
Mungkin dimatanya aku adalah seorang pembawa sial yang menghancurkan rencana kehidupannya yang sangat sempurna. Aku tidaklah lebih dari seorang perempuan bodoh. Keterbatasan ekonomi membuatku tidak bisa lanjut kejenjang kuliah. Aku melanjutkan bisnis kecil ayah, sebuah bisnis fotografer.
Dua minggu yang lalu ada seorang pria paruh baya mengenakan pakaian militer. Ia memintaku untuk memotretnya, lalu yang membuatku terkejut adalah. Beliau melamarku untuk anaknya. Ayah sangat senang. Karena usiaku yang sudah 24 tahun, ayah membujukku untuk menerima lamaran tersebut. Dan hari ini adalah hari pernikahan ku. Aku belum pernah bertemu dengannya secara langsung kecuali lewat sebuah foto dan media sosial.
Aku tahu ini adalah sebuah perjodohan dan pasti akan banyak sekali resiko yang harus aku tanggung. Aku tak mau membuat ayah kecewa, beliau tersenyum begitu lebar hari ini. Kami bertemu untuk pertama kalinya. Dan hanya dalam satu tarikan napas semuanya lancar. Aku dan dia menjadi sepasang suami istri yang tidak saling mencintai dan menyayangi.
"Papa menikahkan aku denganmu karena luka dari masalaluku. Mungkin menurut papa, obatnya hanya satu, seorang perempuan. Yaitu kamu. Tapi aku rasa ga akan ada yang berubah, karena aku tetap hanya mencintai Alifa. Semoga semuanya ga membuat kamu keliru. Terimakasih untuk makan malamnya, aku akan menggunakan kamar yang diatas. Good Night." Arkan pergi menaiki tangga lalu mengunci kamarnya.
Aku tersenyum mengingat kata-kata Arkan. Aku tidak pernah berpikir bahwa pernikahan ini karena diinginkan olehnya, maka dari itu aku tidak pernah berpikir keliru. Terlebih ibunya Arkan begitu terlihat tidak menyukaiku. Saat pernikahan berlangsung ia hanya memeluk Arkan dan melewatiku begitu saja.
Suara senandungan burung-burung berkicau terdengar di balik kaca. Aku bisa mendengarkan mereka tengah bercicit. "Hey, selamat pagi." sapaku ketika Arkan turun dari tangga.
"Kamu mau berangkat tugas? memangnya ga di kasih cuti pernikahan ya?" tanyaku sembari memberikan segelas susu.
"Dikasih kok, cuma aku bisa bosen kalo diem dirumah." katanya mengambil kunci mobil lalu melenggang pergi.
Aku membuang napas perlahan, lalu meneguk segelas susu yang tadinya untuk Arkan. Dia tidak mengucapkan 'aku pergi dulu' atau meminumnya, dan bahkan dia tidak mau menggunakan masa cuti pernikahannya denganku.
"Sadarlah Geya, pernikahanmu ini tidak di dasari rasa cinta."
ooOoo
"Wah~ liat siapa ini yang datang, seorang pengantin baru, Letnan Arkan."
Gue tersenyum dengan lunglai menanggapi anak-anak.
"Ga ambil cuti lu?"
"Ngapain di ambil sih, gue kan udah sering cuti."
"Yaelah Ar, baru nikah itu harusnya mesra-mesraan sama istri, bukannya keluyuran ke sini." gue menatapinya dengan kesal.
__ADS_1
"Apa? gue salah?"
"Bisa ga, lo semua keluarin ni anak." Suruh gue, lalu semuanya mengangkat Didan keluar dari ruangan.
"Sorry ya, gue ga dateng ke pernikahan lo kemarin."
"Santai aja, lagian seharusnya ga perlu meriah juga kan. Buang-buang duit aja." Gue narik hp dari celana.
"Dr. Alifa dateng?" mendadak rasanya jantung gue diem beberapa saat waktu denger nama perempuan yang gue sayang.
"Gue ga kasih tau dia, gue cuma ngerasa Alifa ga perlu tau gue juga nikah setelah dia nikah sama mantannya."
"Udahlah bro, lo harus bisa lupain dia. Sekarang lo harus bisa terima kalo Alifa udah nikah sama orang lain begitupun juga lo. Dengan begitu lo bisa bahagia."
Gue terdiam gabisa menanggapi apa yang di katakan oleh Ipra. Gue gabisa lupain Alifa dengan mudah. 7 tahun gue pacaran sama dia, Alifa bilang sama gue kalo dia janji bakal nikah sama gue. Tapi akhirnya dia balik ke mantannya dan ninggalin gue gitu aja. Satu kata terakhir yang di ucapin ke gue 'Maaf.'. Semuanya begitu terasa membingungkan, gue bener-bener ga ngerti kenapa semuanya terjadi begitu menyakitkan.
Dan sekarang, papa minta gue buat buka hati untuk Geya. Perempuan yang bahkan gue gatau siapa dirinya, seperti apa sifatnya, bagaimana latar belakang keluarganya. Tiba-tiba papa nikahin gue sama dia. Gue akuin dia cantik, tapi ga menarik sama sekali buat gue. Dia keliatan seperti perempuan yang cengeng berbeda dengan Alifa, dia terlihat begitu kuat.
Tiba-tiba ada seseorang mengetuk dari luar.
Lelaki itu memberi hormat lalu mengatakan ada seseorang yang ingin bertemu.
"Maaf saya mengganggu waktu anda, saya kemari untuk menanyakan bagaimana jawaban anda mengenai syuting sebuah documentery film kehidupan militer angkatan darat. Apa saya sudah boleh mengetahui jawabannya?"
"Ah, saya lupa belum melihat isi proposalnya karena sibuk mempersiapkan pernikahan saya kemarin. Bagaimana jika saya baca terlebih dahulu hari ini, nanti akan saya kirimkan jawabannya lewat surel."
Lelaki paruh baya tersebut mengangguk mengerti, "Terimakasih untuk waktunya, ah~ dan selamat untuk pernikahan anda." Kami berjabatan tangan lalu mengakhiri pertemuan.
Gue baca isi proposal tersebut lalu mengajukannya pada atasan. Dan rupanya atasan setuju untuk pembuatan documentery film.
Geya nelpon gue, bertanya akan makan malam dengan apa. Tapi gue ga punya mood untuk makan malam sama dia sehingga gue bilang bakal pulang larut malam.
__ADS_1
Namun pas gue pulang, meja makan di penuhi oleh makanan dan sebuah catatan kecil. 'Setidaknya cicipi salah satu yang ku buat.'. Gue simpan kembali catatan tersebut lalu melihatnya tertidur di sofa dengan tv yang masih menyala.
"Tagihan listriknya bisa naik." gerutu gue mematikan televisi lalu masuk kedalam kamar.
ooOoo
Aku terpaku ketika melihat meja makan masih penuh dan rapih. Apa dia tidak pulang? Namun satu detik kemudian aku tersenyum ketika menyadari segelas susu yang aku siapkan habis.
Aku naik keatas lalu mengetuk pintunya, "Kamu masih tidur?" tanyaku namun tak ada jawaban sepertinya dia memang masih tidur. Tunggu, aku mencoba membuka pintunya dan tidak di kunci, namun kamarnya kosong.
Ku bereskan kamarnya yang berantakan. "Tidak bisakah dia berpamitan padaku? sebegitu bencinya padaku karena sekarang aku istrinya? jika dia tidak suka aku menjadi istrinya, dia kan bisa menganggap aku sebagai adiknya atau teman yang tinggal satu rumah. Ah~ menyebalkan sekali."
"Teman yang tinggal satu rumah?" sontak aku langsung berteriak karena kaget. Tiba-tiba saja dia datang dan berdiri di ambang pintu. Aku langsung diam seribu bahasa, membereskan ranjangnya dengan cepat lalu keluar dari kamarnya.
"Nanti malem bakal ada acara makan malam keluarga. Aku bakal jemput kamu jam 7 malem. Kamu punya pakaian bagus kan? Kalo ga punya, ini uang untuk beli baju. Aku tau kamu ngerti soal fashion jadi ga akan malu-maluin aku. Aku mau main tenis sama temen-temen, dah."
Aku menatapi punggungnya yang berjalan menjauh dari ku. Apa sifatnya memang seperti itu? terlihat sekali jika dia tidak ingin mendengarkan pendapatku. Berkata panjang lebar tanpa berhenti sampai akhir setelah itu mengakhiri percakapan dan pergi.
Aku mencari pakaian terbaikku di lemari, uang yang diberikan oleh Arkan aku simpan di laci kamarnya. Tapi mendadak aku teringat foto yang terpajang dimeja kerjanya. Sebuah foto dirinya bersama seorang perempuan yang aku duga adalah Alifa yang di sebut oleh Arkan kemarin. Wanita itu cantik sekali, pantas saja Arkan tidak bisa melupakannya.
Aku mendapatkan pakaian yang cukup oke untuk pertemuan makan malam pertamaku dengan keluarganya Arkan. Semoga saja Arkan tidak malu membawaku. Kupakai dress berwarna purple dengan corak bunga-bunga kecil. Imut sekali. Ku rias sedikit wajahku lalu sedikit mengembangkan rambut.
Suara klakson sudah terdengar, sepertinya Arkan sudah sampai. Aku menarik napas dalam-dalam karena mendadak saja aku menjadi gugup. Saat ku buka pintu rumah, yang terparkir bukan lah mobil Arkan tetapi taxi. Ku tanyakan bagaimana supirnya tahu ini rumahku, ternyata Arkanlah yang mengirim taxi ini untukku. Aku sedikit kecewa, karena Arkan bilang dia yang akan menjemput.
Aku turun dari mobil dan Arkan dengan seorang perempuan sedang menungguku. Perempuan itu sempat berbisik pada Arkan tapi sayang aku tidak bisa mendengar dia mengatakan apa.
Perempuan itu tersenyum padaku lalu memelukku. "Wah akhirnya kita ketemu lagi, kangen banget." katanya mempererat pelukannya. Aku tersenyum saja walau mungkin dia tidak akan melihatnya.
"Ayo masuk." kata Arkan.
Jantungku berdetak kencang sekali dan rasanya kakiku seperti jelly. Aku memberi salam pada semuanya, dan aku terkejut saat seseorang memelukku lalu memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
"Aku Alifa."