
Di temani dengan guyuran hujan, nyaring sekali suaranya di dalam mobil. Ku pandangi toko-toko yang terlintas di balik embun kaca, beberapa airnya mengalis menyapu embun seperti air mata yang turun ke pipi.
Pikiranku kosong sekali malam ini, sampai-sampai aku tidak sadar bahwa taxi sudah berhenti dan pak supir menegurku.
Aku masuk kedalam rumah bersamaan dengan kak Arya dan ayah yang sudah berdiri di ambang pintu. Sebelum benar-benar pulang kerumah, kak Arya mengajakku untuk berbicara.
"Papa menyuruh kakak untuk menemui kamu, papa tidak bisa kemari karena harus menjaga ibu yang masih belum pulih dengan total." katanya berhenti sejenak.
Lalu menghela napas cukup dalam, "Tolong, tetap berada disisinya Arkan. Saat ini dia benar-benar butuh dukungan dari kamu." Kak Arya menatapku dengan tatapan yang memohon.
Aku tersenyum, "Aku akan menemani Arkan sampai persidangannya berakhir. Setelah itu mungkin kakak lah yang akan menemaninya, aku akan berpisah dengan Arkan. Dan Arkan menyetujuinya." jelas sekali terlihat raut wajah kak Arya berubah seperti habis di tampar. Dia kaget luar biasa mendengar penjelasanku.
Kak Arya memohon padaku untuk tidak berpisah dengan Arkan karena masalah dari masalalu. Namun, aku benar-benar tidak bisa menerima lagi Arkan. Cukup sampai sini saja aku mendapatkan rasa sakit yang begitu dalam ini. Aku tak bisa lagi menggenggam tangkai mawar yang begitu perih dan pilu.
Esoknya aku mengurus semua data yang di perlukan. Dan, tiba-tiba saja aku mendapatkan panggilan dari seseorang yang mengatakan bahwa aku akan segera melakukan pemotretan pertama menjadi seorang model. Aku membuang napas lalu melempar ponsel ke ranjang.
Mendadak aku terdiam ditempat lalu kembali meraih ponsel dan menelfon pengacaranya Arkan.
Lelaki itu tersenyum padaku lalu memperkenalkan diri, "Saya Fabio pengacara suami anda, apa ada yang bisa saya bantu ma'am?" katanya dengan tutur yang begitu halus dan sopan.
"Apakah anda sudah tahu mengenai siapa yang melaporkan Arkan?"
"Ya~ sodara Julian, dia yang melaporkan klien saya Arkan." Aku terdiam, ternyata Julian lah di balik semua ini.
"Apa anda sudah mendapatkan sesuatu yang akan membuat masa penjara Arkan ringan? Aku tidak mau jika Arkan kesulitan selama masa hukumannya." pria tersebut menatapku lalu tersenyum, "Ma'am bisa mempercayai saya." dan akhirnya aku bisa bernapas sedikit lega.
.
__ADS_1
.
Aku menemani Arkan dipersidangan bersama dengan ayah, dan anggota keluarga lainnya, tak luput Alifa pun ikut hadir.
Ku pikir hanya masalah penembakkan saja. Ternyata Arkan juga kena hukuman karena sudah menyuap beberapa prajurit yang mengetahui kasus ibu dan Julian.
Dan semua ini terungkap karena Julian berhasil membuat para prajurit tersebut membuka mulut untuk mengatakan semuanya pada Hakim. Dua tahun dia mengumpulkan semua informasi mengenai Arkan agar bisa balas dendam karena sudah memotong lengannya. Dan sekarang Arkan di penjara untuk beberapa tahun kedepan. Dia tidak keberatan dengan apapun yang ada di persidangan. Arkan menerima semuanya dengan besar hati karena dia sadar, dia memang harus mendapatkan hukuman.
Persidangan pun berakhir. Ibu memeluk Arkan sembari menangis tersedu-sedu. Semuanya menguatkan Arkan dan aku tersentuh, sempat bepikir untuk tidak jadi bercerai dengan Arkan. Namun, tiba-tiba saja Alifa memeluk Arkan dan itu membuat ku kembali mantap untuk berpisah dengannya ditambah lagi perut Alifa yang semakin hari semakin terlihat maju kedepan.
Arkan langsung melepas pelukan Alifa, lalu berjalan mendekati ku dan Ayah. Arkan menundukkan kepalanya sembari mengatakan kata maaf, dia kembali berlutut di hadapanku dan ayah. Arkan menangis sampai nyaris akan berteriak. Ayah meminta Arkan untuk berdiri namun dia bersikeras tetap berlutut.
"Maaf, maafkan aku. Aku tidak pantas berdiri dihadapan ayah dan Geya. Maaf kan aku sudah membuat ayah dan Geya kesulitan karena harus kehilangan orang yang begitu di sayangi. Kalian berhak untuk membenciku."
Tangisku pecah, aku tak kuasa mendengar ucapan Arkan. Aku melangkah mendekat padanya, lalu berjongkok di hadapannya. Dan ku rengkuh tubuhnya yang sudah putus asa itu. Ku tepuk-tepuk punggungnya, ku elus rambutnya yang halus itu. "Aku mencintaimu, Geya." gumamnya sembari tersedu-sedu.
"Kumohon, jika terus seperti ini aku tidak bisa melepasmu." kataku di balik kupingnya.
Aku menggeleng, aku benar-benar tidak bisa bersama denganmu lagi. Aku tak bisa berada disisimu. Ku lepas dekapan ku lalu meminta Arkan untuk mendongakkan kepalanya.
"Aku perlu bahagia."
"Apa selama ini kamu ga bahagia sama aku?" tanyanya dengan air mata yang tidak berhenti keluar.
"Aku tidak pernah bahagia menikah denganmu."
Arkan tersenyum mendengar jawaban dariku, dia mengangguk lalu, "kalo begitu, kamu akan bahagia setelah kita berpisah kan?" aku mencoba mengangguk dengan mantap agar Arkan tahu bahwa aku sungguh-sungguh untuk berpisah dengannya.
__ADS_1
"Okey~ aku tahu, aku mengerti, kamu ga perlu berbohong lagi. Aku akan melepas kamu."
Arkan menatapku seolah dia tahu alasan sebenarnya aku ingin berpisah dengannya. Dia mengusap seluruh air mataku lalu melempar senyuman padaku. Senyuman yang tidak akan pernah aku lupakan, senyuman yang begitu tulus disaat keadaan sedang sangat buruk.
"Aku akan selalu mencintaimu, Geya."
End.
Epilog
Ku pandangi hamparan pasir yang diterpa oleh ombak, angin cukup kencang membuat rambutku terombang-ambing kesana kemari. Cuaca hari ini cerah sekali membuatku kesulitan untuk menatap ke langit. Tiba-tiba saja seseorang menghampiriku.
"Junior terlihat begitu senang disini." katanya dan aku setuju.
Aku tersenyum ketika melihatnya berlarian bermain bersama ombak. Rambutnya yang hitam mengkilap mengingatkanku pada sosok di masalalu. Apa dia sudah memulai kehidupan barunya?.
"Apa kamu mengharapkannya untuk kembali?"
"Tidak, Junior sudah cukup untukku sekarang. Dia adalah obat paling manjur yang diberikan Tuhan untukku." jelasku tersenyum kecil.
Mendadak tangan lelaki tersebut berada di atas kepalaku, sontak aku langsung menoleh padanya. "Kamu adalah wanita paling kuat yang pernah aku temui." gumamnya sembari menyunggingkan giginya.
Aku selalu berharap bahwa ia selalu bahagia setiap harinya walau tidak bersama denganku.
"Mami, disana ada om ganteng yang kasih aku batu karang." Aku langsung menoleh kearah yang ditunjukkan oleh Junior.
Dan dia adalah ......
__ADS_1
Ekstra :