TIDAK DIINGINKAN

TIDAK DIINGINKAN
VIII


__ADS_3

Dinar memelukku ketika aku sampai di Komp. Karamtama II. Ketua memarahiku karena menghilang begitu saja, beliau juga menyindir Arkan karena jabatannya membuatku semena-mena dalam bekerja. Aku meminta maaf pada ketua dan anggota crew lainnya. Ternyata selama aku tidak ada semua orang disini menggosipkan aku.


Para istri prajurit menarikku ke bagian dapur utama. Mereka mengatakan bahwa ada kejadian begitu mengejutkan. Ibunya Arkan datang ke komplek rumah dinas untuk menjemput Alifa lalu tiba-tiba saja ibunya Arkan menyapa para ibu-ibu itu dan meminta mereka untuk jauh-jauh dariku. Katanya jika dekat-dekat denganku mereka akan mendapatkan kesialan. Aku menghela napas lalu tersenyum.


"Makasih banyak udah ga menjauhi Geya." ucapku membungkuk.


"Pasti pernikahan mu begitu sulit ya." aku hanya tersenyum saja.


"Tidak apa, suatu saat nanti pasti ibu mertua kamu itu akan menganggap keberadaan kamu. Lambat laun mertua juga akan menyukai kamu."


Aku senang karena rupanya banyak sekali orang yang peduli padaku. Bodoh, selama ini aku selalu merasa sendirian. Padahal aku memiliki Ayah yang begitu menyayangiku, sekumpulan para ibu, dan teman yang begitu perhatian seperti Dinar dan Ipra. Isi kepalaku mendadak mendengar suara Ipra, kalimat Ipra saat di rumah sakit terbesit.


Ketua memintaku untuk mengatur pencahayaan. Kami semua akan mengambil syuting pertandingan futsal antar kelompok prajurit. Arkan memaksaku untuk mengizinkannya bertanding, tapi aku tetap melarangnya dia masih belum pulih total. Tadi saja pagi-pagi dia merengek kesakitan karena jahitannya lepas akibat aktivitas semalam. Aku panik karena tidak mengerti harus bagaimana, tapi Arkan menenangkan aku dan memberitahuku untuk membawa peralatan medis yang ada di mobilnya lalu Arkan mengerjakannya sendiri.


"Boleh, ya?" tanyanya lagi memasang wajah yang sangat begitu imut.


"Iya, izinin Letnan Kolonel buat ikut futsal. Geya." kini anak buahnya pun ikut-ikutan merengek padaku.


Aku menggeleng.


"Menyebalkan! Kita ini kan sedang di Komp, anak buahku bisa membawaku ke gedung medis jika terjadi apa-apa padaku."


"Benar! kami bisa langsung menggotong Letkol. Ayolah Geya, jika Letkol tidak ikut kami semua bisa kalah. Terlebih Letnan Ipra mengkhianati kami." mereka menoleh ke kelompok lawan begitupun dengan aku. Ipra pindah kelompok?.


Arkan beberapa kali mengedipkan matanya memohon.


"Nanti aku dimarahi lagi oleh ibu jika sesuatu terjadi lagi ke Arkan." ucapku sembari memasang tripod.


"Ibu memarahimu? karena apa?"


Sial, aku keceplosan.

__ADS_1


"Kamu merahasiakan sesuatu ya?" aku tidak menjawabnya.


"Okey kalo gitu kita taruhan. Aku bakal ikut futsal, kalo aku menang kamu harus kasih tau aku kenapa ibu marah. Deal." katanya langsung pergi begitu saja. Anak buah Arkan senang riya, sementara aku ingin melempar tripod ini ke kepalanya.


Bagaimana jika Arkan memenangkan pertandingan, apakah aku harus memberitahukan semuanya?.


Pertandingan dimulai, aku mencoba menjadi mc dibagian film sementara Dinar menjadi mc pertandingan. Ternyata menjadi pembawa acara itu menyenangkan sekali. Arkan begitu tampan mengenakan jersey putih, rambutnya turun kebawah. Aku bisa melihat otot-otot kakinya, pantas saja semalam dia begitu kuat. Ya Tuhan, sekencang mungkin aku menampar-nampar kedua pipiku. Aku tak kuasa menahan malu pada diri sendiri, mengapa bisa-bisanya aku memikirkan aktivitas penuh gairah itu disaat sedang bekerja begini.


Ipra berhasil merebut bola dari Arkan. Dan pada saat itu juga tim burung besar kebobolan. Ipra mencetak gol di pertandingan sesi pertama. Dia tersenyum padaku dan aku membalas senyumannya. Pertandingan kembali dimulai, para penonton meriah sekali. Dan disini lah aku mengetahui bahwa ternyata ada banyak sekali yang menyukai Arkan. Beberapa dari penonton remaja meneriakinya memberi semangat, aku memutar bola mata ketika Arkan salah tingkah. Aku juga melihat Alifa, dia baru saja sampai bersama para dokter yang lainnya.


Aku menahan kesal ketika ketua memintaku untuk mewawancarai Alifa. Dia memang pandai berkata, dia juga memberi semangat pada Arkan di akhir wawancara. Ketua menyunggingkan giginya ketika melihat aku kesal.


Pemenang ternyata memang selalu datang di akhir pertandingan. Wasit meniup peluitnya membuat Burung Besar berteriak senang, tim Arkan membawa kemenangan yang sepertinya membuat lawannya menjadi down. Mereka berpelukan dan berjabat tangan begitupun dengan Arkan dan Ipra. Para pasangan prajurit berhambur memberi mereka minum dan handuk. Langkahku terhenti ketika melihat Alifa sudah lebih dulu memberi minum pada Arkan. Arkan menerimanya, aku menggigit bibirku menyimpan kembali botol mineral ke tempatnya.


Setelah syuting selesai, aku mendaratkan bokongku ke kursi. Mesin printer berisik sekali itu karena Gitae tengah mencetak beberapa foto. Bau cat foto menyeruak ke hidungku.


"Geya, lo bisa tolong rapihin foto-fotonya ga? gue mau ambil beberapa barang yang ketinggalan di lapangan."


"Okey." kataku bangkit dari kursi lalu mulai memotong-motong foto. Moodku masih rusak, bahkan setelah dia mengatakan cintanya padaku, Arkan tetap saja dekat sekali dengan Alifa.


"Ga takut sendirian disini, hm?" aku bisa menghembuskan napas dengan lega ketika mendengar suara Arkan. Dia memelukku dari belakang.


"Aku pikir ada hantu atau orang jahat." gumamku meliriknya dari ekor mata.


"Tangan kamu bisa terluka." Arkan merebut gunting yang kugenggam.


Aku melanjutkan aktivitasku selagi Arkan masih memelukku. Beberapa kali dia berkomentar mengenai dirinya yang jarang keluar di foto. Arkan mulai mengganggu ku dengan menciumi leherku.


"Arkan, aku lagi kerja." kataku memperingati. Tapi Arkan menghiraukannya, dia justru semakin semangat untuk menggigiti leherku.


Aku melepas pelukkannya lalu berbalik. Dia masih berkeringat, mendadak aku mengingat kejadian semalam. Lagi.

__ADS_1


"Aku lagi kerja."


"Iya, tau." jawabnya langsung.


Arkan melangkah mendekat padaku, lalu tiba-tiba dia mengangkat tubuhku dan mendudukkan aku di meja yang penuh foto ini. Aku hendak protes namun Arkan menciumku. Aku tidak bisa menolaknya, karena aku sendiri menginginkan ciuman ini. Aku menyentuh rambutnya yang basah dan sesekali menariknya karena gemas. Arkan menarik bibir bawahku lalu aku bisa merasakan jika dia tersenyum.


Tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka sontak aku langsung mendorong tubuh Arkan sampai ia terjatuh ke lantai. Para crew terdiam di ambang pintu, mereka menatapi aku dan Arkan secara bergantian. Napasku tersenggal-senggal, dan aku baru sadar jika aku masih duduk di atas meja.


"Ekhem, ayo kita mengedit film. Agar cepat selesai dan bisa kembali kerumah. Hah~ aku jadi merindukan istriku." ucap ketua.


Aku menyadari jika mereka sedang pura-pura tidak melihat kejadian ku dengan Arkan. Aku tersenyum kecut pada Arkan merasa bersalah karena sudah mendorongnya. Arkan mengangkat kedua alisnya mengatakan tidak apa-apa. Dia berpamitan untuk keluar tapi yang membuatku terkejut dan mungkin para crew lebih terkejut adalah, Arkan mengecup bibirku sembari membuka ingatan cepol lalu mengatakan "Kita lanjutin nanti malem, ya." Aku menganga tidak percaya, bisa-bisanya dia mengatakan itu ditempat banyak orang seperti ini.


Aku berjalan menuju meja kerjaku dengan malu.


"Hah~ aku jadi benar-benar ingin pulang."


ooOoo


Gue nutup pintu ruangan lalu membuka laptop. Tapi pikiran gue ga bisa berhenti mikirin Geya. Wangi tubuhnya masih nempel di tangan gue, gue bisa inget jelas sewaktu dia narik-narik rambut gue semalam dan bahkan tadi dia narik-narik lagi. Sialan, gue rasa muka gue merah banget. Panas. Kuping gue ga berhenti denger suara mengerangnya Geya.


"Gila, gue jadi piktor kaya gini."


"Tapi dia kan istri gue, gapapa kan kalo gue mikirin hal panas tentang istri sendiri." gue ngomong sendiri dan frustasi sendiri juga.


Gue ga pernah nyangka kalo gue bakal suka sama dia cuma karena waktu itu dia pake baju seksi. Setelah kejadian malam waktu gue ninggalin Geya sendiri, gue ngerasa berat hati juga sebenernya buat ninggalin dia sendirian apalagi keadaannya gue sama dia lagi hampir mau ngelakuin anu. Tapi, waktu itu gue masih sayang sama Alifa, jadinya gue lebih mentingin Alifa. Sampe akhirnya gue tau kalo Alifa itu cuma jadiin gue pelampiasan.


Alifa pacaran sama gue cuma biar tetep bisa deket sama Ipra. Tujuh tahun gue cinta sama dia dan sayang sama dia ternyata Alifa ga punya perasaan yang sama. Pantesan aja dia dengan mudahnya nikah sama laki-laki lain setelah putus sama gue.


Dan gue baru sadar kalo ternyata Geya ga pernah merasa terpaksa nikah sama gue. Walau awalnya dia sendiri yang minta gue buat ga pernah anggap ada pernikahan. Gue seneng luar biasa, karena gue bisa sama Alifa walaupun cuma gue yang cinta sama Alifa seengganya gue bisa bikin Alifa lupa sama Ipra. Maka dari itu gue saranin Geya buat deket sama Ipra, bahkan gue berharap banget mereka pacaran dan Geya cerai sama gue.


Tapi sekarang gue sadar kalo dia bilang kaya gitu karena sifat gue. Sifat gue yang ga pernah anggap dia sebagai istri. Perlahan gue punya perasaan sama Geya. Tatapannya, caranya bicara pake perasaan. Itu nyentuh banget ke hati gue. Apalagi sewaktu perut gue kena tusuk, Geya nangis selama nyetir. Dia ga ngelepasin tangan gue sama sekali sampe gue masuk ruang operasi. Dan gue bisa denger samar-samar kalo dia bilang "Cepetlah buka mata Arkan, aku janji aku gabakal pernah ganggu hubungan kamu sama Alifa. Asalkan kamu bangun.". Baginya kebahagian gue lebih utama, dan gue udah egois banget sama Geya...

__ADS_1


tbc...



__ADS_2