TIDAK DIINGINKAN

TIDAK DIINGINKAN
Chapter 6


__ADS_3

'Pengawal Model Cantik Geya Lioran Terlihat Terlalu Keras Kepada Seorang Fans.'


Paman menampar Arkan ketika mengetahui berita ini sudah tersebar di media sosial. Ini menjadi sedikit kerugian karena baik Arkan yang melakukannya tetap saja namaku yang tercap jelek.


Berita ini sudah sampai pada Julian. Dia menegurku karena sudah memperkerjakan Arkan sebagai pengawalku, padahal manajer lah yang menerima Arkan bekerja.


Arkan meminta maaf padaku karena aku double mendapatkan marahan. Dan untuk menutup gosip yang sedang menyebar ini, Julian meminta aku untuk melakukan syuting sedang berlatih bela diri boxing bersama dengan Arkan.


Awalnya Julian juga ingin memecat Arkan karena masih memiliki dendam yang mendalam, namun aku memohon untuk melupakan semuanya. Toh, Julian sudah balas dendam, kan.


Sebelum keberangkatan menuju villa.


Arkan memintaku untuk menggunakan Hand wrap karena aku tidak tahu cara memasangnya seperti apa. Alhasil Arkan memasangkannya untukku.


Aku meninju dan menendang Punch Mitt yang di pegang kendali oleh Arkan. Arkan yang mengetahui kemampuan kakiku cepat mengajarkanku gaya bertarung Swarmer, gaya dekat. Namun, karena ini syuting yang tidak di cut ketika sekalipun aku terpojok, alhasil aku sampai pada sudut ring dan aku berteriak menyerah.


Karena siaran syuting ini, semua orang lupa dengan berita mengenai Arkan yang sudah kasar menepis tangan Fans lelaki saat di pantai. Berganti pandangan, mereka semua berkomentar mengenai aku dan Arkan yang berinteraksi begitu manis. Beberapa dari mereka sudah mulai menyuarakan pasangan Geya dan Arkan.


Aku benar-benar tepuk jidat mengenai ini semua. "Dasar netizen." gumamku menutup bagasi, aku sudah memberitahu Arkan mengenai aku yang akan pemotretan dengan Alifa. Dan, Arkan tidak terkejut sama sekali.


"Apa, kamu menikah dengannya?" tanyaku ingin tahu. Arkan memandangiku, "Apa selama ini kamu berpikir aku akan menikahi Alifa?" dia bertanya balik padaku.


"Bukankah seharusnya seperti itu? Dia mengandung anakmu kan." kataku dengan kesal, aku hendak membuka pintu mobil namun dengan cepat di cegah oleh Arkan.


"Aku hanya berhubungan badan dengamu, dan sudah pasti aku hanya menghamili dirimu seorang." jawaban Arkan membuatku tercengang. Aku syok bahkan tidak bisa berkata apa-apa sekarang.

__ADS_1


"Aku melepasmu bukan karena aku akan menikah dengan Alifa, tapi karena kamu bilang tidak pernah bahagia bersamaku." rasanya jantungku copot seketika, aku tidak bisa merasakan detak jantungku sendiri.


"Aku tahu, saat itu keadaan benar-benar sedang begitu buruk sehingga banyak orang yang memanfaatkan waktu untuk menghancurkan pernikahan kita. Salah satunya adalah Alifa, dia mengaku padamu bahwa dia sedang mengandung anakku. Kenyataannya tidak seperti itu, aku tidak akan berhubungan badan dengan wanita yang aku cintai sebelum ku pinang dia menjadi isteriku. Dan, kamu terhasut olehnya." Aku memandang Arkan dengan mata yang perih.


"Alifa itu mengandung anak Julian, dan mereka adalah otak dari semua masalalu kita." air mataku jatuh ketika Arkan mengatakan itu.


Selama ini aku sudah begitu bodoh, aku idiot karena percaya pada perkataan Alifa. Seharusnya dulu aku bisa sedikit mewaraskan pikiran. Arkan memeluk tubuhku lalu mengusap-usap rambutku dan berbisik "sudahlah, semuanya sudah berlalu~ kamu tidak perlu menangis." gumamnya mencoba menenangkan aku.


"Maafkan aku." hanya kata itu yang bisa aku ucapkan sekarang ini.


.


.


Aku langsung mengalihkan pandangan ketika Alifa menyadari bahwa aku sedang menatapinya. Dia menghampiriku lalu menyodorkan sekaleng minuman hangat.


"Aku tidak menyimpan racun didalam minuman ini kok." katanya lalu kami pun tertawa kecil.


Alifa meminta maaf padaku karena sudah merusak pernikahanku dengan Arkan. Dia juga menyesal karena sudah menerror Arkan mengenai pembunuhan ibuku bersama dengan Julian. Dan aku terkejut karena aku sendiri baru tahu bahwa Alifa dan Julian bekerjasama menerror Arkan.


Saat itu Alifa sedikit mencintai Arkan, namun harus menikah dengan Kay karena rencana dari Julian. Selama itu Alifa memang sudah berkelompok dengan Julian, untuk menghancurkan kehidupan Arkan dan bisnis keluarganya. Namun, gagal karena kepintaran Arkan.


Aku tersenyum saja mendengar cerita Alifa, aku tidak tahu harus percaya atau tidak padanya sekarang ini. Yang pasti, aku merasakan kedekatan bersahabat bersamanya. Dia juga berharap aku bisa kembali bersama dengan Arkan.


Saat aku mengemasi pakaian, aku merasa ada seseorang yang sedang memperhatikan. Aku mendekat ke jendela namun tidak ada siapapun disana, dan juga keadaan sudah gelap gulita. Seharusnya aku pulang besok namun aku mendapat pesan dari ayah bahwa katanya Junior terkena demam berdarah. Aku memaksa pada manajer untuk pulang malam ini juga namun manajer melarangku karena katanya jalanannya terlalu berbahaya ditambah lagi sulit pencahayaan. Aku yang panik dan tidak bisa menahan diri untuk pulang besok, membangunkan Arkan. Dan, Arkan satu pemikiran denganku, sekali lagi aku dan Arkan meminta izin untuk pulang namun tidak diizinkan. Julian yang mendengar anakku terkena demam berdarah mengizinkan aku untuk pulang malam ini, dia juga meminjamkan mobil jeepnya padaku.

__ADS_1


Arkan melajukan mobilnya dengan sangat hati-hati, aku dapat mendengar suara-suara hewan diluar sana. Sesekali juga melihat kelelawar melintasi mobil. Aku mencoba menelfon ayah untuk menanyakan keadaan Junior, namun disini tidaklah ada sinyal.


Tiba-tiba saja ponselku terlempar kesembarang arah ketika mobilnya seperti melindas benda tajam yang membuat ban pecah, mobil yang aku tumpangi ini tidak dapat dikendalikan dengan benar. Tubuhku terombang-ambing ketika mobilnya jatuh menggelinding ke sebuah jurang. Aku berteriak memanggil nama Arkan, sampai pada akhirnya kaca-kaca yang terdapat mobil pecah, aku mendengar benturan yang sangat keras bersamaan dengan kepalaku yang membentur benda keras.


Suara-suara kicauan burung membuatku membuka mata, aku dapat melihat dengan samar pohon-pohon yang menjuntai tinggi lalu "Geya~~~ Geyaa." mataku bisa melihat dengan jelas wajah Arkan yang berada di atasku, wajahnya kotor dipenuhi darah dan tanah.


Aku beringsut menyentuh kepala yang pusing, dan aku baru menyadari bahwa tangan berputar kebelakang, Arkan sudah tahu dan dia bilang dia akan mengatasi tanganku itu. Jelas sekali aku tidak mau. Namun, Arkan meyakinkan aku bahwa ini akan berhasil. Dan sebelum aku menyetujuinya, Arkan memutar tanganku secara paksa sampai menimbulkan suara drek. Aku berteriak sampai menggema di hutan ini. Aku menangis merasakan sakit, Arkan melepas pakainnya lalu membuat gendongan kecil untuk tangan kiriku.


Mobil jeep milik Julian mendarat tidak baik, beberapa bagiannya penyok. Aku mencari-cari ponsel dan aku menemukannya namun sudah retak parah bahkan tidak bisa disentuh walaupun menyala. Arkan dengan sekuat tenaga mencoba mencabut benda tajam yang ada di salah satu ban.


Arkan mengajakku untuk mendaki keatas karena satu-satunya jalan ada diatas. Saat ditengah-tengah tanjakan, aku haus sekali namun tidak ada air sama sekali disini. Terpaksa aku mengumpulkan ludah lalu menelannya. "Ini aneh sekali, sekarang sudah jam 11 siang seharusnya mobil dari villa sudah melintas bahkan dari tadi."


"Apa ini bertanda buruk?" tanyaku ngos-ngosan.


"Aku tidak tahu, satu-satunya pencerahan adalah kita harus tetap menaik keatas."


Aku yang sudah tidak tahan mendekati nyaris kembali jatuh kedasar jurang, namun untung saja Arkan dengan cekatan memegangi tanganku. Sampai pada ketika kami sampai dijalanan, jalanannya berubah sekali dengan jalanan saat pertama datang. Ini benar-benar tidak beres.


"Aku rasa ada seseorang yang mengubah tanda arah jalannya."


TBC....


Double update...


bagaimana menurut kalian? kira-kira siapa yang berulah? .....

__ADS_1


__ADS_2