
Satu bulan berlalu Diego melewati hari hari nya di Akademi dengan cukup baik.
Di bidang Akademis Diego bisa di bilang standar. Untuk masalah pertemanan itu yang jadi masalah bagi nya.
Saat ini Diego sedang makan di kantin "boleh bergabung" tanya seorang perempuan tak lain adalah Karand.
Diego hanya mengangguk pelan. "Hei Diego kamu tidak mau makan itu" tanya Karand.
"Mau" tanya Diego. Karand mengangguk dan langsung mengambil makan Diego.
"maaf ya porsi ini terlalu sedikit untuk ku" ucap Karand dengan enteng nya.
"Kamu tau kantin ini sangat pelit" gerutu Karand.
"Tak apa sebenarnya ini juga terlalu banyak buat ku" Diego mengambil gelas dan meminum nya.
"Diego sudah sebulan lebih kita tidak bertemu , bagaimana kabarmu?" Ujar Karand dengan mulut penuh makanan.
"Cukup baik aku menikmati bersekolah seperti ini" ujar Diego. "Kau berbohong ya" bantah Karand.
"Apa maksud mu" tanya balik Diego.
"Apa sih yang kau cari di sekolah, ku lihat kau tidak punya banyak teman" karand menunjuk Diego dengan sendoknya.
"Aku mengerti maksud namun kamu harus bisa memandang sesuatu hal dengan berbagai perspektif" menjauhkan sendok karand dari depan muka nya.
"Apa sih maksudmu" tanya Karand tidak mengerti.
"Kau jangan menilai suatu hal dengan satu sudut pandang saja Karand, pandang lah dengan sudut pandang berbeda" Diego berusaha menyederhanakan kalimatnya.
"Kau ini bicara apa sih"
Diego menghelai nafas berat "baiklah aku akan mencari setidak dua atau tiga teman" ia menyerah untuk menjelaskan pada gadis di hadapan nya ini.
"Tidak Diego, kau harus mencari banyak teman karena jika kau dalam kesulitan mereka akan membantu mu begitu juga sebaliknya" ujar Karand.
"Apa kah itu benar , kalau boleh ku tanya untuk mencapai akademi ini apa teman mu membantu diri mu" pemuda berambut biru itu menatap gadis di depan nya dengan mata biru sebiru laut dalam.
__ADS_1
"Tentu kau membantuku kan pada saat itu" ujar Karand mengangkat kedua bahu nya.
Diego terdiam dan menghelai nafas "akan sulit menjelaskan nya pada mu tapi aku akan mengatakan nya secara gamblang pada mu"
"Jika aku dalam masalah maka aku akan menyelesaikan nya sendiri karena itu adalah masalah ku" ucap Diego.
"Kau salah pemuda berambut lucu" bantah Karand.
"Harusnya kalimat nya begini 'jika kita dalam masalah maka kita akan menyelesaikan nya bersama sama karena itu adalah masalah kita" Karand menatap pemuda berambut biru dan bermata biru itu dan tak lupa alis tipis berwarna biru itu.
Mereka saling menatap "masalah akan lebih mudah jika di atasi bersama" tegas Karand.
"Ada masalah yang lebih baik jika di selesaikan sendiri" bantah Diego.
"Kau tidak mengerti Karand , kasta kita berbeda dan kau berada di atas dan aku berada di bawah jadi tidak mungkin kau bisa memahami nya"
"Bicara omong kosong macam apa kau" tanya Karand.
Perdebatan ini tidak akan berakhir ia bangkit dan hendak berjalan pergi
"Hei Diego tunggu" seru Karand. Karand tanpa pikir panjang menyambar tangan Diego.
"Aku yakin kau bukan seperti orang orang pada umumnya kau itu pasti berbeda"
"Aku tidak setuju dengan perkataan mu barusan tentang kasta"
"Apa kau menentukan segala nya dengan lambang sihir" tanya Diego tiba tiba.
"Tentu saja tidak, banyak orang hebat di luar sana yang hebat bahkan mereka berasal dari kasta terendah dan banyak bajingan yang berasal dari kasta tertinggi" jawab Karand lagi.
"Lambang ini hanya sebuah simbolis saja. kita bisa melakukan hal hal yang kita ingin kan Diego" karand menatap pemuda yang sudah menolongnya di hutan penggoda waktu itu.
Diego terdiam sejenak kemudian tersenyum kecil "entah kenapa aku senang bisa mengenal Karand".
Karand terdiam dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Diego.
Bagi Karand kehidupan semua orang tidak bisa ditentukan oleh lambang sihir dan semua orang bebas menentukan ingin menjadi apa dan melakukan apa. Itu adalah hak semua orang.
__ADS_1
***
Diego berjalan di lorong sekolah. Ia tau betul semua orang menentukan sesuatu dengan lambang sihir.
Pikiran kuno seperti mengakar di pola pikir mahluk hidup. Membuat mereka tak mampu berkembang lebih jauh.
Ia bukan orang yang seperti itu. Diego tau potensi manusia itu jauh lebih dari itu.
Diego berhenti berjalan dan mengeluarkan sesuatu dari saku nya. Sebuah gelang berwarna perak dengan permata berwarna biru di tengah nya.
"Dia sangat menarik ya ibu, ku rasa aku ingin punya teman seperti diri nya lebih banyak "
"Semoga ibu tenang disana ya, tenang saja Bu. Diego akan berjuang untuk hidup Diego sendiri" Diego tersenyum kecil.
***
Tak terasa jam sekolah sudah usai murid murid mulai kembali ke asrama untuk beristirahat sejenak dari belajar.
Diego berjalan menuju kamar nya di lantai lima sesampai dikamar. Pemuda berambut biru itu membuka pintu kamar dan mendapati Samuel sedang memukuli sebuah samsak.
"Hei Diego"
Samuel terus meninju samsak itu dan ia berhenti sejenak lalu tangan kanan mengepalkan tinju kemudian meninju samsak itu sampai hancur.
"Sepertinya kau sedang dalam kondisi yang bagus ya" Diego berjalan mendekati sofa dan duduk di sana.
"Aku benci kelas ku"
"Kalau tidak salah kelas mu penuh dengan siswa berlambang sihir kelas atas bukan" Diego ingat Samuel sering menceritakan bahwa di ingin sekali pindah kelas.
"Kenapa kita harus terikat dengan lambang sihir ini" tanya Samuel dengan lirih.
"Lambang ini hanya sebuah simbolis saja. kita bisa melakukan hal hal yang kita ingin kan Samuel" Diego mengulang perkataan Karand.
"Seorang laki laki harus bisa menentukan sikap Samuel, mau latih tanding Samuel" tantang Diego. "Aku ini shield! Diego kau sudah pasti menang tak peduli seberapa lama apa aku berlatih" ketus Samuel.
"Aku baru tau kalau kau cukup bijak" Samuel tertawa kecil. "Tidak aku hanya mengulangi perkataan seseorang" Diego tertawa kecil.
__ADS_1
Diego diam sejenak "kau tau Samuel kau tidak akan pernah berubah jika terus ragu, keluar lah dari belenggu itu dan hidup lah sesuai keinginan mu"
"Atau kau hanya ingin menjadi burung dalam sangkar yang hanya bisa melihat burung lain dari dalam sangkar mu , dengan seluruh kemampuan mu"