
Arkan Pov.
"Kamu udah bangun?" tanya Geya kaget.
Ipra melihatku dan Geya secara bergantian. "Maaf, maaf gue udah ganggu momen penting kalian berdua. Gue cuma mau bilang kalo mau mesra-mesraan jangan didapur dah, di kamar kek atau di kamar mandi sana. Untung gue yang liat, gimana kalo Junior sama Nila." Ipra memberi saran dan itu membuatku keheranan.
"Arkan, kita bisa ngobrol berdua ga diluar? sebentar aja deh." aku menoleh pada Geya lalu mengangguk pada Ipra.
Kami berjalan keluar menuju garasi mobil.
"Gue udah sadar sekarang kalo ternyata Geya memang tetap akan memilih lo sampai kapanpun itu. Gue pikir, ini memang udah saatnya buat gue buka lembaran baru." katanya tersenyum kecut.
"Ternyata bukan berapa lama lo tinggal disisi dia maka dia akan memilih lo. Tapi seberapa besar dan pengorbanan lo buat dia. Dan gue tau pengorbanan lo untuk Geya, lo bersedia menjadi pengawalnya hanya agar Geya selalu aman. Sementara gue, gue hanya selalu ada ketika Geya sedang terpuruk saja." Ipra melempar senyuman padaku, dia menepuk pundakku lalu berkata "Sekarang gue memang ga seberuntung lo, tapi mungkin nanti gue juga akan beruntung ketika menemukan seseorang yang mencintai gue sepenuh hatinya."
Aku terdiam hanya mendengarkan ucapan-ucapan Arkan yang membuatku berpikir bahwa aku ini sedang bermimpi.
"Nikahin Geya, dan jadilah keluarga yang bahagia." Ipra memeluk tubuhku.
Malam ini menjadi malam yang begitu tabu untukku. Mengapa Ipra tiba-tiba saja berubah begini?. Apa dia mabuk? apa dia habis minum obat berubah pikiran?.
"Sebagai gantinya, lo harus cariin gue perempuan."
"Ipra, lo kenapa sih? kok berubah gini, lo habis makan apaan?"
"Apaan si woy! gue ini udah kalah dari lo. Lo menang, lo bisa kembali hidup bersama dengan Geya. Gue udah ga jadi penghalang kebahagiaan lo lagi." jelasnya membuatku mangut-mangut.
"Janji sama gue, lo harus bahagiain Geya. Jangan pernah nyakitin dia lagi. Kalo ketauan lo nyakitin bidadari gue, gue rebut lagi si Geya dari lo." ancamnya membuatku kesal.
"Ye~ mana ada kaya begitu. Lo cari aja yang lain, Geya udah pasti jadi milik gue kok. Sekarang gimana Geyanya aja, gue bisa kapanpun nikahin Geya tapi semua tergantung dia." ucapku menyandarkan punggung ke mobil.
"Hah~ sedari dulu hubungan lo itu selalu aja rumit."
Aku terkekeh mendengar ucapan Ipra, dia benar. Masalah percintaanku tak pernah mulus seperti jalan tol. Selalu saja rumit bagaikan labirin.
"Udah lama gue sama lo ga pernah bicara sesantai ini." seruku pada Ipra.
"Dulu, gue sama lo adalah sahabat kan."
Apa yang dikatakan Ipra memang benar, kami berteman sangat baik sampai akhirnya Geya datang kedalam kehidupanku. Karena terlalu cantik dan baik, Ipra sampai jatuh cinta padanya. Hubunganku dengan Ipra menjadi tidak baik ketika aku dan Geya menikah itu karena aku masih mencintai Alifa sementara Ipra menyukai Geya yang semakin kelamaan kedekatan Ipra dan Geya membuatku cemburu.
Ternyata sudah banyak sekali yang aku lalui dengan Ipra setelah bertemu dengan Geya. Setidaknya kami kembali berteman baik sekarang. Ipra sudah menerima segalanya yang dikatakan oleh Geya. Dia juga mendukungku untuk rujuk dengan Geya.
Aku mengenal Ipra, sehingga aku tidak berpikiran yang aneh-aneh mengenai keputusannya itu. Setelah Ipra pulang aku berlari masuk kedalam rumah lalu memeluk Geya. Geya mendorongku karena aku memeluknya didepan anak-anak.
"Apasih kok heboh banget?" tanyanya sedikit kesal.
__ADS_1
"Tebak deh kenapa aku senang banget kaya gini?" aku tersenyum begitu lebar mengeluarkan ekspresi bahagia.
"Apasih ah, tinggal kasih tau aja." Geya tambah kesal. Dia sedang menyiapkan piring-piring kecil.
"Ipra bilang dia udah ikhlas dengan semuanya." kataku sangat senang tetapi tidak ada ekpresi senang sama sekali diwajah Geya.
"Kok kamu gak kaget sih?" aku bertanya.
"Kita obrolin ini selesai makan, okey?" aku mengangguk saja.
Makanku sangat lahap malam ini, aku tidak pernah menyangka jika Ipra akan menyerah semudah itu.
.
.
"Kok tiba-tiba Ipra berubah pikiran secepat itu?" tanyanya keheranan.
"Mungkin karena melihat kita sedang berciuman." jawabku asal.
Geya menarik napas, wajahnya menampakkan kebingungan yang luar biasa bingung.
"Apa kamu gak merasa aneh sama sekali?"
"Kenapa harus merasa aneh? Sayang, bukankah ini berita baik untuk kita? tunggu, apa kamu ga senang dengan kalahnya Ipra?" tiba-tiba saja Geya melempar bantal sofa ke mukaku.
"Sudahlah tidak perlu dipikirkan, sekarang kita pikirkan saja kelanjutan hubungan kita kedepannya." ini adalah momen yang aku inginkan sejak lama. Membicarakan pernikahan, honeymoon, dan merencanakan anak kedua.
"Aku masih perlu mengurus karirku, Arkan." tiba-tiba saja balon harapanku pecah menjadi berkeping-keping.
"Menyebalkan." seruku kesal, Geya terkekeh saja melihat aku yang kesal.
Ku baringkan tubuhku disofa dengan kepala yang terletak di paha Geya.
"Geya?"
"Hm?"
"Selama empat tahun ini, apa saja yang sudah kamu lakukan dengan Ipra?" tanyaku ingin tahu.
"Jalan-jalan, mengobrol hanya seputaran itu saja." jawabnya membuatku sedikit tenang, tetapi aku ingin memastikannya sekali lagi.
"Kalian tidak pernah saling bersentuhan kan?"
Geya tertawa dan itu membuatku malu, "Tentu saja tidak. Ipra itu terbilang lelaki klasik, paling jauh hanyalah berpelukan. Berciuman saja tidak pernah Arkan. Ipra itu berbeda denganmu, dia lebih baik dari sikap menahan nafsu."
__ADS_1
Aku mencibir ketika Geya mengatakan itu.
"Jadi kamu ini menyukai Ipra atau aku?"
"Tentu saja menyukai Arkan. Sangat!."
"Kalau begitu ayo kita menikah!." aku melamar Geya dengan semangat.
"Em~ beri aku waktu." jawabnya membuatku senang, setidaknya Geya akan memberikan aku jawaban. Saat aku hendak menciumnya, Geya menahan kepalaku.
"Tahan sampai kita menikah nanti." ucapnya melenggang pergi.
"Sekali lagi aja."
"Ini yang terakhir, ya, ya?" tidak ada jawaban dari Geya.
Hah~ mengapa aku ini tidak bisa menahan untuk tidak mencium Geya sih. Kau terlalu mesum Arkan!. Aku bergegas untuk pulang kerumah, aku berpamitan pada Geya dan mencium kening Junior.
Sesampainya dirumah aku di buat kesal oleh mama. Ini sudah larut malam tetapi bisa-bisanya dia langsung memberiku sebuah kontak seorang wanita single. Mama ingin aku bertemu dengannya.
"Aku lagi proses rujuk sama Geya ma. Lagian masih cantikan Geya kok dari pada perempuan ini." aku meletakkan tab ke nakas.
"Kan masih proses, gak ada salahnya kan kalo ketemu dulu." keukeuh mama.
Terbesit sebuah ide dikepalaku, akan ku berikan perempuan ini pada Ipra. Aku iya-iya saja dengan ucapan mama.
Aku meminta Ipra untuk menghubungi perempuan tersebut, dan katanya dia merespon Ipra dengan baik.
"Semoga dia jodoh lo ya pra." do'a ku untuk Ipra.
Esoknya di hari ketiga cuti Geya.
Sebelum pergi kerumah Geya, aku mampir terlebih dahulu ke perusahaan paman yang sudah dijual separo kepadaku. Aku harus menandatangi beberapa dokumen dan menghadiri meeting terlebih dahulu. Aku memang tidak terlalu baik dalam berbisnis ini pun masih banyak yang tidak aku mengerti mengenai istilah-istilahnya.
Karena bisnis ini pula, banyak sekali yang menawarkan putrinya kepadaku. Mereka menjual anak-anak perempuannya untuk sebuah bisnis. Bahkan aku harus mengganti sekretaris menjadi laki-laki karena sebelumnya adalah perempuan, dia berpakian sangat seksi. Bukannya membangunkan gairah tetapi aku malah jijik melihatnya. Hanya Geya yang bisa membuatku bangun.
"Mr. Ardipa, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda." sekretaris Nam membukakan pintu, aku mendongak ketika melihat high heels merah melangkah maju kemejaku.
Ku pandangi tubuhnya dari kaki hingga keatas kepala. Perempuan itu tersenyum padaku.
"Saya Liliandi, teman bisnis paman Mr. Ardipa." jelasnya dengan singkat.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanyaku karena tidak tahu dengan kedatangannya yang mendadak ini.
"Saya penasehat bisnis anda."
__ADS_1
Tbc....