
Semua sorotan kamera tertuju padaku, kilatan demi kilatan terus menusuk mata. Aku di bimbing oleh Arkan juga paman yang bekerja sebagai managerku.
Ini adalah kali pertama aku menjawab pertanyaan para wartawan, itu pun satu dua kata saja yang boleh aku sebutkan.
"Apakah anda baik-baik saja?"
"Bagaimana mengenai pernikahan anda?"
"Apakah penculiknya sudah tertangkap?"
Aku tersenyum lalu menelan ludah. "Mohon doa yang terbaik untukku."
Pertanyaan yang di lontarkan oleh wartawan hanya berputar pada itu-itu saja.
"Kenapa perusahaan begitu lalai mengamankan model-modelnya?"
"Penculiknya sudah tertangkap dan kami akan memperketat keamanan setiap para model." jawab paman merangkulku lalu mengajakku untuk melangkah masuk kedalam mobil.
Mereka benar-benar berdesakkan sekali, "Anda terlihat baik-baik saja dibandingkan yang saya pikirkan."
Sontak aku langsung menoleh kepada orang yang mengatakan kalimat itu. Ku pandangi dia dengan tatapan yang tajam, bagaimana bisa dia mengatakan kalimat seperti itu. Sok tahu sekali mengenai keadaanku.
"Apa anda peramal?" tanyaku membuat keadaan sedikit hening. Perempuan itu gelagapan ketika ku pandangi marah.
"Bekerjalah dengan benar, jangan menyimpulkan hanya dengan sekali lihat. Berhenti membuat judul menipu, itu merugikan saya. Anda tidak tahukan seberapa tidak baik-baiknya saya hanya karena laporan berlebihan yang kalian berikan untuk di sebarkan." ku tatap lekat dan ia semakin salah tingkah. Semua orang semakin tertarik untuk membuat laporan diriku.
Aku tersenyum semakin lebar. Baru saja akan melanjutkan kalimatku, paman sudah menarikku kedalam mobil.
"Aku sudah muak bekerja seperti ini terus." aku menggerutu di sepanjang jalan. Moodku benar-benar buruk sekali. Aku sudah meminta cuti pada Julian, dan dia hanya memberiku waktu lima hari saja untuk tidak bekerja.
Saat sampai dirumah, aku melihat Junior tengah bermain balok-balok sendirian. Ku hampiri lalu ku peluk tubuh mungilnya, Junior marah karena katanya aku mengganggunya sedang bermain.
"Apa sudah makan?" tanyaku mengacak-acak rambutnya.
"Bel~lum." jawabnya imut.
"Mau papi belikan makanan diluar?"
"Juniol mau main dulu." protes.
Aku tersenyum pada Arkan.
"Hah~ baiklah. Ayo kita selesaikan balok-baloknya setelah itu kita jalan-jalan keluar, okey?"
"He'em." Arkan berhasil membujuknya.
Kami merangkai susunan balok-baloknya bersama. Aku tak handal bermain yang seperti ini karena perlu konsentrasi yang tinggi untuk menyusun dengan baik. Junior beberapa kali memarahi papinya, sebab Arkan salah menyusun.
Ku pandangi keduanya dengan seksama, pemandangan yang sangat indah. Aku melihat pada Arkan, semakin dekatnya Arkan dan Junior membuatku semakin ingin kembali padanya. Ipra? aku masih memikirkan bagaimana sebenarnya perasaanku pada Ipra. Apa yang kurasakan ini hanya sesaat atau mungkin sungguh-sungguh juga padanya.
Arkan menyadarkan aku dari lamunan, dia memberitahu aku bahwa ponselku terus-terusan bergetar. Ku rogoh tas dan mendapati Dinar mengirimi aku pesan, dia mengundang aku untuk makan malam dalam rangka ulang tahun. Dan dia bilang dia ingin mengobrol berdua denganku. Aku menyiyakan dan kami akan bertemu nanti malam.
Hari ini baru saja jam tiga sore, aku pergi ketaman meninggalkan Junior dan Arkan. Ku telfon Ipra dan dia mengangkatnya.
"Kamu lagi tugas?" tanyaku sembari mondar-mandir di rumput.
__ADS_1
"Ya, ada apa Geya?"
"Anu~ aku cuma mau bertanya. Apa kamu kecewa padaku?"
"Kecewa? kecewa mengenai apa?"
"Pernikahan...."
"Itu kan sebuah kecelakaan, aku tidak kecewa sama sekali. Kita bisa merencakannya lagi dari awal kan."
Aku menggigit bibir mendengar ucapannya.
"Kamu masih mau melanjutkan pernikahannya kan Geya?"
Aku tak bisa menjawab, berdalih pada Junior memanggilku sehingga panggilan kami harus terputus begitu saja.
Ku pandangi lahan-lahan yang masih kosong. Aku merasa kebingungan sekali. Aku tak bisa memilih. Tiba-tiba saja Arkan berada di belakangku dengan tangan yang melingkar di perutku. "Lagi ada yang dipikirin ya?".
Aku menggeleng lalu melepas tangan Arkan. "Apa mainnya udah selesai?"
Wajah Arkan berubah cemberut. "Junior marahin aku terus, dan dia ngusir aku karena katanya aku ga membantu. Kok bisa sih dia bicara kaya gitu." aku terkekeh.
"Junior blak-blakkan itu persis siapa coba? persis kamu kan, papinya."
Mendadak dadaku bertubrukan dengan dadanya Arkan. Dia menelisik wajahku sembari menyelipkan rambut ke belakang telingaku. "Coba kamu panggil aku papi juga." katanya membuatku salah tingkah.
"Apasi~ kaya anak-anak aja."
"Ayo dong mami Geya~."
Aku tertawa ketika Arkan memanggilku seperti itu. "Geli tau~" seruku meledeknya.
Aku menggeleng, "Gak boleh."
Arkan menarik napas lalu mengecup keningku. "Bibirnya nanti aja." ucapnya sembari tersenyum.
"Yuk jalan-jalan."
"Aku ga bisa, aku ada janji sama Dinar. Maaf." aku menyesal karena tak bisa ikut bermain dengan mereka.
Alhasil hanya Arkan dan Junior saja yang pergi bermain.
Aku bersiap-siap pergi dan alangkah terkejutnya aku ketika ada Ergy didalam mobil. Dia bilang dia diberi tugas oleh Arkan untuk menjagaku.
"Arkan benar-benar ya~" gumamku.
Ergy berdiri di pinggirku ketika aku dan Dinar sedang makan. Orang-orang menatapiku entah takjub entah kesal, yang pasti Dinar sendiri kaget ketika tahu aku di kawal seperti ini.
Sampai pada inti cerita, Dinar memintaku untuk memindahkan Ergy ketempat yang cukup jauh karena dia ingin bercerita. Aku menyuruh Ergy untuk menunggu di depan pintu restoran dan dia pun menurut.
"Apa Vino berbuat kekerasan lagi?" tanyaku seketika.
Dinar tersenyum, "Tidak, mungkin lebih parah."
Aku mengernyit tidak mengerti.
__ADS_1
"Aku benar-benar bingung, bagaimana bisa dia menyembunyikan ini semua dariku. Geya, aku ini seorang istri simpanan Vino." ada air mengalir di pipinya Dinar.
Aku syok ketika mendengarnya, aku sendiri saja tidak percaya apalagi Dinar.
"Aku tidak tahu mengapa semulus ini dia menyembunyikannya."
"Kamu tahu dari mana kalo kamu ini istri kedua?"
"Wanita itu mengantar anaknya kerumahku lalu mengatakan bahwa dia istri pertamanya Vino. Awalnya aku tidak percaya, sampai akhirnya Vino memberitahu aku bahwa aku ini perempuan pelampiasan semasa dia bertengkar dengan istrinya. Aku marah sekali padanya namun lagi-lagi Vino memukulku ketika aku berteriak padanya." Dinar menangis cukup keras membuat orang-orang menoleh menatapi kursi makan kami.
Aku menggeser kursi agar duduk lebih dekat dengannya. Ku peluk tubuh Dinar agar ia sedikit tenang dan lepas. "Aku bertanya padanya perempuan mana yang lebih disayangi, dan Vino mengatakan dia sayang juga cinta pada kedua istrinya. Namun, aku merasa ini tidak adil sama sekali. Aku sudah dibohongi olehnya, Geya." Dinar berkata sembari sesegukkan.
Mendadak rasanya aku ditampar oleh penjelasan Dinar, apa aku juga sudah tidak adil pada Ipra atau mungkin pada Arkan?.
Ku temani Dinar sampai ia merasa lebih baik. Dia adalah perempuan paling kuat yang pernah aku kenal, Dinar mengurus anak dari istri pertama suaminya seperti anak sendiri. Kuncinya adalah sebuah ke ikhlassan. Dinar menerima semuanya dan posisinya saat ini. Dia masih mencintai Vino seperti saat pertama bertemu, walau aku rasa Vino terlalu toxic untuk seorang Dinar yang berperawakan perempuam tomboy berhati baik.
Saat aku sampai dirumah aku mendapati rumah yang berantakan. Bantal-bantal sofa berserakan dilantai, camilan-camilan yang menjadi remahan membuat alas kakiku tak nyaman. Ku buka pintu kamar Junior tidak ada siapapun. Tiba-tiba saja aku dapat mendengar sebuah percikan air dari kamar mandi. Jantungku berdetak kencang karena takut si penerror kembali menggangguku. Ku raih sapu lalu kutempelkan telinga di pintu, aku dapat mendengar suara percakapan namun tidak jelas.
Ku tarik napas lalu ku buka pintu dan mendapati Junior dan Arkan tengah berendam disebuah jolang. Aku terkejut melihat Arkan telanjang, begitupun dengan dia sementara Junior dia mengajakku untuk bergabung.
"Iya~ ayo kita mandi bertiga." Arkan ikut-ikutan.
"Kamu gila?!" kututup pintu lalu membersihkan lantai bawah ditemani dengan dumelan-dumelan yang keluar dari mulutku.
Aku memarahi Arkan dan Junior.
"Mami sudah bilang untuk kan Junior, kalau selesai bermain itu di bereskan lagi. Dan juga kenapa makanannya bisa berserakan seperti ini?!"
Junior mengkerutkan keningnya balik melotot padaku. "Ini bukan salah Juniol! Papi muda yang belantakin makanannya mami~!" Junior tak mau disalahkan sementara Arkan dia cecengesan.
"Kamu juga sama aja! anak sama bapak sama -sama nakal!." kataku kesal.
Setelah rumah bersih aku pergi kekamar Junior, dia tengah duduk di ranjang. Menungguku.
"Kenapa belum tidur?" tanyaku sembari ikut duduk di ranjang. Tiba-tiba saja Junior memelukku dan bergumam, "Maafin Juniol mami, Juniol udah nakal hali ini. Juniol, papi muda senang main sama-sama." aku tersenyum dan memahami apa yang di katakan oleh anakku ini.
"Junior senang main sama papi?"
"Iya mami, papi muda bilang papi akan kasih Juniol adik. Juniol mau adik mami." lengkap sudah kekesalanku pada Arkan hari ini.
"Junior kan masih kecil, nanti mami kasih adik kalo Junior udah besar ya."
"Ga mau! Junior mau adik sekarang mami!"
"Yaudah nanti mami buat dulu ya, mami harus beli dulu bahan-bahannya. Besok kita bikin bareng-bareng, okey?"
"Okey mami! adiknya harus cantik ya!" aku tertawa ketika Junior begitu bersemangat.
Ketika Junior tertidur aku pergi menemui Arkan.
"Kamu kok bilang ke Junior mau kasih adik sih!"
"Emangnya salah? engga kan. Yuk buat yuk, Junior itu kan percobaan yang sempurna. Nah kali ini kita ga perlu coba-coba lagi. Pasti hasilnya makin sempurna." Arkan tersenyum genit padaku dan pada saat itu juga aku memukul wajahnya menggunakan bantal.
"Dasar mesum!."
__ADS_1
Tbc....