The Seven

The Seven
Mulai Berubah


__ADS_3

...Part 1...


"Hei Diego!?" seru Pak Guru Kaizer namun tak ada jawaban dari pemuda berambut biru itu.


Pak guru Kaizer menyentuh pundak Diego. "Apa kau baik-baik saja" tanya pria itu dengan khawatir.


"Oh maaf aku melamun, tadi kita bicara apa?" tanya Diego. "Kau ini, kalau orang tua sedang bicara dengarkan" Sir Kaizer menghelai nafas. "Baiklah aku ku ulangi cerita tentang betapa imut nya putri-putri kuuu!!" teriak Pak Guru Kaizer.


Diego tertawa kecil "maaf tapi aku sedang ada urusan lain jadi mungkin bisa kita lanjutkan lain kali" pemuda berambut biru itu langsung bangkit dan pergi.


"Hei tunggu aku belum selesai!?" seru Pak Guru Kaizer. Namun Diego tidak menghiraukan teriakan ayah Karand itu.


Sesampainya di kantin Diego mencari tempat duduk yang kosong menggunakan sihir angin nya.


Ia berhenti berjalan karena merasakan seseorang berjalan mendekati diri nya. "Tebak siapa" Sosok itu berdiri di samping Diego. Pemuda berambut biru itu mengernyitkan dahi nya ia tidak terlalu mengenali suara perempuan itu.


"Ciri-ciri nya berambut perak, suka membawa payung, dan waktu kecil kita selalu bersama, dan pertemuan terakhir kita di rumah sakit pasca penyerangan mall kota kaum" mendengar hal itu Diego pun tersenyum kecil.


"Senang bertemu dengan mu Marjun, aku minta maaf waktu itu aku tidak mengenali mu sewaktu di rumah sakit" ujar Diego.


"Ayo temani aku makan" Marjun meraih tangan Diego dan menarik nya. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan dan menuju meja yang masih kosong membuat beberapa pasang mata melirik.


Diego dan Marjun duduk bersebrangan "bagaimana kabar mu aku dengar dari Karand kamu sedang berlatih mengembangkan indra pengelihatan mu yang baru, bisa kau jelaskan pada ku siapa tau aku bisa membantu" tanya Marjun dengan antusias.


"Apa kau tau kelelawar tidak memiliki pengelihatan yang baik tetapi ia tidak akan menabrak saat terbang di malam hari, kelelawar menggunakan suara untuk mengetahui apa yang ada di sekitar mereka.


metode indra pengelihatan ku yang baru sama seperti kelelawar tetapi aku menggunakan sihir angin untuk melihat" ujar Diego.


"Hm begitu ya jika ada sesuatu yang membuatmu kesulitan jangan ragu untuk minta bantuan ku" Marjun menatap pemuda berambut biru itu dengan seksama.


"Penampilan mu benar benar berbeda ya Diego" ujar Marjun. "Apa maksud mu" tanya Diego bingung.


"Dulu aku lebih tinggi dari mu tetapi sekarang tinggi ku hanya sesikumu terus rambut mu dulu selalu rapih lihat lah sekarang" sebuah tangan menyentuh rambut Diego.


"Kering, kasar dan sedikit bau matahari apa kamu punya shampo?" tanya Marjun. Diego tersenyum kecil dan memegang tangan gadis itu.


"Aku jarang merawat diri ku sendiri jadi wajar aku berbeda dengan nya dulu, tetapi sensasi tangan mu tetap sama hangat dan lembut itu" Mendengar hal itu pipi Marjun bersemu merah.


Ia pun menarik tangan nya "oh iya bagaimana kabar Tuan dan Nyonya Einzenberm" tanya Diego.


"Mereka sehat tetapi ayah mulai sering mengeluh tentang pinggang nya dan ibu mulai sering bolak balik salon kecantikan karena beberapa kerutan di wajah" Marjun tertawa kecil mengingat hal itu.


"Kalau kamu sendiri bagaimana" tanya Diego.


"Aku baik kok memang nya ada apa" tanya Marjun dengan pipi bersemu merah. Tidak bisa dipungkiri ia sangat senang karena ditanyai oleh Diego.


"Syukurlah kalau begitu oh iya sampaikan salam ku pada Tuan dan Nyonya Einzenberm ya" ujar Diego.


"Maaarrrjuuuuun"


Diego dan Marjun langsung mengetahui siapa pemilik suara itu. "Dia kenapa" tanya Diego. "Entahlah mungkin Karand sedang datang bulan" jawab Marjun dengan sembarang.


Karand datang bersama Marry dan Kaisha. "Hei Karand kamu kenapa" tanya Marjun. "Hei kamu jangan pura-pura tidak tau kenapa kamu mengunci ku di toilet huh" bentak Karand. "Oh kamu ada di dalam toilet ya, tadi nya ku pikir tidak ada orang di dalam jadi aku kunci saja pintu nya" ujar Marjun dengan santai.


"Hooh suasana makin panas saja ya" timpal Marry. "Sebenarnya ada apa ini" tanya Kaisha yang tidak tau apa apa.


"Tapi entah kenapa jarang sekali Marjun merias diri nya, sebenarnya ada apa ini" tambah Kaisha.


"Kaisha jangan banyak bicara ini di luar kapasitas otak mu" timpal Marry. "Ooh...tunggu apa maksud mu huh!!!" ujar Kaisha tidak terima.


"Kau berjanji bertanding secara adil kan lalu kenapa kau malah berbuat curang huh" teriak Karand. "Masa sih ku pikir ini sudah adil" elak Marjun.


"Tenang lah kalian berdua, Karand duduk lah ada hal yang harus kita bicarakan" Karand langsung duduk di samping Diego sedang kan Marry dan Kaisha duduk di samping Marjun.


Diego mengeluarkan sebuah tas kecil "rasa nya tas ini tidak asing" Marjun yakin pernah melihat tas itu di suatu tempat. "Ini tas milik ibu ku" jawab Diego singkat.

__ADS_1


"Aaah iya pantas saja aku merasa tidak asing dengan tas itu...tapi hei kenapa tas nya jadi jelek begini seingat ku tas ini sangat cantik dulu" Marjun kembali mencecar Diego dengan pertanyaan nya.


"Hei kau jangan menyela pembicaraan kami, Diego ingin bicara dengan ku" sela Karand. Marjun menatap Karand dengan sangat tajam begitu pula Karand.


Diego membuka tas itu dan mengeluarkan sebuah baju besi berwarna putih dan sebuah gauntlet yang dapat menembakan pengait.


"Karand aku akan mengajukan beberapa pertanyaan untuk mu tuliskan jawaban nya di kertas ini" Diego mengeluarkan sebuah kertas lengkap dengan bulu angsa dan tinta nya kemudian memberikan benda-benda itu pada Karand.


"Baiklah pertanyaan pertama senjata yang mempermudah pergerakan atau menimbulkan kerusakan yang besar"


"Eh sudah di mulai ya sebentar ku catat pertanyaan terlebih dahulu" Karand membuka mencelupkan bulu angsa nya ke dalam tinta.


"Baiklah pertanyaan berikut nya, kau menggunakan pedang dengan satu tangan atau dua tangan"


"Pertanyaan berikut nya dua pedang atau satu pedang"


"Apa kau punya atribut elemen sihir atau atribut spesial dan jelaskan skill mu"


Karand menuliskan semua jawaban nya di kertas "Sudah selesai terus ku apa kan kertas ini" tanya Karand.


"Baca kan aku mau mendengarnya" ujar Diego.


"Pertama aku bingung mau memilih pedang yang mempermudah pergerakan atau menimbulkan kerusakan besar tetapi saat berlatih dengan Kak Gilda aku selalu kalah menggunakan pedang ringan tetapi kalau aku meminjam pedang ayah yang cukup besar maka aku bisa menang" ujar gadis berpipi chubby itu.


Diego terdiam kemudian menghelai nafas seperti ia tau kenapa Karand bisa gagal dalam misi petualang pertama nya.


"Karand kau ini bodoh ya"


Perkataan Diego membuat suasana menjadi hening. "Hahahaha" Marjun tertawa terbahak bahak mendengar perkataan pemuda berambut biru itu.


"Kenapa kau bicara seperti itu pada Karand dan kenapa Marjun malah ikut menertawakan" ujar Kaisha tidak terima. "Kaisha diam lah" timpal Marry.


"Kenapa dari tadi kau menyuruh ku diam huh" ujar Kaisha tidak terima. "Maaf maaf itu tadi lucu sekali" Marjun menarik nafas dan membuangnya perlahan.


"Karand mungkin aku akan memberi sedikit gambaran tentang bagaimana aku menjadi petualang".


"Kekuatan itu harus diimbangi dengan sebuah pola pikir yang benar...lihat lah" Diego memperlihat telapak tangan nya lalu muncul sebuah lambang sihir berlambang panah berwarna hijau dengan lingkaran pertama berwarna biru, lingkaran kedua berwarna merah lalu lingkaran ketiga muncul simbol mata yang mengelilingi dua lingkaran biru dan merah.


"Lambang sihir sempurna" ujar Marry langsung teringat apa yang diajarkan guru nya di kelas.


"Aku bisa mencapai tahap ini karena usaha dan pola pikir yang benar untuk seorang petualang" tambah Diego.


"Sekarang apa pandangan mu tentang seorang petualang setelah melihat teman mu mati"


Deg


Karand terdiam suasana kembali hening "Aku takut, petualang itu bisa mati kapan saja, aku takut kehilangan lagi, aku masih merasa bersalah karena masih hidup. Aku takut saat orang orang menatap ku" ujar Karand dengan mata berkaca-kaca.


"Sekarang jika kau merasa memang bisa menang dengan pedang yang menimbulkan kerusakan besar maka pilih pedang itu kau mengerti" Diego menunjuk wajah Karand namun tiba tiba sebuah tangan menarik tunjuk nya.


"Kau salah menunjuk orang" ujar Marjun.


"Oh maaf, nah. sekarang bacakan jawaban mu yang lain" ujar Diego.


"Kalau begitu aku memilih pedang yang menimbulkan kerusakan yang besar dan aku memakai dua tangan dan menggunakan satu pedang, aku tidak memiliki atribut elemen sihir tetapi sihir yang paling sering gunakan adalah sihir penguat tubuh yang sering diajarkan oleh Madam Evy....eh maksud ku Miss Evy, lalu skill pertama ku aku dapat mengayunkan pedang dengan meningkatkan kecepatan sampai dua kali lipat, skill kedua ku pedang ku dapat mengambil kekuatan orang sampai tiga puluh persen dan skill ultimate ku aku bisa menjadi kebal selama tiga puluh detik dan tubuh ku jauh lebih kuat dan pedang ku akan bersinar kemudian bisa membesar lalu ku serang musuh dengan pedang ku" ujar Karand.


"Begitu ya artinya skill ultimate mu memang condong kepada pedang yang menimbulkan kerusakan besar...Batsy datang lah"


Seekor kelelawar muncul di atas meja ia sedang memakan apel hijau. "Karand ikat kertas itu di kaki Batsy" suruh Diego.


"Diego sebenarnya apa yang mau kau lakukan" tanya Marjun.


"Aku akan mengirim kertas ini pada mitra kerja ku" jawab Diego. "Kenapa membantu sampai sejauh ini Diego...apa karena aku sangat lemah" tanya Karand.


Entah kenapa itu lah yang ia rasa kan. Awal nya Karand sangat senang Diego mau membantu nya tetapi setelah Diego menjelaskan banyak hal pada Karand ia merasa bahwa diri nya sangat lemah.

__ADS_1


"Ya itu benar kau lemah dan kau sama seperti ku dulu. Dulu Kak Shoul membantuku sekarang giliran ku membantu orang lain untuk meneruskan ilmu-ilmu berharga dari Kak Shoul" Diego tersenyum.


"Jangan lupa jika aku membantu mu memang karena ingin membantu" tambah Diego.


"Terima kasih Diego"


"Ngomong-ngomong Diego, sebenarnya kelelawar apa ini" Marjun menatap Batsy yang sibuk memakan buah dari tadi.


"Kata ayah ku ini adalah Mata langit teknik kuno yang dimiliki seorang Arrow" jawab Karand. "Teknik kuno?" tanya Diego.


"Eh kau tidak tau" Karand balik bertanya.


Diego mengangguk pelan "dulu kami bertemu saat aku menjalankan misi pertama ku sebagai petualang, saat itu aku di kejar skeleton dan Batsy hampir di makan oleh predator, sejak saat itu kami selalu bersama dan terhubung" jawab Diego.


"Ayah ku tidak bilang tentang hal itu" gumah Karand.


Ting....Ting.....Ting


Suara bel berbunyi "jam istirahat sudah selesai kami harus kembali ke kelas"ujar Karand. Diego mengangguk pelan. "Kalau begitu sampai jumpa terima kasih sudah mau membantu ku Diego" Karand mengambil armor putih dan gauntlet yang diberikan Diego.


"Diego akhir pekan nanti aku mengundang mu makan malam di rumah ku tidak ada penolakan" bisik Marjun.


"Marjun ayo cepat nanti kita telat" seru Karand.


Alhasil tersisa lah Diego sendiri di meja itu bersama seekor kelelawar yang sedari tadi duduk memperhatikan Diego.


"Bawa surat itu kepada Urb" ujar Diego.


Ngiiik


Kelelawar itu melakukan pose hormat dan ia menghilang seketika.


Diego bangkit saat hendak berjalan pergi. Ia merasakan seseorang mendekati nya "Syukurlah aku menemukan mu disini Diego" ia mengenali pemilik suara itu.


"Paman Varlino" panggil Diego.


"Panggil aku Prof Varlino jika di sekolah, Diego" paman Varlino duduk di samping Diego. "Oh iya aku cuma mau bilang Akademi Kaum memiliki mata pelajaran baru....nama nya bimbingan petualang....seperti nama nya di mata pelajaran ini siswa akan belajar tentang cara menjadi petualang" Paman Varlino melirik anak sahabat nya itu.


"Singkatnya akademi ini membutuhkan seorang guru yang merupakan seorang petualang veteran yang memiliki banyak pengalaman dan mau bertanggung jawab pada siswa nya"


"Bagaimana kamu tertarik Archer Form Blue Moon" tanya Pak Guru Varlino.


"Aku bukan lah orang yang tepat untuk pekerjaan itu lagian mana mungkin aku mengajari orang seusiaku pasti mereka tidak akan mendengarkan ku jika aku menjadi guru mereka" Diego tidak pesimis tetapi ia berusaha berpikir realistis dan memang sulit mengajari orang lain apa lagi usia mereka sama.


"Tapi ku lihat kau bisa mengajari Nora dan Slyphim padahal kedua anak itu seperti kucing dan anjing" ujar Paman Varlino.


Nora adalah anak paman Varlino dan bibi Stella dan Slyphim adalah anak bibi Sophia dan Dokter Oliver. Mereka memang tidak akur, setiap bertemu ada saja hal yang selalu mereka ributkan.


"Tapi aku lebih tua dari mereka sudah pasti mereka punya sedikit rasa hormat kepada ku" ujar Diego.


"Ayo lah jangan banyak membantah ikut saja seleksi itu dari pada kau tidak punya kerjaan" ujar Paman Varlino.


"Lagian kau bisa dekat dengan tunangan mu dan anak nya si Kaizer" tambah Paman Varlino. "Aku tidak yakin bisa menjadi guru yang baik bagi orang lain" perkataan Diego membuat Paman Varlino terkejut kemudian sebuah senyum terukir di wajah nya.


"Kau yakin?" tanya Paman Varlino memastikan.


"Aku yakin kau bisa menjadi guru yang hebat seperti ibu mu" tambah paman Varlino.


Diego tertegun "wanita itu memang guru terbaik yang pernah ku kenal tetapi apa aku harus berakhir seperti dia juga ...maksud ku dia memang punya segudang prestasi tetapi dia adalah ibu yang buruk" ujar Diego.


"Ambil saja yang baik dan tinggal kan yang buruk nya Diego, tunggu apa lagi ayo kita ke tempat pendaftaran sekarang" Paman Varlino bangkit dan berjalan pergi.


"Eh tunggu sekarang" tanya Diego.


"Iya, ayo cepat hari ini adalah hari terakhir pendaftaran dan tes seleksi nya dua hari lagi" Paman Varlino berhenti berjalan dan berbalik menatap Diego.

__ADS_1


"Tapi aku...." ujar Diego. "Santai saja, aku tau kau pasti bisa " Paman Varlino berbalik dan berjalan meninggalkan Diego.


Diego menghela nafas panjang kemudian ia langsung bangkit dan berjalan mengikuti paman Varlino.


__ADS_2