The Seven

The Seven
Kisah dimulai


__ADS_3

Tania membuka matanya dan mendapati Abigail sedang tidur menyandarkan kepala bahunya.


"Abigail bangun ibu pasti mencari kita" ujar Tania. Abigail langsung bangun dan mengusap matanya. "Syukurlah kamu masih disisiku" Abigail tersenyum.


"Sudah jangan terbawa suasana hati mu terus , ayo pulang" ujar Tania santai kemudian bangkit dan mengulurkan tangannya pada Abigail.


Abigail menerima dan bangkit 'aku menyesal menyia-nyiakan teman seperti karand kali ini aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan memiliki teman sejati' pikir Abigail menatap punggung Tania.


Sesampainya di sana mereka mendapati bahwa sudah banyak pasukan yang menunggu kedatangan Abigail.


"Apa maksudnya ini" ujar Abigail heran. "Keselamatan anda adalah hal yang utama nona kami diperintah para pemimpin untuk menjaga anda" ujar salah satu prajurit.


"Dimana ibuku" teriak Tania.


Semua orang terdiam dan menundukkan kepala. Tania langsung berlari masuk kerumahnya tapi tak mendapati ibunya dimana pun.


"Brengsek" teriak Tania.


"Abigail" seru Tania. Abigail langsung berlari ke arah sumber suara saudari tirinya itu. "Tania apa ibu aman" tanya Abigail dengan penuh rasa cemas.


"Jangan panik, ayah sudah pernah mengatakan ini dulu bahwa saat rumah ini di datangi pasukan perdamaian maka aku akan kehilangan segalanya dan waktunya untuk mengangkat senjata dan melawan" ujar Tania.


"Tapi bukankah ini terlalu cepat" ujar Abigail masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan saudarinya itu.


"Abigail aku yakin kau pintar tapi rasionalitas mu itu kurang" Tania tersenyum. "Ayah pernah mengatakan ini 'hidup itu penuh penderitaan tapi kita hanya harus menerimanya' " ujar Tania.


Abigail terdiam sejenak "keputusan apapun yang kau ambil aku akan ikut" Abigail menatap Tania.


"Dengar apapun yang terjadi sekarang akan merubah nasib mu" ujar Tania memperingatkan.


"Aku memang ingin merubah nasibku" Abigail menatap Tania dengan keseriusan. Tania mengangguk dan mengepalkan tangan kirinya.


Tanda sihirnya bersinar terang "Rider". sebuah pedang berwarna merah darah muncul ditangannya.


"Sebentar Abigail aku akan memperlihatkan realita padamu" Tania berjalan melewati Abigail.


Tania keluar rumah dan mengacungkan pedangnya. "Jika kalian tidak mengatakan dimana ibuku aku akan membunuh Abigail" teriak Tania.

__ADS_1


semua prajurit terdiam "kalian jangan diam saja dimana ibuku!!!". "Kalian pikir aku tidak tau siapa kalian , kalian hanya orang orang munafik pembohong yang buruk" ujar Tania.


Semua prajurit saling menatap dan tersenyum singkat. "Tidak kusangkah harus mengatakan ini" ujar salah satu prajurit. "Ibumu sudah pergi ke alam lain" semua prajurit tertawa. "Kau mau tau bagaimana kondisinya saat mati....kami memperkosanya bergilir dan menunggu putri kecilnya untuk pulang tapi sayang ia tidak disini saat kami akan memperkosa putrinya" ujar prajurit itu.


Tania terdiam sejenak angin berhembus kencang menerpa rambut "aku tidak perduli , tak ada penyesalan didalam hati ku, kami rakyat jelata sudah terbiasa dengan penderita"


"Datanglah Catastros!!!!"


langit menjadi gelap aura dingin menusuk tulang. "Kuda perang yang liar, kuda hitam yang perkasa sambutlah dirinya"


lingkaran sihir muncul di udara derap langkah kaki terdengar sangat gagah dan muncullah seekor kuda hitam dengan mata merah.


kuda itu menghentakkan kakinya di tanah dan tanah bergetar membuat semua prajurit kehilangan keseimbangan dan jatuh.


Tania berjalan mendekati kudanya. "Majulah aku bersama partner ku tidak akan membiarkan kalian mati dengan cepat"


"Gadis kecil kau pikir dirimu itu siapa!!!!" teriak salah satu prajurit kesal.


"Skill pertama Vanishing Damage"


kuda hitam Tania menghentakkan kakinya ketanah dan pedang Tania bersinar terang. "Tamatlah sudah" ujar Tania.


Prajurit itu tidak sempat menghindar karena kehilangan kekuatan baik sihir dan kekuatan fisik.


seketika puluhan kepala itu berjatuhan ketanah dengan tubuh dan kepala yang terpisah.


Abigail yang melihat kebrutalan itu hanya bisa bergedik ngeri. Tapi apakah memang Tania tidak memiliki perasaan sedih atas kematian ibu yang sudah membesarkan dirinya.


Abigail terduduk lemas memikirkan kejadian tragis yang menimpa ibu biologisnya.


Malam harinya mereka duduk dimeja makan bersama. "Apa yang kau ingin lakukan sekarang" tanya Abigail. "Entahlah aku tidak punya ide" Tania mengangkat kedua bahunya.


"Apa kau tidak sedih mendengar perkataan prajurit itu" tanya Abigail heran. "Anak mana yang tidak sedih Abigail tapi ibu tau bahwa ia akan mati cepat atau lambat" ujar Tania matanya terlihat berkaca kaca. "Ibu pasti sudah senang melihat kita masih hidup" Tania menangis dan tersenyum bersamaan.


"Kenapa kalian semua sangat tegar" Abigail menatap Abigail. "Apa maksudmu" ujar Tania heran.


"Semua orang yang kuat sangat tegar hatinya tapi tidak ada orang seperti itu di sisi ku" ujar Abigail. "Semua orang yang kuat hatinya selalu menolakku dan menjauhi bahkan memusuhi ku" ujar Abigail.

__ADS_1


Tania terdiam sejenak mengerti maksud Abigail dan paham sedikit seperti apa diri saudari tirinya nya.


"Abigail jika kau ingin mendapatkan teman yang kuat maka kau harus mencari teman yang kuat, jika kau ingin pengikut loyal kau tunjukkan bahwa dirimu pantas diberikan rasa loyalitas mereka" ujar Tania.


"Artinya kau lah yang harus pergi meninggalkan lingkungan pertemanan dan mencari teman yang sependapat dengan mu" ujar Tania mengusap air matanya.


Abigail terdiam "tapi bagaimana jika teman teman ku menganggap ku berubah".


"Apa kamu ingin hidup dengan penilaian orang lain" tanya Tania singkat.


"Apa tugas mu sebagai pahlawan yang di takdirkan" ujar Tania. "Melindungi semua orang dan membantu semua orang" ujar Abigail singkat.


"Itu sangat klise sekali tapi sebelum kau bisa melindungi orang lindungilah dirimu sendiri, jika kau ingin membantu semua orang bantu lah diri mu sendiri terlebih dahulu" ujar Tania.


Abigail terdiam dan mengangguk "sekarang apa harus kau lakukan" tanya Tania tersenyum.


"Menjadi lebih kuat"


jawab Abigail singkat "Anak pintar kalau begitu mari kita lihat kenyataan dunia ini bersama sama" Tania tersenyum misterius.


Abigail menjadi takut melihat senyum tipis saudarinya itu. "kau punya tunggangan kan" tanya Tania.


Abigail mengangguk dengan cepat "ayo pergi" ujar Tania mengulurkan tangannya pada Abigail.


mereka keluar dari rumah Abigail langsung memanggil tunggangannya. Seekor naga elemental turun dari langit.


"Salam hormat nona ku" ujar naga berkepala lima itu.


"Wah mencolok sekali apa kau tidak punya tunggangan lebih biasa" ujar Tania heran.


"Ini biasa bahkan Pangeran Felix saja tunggangan nya War Dragon"


"Bangsawan memang suka Boros ya" sindir Tania. "Hei manusia hina jaga ucapan mu pada nona ku" ujar elemental dragon.


"Apa kamu punya tunggangan lain" tanya Tania mengabaikan elemental dragon. "Iya ada beberapa" jawab Abigail.


tangan nya bercahaya dan munculah lingkaran sihir keluar seekor kuda putih lengkap dengan artribut perang nya.

__ADS_1


"Ya setidaknya ini masih lebih baik dari pada naga kepala lima ini" Tania paham sekarang hal mewah untuk rakyat jelata adalah hal rendah untuk bangsawan.


Petualangan ini sudah memasuki babak baru tak ada yang tau apa yang mereka hadapi.


__ADS_2