
...Part 1...
Karand terdiam melihat senyum lebar Diego. Sejak mengenal Diego baru kali ini lah diri nya melihat senyum setulus itu di wajah pemuda berambut biru itu.
"Untuk merayakan reuni ini bagaimana kalau kita makan di restoran" usul Mars.
"Tenang saja aku yang traktir" tambah Mars. Diego mengangguk "Bagaimana dengan mu Karand, mau ikut" tanya Diego. "Tentu saja aku tidak akan melewatkan makan gratis" jawab gadis berpipi tembem itu disertai cekikikan.
Mereka pun pergi menuju restoran yang berada di persimpangan jalan.
Kriing
Suara bel berbunyi saat mereka memasuki restoran. Mereka berjalan menuju kasir untuk memesan makanan dan mengambil nomor meja.
Mereka duduk di meja yang sesuai nomor "oh iya Nona Mars di mana anggota party Tetra Fang lain nya" tanya Diego dengan sedikit antusias.
"Party Tetra Fang sudah bubar" Mars menatap pemuda berambut biru itu dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Tunggu kenapa bisa bubar" tanya Diego tidak terima. "Joe dan Maru bertengkar alhasil Maru keluar dari party dan Joe membubarkan party"
"Maru anak itu obsesi nya untuk menjadi terkenal sudah melewati batas sehingga selalu membahayakan orang disekitarnya" tambah Mars.
Diego ingat kalau dulu Maru memang pernah memaksa untuk membuka lantai Dungeon yang belum terbuka.
"Lalu dimana sekarang anggota Tetra Fang yang lain" tanya Diego. "Aku dan Leois menikah dan kami masih sering melakukan misi bersama lalu untuk Sena dia membuka toko di Dwartnia tapi dia tidak punya kemampuan bisnis yang mumpuni jadi dia terjerat banyak hutang lalu ia menikah dengan seorang pejabat Dwartnia untuk melunasi hutang hutang nya"
"Astaga itu benar benar mengejutkan" ujar Diego. "Lalu untuk Maru aku tidak pernah mendengar kabar nya lagi dan juga Joe dia menjadi pustakawan di desa Walter"
"Desa Walter itu desa yang masuk ke dalam daerah kekuasaan Suku Mermaid kan" tanya Karand.
"Benar" ujar Diego menambahi.
"Kau tau Diego, sebenarnya Joe bisa di bilang beruntung dan kurang beruntung di saat yang bersamaan" Mars tertawa kecil.
"Kenapa" tanya Diego.
"Ia di paksa untuk menikahi cucu Pemimpin Desa Walter, sebenarnya tidak ada yang salah cucu Pemimpin Desa Walter itu cantik dan juga seorang penyanyi terkenal tapi ia.... sedikit sinting"
"Huh"
"Cucu Pemimpin Desa Walter itu sangat cemburuan bahkan saat aku dan Sena datang ke pernikahan mereka aku bisa melihat aura hitam keluar dari tubuh nya" Mars masih takut jika mengingat kejadian beberapa tahun silam itu.
Diego tersenyum kecil mendengar hal itu. "Lalu bagaimana dengan mu sendiri Diego" tanya Mars sedikit penasaran.
Karand pun memasang kuping baik baik rasanya ia akan mendengar sesuatu yang menarik.
"Saat berumur sepuluh tahun aku resmi menjadi petualang dan mengambil misi dari Guild lalu menjelajah beberapa Dungeon. Berpindah-pindah party terkadang menjadi petualang solo aku juga pernah ikut penaklukan beberapa Dungeon lalu sekarang aku menjadi siswa di Akademi Kaum"
Tiba tiba seorang pelayan mendatangi mereka sambil membawa beberapa makanan yang mereka.
"Begitu ya sembilan tahun bukan lah waktu yang lama seperti nya tak ada petualangan yang berkesan pada mu" tanya Mars mengambil sendok yang ada di dekat piring.
"Perpisahan selalu berkesan bagi ku terkadang aku senang terkadang sedih tapi lama-lama aku terbiasa" Diego tersenyum kecut.
"Begitu ya" Mars menatap pemuda berambut biru tersebut ia paham apa yang dimaksud pemuda itu. Diri nya juga sangat sedih waktu party bubar.
"Kak Diego perpisahan apa yang paling menyedihkan bagi kakak" tanya White.
"Perpisahan dengan teman-teman ku Vincent, Victorus, Dylon , Regizel, dan Zola. Berpisah dengan mereka adalah hal yang paling menyakitkan bagi ku sampai sekarang aku masih merasa sensasi saat kami berpisah" Diego terdiam sejenak.
"Kak Diego semoga kakak bisa berkumpul kembali dengan teman teman kakak" ujar White lalu memakan roti isi daging nya.
"Kalau itu sih aku tidak mau menemui mereka terlalu cepat nanti mereka marah pada ku" Diego tertawa kecil.
Karand dan Mars terdiam mereka mengerti apa yang di maksud Diego. Teman teman Diego sudah mati.
"Lalu kalian tinggal dimana sekarang Nona Mars" tanya Diego. "Kami tinggal tanah kelahiran ku di pinggiran desa Florian, kapan-kapan berkunjung lah ke sana Diego" Diego mengangguk pelan ia akan mengingat nama desa itu baik baik.
Mars mendekatkan muka nya ke telinga pemuda berambut biru itu "Psstt Diego dari tadi teman mu itu tidak banyak bicara jangan sampai dia merasa terabaikan" bisik Mars
Mars pun duduk kembali di kursinya dengan rapih. "Kau tidak apa Karand" tanya Diego to the point.
Mars menghela nafas panjang "Jangan langsung di tanya seperti itu Diego mana basa basi nya". Diego terdiam sejenak ia tidak mengerti basa basi seperti apa yang harus ia lakukan pada Karand.
Setelah itu mereka bertiga mengobrol cukup lama walau Diego cuma menyimak dan sesekali mengomentari.
Mereka tidak sadar jika White/Whity tertidur. Setelah itu Leois muncul saat ditanya kenapa dia tau mereka di restoran ini. Leois dengan enteng menjawab dia mengikuti parfum milik Mars.
Dengan datang nya Leois obrolan menjadi lebih panjang membuat mereka lupa waktu.
"Maaf ini sudah sangat sore kami harus kembali ke akademi kaum" Karand menyela pembicaraan ketiga orang yang sedang reuni itu.
"Ya ampun maaf membuat mu tertahan di sini Karand" ujar Mars menyesal.
"Tidak apa kok" balas Karand.
"Diego antar lah nona ini ke akademi" suruh Leois. "Baik" jawab Diego singkat.
"Kami juga harus peluang ke penginapan karena besok akan pulang ke desa" ujar Mars. "Bagaimana kalau aku mengantar kalian apa boleh" tanya Diego.
"Tentu Diego" Leois tersenyum kecil dan mengangguk "Kalau begitu kami pergi dulu banyak hal yang harus disiapkan besok jam enam pagi di gerbang utara kota kaum jangan sampai telat ya".
Leois dan keluarga kecil nya kemudian pergi mendahului kedua siswa akademi itu.
"Kalau begitu kita juga Karand" ajak Diego.
"Hei kalian mau pergi sekarang padahal aku sudah menunggu sangat lama untuk mengobrol dengan mu Hunter of Nightmare" Diego berhenti berjalan ia sangat mengenal dengan pemilik suara itu.
"Kau sangat hebat bisa menyembunyikan hawa keberadaan mu Blade of Justice" ujar Diego.
"Kamu bisa memanggil ku seperti biasa Diego".
Karand terdiam baru saja ia mendengar tiga nama petualang rank emas bintang lima yang sangat terkenal.
"Aku mengerti alasan guild kota kaum kebanjiran misi karena petualang terhebat yang mereka miliki masuk sekolah lalu kehilangan pengelihatan nya di insiden penyerangan mall kota kaum" pria dengan rambut merah darah dengan mata coklat serta celana hitam bertelanjang dada dan sarung tangan besi di kedua tangan nya dan kulit putih kemerahan dengan sebuah pedang di pinggang.
"Cordon Nero"
"Ya ampun kamu masih dingin seperti biasa ya Diego" Cordon tersenyum sinis.
"Sebaliknya kamu masih suka sok akrab seperti biasa ya Cordon" Diego akhirnya bisa merasakan keberadaan pria itu.
"Aku tidak punya waktu meladeni mu Cordon aku punya urusan lain" Diego meraih tangan karand dan menariknya meninggalkan restoran ini.
__ADS_1
Pria itu tersenyum kecil "sampai jumpa hati hati di jalan Diego jaga pacar mu baik baik ya" seru Cordon kemudian ia tersenyum kecil.
...Part 2...
Diego dan Karand berjalan menuju akademi kaum sambil bergandengan tangan. "Diego apa dia itu benar Blade of Justice yang terkenal itu? Dia yang asli kan?" tanya Karand dengan antusias.
"Benar dia lah orang nya" jawab Diego.
"Harusnya kita jangan langsung pergi aku mau minta saran pada nya" gerutu Karand.
"Lalu kenapa dia memanggil mu dengan julukan Hunter of Nightmare" tanya Karand.
"Karena aku lah orang nya" jawab Diego singkat.
"Jangan bercanda Diego" ujar Karand. Hunter of Nightmare adalah petualang yang terbaik dari yang terbaik. Waktu Karand masih tinggal di desa ia sering mendengar kisah tentang petualangan Hunter of Nightmare dari para penyair jalanan.Semua anak anak menyukai kisah nya.
Ini memang sulit untuk dipercaya. Belum lagi Diego yang seumuran dengan diri nya membuat ia semakin sulit di percaya.
"Karand" panggil Diego.
"Ada apa Diego" Jawab gadis itu.
"Apa besok kau punya waktu luang" tanya Diego.
"Iya memang nya ada apa"
"Aku tau menjadi petualang tidak lah mudah jadi besok aku ingin memberi mu sesuatu yang mungkin bisa membantu mu" Diego tersenyum kecil.
"Ke...kenapa kamu mau membantu ku" Karand menatap pemuda berambut biru itu. "Karena kamu cukup perhatian pada ku jadi sudah saat nya aku memberi perhatian kepada mu"
Deg
Jantung Karand berdetak lebih kencang. Dia sudah biasa menerima pujian dan rayuan dari lawan jenis tetapi ia tidak merasakan apa pun.
Entah kenapa jantung nya terasa berdetak lebih kencang.
"Di....Diego seperti nya kita akan telat jika terus berjalan seperti ini" Karand menatap tangan Diego yang masih terpaut di tangan nya..
Diego berhenti berjalan "kau benar" Diego melepaskan pegangan tangan nya pada gadis berpipi tembem itu.
Tiba tiba angin berputar sekitar pinggang Karand. Perlahan tubuh nya terbang ke udara.
"Eh ada apa ini" teriak Karand panik. Ia kehilangan keseimbangan nya dan berputar-putar di udara.
"Tenangkan diri mu Karand"
"Bagaimana aku bisa tenang" seru gadis itu panik. Diego mengulurkan tangan "pegang tangan ku jika kau merasa takut"Karand menerima uluran tangan Diego.
Angin berputar di sekitar pinggang Diego. Angin itu berputar semakin cepat membuat tubuh pemuda berambut biru itu terbang ke udara.
"Dengan begini kau tidak akan terlambat pulang ke asrama" mereka berdua terbang melesat ke langit. Karand menatap kota kaum yang di timpa oleh cahaya jingga matahari terbenam "Pemandangan yang sangat indah ya Diego" ujar gadis itu dengan kagum.
"Eh maaf aku tidak bermaksud menyinggung mu" Karand mulai sekarang harus mencari topik yang sesuai dengan Diego.
Ia tidak mau menyinggung perasaan pemuda berambut biru itu. "Tidak masalah Karand " jawab Diego singkat.
"Aku benar benar minta maaf soal itu" Karand menatap wajah pemuda. Dari sekian banyak teman nya hanya pada Diego lah yang bisa memahami apa yang ia rasakan sekarang.
Karand bisa merasakan sensasi tubuh dingin milik teman nya. Belum selesai sampai di situ Karand harus berhadapan dengan keluarga teman teman nya.
Mereka menyumpahi, mengutuk diri nya dan menangis sejadi-jadi nya di hadapan Karand.
Bertanya kenapa hanya diri nya yang selamat kenapa ia tidak menyelamatkan anak mereka.
Hal itu membuat Karand mengurung diri di asrama membuat ayah dan seluruh teman teman khawatir.
Bahkan Kak Elizabeth bolak balik dan guild kota kaum ke asrama nya hanya untuk mengecek kondisi diri nya.
"Diego apa yang kau rasakan saat teman teman mu mati" tanya Karand.
Diego diam sejenak "Karand aku lah yang membunuh teman teman ku" ujar Diego.
"Apa!?"
"Kau ingat dengan Vincent, Victorus, Dylon , Regizel, dan Zola yang ku ceritakan di restoran? aku lah yang membunuh mereka"
Karand menatap tidak percaya "Tidak mungkin... jangan bercanda Diego" karand berusaha tertawa.
"Waktu itu konflik di antara kami sudah tak bisa di hindari lagi, kami adalah party petualang yang berpetualang dari satu tempat ke tempat lain namun suatu hari kami menemukan Dungeon yang baru terbentuk"
"Kami langsung menjelajahi nya dan berhasil sampai di lantai terakhir lalu kami berhasil mendapatkan harta Dungeon itu namun itu lah awal dari permasalahan, harta Dungeon memiliki kekuatan yang sangat besar"
"Aku dan teman teman ku terbuai oleh kekuatan itu. Kami memperebutkan kekuatan itu lalu bertarung sampai mati"
"Saat aku sadar semua orang sudah mati kecuali Zola yang berhasil selamat dari serangan ku"
Karand terdiam mendengar cerita Diego. Itu bahkan jauh lebih buruk dari apa yang di alami diri nya.
"Untuk pertama kali nya aku menangis sejadi jadi nya hati hancur melihat teman teman ku terkapar tak bernyawa karena diri ku" Diego terdiam sejenak.
"Aku sangat sedih bahkan saat ibu ku mati dalam kebakaran aku tak merasa perasaan apa pun" Diego tertawa kecil.
"Lalu bagaimana kamu bisa melupakan semua kejadian itu dan bergerak maju" kalau Karand yang ada di posisi Diego mungkin dia lebih memilih bunuh diri dari pada hidup.
"Aku tidak pernah melupakan itu Karand, aku hanya menerima semua nya"
"Itu sangat menyakitkan Diego aku tidak sekuat diri mu walau aku berlambang sword jika aku bertarung mu dengan pasti aku akan kalah" Karand memalingkan muka nya.
"Kalau belum di coba kita tidak bakal tau tapi Karand aku akan membantu menerima semua rasa sakit yang kau alami" Karand terdiam dan menatap wajah pemuda itu.
"Terima kasih Diego" hanya itu yang bisa ia ucapkan pada Pemuda berambut biru itu.
"Kau tidak perlu berterima kasih Karand, aku baru mau membantu mu bukan sudah membantu mu" Diego tersenyum kecil.
"Kalau begitu terima kasih sudah mau membantu ku" Karand tersenyum lebar.
...Part 3...
"Tidak masalah" jawab Diego singkat. Setelah terbang selama dua menit mereka mendarat di depan gerbang akademi kaum.
"Ayo Diego nanti kita telat" Karand mengajak Diego memasuki gerbang akademi namun Diego diam tidak bergeming.
"Aku masih ada urusan jadi aku belum bisa masuk sekolah" angin berputar di sekitar pinggang Diego membuat pemuda itu terbang ke udara.
__ADS_1
"Sampai jumpa besok Karand"
"I..iya sampai jumpa besok" Karand melambaikan tangan nya. Diego terbang semakin jauh membuat ia perlahan tak terlihat lagi.
Esok nya
"Hati hati di jalan Tuan Leois Nona Mars dan kamu juga White" ujar Diego.
"Tenang Kak Diego, ayah dan ibu ku itu sangat kuat" ujar anak itu. "Jangan menyusahkan orang tua mu White" ucap Diego.
"White ayo naik ke kereta" seru Mars. Anak itu langsung menuruti perintah sang ibu.
"Diego kami pergi dulu walau pun sebentar tapi rasa sangat menyenangkan bisa bertemu dengan mu lagi" Leois mengelus pucuk kepala pemuda itu.
"Iya Tuan Leois aku pun juga begitu senang bisa bertemu kalian lagi suatu saat aku akan berkunjung ke desa kalian, kalau tidak salah nama nya Desa Florian kan?" Tanya Diego.
"Benar aku menantikan itu ku harap kita semua bisa berkumpul bersama lagi dan mungkin menjelajah Dungeon Sky Tower lagi hahaha" Leois tersenyum dan menarik tangan nya.
"Sekali lagi hati hati di jalan Tuan Leois" Leois tersenyum kecil ia mengerti kekhawatiran pemuda berambut biru ini.
Monster dan bandit selalu menjadi momok mengerikan bagi orang orang yang akan melakukan perjalanan.
Tapi dia dan Mars selalu waspada untuk setiap kemungkinan yang akan terjadi.
"Tenang saja Diego aku akan selalu berhati hati sampai jumpa ya" Leois berbalik dan naik ke kereta mereka.
"Diego kami pergi dulu ya" teriak Mars. "Jaga diri mu baik baik" tambah nya. "Kalian juga" balas Diego.
Setelah itu terdengar suara derap langkah kaki kuda mulai menjauh dari nya dan tak terdengar lagi.
"Aku sudah melakukan apa yang kau minta Diego" sebuah suara tiba tiba muncul membuat Diego mengerutkan dahi nya.
"Bisakah kau berhenti melakukan itu Cordon" tukas Diego.
"Melakukan apa" tanya Cordon dengan polos.
"Sudahlah! apa semua nya sudah selesai tak ada yang tersisakan ?" tanya Diego.
"Iya semua bandit yang monster yang berada di rute perjalanan kedua teman mu itu sudah ku habis, perjalanan mereka pasti aman aman saja" Cordon sebenarnya cukup terkejut saat mendapati Diego menemui dirinya dan meminta bantuan nya.
"Bagus kalau begitu aku akan pergi" Diego berbalik dan berjalan meninggalkan pria itu.
"Hei kenapa kau mengkhawatirkan mereka padahal mereka sama seperti kita petualang dengan rank emas lima bintang" pertanyaan itu membuat Diego menghentikan langkahnya.
"Aku tidak ingin terjadi apa apa pada white kalau untuk Tuan Leois dan Nona Mars aku tidak perlu mengkhawatirkan mereka" Diego berjalan pergi.
"Ternyata kamu masih memiliki simpati ya Diego" Cordon tertawa kecil melihat punggung pemuda itu yang kian menjauh.
***
Seorang pemuda berambut biru memakai baju zirah berwarna putih dengan pelindung tangan dan kaki dipinggangnya terdapat tas untuk anak panah dan di tangan kanan nya terdapat busur panah.
Pemuda itu memakai jaket berwarna coklat dengan hoddie yang senantiasa terpasang di kepala nya.
Pemuda menatap seekor monster ular berwarna hijau yang kira kira memiliki panjang dua puluh kilometer yang baru saja ia kalahkan.
Tak jauh dari situ ada seekor kelelawar raksasa yang sedang memakan daging ular itu. Entah kenapa dengan melihat ekspresi kelelawar itu ia tau kalau daging ular ini tidak enak.
"Padahal baru tingkat pertama tapi sudah sekuat ini, tidak heran sih ini adalah Dungeon paling berbahaya di dunia" pemuda itu berjalan mendekati ular raksasa itu dan duduk di atas tubuh nya.
"Walau sudah mendapatkan bantuan Batsy pun aku masih kesulitan mengalahkan ular ini untung nya aku masih bisa menang" ujar pemuda berambut biru itu yang tak lain adalah Diego.
Diego langsung bangkit dan berjalan mendekati batsy yang berbaring di tanah karena kekenyangan.
Diego mengambil sisik dan taring dari ular lalu memasukkan nya kedalam tas penyimpanan milik nya.
"Batsy ayo kita pergi" seru Diego.
Seakan mengerti perkataan Diego Batsy langsung menyusutkan tubuh nya dan terbang ke arah Diego lalu bersembunyi di dalam hoddie milik pemuda berambut biru itu.
Diego berjalan meninggalkan Dungeon menuju guild terdekat. Dungeon Elora adalah Dungeon terbesar dan paling berbahaya di dunia.
Dungeon ini terletak tepat di bawah samudera yang memisahkan dua benua.
Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama Diego berhasil keluar dari Dungeon Elora.
Saat keluar Diego mendapati banyak prajurit bersiaga. Diego mengangkat kedua tangan nya "Aku Hunter of Nightmare beberapa jam lalu aku memasuki Dungeon Elora dan kembali dengan selamat" ujar Diego.
Pemerintah setempat membangun benteng untuk berjaga jaga jika ada monster Dungeon yang keluar dari Dungeon.
Walau hal itu sebenarnya jarang terjadi tapi mengantispasi jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali.
"Tunjukan tanda pengenal mu" teriak seorang prajurit. Diego menurunkan tangan kanan nya dan mengambil sebuah lencana berwarna berwarna emas dengan tiga bintang dan melemparkan lencana itu pada prajurit itu.
Prajurit itu memungutnya dan melakukan pemeriksaan terhadap lencana itu.
"Ini asli dia Hunter of Nightmare yang sesungguhnya" ujar prajurit itu. Diego pun di bawa dan tanyai berbagai hal oleh seorang prajurit yang seperti nya seorang komandan pasukan.
Setelah menjawab berbagai pertanyaan Diego pun diperbolehkan pergi.
Sekarang ini tujuan nya adalah guild terdekat. "Toloooong" teriakan itu membuat Diego berhenti berjalan.
"Seseorang ku mohon tolong aku"
Diego pun langsung berjalan mengikuti sumber suara itu. Ia melihat seorang pria jangkung dengan pakaian mewah sedang berhadapan dengan seorang pria.
Pria dengan rambut merah darah dengan mata coklat serta celana hitam bertelanjang dada dan sarung tangan besi di kedua tangan nya dan kulit putih kemerahan sedang mengacungkan pedang nya.
Diego berhenti berjalan dan bersembunyi di balik pohon. "Kumohon tolong jangan bunuh aku....aku punya uang dan kekuasaan...a...aku ini seorang penguasa tau jika aku tidak kembali pasti akan banyak prajurit yang mencari ku" teriak pria jangkung.
"Asal kau tau aku mencari mu karena kau adalah penguasa" ujar pria itu berjalan mendekati pria jangkung itu.
"Ja...jangan mendekat!!!" pria itu meraih sebuah batu yang ada di dekatnya.
Pria jangkung itu melemparkan batu itu ke arah pria berambut merah itu namun batu seperti itu bukan lah hal yang perlu di takut pria berambut merah tersebut.
"Siapa sebenarnya kau.....apa mau mu kenapa kau melakukan ini...." Celana pria jangkung itu tiba tiba basah membuat pria berambut merah itu jijik.
"Aku adalah seorang petualang"
"Pe... petualang bukan kah jika seorang petualang melakukan pembunuhan di luar misi lencana mereka akan mengeluarkan titik merah....re... reputasi mu akan tercoreng dan jika prajurit memeriksa lencana mu dan menyelidiki siapa saja yang kau bunuh maka kau akan di tangkap" pria itu tersenyum puas karena memiliki secercah harapan untuk hidup.
"Memang benar begitu tapi asal kau tau aku adalah keadilan"
__ADS_1