TIDAK DIINGINKAN

TIDAK DIINGINKAN
XVI


__ADS_3

Arkan mencoba mendekat namun aku merasa takut ketika dia mendekat padaku. Aku tidak percaya dengan semua ini.


Ibu tidaklah bunuh diri melainkan mati tertembak oleh Arkan. Arkan menyentuh pundakku namun dengan cepat aku menepisnya. Aku takut sekali padanya sekarang ini.


"Aku bisa menjelaskan semuanya, Geya. Ini tidak sama seperti apa yang kamu pikirkan."


"APA? TIDAK SAMA SEPERTI APA? KAMU UDAH BUNUH IBU AKU. KAMU BUNUH IBU AKU. KAMU PEMBUNUH!" Aku membentaknya kencang sekali. Aku menangis kencang sekali, dan ketika Arkan hendak memelukku aku langsung mendorongnya sampai tubuhnya membentur meja kerja.


"TOLONG JANGAN MENDEKAT LAGI! AKU TAKUT!." bahkan aku tidak mau melihat wajahnya sekarang. Aku berlari keluar ruangan sembari menangis, tak lupa aku membawa buku yang kutemukan ini. Aku tidak mendengar suara Arkan meneriaki namanku, sepertinya dia memang ingin aku untuk pergi.


Sesampainya dirumah aku menangis sejadi-jadinya. Aku memeluk ayah dengan sangat erat. Aku tidak bisa menerima kenyataan ini, tidak pernah terpikir olehku jika ternyata Arkan lah yang membunuh ibu. Sakit sekali, dadaku sakit sekali untuk mengetahui ini semua.


Ayah bertanya padaku apa yang sebenarnya terjadi. Namun aku tidak bisa memberitahu ayah. Aku tidak mau ayah juga merasakan rasa sakit yang sama seperti aku.


Aku masuk kedalam kamar lalu kembali menangis kali ini sembari menatapi foto ibu. Ku cabut foto tersebut dari buku lalu melempar buku tersebut kesembarang arah.


"Ibu~" lirihku.


Sudah tiga hari aku masih menangis bahkan kadang berteriak membuat ayah menggedor-gedor pintu setiap malam. Aku tidak bisa membendung semuanya, suami yang aku cintai ternyata sudah merenggut sesuatu yang paling berharga dariku. Tiba-tiba saja terlintas Ipra di kepalaku, aku ingat dengan jelas bahwa dia pernah mengatakan perkataan yang sama seperti aku. Jadi rupanya Ipra sudah mengetahui ini.


Diluar sana ayah mengetuk pintu sembari mengatakan bahwa Dinar datang untuk berkunjung. Aku menyuruhnya untuk masuk, dan Dinar langsung memelukku dengan sangat erat. Dia berkunjung karena katanya mendengar berita bahwa di kompi tengah ramai dengan masalah Arkan. Dengan begitu Dinar mengunjungiku, dia juga bertanya padaku apa yang terjadi. Namun aku tidak mengatakan apapun padanya, aku pikir aku tidak seharusnya menceritakan ini pada siapapun kecuali jika mereka memang sudah tahu.

__ADS_1


Dinar menemaniku sampai pada akhirnya aku mau keluar dari kamar dan makan malam. Setelah Dinar pulang, aku bergegas untuk mandi. Aku tidak tahu jika ayah akan mengganti seprai tempat tidurku. Alhasil beliau menemukan foto ibu yang aku robek dari buku lusuh. Beliau sudah menangis ketika aku masuk kedalam kamar, beliau menatapku lalu bertanya dari mana aku mendapatkan foto itu. Dan pada akhirnya aku mengatakan semuanya pada ayah, beliau terdiam namun air matanya masih terus mengalir. Sampai pada waktu yang kurang tepat ini, Arkan datang kerumah. Ayah langsung memukul wajahnya lalu mengusirnya, ayah juga mengatakan perkataan yang sama seperti aku saat di ruang kerja waktu itu.


"PEMBUNUH!" Katanya sembari mendorong Arkan. Dan aku baru menyadari bahwa kata itu akan membuat Arkan begitu sakit hati.


Aku menarik tangan ayah memohon untuk tidak lagi memukul Arkan. Aku menangis, ayah menangis begitupun dengan Arkan. Dia menangis sembari berlutut didepan ayah, tangannya memegangi kedua kaki ayah.


Arkan terus-terusan mengucapkan kata maaf, namun tidak ada jawaban dari mulutku dan mulut ayah. Beliau menarik tangan-tangan Arkan yang memegang kakinya. "Pulanglah~ yang anda lakukan saat ini tidak akan berbuah hasil apapun." ucapnya masuk kedalam rumah.


Aku ingin sekali memeluk Arkan saat ini, namun rasa sakit didadaku membuatku mengurungkan niatku. Arkan mendongak, mata kami saling bertemu. "Apa sudah tidak ada lagi pintu maaf untukku?" tanyanya begitu lirih.


"Pulanglah." pada akhirnya aku pun tidak bisa bisa memberi jawaban untuk Arkan.


Aku masuk kedalam rumah dengan langkah yang begitu berat. Diluar terdengar gemuruh tanda akan datangnya hujan. Dan ketika aku menutup semua tirai rumah, hujan pun turun. Arkan tidak beranjak sama sekali, dia masih berdiam diri disana sampai pada matahari kembali terbit. Arkan masih berlutut sembari bergumam memohon maaf.


Aku menoleh pada ayah namun ayah sama bingungnya dengan aku.


"Untuk mengetahui proses selanjutnya anda bisa hadir kepersidangan. Bawa dia." perintahnya, mereka semua membawa Arkan lalu pergi.


Jelas sekali bahwa aku dan ayah tidak melaporkan Arkan. Lantas siapa?.


Sorenya ibu dan papa mertua datang kerumah. Aku sudah menduganya jika mereka sudah mengetahui pembunuhan yang Arkan lakukan. Papa sengaja melamarku untuk Arkan karena merasa berdosa Arkan sudah menembak ibuku. Itu sebabnya pernikahan ini terjadi, ayah marah sekali karena merasa di permainkan. Namun mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi. Dan ayah mengatakan pada besan bahwa semarah dan semencaci apapun ayah saat ini, ayah tetap tidak bisa membenci Arkan. Ayah menerima semuanya.

__ADS_1


Aku mengunjungi Arkan bersama dengan pengacaranya. Kali ini dia menggunakan seragam napi, berseragam namun berbeda makna. Wajahnya pucat, rambutnya juga sedikit berantakan.


"Aku bawa makan untuk kamu." ku sodorkan bekal makan. Dan Arkan memakannya, dia menyuruh pengacaranya untuk keluar sebentar Arkan bilang dia ingin berbicara berdua denganku.


Namun sudah sepuluh menit berjalan tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya. Sampai pada ketika aku menarik napas, "Aku mencintaimu." katanya membuatku langsung menatap Arkan. Dia kembali menyantap makanan. Pertemuan kali ini benar-benar aneh sekali, aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan bertemu dengan Arkan di penjara.


Aku berjalan di lorong sembari menatapi ponsel, disana ada berita bahwa bisnis Make Up Julian tengah melejit.


"Kebetulan sekali, apa kita bisa berbicara?" aku langsung menoleh ke sumber suara, itu adalah suara Alifa.


.


Hari pertama persidangan, aku tidak ikut kedalam karena takut kembali menangis. Ditambah aku benar-benar tidak bisa melihat wajah Arkan. Aku benar-benar tidak bisa berpikir dengan baik, aku sudah membuat keputusan bulat.


Alhasil hanya ayah, papa dan ibu mertua. Ayah bilang ini pertama kalinya beliau duduk di kursi korban.


Sesampainya di rumah, ayah ingin mengatakan sesuatu padaku mengenai persidangan tadi. Namun aku memotongnya dengan mengatakan "Aku akan bercerai dengan Arkan."


Ekstras :


Alifa membawaku ke dekat parkiran mobil, aku tidak tahu apa yang ingin dia katakan padaku. Namun aku tahu setelah ini perasaanku pasti akan bertambah buruk, dan benar saja setelah mendengar ucapan Alifa rasanya jantungku jatuh ke perut.

__ADS_1


"Aku hamil. Dan ini adalah perbuatan Arkan."


TBC......


__ADS_2