
"Ssst, jika kamu berteriak aku akan membunuhmu."
Jantungku berdetak kencang sekali, kumohon mengapa ini harus menimpa padaku, aku hanya ingin menyelamatkan Dinar.
Vino membawaku untuk kembali masuk kedalam rumah, namun aku dapat melihat jika Arkan menoleh ke arahku. Dan dia menyadari bahwa aku sedang di sandera oleh Vino.
"Arkan~ lo udah keluar dari penjara dan sekarang jadi seorang pengawal untuk mantan istri? Haha~ lucu banget karena pada akhirnya lo sama kaya laki-laki lainnya, tunduk pada para jal*ng rendahan seperti mereka berdua ini." Katanya dengan sebuah pisau yang beberapa kali menusuk pelan leherku, aku takut sekali leherku tersayat.
"Lepaskan nona Geya, sekarang juga." pinta Arkan.
"Tinggalkan Dinar disini, maka gue bakal lepas nona Geya lo ini. Kalo lo ga ninggalin Dinar disini, lo tau kan apa akibatnya." Vino memain-main kan pisau tersebut dengan menelusuri wajahku, jika sedikit saja Vino menekan pisaunya, sudah pasti wajahku akan terluka.
Perlahan Arkan menurunkan tubuh Dinar, aku melotot pada Arkan memintanya untuk tidak mengikuti keinginan Vino. Melihat Dinar yang tubuhnya sudah begitu banyak lebam, ditambah Arkan yang bekerja keras untuk selalu melindungi diriku. Aku tidak boleh terus-terusan mengandalkan Arkan, sesekali aku perlu untuk berani.
"Sekarang lepaskan Geya." Arkan sudah menurukan Dinar. Namun, Vino menyuruh Dinar untuk kembali kedalam rumah. Jelas jika Dinar tidak mau, dan Vino tidak terima dengan bantahan istrinya. Pisau itu ditekan keleherku, lalu aku bisa merasakan perih, dan seketika itu juga kutarik tangan Vino kedekat mulut lalu menggigitnya. Vino berteriak lalu pisau itu terjatuh kelantai, aku berhasil keluar dari sanderaannya. Saat ku tendang pisau itu kesembarang arah, Vino menarik rambutku lalu membenturkan kepalaku ke pintu.
Satu..dua...tiga..
Vino berhenti menghantamkan kepalaku, itu karena Arkan menjambak rambut Vino lalu memukulnya. Disana Dinar berteriak tidak jelas. Kepalaku pusing luar biasa, pandanganku menjadi buram seketika. Dan aku tidak bisa lagi menahan beban tubuhku sendiri sampai pada akhirnya~
Aku terbangun dengan mendapati Ipra tengah tertidur di sofa. Aku beringsut, namun mendadak kepalaku pusing lagi. Aku sudah berada di rumah sakit, lalu dimana Dinar dan Arkan.
Ku pakai sendal dari rumah sakit lalu perlahan membuka pintu dan mendapati Arkan tengah mengobrol dengan manajer. Sepertinya Arkan sedang diomeli, dan ternyata benar. Saat melihatku paman langsung berpidato panjang lebar. Dia marah-marah dan menyesal sudah menerima Arkan menjadi pengawalku karena katanya, Arkan malah membuat terluka model terbaiknya.
Aku memutar mata ketika paman membicarakan hal tersebut. Arkan hanya tersenyum saat melihat aku mulai jengkel. Sebelum paman memaksaku untuk masuk kembali keruangan, aku bertanya pada Arkan dimana Dinar. Dan Arkan bilang Dinar sudah melahirkan kemarin malam jam 11.
Esoknya, aku berkunjung keruangan ibu dan anak. Disana Dinar tengah menyusui anaknya, alhasil Ipra tidak bisa ikut masuk kedalam. Dinar tersenyum sangat lebar, terlihat sekali dari matanya bahwa dia begitu senang atas kelahiran anak pertamanya itu. Tiba-tiba saja aku teringat ketika melahirkan Junior yang di temani oleh ayah. Keadaan dimana aku berharap Arkan lah yang berada disisiku. Arkan yang pertama kali melihat Junior turun ke dunia baru. Saat itu benar-benar menyedihkan.
"Kamu udah kasih bayinya nama?" tanyaku sembari mengusap-usap kepala bayinya.
__ADS_1
"Vina, aku kasih nama bayi ini Vina." ucapnya mengecup kening Vina.
Aku terdiam, dan sepertinya Dinar tahu bahwa aku sedikit keheranan mengapa dirinya memberi nama yang begitu mirip dengan Vino.
Dinar menceritakan semuanya padaku. Vino dipergoki sudah mentransfer uang kepada mantan kekasihnya, Dinar yang tahu itu marah dan tidak suka. Namun Vino marah balik lalu memukul Dinar, Dinar tidak tahu jika Vino akan setega itu memukul istrinya sendiri. Dan aku sendiri yang mendengar cerita tersebut kaget luar biasa. Dinar begitu mencintai Vino bahkan setelah di pukuli seperti ini. Dia bilang aku tidak boleh menyalahkan Vino karena katanya Dinar juga salah sudah marah. Namun aku pikir, Dinar pantas untuk marah dia hanya mencoba untuk tetap melindungi suaminya.
Disini aku merasa ditampar karena tidak pernah melindungi Arkan.
Aku keluar ruangan lalu memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di taman rumah sakit. Ipra meminta maaf padaku karena katanya sudah keterlaluan. Ipra bilang, dia hanya terkejut karena mengetahui Arkan sudah keluar dari penjara. Katanya 4 tahun terlalu singkat untuk kasus seperti Arkan. Bahkan Ipra berkata padaku hukuman seumur hidup lebih pantas untuk Arkan.
Aku menarik napas ketika Ipra melontarkan kalimat tersebut. Sebenarnya apa yang membuat Ipra berubah seperti ini, mengapa dia menjadi begitu membenci Arkan. Bukankah mereka itu bersahabat?.
"Sabtu depan aku libur, dan aku mau mengajak kamu piknik bersama Junior." kata Ipra sembari memberiku brosur kebun binatang.
"Aku harus mengecek jadwal terlebih dahulu." Ipra mengangguk mengerti.
"Beritahu saja aku jika ada jadwal kosong. Aku harus kembali bekerja, istirahatlah." Ipra menyentuh rambutku lalu dia mencoba untuk mencium keningku namun aku menghindar dengan cara memalingkan wajah dan mendapati Arkan tengah berdiri diujung taman, menatapi kami.
Ketika Ipra sudah melenggang pergi, aku berjalan melangkah mendekati Arkan. Dia tersenyum saat aku sudah ada di hadapannya "Anda perlu istirahat, nona." katanya memasangkan selimut ke pundakku.
"Kapan aku boleh pulang?"
"Besok, pagi. Luka nona masih harus di periksa."
Aku mengangguk lalu fokus melipat brosur sampai aku nyaris menabrak pasien lain dan untung saja Arkan langsung menarik pundakku untuk menyingkir dari jalan yang salah. Aku meminta maaf pada pasien tersebut.
Arkan mengupas buah jeruk untukku, seharusnya ini adalah pekerjaannya Lucy. Namun, dia tengah tidur pulas di sofa.
Aku bertanya pada Arkan bagaimana nasib Vino sekarang. Kata Arkan, Arkan memanggil beberapa bawahannya saat menyusul aku. Namun, karena terlambat alhasil Vino berhasil melukai ku. Dan, saat Vino berhasil di pukuli oleh Arkan, bawahannya baru tiba lalu membawa Vino ke kantor polisi. Dan, Arkan tidak memberitahu ku kelanjutannya, dia bilang sekarang Dinar sudah aman.
__ADS_1
Jam dinding terdengar begitu keras sekali.
"Aku benar-benar belum terbiasa di panggil nona oleh mu." kataku memecah keheningan.
"Kalau begitu harus saya panggil, sayang?" aku terkejut ketika Arkan memberi usulan seperti itu.
"Tidak, maksudku bukan seperti itu. Dulu, kamu hanya memanggil namaku."
Arkan mengernyitkan keningnya sedang memikirkan sesuatu. "Engh~ saya rasa nona keliru. Saya lebih sering memangil 'yang' kecuali ketika sedang berhubungan dengan nona." tiba-tiba saja pikiran ku terlempar ketika Arkan memanggil namaku sembari berkeringat.
"Tidak perlu di bayangkan, jika nona mau saya bisa... AW!" aku melempar sisa buah jeruk ke wajahnya. Aku tidak mau mendengarkan ucapan-ucapan kotornya yang menggelikan itu.
Lalu Arkan tertawa ketika melihat wajahku yang penuh kekesalan. "Sepertinya nona tidak terlalu membenciku."
Aku memutar bola mataku, "Aku masih membencimu, bahkan sampai detik ini."
"Wow~ itu benar-benar melukai hati saya." katanya membersihkan cipratan jeruk yang ada di jasnya.
"Luka ku lebih dalam, bukan?" seketika Arkan menghentikan aktivitasnya.
"Sebenarnya, kamu sengaja kan melamar menjadi pengawalku?"
"Jika harus jujur, aku ini akan melamar kembali nona untuk menjadi istriku lagi. Tapi sepertinya ada seseorang yang sudah menunggu nona menjadi janda. Dan~ aku ingat bahwa nona tidak pernah bahagia bersama ku." Arkan tersenyum kecut.
"Aku rasa, Ipra memang yang terbaik untuk kehidupan nona."
Untuk pertama kalinya setelah 4 tahun, mataku dan mata Arkan bertemu dengan keadaan yang sendu.
"Aku hanya mencoba untuk selalu ada disisi nona, walau menjadi orang lain."
__ADS_1
TBC.......