The Seven

The Seven
Fraksi Federasi Perdamaian


__ADS_3

Di Sebuah ruangan yang minim pencahayaan terdapat sebuah meja bundar besar dengan lima orang duduk mengelilingi meja itu.


Suasana hening terasa mencekam di pojok ruangan ada sebuah singgasana besar terbuat dari emas dengan seorang pria dengan celana hitam dan baju kulit berwarna merah dengan jubah emas di pundaknya.


"Tak kusangkah James mati lebih cepat dari perkiraan ku" ujar pria yang duduk disinggah sana itu.


"Tadinya ku pikir kita sendirilah yang harus membereskan benalu itu dari federasi perdamaian" ujar salah seorang wanita.


"Tapi kenapa anda mengumpulkan jika masalah James sudah selesai" tanya balik wanita itu.


Pria itu bangkit dan mengeluarkan aura hitam dari sekujur tubuhnya. "Karena kematian James lebih cepat dari perkiraan kita , pahlawan menghilang bahkan pasukan yang kita suruh untuk mencarinya tidak kembali lagi"


Semua orang terdiam mulai mengerti arah pembicaraan sang pimpinan. "Aku ingin setiap kerajaan terus kalian adu domba agar rencana kita dapat berjalan dengan baik!!!"


Semua orang dapat merasakan kekuatan dahsyat milik si pemimpin mereka hanya bisa menahannya sekuat tenaga.


"Kalian mengerti temukan pahlawan dan jalankan tugas kalian!!!" teriak nya. Semua anggota mengangguk kemudian bangkit dari tempat duduk dan pamit pergi.


"Petra" teriak pria itu.


Dari balik bayangan muncul pemuda itu dengan senyum lebarnya. "Kau punya informasi apa sekarang" bentak pria itu.


"Anda sepertinya sangat buru buru pimpinan" ujar Petra kemudian tersenyum. "Cepat katakan apa informasi yang kau punya" pemimpin fraksi Federasi Perdamaian menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Tidak ada tapi asal kau tau, angin tiba tiba berubah arah kau tak akan mampu menghalaunya, berhati hati lah firasatku ini jarang sekali salah" Petra tersenyum kemudian terbang keudara di belakang tubuhnya muncul lingkaran sihir dan menghisap pemuda itu.


pemimpin Fraksi Federasi Perdamaian terdiam sejenak. "Kau salah Petra, aku lah sang angin yang menentukan kemana aku akan pergi" ia tersenyum kecil.


Balik kanan dan berjalan pergi memasuki kegelapan dan hilang dalam kegelapan itu.


***


"Cepat tutup gerbang" teriak beberapa prajurit. serangan iblis makin intens kota tak mungkin dapat bertahan di serangan secara terus menerus.


Seorang gadis berdiri di menara pengawas dengan tatapan yang sulit diartikan. "Nona pahlawan apa tindakan anda selanjutnya" ujar salah satu prajurit.


"aku adalah pahlwan aku lah yang akan menjadi sosok penyelamat bagi orang lain" ujar Abigail kemudian diam sejenak.


Semua orang terdiam dan saling menatap "tapi iblis itu sudah membunuh banyak orang ayahku juga sudah dibunuh oleh mereka kau harus membalaskan dendam mereka" teriak seorang gadis kecil. "Kau tidak berguna yang bisa kau lakukan menghabiskan pajak yang kami selalu setorkan untuk mu" tambahnya


Abigail berbalik dan berjalan mendekati gadis kecil itu. "Siapa yang mengajarimu berkata seperti itu" tanya Abigail.


Membuat semua orang pucat pasi "memang kau tidak berguna , kau saja tidak menghabisi para iblis itu seperti yang diceritakan dalam cerita" tambahnya.


"Aku akan mengulangi pertanyaannya siapa yang mengajarimu" tanya Abigail. Semua orang terdiam namun tiba tiba iblis bertubuh besar dengan perut besar dan tanduk seperti domba terbang ke arah menara pengawas.


"Nona ada iblis menuju kemari" teriak salah seorang prajurit. Dua meter satu setengah meter iblis itu membuka mulut hendak menyantap mereka semua.

__ADS_1


"Dasar gadis gila" teriak seorang wanita berpakaian mewah.


"Nona tunggu" teriak gadis itu.


Abigail melesat dengan cepat menerjang wanita itu kemudian melemparkan pada iblis itu.


"Arrggh"


iblis itu terpental bersama wanita itu. tak perlu waktu lama wanita itu dengan cepat menjadi sasaran empuk bagi para iblis.


Para iblis langsung menerjang wanita itu. mulai menarik tangan sampai putus dan menarik anggota tubuh bagian yang lain.


"Itulah akibatnya jika menjadi pengadu domba" ujar Abigail kemudian ia berbalik dan menatap semua orang disana dengan datar.


"Kalian paham" Abigail menatap mereka semua dengan tatapan kosong. "Bawa mereka ke pengungsian dan jaga ketat tempat itu jangan sampai di dekati iblis" ujar Abigail.


Prajurit itu mengangguk dan memberi arahan pada para warga. Abigail tinggal sendiri angin menerpa lembut wajahnya "apa yang baru saja aku lakukan" tanya pada diri sendiri.


namun tiba tiba energi yang cukup besar muncul secara tiba tiba dan tidak hanya satu tapi sepuluh sumber energi yang berkumpul di satu titik.


"Apaan itu"


Tak ada yang mengetahui masa depan. Bahaya apa yang akan menunggu dimasa yang akan datang tak ada yang bisa memprediksinya.

__ADS_1


Apakah pahlawan bisa mengatasi tak ada yang tau.


__ADS_2