TIDAK DIINGINKAN

TIDAK DIINGINKAN
XII


__ADS_3

Aku terbangun, berdiri tepat didekat sebuah pohon besar. Banyak sekali orang-orang yang memakai pakaian serba hitam, sampai aku menyadari bahwa diriku juga memakai gaun hitam. Disana ada beberapa orang yang menangis sembari berlutut. "Geya, yang sabar ya." ucap seseorang menepuk pundakku. Aku tidak mengerti, mengapa aku bisa disini?. Dan pemakaman siapa itu disana?.


"Kasian sekali ya keluarganya, katanya kepalanya terpenggal sampai menggelinding ke lautan." beberapa orang berkata begitu terus sedari tadi. Aku melangkahkan kakiku untuk mendekati kerumunan.


"Geya~" Dinar memanggilku lalu memelukku. "Kamu yang kuat ya, jangan nangis terus." nangis?, aku menyentuh wajahku dan benar aku tengah menangis. Tapi mengapa aku tak merasakan apapun.


"Dinar, sebenarnya apa yang terjadi?" tanyaku membuat Dinar kebingungan.


"Geya~ kamu ga inget? ya Tuhan, kamu pasti terpuruk banget sampe ga inget apa yang terjadi sama Arkan." Perempuan tembam itu memelukku lagi namun kali ini sembari menangis.


"Arkan? Arkan kenapa? bukannya dia lagi pergi tugas, kemarin baru berangkat."


"Astaga Geya, seterpuruk ini kamu. Arkan itu udah pulang Geya, sekarang dia disini." Aku mengkerutkan kening semakin tidak mengerti, jelas sekali kemarin aku mengantarnya ke pelabuhan tapi Dinar bilang Arkan sudah pulang.


Aku menoleh kesekeliling yang masih berkerumun. Tiba-tiba saja ibu berlari kearahku lalu menarikku dan menghempaskanku tanah. "KARENA KAMU ARKAN MATI!" Teriaknya penuh kebencian.


Aku membuka mata dengan sekujur tubuh yang basah. Gelap, tempat ini gelap. Ternyata aku sedang bermimpi tadi. Arkan, tidak apa-apa kan. Mengapa aku memimpikan kematiannya?.


"Bangun juga lo." lelaki itu mencengkram rahangnku. Mata kami bertemu, aku tidak bergerak karena kaki dan tanganku diikat ke kursi. Sementara mulutku masih di pasang lakban.


Seseorang melangkah mendekat kearahku. Rahangnya begitu tegas, warna matanya abu-abu. Dia memakai parfume yang menyengat hidungku membuatku bersin. Pria itu berjongkok di hadapanku. "Arkan pintar memilih perempuan cantik. Sayang sekali kau menikah dengannya bukan denganku." bicara apasih pria ini. Mengapa meracau yang tidak penting. Sebenarnya mengapa mereka menculikku.


"Kamu tahu, apa yang membuat kamu bisa berada disini, ibu mertuamu membuat keributan denganku, tentunya~ anak yang paling di sayanginya lah yang akan turun tangan." pria itu membuka jas hitamnya, aku terkejut ketika mengetahui tangan kanannya hanya tinggal separo saja.


"Dia memotong tanganku 3 tahun yang lalu." aku melotot tidak percaya, sekejam itu Arkan?. Tapi bagaimanapun, aku tidak bisa berpikir Arkan sebegitu jahatnya sekarang. Aku belum tahu apa masalahnya sehingga Arkan harus memotong tangan pria tersebut.


"Kamu tampak terkejut sekali. Mengapa? tidak percaya bahwa suamimu itu melakukan ini?. Rupanya kamu belum mengenal siapa Arkan, ya~."


Selama aku menikah dengannya sikap Arkan tak sejahat itu, walau jahat mengenai perasaan. Aku tidak pernah mendapatkan perlakuan kekerasan darinya, sementara yang ku tahu kata orang para prajurit itu keras hidupnya, bahkan ada istri yang sampai di aniaya. Tapi jika dipikir-pikir lagi aku tidak tahu masalalu Arkan sebelum denganku kecuali masalalu mengenai percintaannya.


"Arkan memotong tanganku, karena aku menyentuh Alifa. Kekasihnya saat itu. Kau tahu, betapa menyenangkannya menyentuh wanita dokter itu. Suaranya yang merdu, bisikannya. Bahkan saat ia mengerang memanggil namaku. Ah~ aku menjadi nostalgia. Setelah itu Arkan mengetahuinya, tentunya dia tidak marah pada Alifa tetapi mencariku lalu menembak beberapa bodyguardku. Kami berkelahi, dan ternyata Arkan menemukan katana milik penjagaku. Setelah itu~ kau tahu sendiri setelah melihat tanganku." dia bercerita sembari tersenyum. Aku meronta-ronta meminta untuk dibukakan lakban, dan lelaki itu menarik lakban dengan kencang.

__ADS_1


"Bohong~ semua yang kamu ceritakan itu bohong. Arkan tidak mungkin sampai sebegitunya!" aku menekan kalimat terakhir.


"Kamu terlalu buta Geya, kamu sendiri tahu bagaimana Arkan mencintai Alifa. Apapun yang di lakukan Alifa sekalipun membuatnya sakit hati, dia tidak akan pernah menyalahkannya. Sudah ada buktinya, aku!. Ka timjdak seharusnya percaya pada orang yang baru kamu temui."


"Kalo begitu, aku tidak seharusnya percaya padamu. Karena kita baru saja bertemu." kataku membuatnya terdiam sejenak.


"Kamu pandai sekali berbicara. Ada yang mau aku ceritakan satu lagi, kamu tahu seharusnya Arkan itu dihukum. Dicabut jabatannya, dan segalanya setelah aku melaporkannya. Tapi ternyata orang kaya tersebut menggunakan hak uangnya untuk menuduh balik. Aku dituduh sudah memperkosa Alifa dan menganiayanya. Konyol sekali bukan. Aku di penjara karena ternyata pengacaraku satu kelompok dengan mereka." pria itu terdiam lalu tertawa hambar.


"Hukum tetap akan kalah dengan uang bukan?. Perlu kamu tahu Geya, aku mengumpulkan banyak informasi terselebung mengenai suamimu. Ternyata menyenangkan menjadi seorang detektif itu."


Aku terdiam tidak dapat berkata apapun. Aku benar-benar tidak tahu tentang ini, dan juga aku harus percaya atau mungkin tidak perlu. Tiba-tiba saja ada kegaduhan di atas, sebuah cahaya keluar dari pintu menerangi tangga. Para penjaga pria itu langsung menghadangkan seseorang diatas.


"Sepertinya suamimu sudah datang." ucapnya berjalan kebelakangku lalu melepaskan semua tali yang melekat di tubuhku.


"Percaya atau tidak, kita pernah bertemu." aku mengangkat sebelah alisku.


"Aku pikir kamu akan memukulku atau membunuhku." dia tertawa mendengar ucapanku tersebut.


Mataku dengan mata Arkan bertemu. Diwajahnya terdapat beberapa lebam, sudut bibirnya berdarah. Ia masih memakai seragam, napasnya terengah-engah. Dia langsung memberontak dan terlepas dari pegangan para penjaga. Arkan langsung menyambar tubuhku, "Kamu ga apa-apa kan Geya? Dia ga pukul kamu atau melakukan hal buruk kekamu?" aku bisa merasakan detak jantungnya berdetak tidak beraturan. Sebegini khawatirnya Arkan padaku. "Aku baik-baik aja." jawabku tersenyum dibalik dadanya.


"Kita bertemu lagi." sapanya, namun sapaan tersebut dibalas dengan pukulan oleh Arkan.


"Perlu gue potong tangan lu yang satu lagi?" Arkan marah. Aku menggenggam tangannya dengan kuat. Arkan menoleh padaku, aku menggelengkan kepala memohon untuk tidak melakukannya.


"Gue bisa masukin lu kepenjara lagi, bahkan membusuk disana. Jangan pernah menyentuh Geya atau siapapun yang berarti di hidup gue, kalo ga lu bakal nyesel." Arkan menarik tanganku untuk melangkah keluar dari rumah ini. Tapi entah apa yang aku pikirkan, aku menoleh kebelakang dan pria berambut cokelat tersebut tersenyum padaku. Ia memberi isyarat padaku, tangannya menunjuk-nunjuk saku celana. Saat sampai di mobil, terlihat sekali Arkan marah. Dia langsung mendorongku masuk kedalam mobil.


"Geya~ syukurlah kamu ga apa-apa. Maafkan aku, aku sudah lalai menjaga Geya, maafkan akhhh." Wajah Ergy dipenuhi oleh lebam, bahkan bibirnya masih mengeluarkan darah. Dia tidak melanjutkan ucapannya karena giginya patah, aku langsung mengeluarkan sapu tangan yang bersamaan dengan sebuah kertas. Ku berikan sapu tangannya pada Ergy, "Kamu di pukulin sampai babak belur kaya gini?" Ergy mengangguk saja karena mungkin sedang merasakan sakit.


Arkan tidak mengemudi, ada seseorang disana. Tiba-tiba saja, tubuh Arkan mendekat padaku, hidung kami bersentuhan. Ia memakaikanku sabuk pengaman. Selama perjalanan Arkan tidak mengatakan apapun. Kami pulang kerumah dinas karena rumah milik Arkan sudah tidak lagi aman. Arkan bilang ia akan menyewa beberapa bodyguard untuk menjaga di setiap sisi rumah besar tersebut.


Arkan sibuk sekali menelpon, dia marah-marah di sepanjang panggilannya. Aku masuk kedalam kamar lalu membuka surat yang sepertinya surat dari pria yang sudah menculikku. Aku mengkerutkan keningku ketika tahu isi kertasnya sebuah nomor dengan tulisan 'call me.' "Dia benar-benar sedang menggodaku?!" gumamku menggumpal kertas tersebut lalu melemparnya kesembarang arah.

__ADS_1


Arkan masuk kedalam kamar dengan wajahnya yang kesal. "Kamu udah janji sama aku buat ga kerumah kita selama aku pergi tugas. Tapi kamu tetep pergi kesana dan lihat apa yang terjadi sama kamu."


"Tapi aku kan ga pergi sendirian, aku sama Ergy. Aku ga tahu kalau ternyata tetep berbahaya walaupun aku ga pergi sendirian. Maaf." kataku menyesal. Terdengar jika Arkan menghembuskan napasnya, dia memelukku. "Jujur, aku marah dan takut banget. Aku ga mau sesuatu terjadi sama kamu Ge. Aku takut ketika tau kalo kamu di culik sama Julian."


Tiba-tiba saja telinga ku mendengar ucapan-ucapan yang samar. Kepalaku di penuhi oleh ingatan-ingatan yang aku tidak ketahui. 'Geya, Ayo menikah.' .


Kepalaku sakit, aku langsung menarik-narik rambutku. "Sayang, kamu kenapa?" Sakit sekali, rasanya seperti ada banyak benda berat yang menghantam kepalaku saat ini.


'GEYAAAAAAAAAAAA~'


tbc....


Ekstraa :


Ipra



Alifa



Geya



Arkan



Halo Love, sebelumnya chapter 12 ini akan menjadi akhir cerita Tidak Di Inginkan. Karena projek awalnya hanya Short Story, tapi karena tahu cerita ini mendapatkan respon yang baik. Aku mencoba memperpanjang ceritanya. Terimakasih sudah support 'Tidak Di Inginkan.'

__ADS_1


Sampai jumpa hari kamis😄.


__ADS_2