
...Part 1...
Pagi hari di kota kaum saat semua orang baru ingin memulai aktivitas mereka. Beberapa orang berkumpul di depan Colosseum Akademi kaum di antara kumpulan orang itu terdapat seorang pemuda berambut biru yang memakai penutup mata berwarna hitam dengan celana berwarna putih dan baju putih berlengan panjang dengan beberapa bagian seperti pundak dan pergelangan tangan yang berwarna biru tua.
"Diego makan lah roti cokelat ini" seorang pria yang memakai kemeja berwarna jingga berlengan panjang serta mengenakan sebuah rompi hitam memberikan sebuah roti pada Diego.
"Tidak usah Paman Gilbert, aku sudah kenyang" tolak Diego. "Makan lah yang banyak, biasa nya acara seperti ini sangat lama" ujar Paman Gilbert.
"Iya Diego makan lah yang banyak nanti kamu lapar saat tes kan bisa gawat" ujar seorang perempuan yang tak lain adalah Bibi Stella. "Aku sudah kenyang bi" ujar Diego.
Saat ini Diego di antara oleh Paman Gilbert, Bibi Stella, Bibi Sophia serta Nora, Slyphim. "Ngomong-ngomong Diego aku cukup terkejut saat melihat berjalan menggunakan tongkat itu" Paman Gilbert melirik tongkat yang di pegang Diego.
"Mau bagaimana lagi Paman aku sangat membutuhkan bantuan untuk berjalan" ujar Diego. "Bukan nya kau memiliki tunangan ya kenapa tidak minta bantuan nya saja" ujar Paman Gilbert dengan santai.
"Itu nama nya menyusahkan dia" ujar Diego membuat Paman Gilbert tertawa. "Oh iya Diego, bibi lupa mengatakan kalau Tuan Einzenberm datang ke rumah dan ingin bertemu dengan mu" ujar Bibi Stella.
"Pria ubanan itu sangat cerewet apa saat ia membicarakan putri nya sampai membuat bibi pusing karena nya " timpal Bibi Sophia.
"Wah lihat banyak sekali petualang di sini" ujar Nora dengan antusias kemudian berlari pergi meninggalkan rombongan. "Nora jangan pergi terlalu jauh" teriak Slyphim langsung mengejar Nora.
"Hei kalian jangan pergi terlalu jauh" teriak bibi Sophia. "Aku akan menyusul mereka" ujar Diego namun saat ia hendak mengangkat suara dengung memasuki telinga.
"Halo satu dua tiga....satu dua tiga halo apa suara ku bisa di dengar!!?"
"Pak guru Gerald kecil kan volume suara mu...bisa bisa telinga ku pecah!!!"
"Ah maaf..maaf aku terlalu bersemangat...ekhmen baiklah aku akan membacakan pengumuman nya dulu"
"Bagi peserta tes diharapkan untuk berkumpul di depan gerbang utama sekarang.....kami ulangi seluruh peserta tes diharapkan untuk berkumpul di depan gerbang utama sekarang"
"Diego sudah waktu nya untuk berangkat" ujar Paman Gilbert. Diego mengangguk pelan dan menarik nafas kemudian menghembuskan perlahan.
"Lakukan yang terbaik Diego kamu pasti bisa" ujar bibi Stella.
"Hajar semua orang yang menghalangi mu Diego tunjukan siapa bos nya!!!" teriak bibi Sophia.
"Baik Paman bibi aku pergi dulu ngomong-ngomong kemana Nora dan Slyphim" tanya Diego yang terlihat khawatir karena kedua anak tersebut pergi entah kemana.
"Jangan khawatir mereka Diego, palingan mereka sedang berkeliling" ujar Bibi Stella.
"Cepat pergi Diego jangan sampai terlambat oh iya ini makan lah dulu" Paman Gilbert memberikan roti yang di tolak Diego tadi.
Diego menerima roti itu dan memakan nya sampai habis "baiklah aku pergi sekarang" Diego berbalik dan berjalan menuju rombongan peserta yang berkumpul di depan gerbang utama.
"Ayo Diego semangaaaaaat" teriak Bibi Sophia.
"Ayo semangat....ayo semangat Diego pasti bisa" teriak Bibi Sophia dengan sangat antusias sambil melompat lompat.
"Aku selalu di buat kagum dengan kemampuan beradaptasi yang dimiliki anak itu" ujar Paman Gilbert.
"Ya benar sekali kemampuan beradaptasi yang luar biasa dan melihat hal itu mengingatkan ku pada pria brengsek itu" ujar Bibi Stella memberikan penekanan pada kata brengsek.
"Yah mau bagaimana lagi Diego anak nya James walau dia dibesarkan oleh orang lain pasti Diego memiliki sedikit kesamaan dengan James" ujar Paman Gilbert dengan santai.
"Ngomong-ngomong soal anak kapan kamu mau menikah Gil" tanya bibi Sophia yang membuat Paman Gilbert terdiam mematung.
"Aku belum tau" ujar Paman Gilbert memalingkan wajah nya. "Huh" teriak kedua sahabat nya itu.
"Apa yang terjadi pada wanita yang ku kenal kan pada mu dua bulan lalu" tanya Bibi Stella.
"Aku menolak nya" Paman Gilbert masih memalingkan muka nya. "Hei perjaka tua sampai kapan kau mau melajang huh!!!" teriak Bibi Stella mencengkram erat dagu pemilik restoran terkenal itu.
"Sophia bantu aku" teriak bibi Stella melepaskan cengkraman tangan nya. "Baaaaiik....tendangan ibu satu anaaak" teriak Sophia menendang Gilbert.
Gilbert pun berputar putar dan mendarat di tanah. "Hei kalian ini jahat sekali itu sakit tau....auw" teriak Gilbert sambil meringis kesakitan.
"Kalau tidak mau kami perlakukan seperti itu cepat menikah perjaka tua!!!" teriak Bibi Stella.
"Ah kebetulan sekali Nyonya Stella, Nyonya Sophia"
__ADS_1
...Part 2...
Hari berlalu dengan cepat saat ini Diego sedang berdiri di tengah Colosseum bersama petualang lain dan di tonton oleh banyak orang yang merupakan wali siswa dan dan beberapa guru.
"Hai semua nama ku Gerald dan aku adalah seorang guru di Kaum Akademi walau masih baru tapi aku sudah di percaya untuk menjadi pemandu acara kita pada kali ini"
"Di arena ini sudah terdapat banyak petualang yang telah mengikuti berbagai macam tes dari mulai mengukur kekuatan, bertarung melawan monster, bertarung dalam tim dan berduel serta masih banyak tes lain nya. Ini adalah saat yang kita tunggu-tunggu yaitu pengumuman siapa yang lolos tes ini" ujar Pak guru Gerald dengan semangat yang menggebu-gebu.
Di sisi lain bangku penonton "guru itu benar benar bersemangat ya" ujar Paman Gilbert. "Benar tapi entah kenapa aku tidak terlalu terpukau dengan kekuatan Diego" ujar pria berambut perak yang tak lain adalah ayah Marjun, Federick Lasro Einzenberm.
"Benar sekali Fed kita punya banyak anak buah yang setara dengan Diego" ujar seorang wanita berambut perak dengan gaun berwarna hitam dan bibir yang merah serta kulit putih bersih.
"Ku harap Diego baik baik saja" gumah Bibi Stella. "Stella jangan seperti itu Diego pasti baik baik saja" ujar Bibi Sophia.
"Kalian ini bukan kah kita sudah membicarakan nya tadi tentang kemampuan beradaptasi Diego yang sangat luar biasa...walau ia kehilangan mata nya dia masih bisa bertahan dan bertarung sampai akhir itu membuktikan kalau Diego baik baik" ujar Paman Gilbert.
"Ya kau benar sih kemampuan yang diturunkan pria brengsek itu ada guna nya juga" Bibi Stella kembali memberikan penekanan pada kata brengsek kemudian ia menghelai nafas panjang.
Kembali ke arena
"Baiklah tanpa perlu berlama-lama lagi aku mengumumkan nama petualang yang dinyatakan lulus...nama nya adalah.....Diego dengan nama petualang Archer Form Blue Moon" teriak Gerald.
"Mari beri tepuk pada pemuda yang luar biasa walau usia nya sangat muda ia sudah menjadi petualang yang sangat hebat....hiks...hiks padahal beberapa bulan lalu dia adalah siswa akademi juga....hiks hidup terasa sangat cepat...murid ku bahkan sudah menjadi rekan ku sekarang....hiks aku merasa kalau aku sudah sangat tua hiks" Pak Guru Gerald mengusap air mata nya dengan lengan baju nya.
Semua orang memberi Diego tepuk tangan yang meriah namun tiba tiba pemuda berambut biru itu mengangkat tangan kiri nya ke samping dan terlihat sebuah pedang di tahan oleh Diego menggunakan dua jari nya.
"A...apa yang terjadi" teriak Pak Guru Gerald sambil mencari pelaku penyerangan itu. "Padahal arena pertarungan ini sudah di lapisi oleh dinding sihir siapa orang yang mampu menghancurkan dinding sihir ini" ujar lak Guru Gerald panik.
Perlahan dinding sihir ini berpendar memancar berbagai warna dan perlahan menghilang. Seorang pria berambut merah berdiri di tribun penonton ia pun melompat ke arena. Saat ia mendarat di tanah. Tanah pun retak kemudian menciptakan sebuah retakan bermotif jaring laba-laba.
"Ku pikir kau sudah pergi Cordon" Diego melemparkan pedang ini pada pemilik asli nya. "Siapa kau dan apa tujuan mu huh!!! berani mengacaukan acara kami" sergah Pak Guru Gerald.
"Aku adalah keadilan dan aku selalu menegakkan keadilan bagi semua orang kemana pun aku pergi" ujar pria berambut merah itu.
"Hei keadilan" pak guru Gerald menunjuk pria berambut merah itu. "Jangan seenaknya merusak acara orang ya" ujar pak guru Gerald dengan kekesalan yang terlihat jelas di wajah nya.
"Hentikan itu Cordon, apa mau?" tanya Diego. "Sudah ku bilang aku selalu menegakkan keadilan" ujar pria itu.
"Keadilan seperti apa yang kau ingin tegakan di sini Cordon Nero maksud ku Blade of Justice" tanya Diego lagi.
Pria itu tersenyum kecil kemudian mengacungkan pedang nya pada Diego. "Kau sama sekali tidak serius dalam bertarung tadi dengan kata lain kau meremehkan semua lawan mu!!!" seru pria itu.
"Jangan salah paham Tuan keadilan aku memang tidak dalam kondisi yang terbaik jadi aku tidak bisa mengeluarkan semua kemampuan ku dan asal kau tau ini adalah sebuah tes untuk pekerjaan jadi ada aturan yang harus diikuti" ujar Diego panjang lebar.
Tetapi yang mereka semua tidak tau kalau bola kristal yang di pegang Pak Guru Gerald masih menyala dan membuat semua orang yang menonton dapat mendengar pembicaraan mereka dengan jelas.
Di bangku penonton
"Professor Marqus bagaimana ini" tanya seorang guru perempuan pada pria yang duduk di bangku sambil memangku seekor naga seukuran kucing.
"Tenang lah Kepala sekolah lagian ini adalah kesempatan yang bagus untuk mengetahui seberapa hebat nya anak itu kenapa para petinggi federasi ingin dia bergabung" ujar pria itu mengamati apa yang terjadi di arena.
"Tapi pria berambut merah itu adalah Blade of Justice petualang yang sangat kuat, ku rasa kita harus memanggil Samuel" ujar sang kepala sekolah.
"Ah kenapa kau sangat percaya dengan anak naif seperti dia walau pun kuat tapi sifat naif sudah melebih batas wajar makhluk hidup" pria itu tertawa kecil jika mengingat murid bernama Samuel. "Aku merasa takdir selalu tak adil jika melihat bocah naif itu...maksud ku kenapa orang bodoh selalu mendapatkan kekuatan yang luar biasa" ujar pria itu. Kepala sekolah terlihat cukup geram mendengar perkataan sang Professor dan mengepalkan tangannya.
"Dari dulu kau selalu membawa masalah buat ku, Cordon"
"Ayo lah kawan setelah itu aku bertanggung jawab bukan memang benar gara-gara aku kita terjatuh ke lantai paling dalam Dungeon Elora tapi kita bersama sama mengalahkan bos terakhir di Dungeon itu kau ingat"
"Itu sih bukan tanggung jawab, aku juga ingin hidup lebih lama karena itu lah aku bertarung bersama mu melawan bos Dungeon itu"
"Kau ini memang perhitungan dasar si bocah biru paranoid"
"Kau yang tak tau diri otak udang"
"Apa kata mu huh!!!"
"Sudahlah aku malas meladeni aku mau pulang"
__ADS_1
"Hooh menarik sekali aku mengerti kenapa para petinggi ngotot ingin memasukkan di federasi Perdamaian" ujar Professor Marqus. "Kaizer sampai kan pesan ku pada Gerald" ujar pria itu.
Pak guru Kaizer yang ada di tidaka jauh dari mereka pun mengangguk kemudian mengeluarkan sebuah bola kristal.
Kembali ke arena
"Hei kalian berdua berhenti ribut!!!" teriak Pak Guru Gerald kesal. Tiba tiba bola sihir pak Gerald mengeluarkan cahaya emas lalu munculah sebuah tulisan.
"Eh kok gitu sih....semua minta perhatian nya ada pesan dari professor Marqus dengar kan baik baik....selain Diego dan Blade of Justice semua nya harap tinggalkan arena ini!!!" seru pak guru Gerald.
Semua petualang pun langsung pergi meninggalkan arena. "Apa yang terjadi" tanya Diego.
"Ekhem begini Professor Marqus membuat keputusan bahwa pria ini adalah lawan terakhir mu setelah kau melawan dia maka kau akan resmi menjadi guru di akademi" ujar Pak guru Gerald.
"Ternyata kau ini memang magnet masalah bagi ku, Cordon" Diego langsung berbalik dan berjalan pergi menuju sisi lain lapangan.
"Hooh jadi kau akan serius bertarung dengan ku?" Cordon tersenyum kecil. "Sebab diri mu urusan ku selalu menjadi lebih rumit karena itu akan memberikan mu pelajaran yang berharga" Diego melakukan sedikit peregangan otot.
"Aku merasa terhormat karena sudah bisa membuat mu serius Hunter of Nightmare" pria itu dengan sebuah senyum lebar
...Part 4...
'Aku sedang terjebak situasi apa ini sebenarnya' pikir pak guru Gerald. Awal nya pria berjuluk Blade of Justice ini tiba tiba menyerang pemuda bernama Diego dan ternyata mereka saling mengenal tetapi hubungan mereka terlihat tidak baik.
Namun sekarang suasana dalam ketegangan yang tinggi. Apa kah mereka ini petualang yang berbeda level dengan petualang lain.
Hanya butuh satu aba aba untuk melihat apa yang akan terjadi pada salah satu dari mereka.
"Baiklah tes terakhir akan segera di lakukan, Pertarungan antara Blade of Justice melawan peserta dengan nama petualang Archer Form Blue Moon di mulaaaaai" teriak Pak guru Gerald langsung berlari menjauh dari arena.
Diego langsung mengaktifkan lambang sihir nya lalu mengalirkan mana nya ke seluruh tubuh nya kemudian mengeluarkan secara mendadak dari tubuh nya.
Cahaya berwarna warni keluar dari tubuh Diego. Energi sihir yang dilepaskan Diego bergerak menuju Cordon.
Namun Cordon pun melakukan hal yang sama dengan Diego. Energi sihir milik Diego dan Cordon berbentuk dan membuat ledakan yang sangat besar.
Duaaaaaaaar
Menciptakan angin sangat kencang. Namun tiba tiba energi sihir Diego terdorong mundur dengan sangat cepat membuat Diego tak sempat menghindar.
Alhasil Diego pun hanya bisa menyilangkan kedua tangan nya untuk berlindung dari energi sihir Cordon mengenai diri nya.
Duaaaaaaaaaaar
Meskipun sudah terkena serangan dari Cordon. Diego masih tetap berdiri walau baju nya sobek dan ia mengalami luka-luka di sekujur tubuh.
Sebuah pedang terlempar ke arah nya namun dengan sigap ia menangkis pedang itu menggunakan tongkat kayu nya dan melempar pedang itu ke udara.
Tiba tiba Cordon sudah berada di depan Diego dan mendaratkan sebuah tinju di perut nya membuat Diego memuntahkan darah segar.
Tidak sampai di situ Cordon langsung memegang kedua bahu Diego dan menendang perut nya menggunakan lutut nya berulang kali. Cordon langsung memberikan sebuah hantaman kepala tepat di muka Diego.
Cengkraman tangan Cordon terlepas dari bahu Diego. Pemuda berambut biru itu mundur beberapa langkah.
Cordon pun memandang langit melihat pedang nya yang masih berputar di udara. Ia pun menangkap pedang itu sebelum jatuh ke tanah.
Diego mengusap darah yang keluar dari hidung nya. Tiba tiba Diego merasakan perubahan angin yang cukup padat dari sisi kiri nya. Ia pun langsung membuka kaki nya selebar mungkin dan menjatuhkan tubuh ke belakang tetapi kaki nya menopang tubuh nya membuat ia tidak jatuh.
Tendangan Cordon berhasil di hindari Diego. Diego langsung berdiri ke posisi semula dan mengacungkan tombak nya arah Cordon.
Diego menembakan sihir angin yang membuat Cordon terpental ke sisi lain arena. Diego menembak Cordon dengan bertubi-tubi.
Cordon tidak tinggal diam saat melihat puluhan tembakan itu menghujani diri nya. Ia langsung berlari menghindari semua tembakan Diego dan sesekali ia menangkis nya.
Diego langsung menurunkan tongkat nya. Pemuda berambut biru itu menarik nafas panjang kemudian ia mengayunkan tongkat nya dari bawah ke atas membentuk bulan sabit.
Puluhan bulir air turun dari angkasa dan berubah menjadi puluhan anak panah. Diego mengacungkan tongkat nya ke depan. Anak panah itu melesat dari langit menghujani Cordon.
Cordon berlari ke sana kemari menghindari setiap anak panah yang terbuat dari air tersebut. Ia berhenti berlari dan lalu berputar menciptakan sebuah putaran petir menghancurkan semua anak panah Diego.
__ADS_1
Diego langsung menancap tongkat nya ke tanah. Di tangan kanan nya muncul sebuah busur panah berwarna hitam dan muncul sebuah tas berisi anak panah milik nya di tangan kiri.