
Yeena berlatih sendirian saat malam hari agar lebih kuat,dia tidak bisa berlatih disiang hari karena harus melatih teman-tmannya. Setelah beberapa jam berlatih dia memutuskan kembali kerumah. Sesampainya dirumah tidak ada orang disana
“Eh mereka kemana malam-malam?”kata Yeena melihat kiri-kanan
“Ya udahlah paling sendiri”Yeena memutuskan untuk tidur
Diluar rumah Haru sedang mengintip
“Si gila didalam tuh. Emm,saatnya pembalasan! Pertama matiin listriknya dulu terus kunci”Haru mengunci Yeena dari luar
“Rasain tuh! Gara-gara kau Nanad marahkan,sok-sok ngatur lagi cewe iblis!”Haru meninggalkan rumah
Jeder
Suara petir yang menggelegar disertai kilatan,Yeena sontak terduduk. Rumahnya diguyur hujan yang lebat
“A,aku harus keluar!”Yeena berlari menuju pintu
“Kenapa gelap!?”paniknya
Sementara di rumah Maze
“Kalian ngapain sih disini!”kata Haru jengkel melihat Nacia dan Kesha yang membuatnya teringat pada Yeena
“Maaf banget, kami gak mau ganggu tapi anak satu ini maksa-maksa”ujar Kesha menunjuk Nacia
“Kau ngapain kesini”kata Maze lagi
“Menjalin pertemana...?”jawab Nacia melirik Austin yang duduk disampingnya
“Pertemanan apa pendekatan”sambung Zhai
“Pulang sana! Balik ke cewe bengis!”usir Maze mengingat kejadian tadi sore
“Astaga Cia! Ayo pulang kau mau dihukum push up 100 kali?!”kata Kesha teringat dan menarik Nacia
“Ih gapapa. Yeena cuma keras dimulut doang, dia lembut kok orangnya”Nacia melepaskan tarikan Kesha
“Yee gini aja kau bilang dia lembut”ketus Kesha
__ADS_1
“Lembut? Kalau cewe bengis bisa lembut ku pacarin langsung”kata Maze tak percaya
“Enak aja! Jangan mimpi deketin Dewi Nana-ku!”Tristan melompat dan menduduki pundak Maze
“Akh! Turun gak woy berat,berat! Kami udah lebih dari dekat juga!”Maze meronta agar Tristan turun dari pundaknya
“Bagus Tristan jangan biarin dia deketin guru-ku! Eh udah lupain aja mereka berdua, guru-ku mana? Eh maksudnya Yeena mana?”Zhai bertanya pada Kesha dan Nacia
“Yeena? Dirumah”kata mereka serempak
“Dirumah? Paling dia lagi santai-santai kek di pantai,dasar pengangguran”Maze menyambung
“Kau yang pengangguran,bodoh. Dewi Nana-ku ngajarin latihan!”Tristan memukul-mukul Maze
“Aku juga, loly *****!”balas Maze
Kembali ke rumah Yeena
“Buka! Buka pintunyaaaaa!”teriak Yeena, tangannya gemetaran memegangi kepalanya
“Tenang Yeena...bernafas...huff huf...huf..”nafasnya bertambah sesak
Di rumah Maze
“Kenapa Yeena gak ikut?”tanya Zhai
“Kami gak bilang kalau keluar,gara-gara si bucin ini taunya Austin,Austin aja!”Kesha mendengus
“Jangan gitu dong Key, sini Cia”Austin merangkul Nacia
“Ih jijik”ucap mereka seisi rumah
“Aduh banyak jomblo yang iri nih”sindir Austin
“Sialan! belum juga jadian”ketus Eindelyn
“Yee bentar lagi nih”kata Austin mengedip pada Nacia yang tersenyum malu
“Teman kalian yang satu lagi mana?”tanya Eindelyn tak menghiraukan Austin
__ADS_1
“Dia lagi pacaran”kata Kesha
“Dia udah punya pacar?”tanya Eindelyn lagi
“Udah,tuh si Haru”jawab Kesha
“Kenapa? Kau naksir ya utututu kasian”cibir Austin
“Ya enggaklah. Kalau naksir mending sama Yeena”kata Eindelyn
“Apa!? Kayaknya kita harus jadi sekutu sementara,Ze”Tristan menyambung mendengar nama Yeena
“Oke! 1 2 3”mereka menindih Eindelyn
“Arghh awas sana dasar homo!”teriak Eindelyn
“Ah udah lah aku mau pergi”Maze beranjak
“Kemana?”tanya Tristan
“Kemana lagi. Ya ketempat Ye-Na”Maze berlari
“Tidak! Jangan! Awas kau ya cabul!”Tristan mengejar Maze
“Ets mau kemana”Eindelyn menahannya
“Lepasin! Kau mau jadi bagian dari dosa ha!”Tristan meronta
“Apa sih! Urusan kita belum selesai”kata Eindelyn
Tristan menginjak kakinya dan terlepas
“Opp mau kemana,disini aja dulu”Zhai kembali menahan Trsitan
“Kau...Bukannya kita satu fraksi! Dia itu guru-mu!”ujar Tristan
“Perihal cinta itu bukan urusan kita kawan”kata Zhai
Kembali ke rumah Yeena
__ADS_1
“Buka..siapa pun...”Yeena terisak.dia teringat kenangan buruk saat ibunya menguncinya didalam kamar untuk menghukumnya,tapi mendadak lampu padam. Yeena benar-benar ketakutan dia merasa dinding mulai mendekat,dia berteriak memohon agar ibunya membukakan pintu tetapi tidak ada orang di rumah,mereka sedang sibuk dengar pekerjaan masing-amsing. Dia sendiran didalam rumah yang besar ditemani petir dan kilatan,bahkan suara tangis anak yang malang itu bisa terdengar ditengah gelegar petir. Kenangan buruk akan masa kecilnya mulai menghantuinya kembali