
'Aku tidak pernah melakukan **** dengan Kai setelah kami menikah. Terlebih lagi, hanya aku yang jatuh cinta pada Kai. Kai tidak pernah mencintai aku sama sekali, dan saat ini Kai sedang mengurus proses perceraian denganku. Aku benar-benar menyesal karena sudah meninggalkan Arkan, aku bodoh karena sudah membuangnya begitu saja. Kumohon biarkan kami bersama, Geya. Aku tidak mau jika anakku lahir tanpa ada seorang ayah yang menemani nanti.'
Aku memijat pelipis kepala ku, rasanya sebentar lagi kepala ku akan pecah. Mataku rasanya pegal karena terlalu sering mengeluarkan air mata.
Mengapa masalah datang secara bersamaan, baru saja aku mendapatkan sebuah bom nuklir yang membuat hatiku hancur. Sekarang sebuah granat sudah siap meledak lagi. Apa yang harus aku lakukan sekarang ini, kemana arah ku harus berjalan.
Rasanya seperti mimpi ketika aku mengetahui secara detail insiden ibu. Arkan, yang papa kamu lakukan itu benar-benar membuatku gila. Aku terduduk sembari memandangi foto ibu, ini adalah foto yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Keluarga Arkan pandai sekali menyembunyikan sesuatu sampai-sampai foto dan berita yang terdapat di buku lusuh tidak pernah mencuat di televisi.
Aku menoleh ke arah pintu ketika suara kerincing terdengar. Ipra, dia berdiri disana sembari tersenyum padaku. Aku membalasnya dengan senyuman getir. Aku tidak tahu dari mana Ipra mengetahui alamat rumah ayah, namun aku benar-benar bersyukur sekali karena setidaknya ada seseorang yang bisa menemani aku saat sedang seperti ini.
Ipra sudah tahu mengenai insiden Arkan yang menembak ibuku. Dia juga memberitahuku bahwa itu tidak sengaja, namun cepat-cepat aku tidak mau mendengarnya. Alasan apapun itu, aku tidak mau menerimanya. Aku sudah sakit hati terlalu jauh saat ini. Ipra menemaniku sampai sore dan ayah belum pulang juga. Katanya beliau mau bertemu dengan papa dan ibu mertua. Namun sampai sekarang belum pulang juga.
"Kamu tau, aku rasa apa yang di lakukan oleh papanya Arkan itu salah. Akan lebih baik jika aku dan Arkan tidak pernah bertemu bahkan sampai saling mencintai seperti ini, rasanya begitu sakit sekali ketika mengetahui kebenaran jika Arkan lah yang membunuh ibuku. Andai saja jika Arkan bukan suamiku dan aku tidak mencintainya, rasa sakit itu tidak akan terlalu terasa. Aku akan sangat mudah membenci Arkan, namun sekarang ini aku benar-benar bingung sekali karena aku mencintai Arkan." Aku menangis, menangis kencang sekali. Aku meluapkan semuanya lewat tangisan, perlahan Ipra mendekap tubuhku lalu mencoba untuk menenangkan aku.
"Keluarkan, kamu bisa menangis sepuasnya. Aku ada disini untuk menemani kamu." gumamnya sembari menepuk-nepuk pundakku. Dan tangisku semakin pecah.
ooOoo
Lalu lalang orang-orang berseragam biru tua banyak sekali disini. Mereka bermain, merokok ditempat tersembunyi juga melakukan penyelundupan lainnya.
Gue menikmati terik matahari sore yang akan terbenam. "Geya, aku kangen kamu." gumam gue sembari menutup mata. Tiba-tiba saja seseorang menyentuh paha gue. Dia teman satu sel gue, satu-satunya.
"Gue sering banget liat lo nikmatin matahari mau terbenam, apa ga panas?" tanyanya sembari menyalakan rokok.
"Suka aja." singkat gue. Jujur saat ini gue benar-benar cuma mau nikmatin matahari. Biasa tiap hari panas-panasan udah beberapa hari engga kepanasan. Rasanya hidup gue jadi aneh.
__ADS_1
Biasanya gue yang kerasin orang-orang, sekarang gue yang dibentak-bentak. Akhirnya gue merasakan perasaan orang-orang yang pernah di sekap dan gue interogasi. Ternyata ga enak banget di paksa, dan dibentak. Apalagi sampe dipaksa buat ngaku.
Mendadak, gue langsung kepikiran lagi mengenai Geya yang udah tahu mengenai insiden di Amsterdam. Geya pasti kaget banget, dan mungkin udah benci sama gue. Secara sewaktu gue buka paket-paket yang bertumpukan, gue ga pernah nyangka kalo paket itu isinya buku lusuh yang sama dengan buku lusuh di kantor kerja. Disana di ceritakan bahwa wanita paruh baya yang ga sengaja gue tembak itu adalah ibu dari Geya.
Gue sempet ga percaya karena yang gue liat foto dikamar Geya, wajah ibunya ga terdapat luka bakar. Dan di buku itu juga di ceritain, bagaimana wajahnya ibu Geya terbakar. Sampai akhirnya gue panik, gue bakar semua buku-buku itu dibelakang rumah. Untung aja sewaktu Geya nyamperin gue, gue udah bakar semua buku tersebut. Gue gamau kalo akhirnya gue kehilangan Geya, gue udah sayang dan cinta banget sama dia. Gue ga pernah mau memikirkan kalo Geya ninggalin gue karena tahu bahwa gue yang nembak ibunya, dan papa mengurus semuanya. Sampai akhirnya yang keluar dari berita adalah penemuan mayat bunuh diri di jurang, bukan mayat yang dibunuh karena tertembak.
Tapi, sekarang ini ketakutan gue benar-benar terjadi. Gue ga inget kalo tersisa satu buku lusuh di kantor. Benar kata pepatah, Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga.
Dan sampai sekarang ini, gue ga tau siapa seseorang yang ngirim paket itu ke gue.
Tubuh gue tersentak kaget, ketika seorang petugas menyadarkan gue dari lamunan. Petugas itu bilang, "Istri anda datang bersama pengacara anda." sontak gue langsung berdiri dan berjalan dengan cepat untuk menemui Geya. Gue tahu ini sedikit spesial buat gue, mungkin perbuatan dari papa juga. Kalo Geya yang berkunjung, para petugas memperbolehkan gue bertemu dengannya jam berapapun itu.
ooOoo
Aku melirik jam tangan menunjukkan jam set 6 malam. Mendadak aku tidak ingin menunda pikiran yang sudah mantap ini. Aku harus memberi tahu Arkan secepatnya.
"Kamu bawa makan? Aku kangen masakan kamu, yang." katanya duduk di hadapanku dengan raut wajah sumringah. Sakit sekali, ucapan dan mimik wajahnya membuat hatiku tersentuh.
"Iya, aku bawa makan untuk kamu." aku menyodorkan kotak makan berwarna biru padanya.
Arkan memakannya dengan begitu lahap, bahkan sampai tersedak. "Pelan-pelan." kataku memberinya minum.
Dia terlihat baik-baik saja disini, atau mungkin tidak kelihatan. Aku dapat melihat ada bekas lingkaran dari pergelangan tangannya. Sudah dua minggu Arkan berada di penjara. Dan kali ini dia memintaku untuk datang ke persidangan. Aku menolak namun Arkan memohon.
"Akan aku pikirikan." setelah mendengar kalimatku itu, Arkan terlihat begitu kecewa namun dia tetap memaksakan diri untuk tersenyum.
__ADS_1
"Aku kangen tidur di peluk kamu, disini dingin banget. Apalagi aku tidur deket toilet, baunya minta ampun. Aku juga kangen disiapin air anget kalo mau mandi, terus di manjain sama kamu. Seandainya aku punya waktu sejam aja buat manja-manja sama kamu, pasti ga akan aku sia-siain waktu itu."
'Aku juga kangen sama kamu. Dan mungkin masakan yang kamu santap itu akan menjadi masakan terakhir yang aku buatkan untuk kamu.' Jeritku dalam hati. Mataku berkaca-kaca mendengar cerita Arkan, begitupun dengannya. Arkan sudah menangis dari awal bercerita. Namun dengan cepat aku mendongakkan kepala agar tidak menangis. "Maaf." gumamnya.
"Maafin aku udah bikin kamu kecewa dan sakit hati. Maaf, maaf~" pada akhirnya ditahan sampai bagaimanapun air mataku jatuh juga. Aku benar-benar tak kuasa dengan permintaan maaf Arkan.
Aku menangis lalu Arkan mendekap tubuhku. Dan aku bisa menghirup aroma rokok dari bajunya.
Dia tidak henti mengatakan kata maaf padaku. Aku memeluk tubuh Arkan, aku merindukannya, sangat merindukan Arkan. Namun, sakit hatiku lebih besar untuk saat ini.
"Ayo kita sudahi semuanya."
TBC.......
Note :
Simbol 'ooOoo' Adalah pergantian Pov atau sudut pandang ya. Lebih mudah untuk dipahami kalo yang keluar kata 'Gue' berarti itu adalah sudut pandangnya Arkan. Kalo 'Aku' itu adalah sudut pandangnya Geya ya.
Rekomendasi aja deh ya dari aku, coba deh baca Chapter ini sambil dengerin lagunya Davichi - Sunset Ost Crash Landing On You. Kalo kata aku ngena banget, ngetiknya sampai nangis wkwkwk~.
Kalo aku bikin cerita itu kadang sampe ngomong sendiri sewaktu percakapannya, pokonya seolah-olah pemeran utama itu aku hihi, pernah juga di tegur sama kakak. Katanya orang gila, wkwk.
So~ nikmati selalu ceritanyaa ya Love 😊😊.
__ADS_1
Sampai jumpaaa~