
"Varlino kenapa kita harus pergi ke banyak dungeon " keluh seorang wanita tak lain adalah Istri Mira dan putrinya Stella.
"Aku tidak punya pilihan selain membawa kalian, tak ada orang yang bisa di percaya sekarang" Varlino berhenti sejenak kemudian mengacungkan telapak tangannya.
Sinar yang amat terang membuat Mira dan Stella menutup mata mereka. "Tapi ayah bagaimana dengan Kak Diego siapa yang akan menjaganya" tanya Stella.
"Dia kuat jadi jangan khawatir dengannya, suatu hari nanti pasti kita akan bertemu kembali dengan nya" Varlino tersenyum kecil kemudian melanjutkan langkahnya.
"Padahal kita bisa membawa Diego pergi bersama kita" timpal Mira. "Dia sekarang sudah punya tanggung jawab sendiri , Mira. kau tidak bisa memanjakannya lagi" tegur sang mantan Professor akademi.
"Karand itu gadis seperti apa ya, aku jadi penasaran dengannya" Mira tersenyum mengingat hal bahwa Diego sudah memiliki teman lawan jenis.
Setidaknya janji yang ia buat bersama Kalista ibu Diego bisa terpenuhi. Merawat pemuda berambut biru itu sampai menemukan pasangan hidupnya.
"Akhirnya kita sampai di ruangan inti Dungeon ini" Varlino menendang pintu yang amat besar itu sampai hancur.
Terlihat lah sebuah seekor monster berkepala kambing dengan tubuh manusia serta membawa pentungan meraung keras.
"Mira aku butuh sedikit bantuan" Ajak Varlino. "Baik baik lah mari kita selesaikan dengan cepat" Mira berjalan mendekati Varlino.
"Tunggu di sana Stella" Varlino/Mira.
Setelah pertarungan yang sengit akhirnya mereka bisa mengalahkan monster penjaga inti Dungeon.
Varlino sedang membalut luka Mira. "aduh sakit hati hati dong" keluh Mira. "Ibu selalu saja di obati ayah kapan ibu mau merawat ayah kalau sedang terluka" tanya Stella dengan polos.
pertanyaan polos putrinya membuat ia tertegun. "Tunggu lah disini aku akan masuk mengambil inti Dungeon ini" Varlino bangkit dan berjalan menuju inti Dungeon.
"Ibu kenapa ibu melamun" tanya Stella. "Tidak ada hanya saja di bandingkan dengan bertarung saat mengobati pasien ayah mu jauh lebih keren" ujar Mira dengan wajah yang bersemu merah.
"Jangan bilang itu alasan ibu jatuh cinta dengan ayah" Stella tidak terlalu sering bertanya bagaimana kedua orang tuanya bertemu Atau saling jatuh cinta.
__ADS_1
"Ya memang itu benar tapi kami di pertemukan oleh ibu nya kak Diego baru lah kami saling jatuh cinta" ujar Mira tersenyum melihat perban ditangannya.
"Tapi apa tujuan ayah menjelajahi banyak Dungeon seperti ini benar benar melelahkan tapi aku tak berani bilang ke ayah" gerutu Stella.
"Ibu juga kurang tau semenjak ayah mu di pecat oleh federasi, federasi perdamaian kelihatan jauh lebih sibuk dari biasa nya, ayah mu pun begitu dia banyak pikiran dan selalu bilang mencari kebenaran tapi kebenaran apa yang ia cari" Mira terdiam sejenak.
"Mira , Stella kita harus pindah ke Dungeon lain" Varlino berjalan anak dan istrinya. "Apa ayah menemukan sesuatu" tanya Stella. "Sedikit lagi kita akan pergi ke gunung yang di tutupi kabut putih kita akan menemukan barang yang ayah cari" ucap Varlino duduk di lantai.
"Ayah aku lelah ayo kembali ke kota kaum" mohon Stella. "Tidak bisa nak, sekarang kota itu sudah tak aman" ujar Varlino.
"Apa maksudmu" tanya Mira bingung.
"Aku memang di pecat karena lalai dalam tugas menjaga sang pahlawan tapi itu hanya kedok mereka" ujar Varlino.
"Maksud mu" Stella masih tak mengerti.
"Mereka memang sudah lama ingin mengeluarkan ku karena aku tau banyak tentang kebobrokan mereka"
Mira dan Stella terdiam "banyak yang melakukan korupsi di federasi perdamaian, mereka juga banyak melakukan eksperimen manusia dan sekali ada yang mengetahui mereka akan membunuh nya"
"Aku tak pernah khawatir dengan nyawa ku Mira, yang ku takutkan adalah kalian" Varlino memegang pipi Mira dan Stella.
"Ayah pasti melindungi Stella kan" tanya Stella. "Tentu saja bahkan ayah sedang menentang takdir untuk bisa melindungi Stella dan Ibumu" Mira terkejut mendengar apa yang dikatakan suaminya itu.
"Apa maksud mu!!??"
"Menurutmu siapa yang memberikan skill pada kita" tanya Varlino. "skill" jawab Mira. Skill pada umumnya bisa aktifkan secara berkala di mulai umur lima tahun.
"Berkah dari dewa kan yah" tanya Stella. "Ada suatu alat untuk mengubahnya tapi kemungkinan kita menemukan alat itu sangat kecil, Klan Elf sudah mulai mencari alat itu dari seratus tahun lalu namun sampai sekarang mereka belum menemukan nya" Varlino terdiam sejenak.
"Berarti Ayah akan mengubah skill ayah" tanya Stella. "Lebih tepatnya menambah skill ayah menjadi empat atau lebih, ayah butuh kekuatan untuk mengalahkannya" Varlino menatap kedua tangannya.
__ADS_1
"Marqus" tanya Mira.
Varlino menggeleng pelan "aku bisa mengalahkan anjing federasi perdamaian itu bahkan dengan satu skill saja tapi aku harus melawan pemimpin dari balik bayangan federasi itu" Varlino bangkit.
"Ayah" seru Stella.
"Ayah fokus saja ke pertarungan ayah biarkan aku yang melindungi ibu" ujar Stella. Pasutri itu saling menatap kemudian beralih menatap putri mereka itu.
"Aku akan melindungi ibu ayah fokus saja pada pertarungan ayah" ulang Stella. Mira tertawa kemudian Varlino tersenyum.
"Benar benar mirip dengan ku" Mira memeluk putrinya itu. "Aku tidak bercanda Bu" keluh Stella berusaha memberontak dari pelukan ibunya.
"Stella ayah akan mengandalkan mu" Varlino mengusap pucuk kepala putrinya itu. Mereka pun berjalan pergi dari Dungeon itu.
Saat mereka keluar dari Dungeon betapa terkejutnya melihat sekumpulan pasukan berbaju hitam sedang menyeret seorang wanita.
Varlino langsung menarik putri dan istrinya. "Apa yang kau lakukan kita harus menolong gadis itu" ujar Mira kesal.
"Mereka dari federasi perdamaian" ujar Varlino singkat.
"Walau kau bilang begitu pun aku akan menolongnya" Mira mengumpulkan energi sihirnya.
Kemudian puluhan Monster kayu datang menghabisi semua orang yang menyerang gadis itu.
Mira mendekat dan memeriksa gadis itu. "Varlino dia siswa akademi kaum" seru Mira. Varlino yang terkejut langsung bangkit dan berjalan mendekati Mira.
"Rasanya aku pernah melihat gadis ini" ia melihat gadis berkulit coklat dengan mulut berdarah.
"Apa yang kau tunggu Ayo kita bawa dia ke tempat aman" bentak Mira. "Iya iya" jawab Varlino kaget karena di bentak Mira.
"Kenapa kau tidak memberitau ku kalau keadaannya separah ini sih" akhirnya Mira mengerti apa yang terjadi sekarang.
__ADS_1
"Aku kan sudah memberitahu mu tadi tapi kau baru mengerti" keluh Varlino.
"Pokok nya ini salah mu titik"