
Abigail menatap kedua perempuan dihadapannya itu. "Jadi kau kah ibu kandungku" Abigail menatap wanita itu dengan penuh air mata.
"Tidak aku bukan ibu Roberto hanya membual dia itu suka sekali membualkan" istri Roberto tertawa terbahak bahak.
Abigail menatap perempuan paruh bayah itu. Sosok yang sangat sederhana dan jauh dari kata anggun dan cantik dan disebelahnya ada seorang gadis yang amat cantik.
"Bisakah aku bermalam disini semalam" Ibu kandung Abigail menatap putri kandungannya itu dengan tatapan sendu.
"Tentu saja aku akan menyiapkan kamar untuk anda Sang Pahlawan" ujar gadis itu meninggalkan Abigail dan ibu kandungannya itu.
"Rumah yang sangat jauh dari hiruk pikuk kota ya" Abigail memulai pembicaraan. "Roberto selalu menginginkan hidup yang jauh dari urusan politik dan federasi tapi ia bekerja menjadi wakil sword saint master ayah mu itu"
"Tania menangis tersedu sedu saat mengetahui dia bukan anak kami dan memohon agar pembicaraan itu tidak dilanjutkan lagi dan ingin tinggal bersama aku dan Roberto"
"Roberto adalah sosok ayah yang baik dan selalu di cintai oleh keluarga maafkan lah perbuatan pada ayah ayahmu"wanita itu tersenyum.
"Dia memang ksatria yang sangat hebat aku ingin mengenal dirinya lebih dekat andai aku tidak pernah tertukar pada saat dilahirkan pasti aku sekarang sudah berada bersama kalian"Abigail menangis.
"Kenapa semua sangat kejam aku melihat puluhan orang terluka, orang orang bertarung satu sama lain, aku lelah melihat ini semua kenapa kenapa aku harus menerima takdir ini" Abigail menangis tersedu sedu.
"Roberto pernah berkata jika diberi kesempatan untuk membesarkan mu ia akan mendidikmu seperti James mendidikmu tidak ada yang akan berbeda tapi mungkin ia akan mengajari mu tentang keteguhan hati dan prinsip"
"Ibu bolehkah aku tidur bersama mu sekali ini saja" tanya Abigail. "Maaf". "Ayo tidur bersama" ujar Tania yang baru keluar dari kamar yang disiapkannya tadi.
Sang ibu hanya menghelai nafas dan tersenyum "ibu adalah wanita paling beruntung di dunia memiliki dua anak gadis yang cantik dan sangat baik kalian adalah harta paling berharga bagi ibu" ujarnya.
Abigail memeluk ibunya tersebut. Hari semakin larut dan ketiga perempuan itu tidur bersama. Abigail menatap ibunya yang sudah tertidur lelap.
__ADS_1
"Apa kau masih bangun" suara itu cukup mengejutkan sang pahlawan yang sudah ditakdirkan itu.
Abigail bangun dan memandang gadis itu. "Ikuti aku kita perlu bicara empat mata" Tania turun dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu.
Mereka berjalan keluar dari rumah dan berjalan menjauh. "Ayah selalu ingin bertemu dengan mu , ibu selalu merindukan dan mereka berdua melampiaskan semua padaku" Abigail berhenti berjalan.
"Apa maksudmu"
"Maksudku aku telah mendapatkan semua kasih sayang mereka dan tak ada lagi yang tersisa untuk hanya doa agar kau bisa menjalani takdirmu dengan selamat" ujar Tania.
Tania berhenti berjalan dan kemudian berbalik "itu lah kenyataan kami hidup sebagai keluarga bahagia karena posisi kita tertukar" ujar Tania dengan datar.
Abigail terdiam "tapi kau tetap anak mereka, kemari lah" ujar Tania. Abigail dengan langkah gontai mendekati gadis itu dan akhirnya ia menemukan fakta bahwa ia tak punya tempat untuk bernaung.
Satu satunya tempat ia kembali mungkin adalah Diego tapi ia pasti akan menolak secara mentah mentah.
"Abigail ini adalah hadiah pertama dan terakhir dari ayah dan ibu setelah itu pergi lah dari sini keselamatan ibu terancam karena dirimu" dari tanah munculkan lingkaran sihir dan lalu muncul sebuah pedang berwarna emas dengan ornamen permata merah.
Abigail menerimanya dengan perasaan campur aduk sedih dan bahagia. "Maukah kau mengobrol lebih lama dengan ku saudariku" ucap Abigail ragu.
Tania tertawa " tentu saja aku akan membawa mu ketempat terbaik untuk mengobrol" ujarnya.
mereka melanjutkan perjalanan lama berjalan dan kemudian mereka sampai disebuah air terjun.
mereka duduk di bawah sebuah pohon rindang angin malam menusuk tubuh. "Aku tidak sanggup lagi semua orang bagai menggunakan topeng terhadapku" ujar Abigail membuka pembicaraan.
"Ya aku pun begitu" ujar Tania santai. Abigail menatap saudari tak sadarnya itu dengan heran. "Aku berpura pura baik terhadapmu" ujar Tania santai.
__ADS_1
"Aku selalu ingin ada di posisi seperti sekarang Roberto ayah ku Eveline ibu ku dan hanya aku lah putri mereka , kehadiranmu sangat menganggu"
"Aku minta maaf" ujar Abigail takut. "Kau tidak harus minta maaf mungkin karena itu lah banyak orang menggunakan topeng disekitar mu" ujar Tania santai.
"Apa maksudmu" tanya Abigail. "Maaf itu berharga" ujar Tania. "Jangan percaya siapapun lakukan semua sendirian cari orang yang memang sepemikiran denganmu" ujar Tania.
"Menurutmu apa yang harus aku lakukan sebagai pahlawan" ujar Abigail. "lakukan saja semua dengan segenap kekuatanmu" ujar Tania.
"Tak usah pedulikan orang lain jika mereka memang peduli pada mu seharusnya mereka menemani sampai detik ini" ujar Tania.
"ngomong ngomong bagaimana dunia lain" ujar Tania mengalihkan pembicaraan. "Dunia lain" tanya balik Abigail.
"dunia tanpa sihir manusia hidup dengan mengandalkan pikirannya" ujar Abigail. "Eh tanpa sihir bagaimana bisa itu" ujar Tania. "seperti ini" ujar Abigail menunjukkan sebuah benda tak lain adalah smartphone.
"ini benda yang sangat penting di sana kita bisa menghubungi orang,bermain game mendengar musik dan masih banyak lagi" ujar Abigail.
"Benda yang menarik ya" ujar Tania memandang smartphone itu. "Terus ada apa lagi di dunia mu" ujar Tania.
Mereka pun saling bertukar cerita selama berjam jam. "Dunia mu sangat menarik aku jadi ingin kesana" ujar Tania bersemangat.
"Dunia jauh lebih menarik" ujar Abigail. "Tidak Abigail kemajuan pola berpikir masyarakat di dunia mu dulu benar benar maju apa kau bisa menjelaskan bagaimana cerita mitos yang ada di dunia mu bisa sama dengan keadaan dunia ini" ujar Tania.
"Apakah mau membawa ku kesana" tanya Tania. "Aku tidak tau bagaimana kembali kesana" Abigail takut membuat Tania kecewa.
"hm begitu ya mau bagaimana lagi aku tidak bisa memaksamu" Tania terlihat kecewa namun kemudian tersenyum.
"Tania mau kah kau menjadi temanku" ujar Abigail. "Boleh boleh saja kok" ujar Tania.
__ADS_1
"Dan kalau boleh maukah kau menjadi saudariku" ujar Abigail. "Bukan kah kita memang saudara" Tania tertawa kecil.
Kedua wanita itu saling memandang dan tertawa. Malam itu tanpa sadari semua orang akan lahir pejuang yang tak kenal ampun semua mahluk akan menghormati mereka dan takut padanya.