The Seven

The Seven
Mencari Jalan keluar dari sangkar


__ADS_3

"Aduh lelahnya" keluh Karand.


"Tadi kan sudah di tawari mau istirahat atau tidak" Diego tertawa kecil. "Sudah berapa puluh meter kita berjalan sih kita malah sudah menjauh dari pantai" keluh Karand.


"Tapi kita tidak menemukan seluring bumi di sana , Karand" Safina terlihat khawatir.


"Aku yakin kita akan menemukan nya tenang saja, karena...." Diego diam sejenak membuat semua orang menatapnya. "Karena ada aku bersama kalian" Diego berhenti berjalan


"Dasar ku pikir kau menemukan makna syair itu" gerutu Karand kemudian menghadiahi Diego sebuah tinju di bahu.


Diego tertawa kecil kemudian Karand berjalan mendahului mereka. "Candaan mu kurang bagus Diego" Ted tertawa.


"Ku pikir tadi bisa menghiburnya" Diego mengangkat kedua bahunya. "Aku jadi ingat saat Ted suka merayu ku ah nikmat nya masa muda" Safina tersenyum mengingat masa muda walau sebenarnya saat bertemu dengan Ted umur sudah lebih seratus tahun.


"Bukankah itu tak ada hubungannya" tanya Ted. "Dasar suami tidak romantis" gerutu Safina pergi menyusul Karand.


Suasana hening terjadi karena kedua wanita itu meninggalkan mereka. "Dasar masih saja suka lupa umur " Tes tertawa melihat perilaku istrinya itu.


"Ini masalah yang cukup serius Ras Mermaid seperti berpatroli di sekitar Seruling bumi yang kita cari" ujar Diego tiba tiba.


"Tunggu kau tau tempat yang kita tuju dimana???" Ted terkejut. "Bahkan saat sebelum pergi aku pun sudah tau dimana letaknya" Diego berjalan mendekati sebuah pohon dan duduk dibawahnya.


"Tunggu apa lagi ayo kita beritahu mereka" Ted langsung berjalan mencari kedua wanita itu.


"Tidak jangan beritahu pada mereka" ujar Diego. "Kenapa" tanya Ted kesal melihat tingkah Diego.


"Seruling Bumi yang dimaksud oleh Dwart itu adalah pulau tengkorak yang berada tepat di arah barat kita , tapi pulau itu adalah markas cabang federasi perdamaian . kau ingat kami ini buronan aku khawatir pada kau dan keluargamu" ujar Diego.


Ted terdiam rupanya Diego khawatir jika menyeret dirinya dan keluarganya. "Tidak apa Diego kita akan melewati nya bersama" Ted mencoba menyakinkan Diego.


"Apa kau siap kehilangan anak dan istrimu" Diego tersenyum sinis. "Tentu saja tidak!!!apa kau gila!!!" teriak Ted.


"Karena itu lah aku bilang tidak usah memberitahu mereka ini adalah misi bunuh diri lebih baik kalian kembali ke hutan kabut putih" suruh Diego.


"Tidak aku sudah mencurahkan segalanya untuk kesempatan ini , aku ingin mencari tempat tinggal untuk yang aman untuk keluarga ku tidak seperti disini" Ted mengepalkan tangannya mengingat semua ketidakadilan yang mereka dapatkan.

__ADS_1


"Cepat cari mereka sebelum terlalu jauh" suruh Diego. "Kau sendiri" tanya Ted. "Aku akan memikirkan cara terbaik untuk mengantar kalian pergi ketempat impian kalian".


Mendengar perkataan Diego, Ted menjadi paham bahwa Diego sedang dalam dilema yang berat karena mereka semua. Ia memilih diam dan tidak menganggu pemuda itu.


"Setelah tanyakan pada dirimu mau apa kau disana" Diego mengulangi syair yang amat menganggu dirinya sejak pertama mendengarnya.


"Mau apa aku disana" Diego menutup mata sejenak.


"Mengantar mereka ke tempat aman setelah itu kemana aku mau pergi" tanya Diego pada dirinya sendiri.


"Aku tak punya tempat untuk pulang"


"Kenapa kakak terlihat murung" Diego membuka matanya dan mendapati seorang anak kecil berusia sekitar Sembilan tahun membawa sebuah payung dengan jas hujan dan sepatu bot nya.


"Siapa kau"


"Kakak ini sangat waspada ya" anak itu tersenyum kecil yang membuat Diego tambah curiga.


"Jangan terlalu waspada kak , aku hanya ingin menyapa kakak saja" anak itu tertawa kecil.


"Apa tujuan mu" tanya Diego.


"Aku memang harus takut pada anak kecil yang tiba tiba datang tanpa suara dan tanpa bayangan" Diego tau anak ini bukan lah manusia melainkan hantu.


"Kakak hebat sekali orang biasa pasti tak akan bisa melihat ku"


"Kenapa kakak ini terlihat sangat murung" tanya hantu anak kecil itu. "Aku bingung aku harus pergi ke pulau tengkorak namun disana ada markas federasi perdamaian aku tidak bisa kesana" entah kenapa Diego jauh lebih terbuka pada seorang hantu dari pada mahluk hidup.


"Ya Stigma memang menyebalkan, mereka itu orang orang yang mengatasnamakan kebaikan dan kebenaran tapi tidak pernah berbuat kebaikan" hantu itu sangat kesal.


Namun ada yang aneh menurut Diego dari perkataan sang hantu. "Apa maksud mu Stigma"" tanya Diego.


"Nanti kakak akan tau sendiri , oh iya aku ingin memberikan sebuah seruling kerang pada kakak ku harap kakak suka" hantu itu mengeluarkan sebuah seruling kerang.


Diego menerima seruling itu "sekarang bangun lah" ujar hantu kecil itu. Diego membuka mata nya dan ternyata hanya sebuah mimpi.

__ADS_1


Hari sudah petang dan Diego mendapati di tangan nya ada sebuah seruling kerang. Diego menatap seruling tersebut dengan rasa penasaran.


"Hei Diego" seru Ted.


"Ada apa" tanya Diego kemudian bangkit dari duduknya.


"Kau dari mana saja" tanya Ted. "Aku tidur di bawah pohon tadi" ujar Diego. "Jangan bercanda Diego kami sudah mencari mu kemana mana" Diego terdiam rasa nya ia cuma memejamkan mata dan tau tau bertemu dengan hantu anak kecil namun rupanya ia tertidur.


"Sudahlah dimana yang lain" Diego mengalihkan pembicaraan. "Oh ayo mereka sudah khawatir pada mu" ujar Ted berjalan lebih dulu.


'Khawatir dengan ku'


Diego menatap langit sore yang berwarna jingga. "Mungkin hanya opini mu saja Ted" gumah Diego berjalan mengekor pada Ted.


"Diego kau ini kemana saja" seru Karand berjalan mendekati pemuda itu. Karand meraih kerah baju Diego.


"Jangan pergi secara tiba tiba , mengerti" Karand menatap pemuda itu dengan tajam. "ciuman ciuman ciuman" semua orang menatap Safina yang sedang menghasut kedua remaja itu.


"Tolong maafkan istri ku ini dia memang agak ya begitu lah" Ted memijat dahinya karena melihat perilaku istrinya itu.


"Aku lapar jadi lepaskan ya" Diego melepaskan cengkeraman Karand dengan lembut kemudian berjalan mendekati api unggun itu.


"Dia orang memang unik ya" Ted berkomentar. "Menurut ku dia itu orang aneh" gerutu Karand.


***


Di kota Kaum


"Ayah!!!" teriak Abigail melihat ayah nya tak berdaya menghadapi Roberto. "Aku akhirnya mengerti sekarang" ujar Roberto berjalan mendekati ayahnya.


"Kau menjadi Sword Saint Master hanya karena anak mu adalah Sang Pahlawan, kemampuan mu bahkan jauh dari kata layak untuk gelar itu"


"Kau akan menerima akibatnya" James tersenyum sinis. "Aku akan mencari kebenaran sesungguhnya dan meruntuhkan federasi perdamaian"


"hei hei bukan itu rencana nya" ujar Gorniet mengingatkan sekutunya itu.

__ADS_1


"Gorniet terima kasih atas bantuan nya tapi tugas mu sudah selesai" Roberto menatap iblis itu.


"Kau beraninya!! "


__ADS_2