balik Karand. "Guild biasa nya memberi pelatihan untuk pemula seperti kita, kenapa kau tidak meminta bantuan kakak mu untuk mendapatkan pelatihan dari guild" perkataan dari Hall membuat ia menepuk jidat nya.


"Astaga kenapa tidak terpikirkan oleh ku" geram Karand dengan kesal. "Terima kasih Hall jika jam sekolah selesai aku akan langsung pergi ke guild" tambah Karand.


"Kenapa tidak sekarang saja bukan kah guru sedang sibuk di Colosseum" ujar Hall membuat Karand terkejut.


"Memang nya ada apa di Colosseum, apa ada pertarungan" tanya Karand penasaran. "Entahlah tetapi seperti memang ada semacam pertarungan karena aku merasakan bentrok energi sihir dari Colosseum" ujar Hall.


"Baiklah sudah dulu ya aku ingin kembali ke kelas ku, wali kelas ku memberi banyak tugas dan semua tugas itu harus di kumpul sore ini, sampai jumpa Karand" Hall langsung berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Karand.


Karand terdiam benar ia terlalu takut dan terlalu senang karena Diego mau membantu nya. Ia sampai lupa jika ia punya Kak Elizabeth yang bekerja di guild.


Ia harus menemui kak Elizabeth secepatnya. Ia jadi teringat dengan Diego apa yang pemuda itu lakukan sekarang. Apa dia kembali menjadi petualang atau berdiam diri di rumah.


Mungkin ia akan memeriksa barang yang diberikan oleh Diego. Karand pun memutuskan untuk pergi namun ia tidak tau mau kemana.


Marry, Marjun, Kaisha sedang ada kelas khusus untuk anak bangsawan. Karand pun tidak tau dimana Juju. Pria kemayu itu selalu pergi ke berbagai tempat yang ia suka.


Karand berjalan tak tau arah "kira kira kemana aku akan pergi ya, Ariel baru saja pulih dari patah kaki nya aku tidak mau membuat dia repot, Nian sedang banyak tugas, Steve sedang berkumpul bersama anak laki laki, Hall juga sama seperti Nian....huh" Karand berhenti berjalan dan menghelai nafas.


"Ah iya benar sekali aku kan punya saudara angkat di sekolah ini!" Karand teringat dengan Abigail Clancy atau lebih tepat nya Abigail Clancy Balserion ia langsung berbalik dan berjalan menuju kelas Abigail.


Namun Karand berhenti sejenak "rasa nya aku pernah dengar nama Balserion di suatu tempat tapi dimana ya" ia pun tidak ambil pusing dengan nama belakang Abigail.


Toh mereka adalah saudara walau pun saudara angkat. Jika diingat lagi pertemuan pertama mereka tepat setelah insiden penyerangan mall kota kaum.


Setelah insiden itu pun Karand menemui Abigail. Ia menanyai gadis tersebut tentang bagaimana ia bisa menjadi anak angkat ayah nya.


Abigail maupun ayah nya tidak menjelaskan secara detail tetapi menurut Karand ada sesuatu yang di sembunyikan Abigail dari semua orang.


Ayah nya juga meminta untuk tidak lagi menanyai alasan Abigail menjadi saudara angkat.


Namun seperti nya takdir mempertemukan mereka jauh lebih cepat. Abigail sedang bersama Samuel teman sekamar Diego dulu.


Selain Samuel, Abigail juga bersama dengan beberapa gadis lain. "Abigail!!!" seru Karand sambil berlari mendekati Samuel dan rombongan nya.


"Karand!" ucap Abigail kaget.


"Hai saudari ku mau kemana kamu" tanya Karand. "Ah...aku ingin ke tempat latihan bersama Samuel dan teman teman nya" ujar Abigail terlihat malu malu bicara dengan Karand.


"Oh iya lama tidak bertemu dengan mu Samuel terakhir di insiden mall kota kaum" sapa Karand dan sedikit bernostalgia.


"Iya Karand lama tidak bertemu, oh iya bagaimana kabar Diego? beberapa hari lalu dia mengemasi semua barang nya di asrama kalau boleh tau dimana dia sekarang" tanya Samuel.


Abigail terlihat terkejut mendengar apa yang di ucapkan Samuel. "Ah iya kabar nya baik___ tunggu dia mengemasi barang nya di asrama" Karand ikut terkejut mendengar hal itu.


"Sudah sudah jangan bicara dengan Samuel terlalu lama" Seorang gadis berambut merah. Karand menatap gadis itu dengan seksama "Apa kita pernah bertemu" tanya Karand tiba tiba.


"Tidak, lagi pula aku tidak mau mengenal siswa kelas satu yang kenal mental saat gagal di misi pertama nya" ujar gadis berambut merah itu dengan sinis.


"Ah iya iya aku memang lemah tapi kesampingkan hal itu kamu terlihat sangat mirip dengan teman ku Kaisha apa kamu berasal dari Kerajaan Foiriestein" tanya Karand.


Tiba tiba sebuah tamparan mendarat di pipi Karand. "Jangan sebut nama gadis dan kerajaan jahat itu di depan ku!!" bentak Karand.


"Abigail apa kamu tidak apa apa" tanya Abigail khawatir.


"Clarisa apa yang kamu lakukan pada saudari ku!!!" bentak Abigail. "Abigail aku...minta maaf" ujar Clarisa terlihat menyesal.


"Tenang dulu teman teman" Samuel mencoba untuk menghentikan keributan itu sebelum terlambat.


"Kau minta aku tenang setelah dia menghina dan menampar saudari!!! Sam!!!" teriak Abigail dengan wajah yang merah padam.


"Tunggu Abigail jangan marah dulu Clarissa hanya teringat kenangan buruk dari masa lalu nya" ujar seorang elf. "Annabeth diam!!! kau lihat sendiri kan Clarisa lah yang memulai nya dulu" tukas Abigail.


"Sudah lah Abigail memang sih tamparan menyakitkan tapi aku tidak apa, lagian tujuan ku ke sini cuma untuk mu" Karand berusaha menenangkan saudara angkat nya itu walau di pipi nya terdapat bekas tangan milik gadis berambut merah itu.


"Minta maaf sekarang pada Karand, Clarisa" suruh Samuel. "Ta...tapi" ujar Clarisa tidak terima.


"Sudah lah Samuel tidak perlu repot-repot minta maaf karena suatu saat aku akan membalas tamparan ini dan ngomong-ngomong dimana pengawal pribadi mu itu Abigail"


"Petra sedang sakit jadi dia tidak masuk, ia juga menitipkan Abigail pada ku" bukan Abigail menjawab tapi Samuel lah yang menjawab pertanyaan tersebut.


"Oh oke baiklah kalau begitu Ayo Abigail ikut dengan ku" Karand meraih tangan saudari nya itu dan berjalan menjauh dengan ku.


"Samuel bilang pada pengawal pribadi Abigail, aku yang akan merawat Abigail selama dia sakit...sampai jumpa tomat busuk" Karand langsung berlari menjauh.


"Tungguuuu Karand hati hati" teriak Abigail.


Mereka berdua berlari di lorong sambil bergandengan tangan. "Ya ampun si tomat busuk itu seperti sangat kuat, rasa tamparan nya masih bersisa" gerutu Karand sambil memegangi pipi nya.


"Maaf Karand, Clarisa itu sebenarnya orang baik tapi terkadang mulut nya cukup pedas dan ia cukup tempramental....boleh aku tau mau kemana kita" tanya Abigail.


"Seperti yang ku katakan tadi Abigail aku akan membalas tamparan nya tapi sebelum itu aku harus menjadi lebih kuat dulu......sebenarnya aku juga tidak tau mau kemana jadi bagaimana kalau kita mencari tempat yang menyenangkan hehehe" Karand tersenyum dan menatap saudari angkat nya itu. Abigail mengangguk 'momen seperti ini lah yang aku ingin kan saat bersama mu Diego tapi jarak di antara kita sangat lah jauh' .


"Kalau begitu aku bisa merekomendasikan beberapa tempat yang menyenangkan, ayo kita ke sana" ajak Abigail kemudian ia menarik tangan Karand berbelok ke arah pertigaan lorong.


***


Di sebuah ruangan yang penuh kegelapan. Seorang pria yang memiliki enam mata dengan kulit abu-abu dan empat tangan keluar dari kegelapan.


"Ah kau sudah kembali ya bagaimana perburuan mu" sapa seorang pria bertubuh kurus dan jangkung dengan satu mata. Tubuh bagian bawah nya berada di dalam sebuah kendi.


"Dimana anggota yang lain" tanya pria bermata enam itu. "Mereka belum datang lagi pula ketua tidak datang jadi tidak ada yang perlu mereka takuti sekarang" pria itu menghelai nafas pelan.


"Begitu ya seperti nya rapat kali ini bukan lah rapat yang penting" pria bermata itu menghela nafas panjang dan ia terlihat kecewa.


"Bisa iya bisa tidak tetapi ketua mengirim anggota baru untuk kita" pria itu berjalan menggunakan tangan nya dan meludahkan sebuah api ke sebuah tiang.


Obor obor yang berada di tiang dan dinding menyala secara satu persatu. "Berhubung kau sudah datang maka akan ku perkenalkan kau pada mereka" obor-obor yang menyala membuat dua sosok orang yang berdiri di tengah ruangan dapqt terlihat dengan jelas.


"Bukan kah mereka___" ujar pria bermata enam itu.

__ADS_1


"Penjahat yang sedang naik daun.....Wilz Bersaudara"


***


__ADS_2