They Are My Destination

They Are My Destination
41


__ADS_3

“Arghh awas sana dasar homo!”teriak Eindelyn


“Ah udah lah aku mau pergi”Maze beranjak


“Kemana?”tanya Tristan


“Kemana lagi. Ya ketempat Ye-Na”Maze berlari


“Tidak! Jangan! Awas kau ya cabul!”Tristan mengejar Maze


“Ets mau kemana”Eindelyn menahannya


“Lepasin! Kau mau jadi bagian dari dosa ha!”Tristan meronta


“Apa sih! Urusan kita belum selesai”kata Eindelyn


Tristan menginjak kakinya dan terlepas


“Opp mau kemana,disini aja dulu”Zhai kembali menahan Trsitan


“Kau...Bukannya kita satu fraksi! Dia itu guru-mu!”ujar Tristan


“Perihal cinta itu bukan urusan kita kawan”kata Zhai

__ADS_1


Kembali ke rumah Yeena


“Buka..siapa pun...”Yeena terisak.dia teringat kenangan buruk saat ibunya menguncinya didalam kamar untuk menghukumnya,tapi mendadak lampu padam. Yeena benar-benar ketakutan dia merasa dinding mulai mendekat,dia berteriak memohon agar ibunya membukakan pintu tetapi tidak ada orang di rumah,mereka sedang sibuk dengar pekerjaan masing-amsing. Dia sendiran didalam rumah yang besar ditemani petir dan kilatan,bahkan suara tangis anak yang malang itu bisa terdengar ditengah gelegar petir. Kenangan buruk akan masa kecilnya mulai menghantuinya kembali


“Plis tolong..! Bukaaa....hah...tolong..hiks...”sesaknya bertambah parah,dia bahkan bernafas melalui mulut membuat kerongkongannya kering, air mata yang tiada mengering karena terus bercucuran,mata yang terus memejam didalam kegelapan,ingatan yang terus memperlihatkan ketakutan,setelah sekian tahun dia kembali menyedihkan,ingatan yang menyakitkan mulai menggerogoti keteguhannya yang ada hanya Yeena tanpa jalan keluar dan kekosongan


Kret


Pintu akhirnya terbuka, Yeena langsung memeluk orang yang membukakan pintu


“Yo...baru ketemu tadi sore udah kangen aja”ucap Maze menutupi keterkejutannya


“Kau...”Maze berniat melepaskan pelukan Yeena


Maze membiarkannya setelah melihat keadaan Yeena. Gadis itu menangis dipelukannya,dia menyadari untuk kesekian kalinya bahwa gadis yang sedingin es itu ternyata juga sama rapuhnya. Gadis itu menangis sesegukan sambil menggenggam bajunya seperti anak kecil. Tangan Maze seperti bergerak sendiri mengusap kepala gadis itu,mungkin itu berasal dari relung hatinya,setiap usapan dia lakukan dengan sepenuh hatinya dengan harapan agar gadis itu berangsur membaik dan benar saja gadis itu sudah tenang, mala tertidur nyaman dipangkuannya


“Kau sebenarnya berapa banyak ketakutan yang kau sembunyikan”ucapnya dengan tatapan perih,iba,khawatir dan berharap dia bahagia,disana ada rasa cinta yang masih samar


“Ha Maze...”kata Zhai terkejut melihat mereka


“Shuutt! Jangan berisik dia lagi tidur!”kata Maze berbisik


“Kau ngapain dia?!”tanya Tristan melotot

__ADS_1


“Dia kecapean em coba tebak”Maze memprovokasi


“Keparat! Kalau kau benearan”ancam Tristan


“Aku bercanda”kata Maze cepat


“Yeena kenapa?!”tanya Kesha khawatir


“Gak tau tuh. Tadi dia dikunci dari luar, pas aku buka eh tau-tau dia udah nangis”Maze bercerita


“Tapi dia tidur tuh”kata Nacia


“Biasalah ini namanya kenyamanan dari pria tampan”Maze bersikap arogan


“Basi. Pindahin Yeena kedalam dulu ntar masuk angin”ujar Nacia


Saat Maze akan menarik pangkuannya Yeena tiba-tiba memeluk pinggangnya,itu membuat mereka tercengang termasuk Maze sendiri


“Ahaha aku coba angkat aja kali ya”katanya canggung mendapat tatapan tajam dari Zhai dan Tristan


“Uhh”Yeena merasa terganggu saat Maze bergerak


“Kalian sebenarnya mau apa sih?!”katanya risih dengan mereka yang menatapnya sebagai pengganggu tidur Yeena

__ADS_1


__ADS_2