
"Abigail"
"Ayah" sang pahlawan terkejut melihat kedatangan sang ayah. "Ada apa yah" tanya Abigail heran jarang sekali ia melihat ayah menemuinya tanpa memberitahu.
"Apa kamu sudah siap" tanya Ayah Abigail. Abigail terdiam sejauh ini ia selalu mengamuk saat menggunakan kekuatannya.
"Tidak apa jika kamu belum siap suatu hari nanti kamu pasti siap" Ayah tersenyum dan mengusap pucuk kepala Abigail.
"Ayah" ucap Abigail pelan.
"Abigail mau bicara dengan lebih lama" Abigail menatap pria yang dulu menangis tersedu sedu saat ia kembali ke dunia ini.
"Tentu nak ayah akan menemanimu" ujar Ayahnya.
"Ayah aku merasa semua guru yang mengajari ku tidak membantu sama sekali " gerutu Abigail.
"Dinginkan kepala mu sayang dan bercerita lah pada ayah mu ini" Mereka berjalan mencari tempat yang nyaman untuk berbicara.
"Aku merasa banyak guru ku hanya memberikan pujian belaka tak ada satu pun ilmu yang mereka berikan pada ku berguna pada saat ini" Abigail tak kuasa menahan tangisnya.
"Ayah akan membuat laporan ke federasi perdamaian untuk mencarikan guru yang paling berpengalaman" sang ayah terlihat kesal karena selama ini federasi tidak menganggap serius putrinya.
"Tapi ayah bisakah memberitau dimana letak kesalahan ku, kenapa saat aku mencari guru yang memang hebat aku selalu di tolak"
Ayah nya menaikkan alis tidak mengerti "Aku coba membujuk Petra The Next Great Sage untuk mengajariku menggunakan lambang sihir Mage tapi di menolak lalu kakak kelas ku di kelas Lancer yang bernama Yu juga menolak ku mentah mentah"
Ayah Abigail tambah geram mendengar ada orang bodoh yang menolak tawaran dari sang pahlawan.
"Bukan kah kau punya teman asrama kalau tidak salah nama Rakan" tanya Ayah Abigail. "Karand" Abigail membenarkan.
"Aku malu untuk memintanya mengajariku lambang sihir Arrow karena sudah banyak berbuat salah padanya" Abigail terdiam dan menatap kedua tangannya.
__ADS_1
"Aku hanya gadis yang tidak tau apa apa semua orang menolak ku, padahal aku punya beban besar di pundak ku tapi kenapa semua nya tak berjalan lancar" Abigail menangis tersedu sedu.
"Tenang lah ayah masih ada disini dan masih bisa mengajarimu lambang sihir Sword"
"Bahkan ku pikir aku bisa membawa Diego kembali dan aku malah membuat ia tambah membenci kita"
"Abigail diego hanya anak bodoh" ujar pria itu dengan santainya.
"Apa maksud ayah dia itu masih anak ayah" teriak Abigail. "Dia dengan bodohnya pergi dari rumah padahal kalau ia mau tinggal di sini ya silahkan ayah tak keberangkatan sama sekali tapi dia itu bodoh lebih memilih menderita dari pada hidup bahagia bersama kita".
"Tapi ayah" sanggah Abigail.
"Dia bodoh seperti ibunya" Ayah Abigail tertawa kecil.
Abigail terdiam sejenak tiba tiba dia merasakan sesuatu yang amat kuat mendekat.
Tiba tiba empat orang iblis muncul di hadapannya.
"Siapa kalian" Ayah Abigail langsung waspada. "Dia kah Sword Saint Master dia sudah cukup tua ya" ujar salah satu iblis.
Pria bernama Roberto mendekati Ayah Abigail dan tersenyum melihat mereka. Roberto adalah wakil ayah Abigail sebagai saint.
"Baiklah James aku akan menahan mereka untuk mu" ujar Roberto. "Berhenti senyum senyum itu memuakkan" ketus James.
"Haha dasar kau ini pria kasar sekali" Roberto tiba tiba menarik pedangnya dan menyerang James.
James yang tidak sempat menghindar serangan itu harus merasakan sakit akibat tubuhnya di tebas oleh Roberto.
James terhuyung kebelakang dan menyentuh luka yang masih segar itu. "Pengkhianatan macam apa ini Roberto" seru James kesal.
"Kami sudah tidak sudi menjadi bawahan mu jadi kami mengkhianatimu" Jawab salah satu ksatria.
__ADS_1
"Kau tak pantas menjadi Saint harus kau berkaca apa di rumah sebesar ini tak ada cermin" umpat salah satu ksatria.
"Kau dengar itu James mereka tak Sudi menjadi bawahan pecundang seperti mu" Roberto tertawa kecil.
"Terus kau pantas menjadi pemimpin Mereka" tanya James dengan muka yang memerah karena marah.
"Tidak, aku pikir aku tak pantas menjadi saint tapi mereka ingin aku menjadi Saint yang baru" Roberto tertawa terbahak bahak.
"Buktikan lah kalau kau pantas dengan melawan mereka" James berusaha mengadu kedua belah pihak itu.
Semua ksatria tertawa keras "Pepatah lama mengatakan musuh dari musuh mu adalah teman mu , benar begitu tuan Gorniet" Roberto tertawa.
"Kau benar manusia ah salah maksud Saint Roberto" Iblis berkulit biru tua itu berjalan mendekat.
"Kau!!! bersekutu dengan iblis!!!" Raung James. "Jangan berisik James kau harusnya sadar kau itu sudah seperti iblis"
"Apa maksud mu Ayah aku adalah Sword Saint Master yang selalu melindungi semua penduduk di kota ini" Abigail tidak terima dengan perkataan mantan anak buah ayah ya.
"Iya sih kau benar tapi itu hanya kulit luarnya saja, pria ini adalah yang tega membiarkan istri sah nya mati dalam kebakaran dan bahkan ia tak bersimpati pada saudari tiri mu saat ia di pemakaman. bahkan ia berkata anak terkutuk ini bukan lah anak ku , membuat saudara tiri mu di kucil kan dan pergi kehutan , apa nya yang melindungi apa nya yang saint" seru seorang ksatria pemberontak.
Abigail terdiam sejenak "Ayah apa itu benar" tanya Abigail tidak percaya.
"Tentu saja benar dia dan ibu memang manusia terkutuk" ujar James dengan tanpa beban.
"Bagi ku barang rusak pantas di buang" Semua ksatria pengkhianatan geram mendengar ucapan itu. "Hahahaha aku mengerti sekarang tubuh nya kah yang kau janjikan cepat kalahkan mereka dan akan ku habis si pahlawan itu" Gorniet tertawa keras dan melompat ke arah Abigail.
Abigail mengacungkan tangan nya dan menembak sihir padanya. Gornet muncul di belakang Abigail kemudian menebas punggung nya.
"Abigail!!!"
"Tunggu apa lagi habisi dia" teriak Roberto. Puluhan ksatria maju menyerang James.
__ADS_1
"maju kalian semua" teriak James mencabut pedang dari sarungnya.
***