The Seven

The Seven
Takdir


__ADS_3

Terlihat kota yang hancur porak poranda dimana banyak sekali korban berjatuhan tangisan dimana mana.


"Kenapa kenapa kenapa harus terjadi hal seperti ini" seorang wanita berseru kemudian air mata nya tak sanggup di tahan lagi.


"Abigail sayang"


ucap seorang pria mendekati Abigail. "Felix" Abigail langsung memeluk pria tersebut. "jangan khawatir sayang kita akan menolong mereka semua" Felix menyakinkan Abigail.


"Jika kau hanya menenangkan Abigail semua orang tidak akan tertolong Yang Mulia Pangeran Felix" seru seorang laki laki yang membawa tongkat sihir tak lain adalah Petra.


"Petra benar Felix ayo kita tolong semua korban" Ajak Abigail berjalan lebih dulu. Felix tersenyum dan berjalan mengikuti Abigail.


"Seperti keadaan benar benar sangat buruk sejak kau gagal menangkap Diego dan Karand Petra" seorang laki laki berseru dari kejauhan.


"Yu"


Petra menatap pemuda yang mendekatinya itu dengan tajam. "Santai saja aku datang hanya untuk melihat lihat" Yu duduk di reruntuhan bangunan.


"Andaikan Diego yang menjadi pahlawan mungkin saja perang sudah terjadi ya" Yu berkomentar.


"Yang pasti pria berambut aneh itu tidak akan sebodoh saudari tirinya"Petra tertawa mengejek.


"Kau tau dimana Diego" tanya Yu to the point. "Jadi kau ya??? utusan dari federasi perdamaian yang menggantikan tugas ku??" Petra menatap pemuda itu.


"Ya tapi federasi mengatakan jika memang mereka sudah tak ditemukan maka tugas mu berakhir" Yu menatap Abigail yang sedang mengobati banyak orang.


"Kira kira apa cara dia menghadapi para iblis itu" Yu tau nasib semua orang sedang ada di pundak gadis yang masih jauh dari kata siap untuk bertarung.


"Nasib kita di pertaruhkan di pundak kita sendiri" Yu bangkit dan berjalan pergi. Petra hanya bisa menatap yu dari kejauhan.


"Lagi lagi hanya aku lah yang bagai burung dalam sangkar" Petra mendesah pelan merutuki kenapa ia masih harus bekerja sama dengan Abigail dan kelompoknya.


***


Di sekolah Kaum


"Sir Ferdinand anda memanggilku" tanya seorang pemuda tak lain adalah Samuel. "Lama tak bertemu Samuel" Sir Ferdinand tersenyum kecil saat melihat Samuel.

__ADS_1


Menurutnya hanya Samuel lah yang bisa di ajak bertukar pikiran. Setelah itu ia menceritakan semua yang terjadi pada Samuel.


"Iblis" ucap Samuel singkat.


" Kita harus menolong semua orang orang tapi bukan kah kita tak bisa melakukan itu" Samuel terlihat pasrah.


"Ya andaikan aku tau dimana Varlino berada pasti ini akan jauh lebih muda" Sir Ferdinand memijat keningnya.


"Tapi apa kah Federasi perdamaian masih mengincar Diego dan Karand???" Samuel mengecilkan suaranya.


"Selama belum ditemukan pengganti mereka federasi perdamaian akan terus mencari mereka" Sir Ferdinand menghelai nafas pelan.


"Jadi bagaimana menurut mu sekarang" sir Ferdinand bertanya pada Diego. "Menyelamatkan orang sebanyak banyak mungkin adalah satu satunya pilihan ku" Samuel mengepalkan tangannya.


"Daniel dan Diego mereka itu sama dan Daniel sudah jatuh dalam keputusasaan serta nafsu balas dendam aku takut jika Diego mengalam hal seperti Daniel"


Sir Ferdinand mengangguk setuju. Setelah mengamati cukup lama memang benar apa yang dikatakan Samuel itu benar adanya.


Mereka adalah anak anak luar biasa yang mampu melewati hukum lambang sihir. "Tujuh Ksatria hitam saat sedang mengumpulkan energi mereka kembali setelah ratusan tahun terkurung mereka mungkin akan menyerang dalam satu...dua...tiga"


tiba tiba ledakan terjadi dimana mana. Sir Ferdinand menghelai nafas. "Aku benci perhitungan ku yang selalu tepat" gerutu Sir Ferdinand.


"Elf"


Samuel terkejut bukan main mendengar hal itu. "Samuel pergi lah" suruh Sir Ferdinand. "Tujuh ksatria Hitam selamat datang di ruangan ku nama ku Ferdinand salah satu Professor di akademi ini, kalau boleh tau apa yang membawa anda sekali kemari" Sir Ferdinand menyambut tujuh ksatria hitam itu dengan sangat ramah dan sopan.


Samuel terdiam tidak tau harus berbuat apa. Bergerak pun ia tak sanggup kaki nya terasa sangat berat.


"Oh iya kalian mau teh atau kopi" tanya Sir Ferdinand.


Tiba tiba sebuah tebasan pedang mengarah padanya namun Sir Ferdinand menghindari tebasan pedang itu walau hanya satu senti meter.


Tiba tiba sebuah lingkaran sihir terbentuk di lantai "Aku punya kembang api yang bagus lho" ledakan besar terjadi menghancurkan ruangan sir Ferdinand.


Semua orang berlari mendekat Sir Ferdinand melompat keluar dari kobaran api sambil membawa Samuel keluar.


"Ada apa Sir Ferdinand" tanya seorang guru disana.

__ADS_1


"Tidak ada hanya saja banyak tamu yang tidak sabaran" Sir Ferdinand menjatuhkan Samuel. "Api suci, sepertinya kamu bukan lah orang sembarangan" iblis berkulit putih pucat itu berhasil selamat.


"Seperti kalian harus mencari anggota baru soalnya jika tidak kalian akan menjadi empat ksatria hitam"


iblis berkulit putih pucat itu melirik ke arah kobaran api. hanya ada satu teman nya yang menjadi korban serangan pria itu.


Namun betapa terkejutnya melihat salah satu temannya kejang kejang dan kemudian meledak tanpa sisa.


"Kau beraninya membunuh teman teman ku" teriak iblis itu. "Tentu aku berani" jawab Sir Ferdinand dengan santai kemudian melepaskan jubah nya sebuah buku grimoire muncul dengan tongkat sihir di tangannya.


"Kalian akan ku buat menyesal telah berhasil lolos dari tempat kalian di segel" aura sihir meluap luap.


"Ini kah kekuatan seorang Professor sesungguhnya" ujar seorang murid.


"Skill pertama Ruang"


Empat iblis tersisa menghilang dan muncul dihadapannya. "Kenapa aku tidak bisa bergerak".


Sebuah energi sihir yang besar terkumpul di langit. "Sampai jumpa" ledakan energi itu menghancurkan mengenai mereka dengan telak.


Setelah serangan itu usai "mereka berhasil kabur rupanya". "Cukup aneh ada yang bisa kabur dari skill pertama ku tapi mereka itu mantan pasukan elite klan iblis sebelum mereka memberontak" gumah Sir Ferdinand.


Melihat kerusakan yang di hasilkan Sir Ferdinand pun menghelai nafas pelan. "Skill ketiga ruang dan waktu"


perlahan lahan semua kerusakan akibat kedatangan enam ksatria hitam dan akibat serangan sihir nya kembali normal.


"Semua nya kembali ke aktivitas kalian masing masing" perintah Sir Ferdinand kemudian berjalan pergi.


Samuel hanya terdiam kemudian menyusul Sir Ferdinand.


"Tunggu aku Sir" seru Samuel.


"Kenapa Samuel" tanya Sir Ferdinand. "Bagaimana aku bisa sekuat dirimu" tanya Samuel dengan polosnya.


Sir Ferdinand terdiam kemudian tersenyum tipis kemudian berbalik. "Tanyakan lah pada dirimu sendiri kenapa kau memerlukan kekuatan".


Sir Ferdinand berbalik dan berjalan pergi. "Tunggu siapa sebenarnya dirimu" Sir Ferdinand terdiam sudah lama tidak ada yang menanyai dirinya tentang siapa dirinya.

__ADS_1


"Hanya seorang elf yang menderita karena kekuatannya"


__ADS_2