
Hari pertama cuti.
Aku melakukan banyak kegiatan dirumah, membangunkan Junior, membuatkannya sarapan, mengantar ketaman bermain, dan melakukan pekerjaan rumah, yang kurang hanyalah seorang suami.
Hah~ terkadang ketika seperti ini aku ingin sekali menikah lagi. Tapi tidak tahu dengan siapa.
Arkan tidak kerumah hari ini, dia sedang mengurus bisnisnya. Sebuah bisnis yang tidak aku ketahui sama sekali. Setelah semuanya selesai, aku pergi kebagian luar. Menyiram semua tanaman agar kembali segar, mendadak aku ingin memotret pemandangan yang sangat cantik. Hanya saja kuurungkan niat tersebut, rasanya lebih baik di nikmati saja dibandingkan di potret.
Beberapa orang yang sedang berolahraga menyapaku dengan ramah. Telefon rumahku berbunyi, aku segera bergegas masuk. Walaupun aku tidak bekerja aku tetap saja harus pergi ke gedung.
Saat aku sampai, aku tak sengaja bertubrukan dengan seseorang yang tenyata itu adalah Lucy. Berkas-berkas yang sedang dia pegang berserakan di lantai, aku membantunya dan sedikit melihat ada kertas dari pengadilan. Aku mengenali surat itu adalah surat perceraian. Setahu ku Lucy itu belum menikah. Hah~ mengapa aku ambil pusing mengenai itu sih, bisa saja itu surat orang lain.
Lucy tersenyum dan berterimakasih padaku. Dia itu asistenku, tapi sering sekali membantu model yang lain juga. Karyawan disini memang kacau.
Paman memanggilku untuk mengatakan bahwa setelah masa cutiku, aku ditawari melakoni sebuah film layar lebar. Aku terkejut, karena bagaimana bisa aku berakting?. Beliau memintaku untuk memikirkannya, ia juga memberikan gambaran sedikit karakter yang akan aku lakoni.
"Paman~ apa Lucy itu sudah menikah?" tanyaku sembari membaca naskahnya.
"Dia sedang diambang keputusan asaan dengan suaminya."
Rupanya Lucy itu sudah menikah, aku pikir dia seorang gadis lugu yang bahkan tak mau menikah dulu. Ekspresinya ketika dekat dengan Arkan seperti ekspresi pertama kali suka terhadap lawan jenis. Dia pintar sekali mengubah air wajahnya.
Ku bawa skrip naskah pulang, sebelum kerumah aku menjemput Junior terlebih dahulu. Dia sedang bersama dengan Ina di halte. "Ina apa ada yang menjemput?" tanyaku.
"Ina punya mama baru tante, sebentar lagi mama pasti jemput." senyumannya merekah begitu manis di wajah Ina. Aku ikut senang mendengar itu. Ekspresi senang seperti ini yang seharusnya ada pada anak-anak seusia Junior.
Junior benar-benar anak yang paling beruntung karena sepertinya dia tidak pernah merasa kesepian.
Pak Yu mengantarkan kami sampai rumah dengan selamat. Aku celingukan ketika mengetahui ada tentangga baru yang mengisi rumah di hadapan rumahku. Junior langsung berlari kerumah tersebut, disana ada seorang anak perempuan berkuncir dua. Wajahnya begitu dingin, dia akan tumbuh besar dengan wajah yang jutek.
Aku menyusul Junior yang tiba-tiba saja mengajak ngobrol anak perempuan tersebut. Tiba-tiba saja sepasang suami istri keluar dari rumah dan melihat kearahku dengan tatapan yang kaget. Mereka mengetahui bahwa aku adalah seorang model ambassador.
"Wah~ aku tidak percaya jika ternyata benar disini ada seorang seleb." katanya membuatku canggung.
"Apa kalian baru saja pindah?" tanyaku ramah.
"Mulai hari ini kita akan sering bertemu, saya Yuan dan ini suami saya Bastian." ucap Yuan.
"Saya Geya, dan ini anak saya Junior. Sayang, ayo salam dulu." Junior pun menurut, dia memberi salam pada sepasang suami istri yang baru pindah itu.
"Nah mulai sekarang Nila punya teman, Junior ini Nila. Usianya baru dua tahun."
__ADS_1
"Halo~ Nila." sapa Junior membuatku terkekeh.
Junior dan Nila mudah sekali akrabnya. Setelah perkenalan itu, Junior bermain dengan Nila sampai-sampai mengabaikan Arkan yang membawakan makanan kesukaan Junior.
Ku baca naskah dengan teliti, aku hanya berperan sebagai figuran yang berkarakter banyak mengkritik dan tidak mau mendengarkan kata-kata orang lain. Ini sangat sulit untukku. Tiba-tiba saja kepala Arkan sudah berada di pahaku. Aku menghiraukannya.
"Cuekin aja terus." katanya mulai memainkan tali-tali bajuku. Ku tepis tangannya karena jika tertarik sudah pasti tubuhku langsung terlihat.
"Kamu bilang kamu gak kan kesini."
"Mana bisa aku meninggalkan kamu sendirian."
Aku tak menjawabnya, aku fokus pada naskah. Sampai pada akhirnya pandanganku teralihkan pada pintu yang terbuka. Disana Ipra tengah berdiri, terdiam ditempat memandangi aku dan Arkan bergantian. Aku sama terkejutnya dengan Ipra.
"Aku cuma mau kasih bunga, maaf sudah mengganggu." katanya menyimpan bunga di sofa lalu melenggang pergi. Aku hendak mengejarnya namun Arkan menarik tanganku. "Jangan kejar dia." gumamnya.
Dan itu membuatku bingung, namun aku tetap memutuskan untuk mengejar Ipra. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Arkan sekarang, aku lebih mengkhawatirkan Ipra yang langsung pergi begitu saja. Ku kejar ia yang hendak masuk kedalam mobilnya.
"Tunggu Ipra."
"Apa? tunggu apa? kamu mau jelasin? jelasin soal yang aku liat?" wajah Ipra menandakan bahwa ia sangat marah.
"Selama bertugas aku selalu ingat padamu Geya. Aku selalu memikirkanmu agar kelak setelah beres bekerja aku dapat memelukmu untuk menghilangkan rasa lelah. Tapi apa? mengapa pemandangan begini yang aku lihat." wajah Ipra benar-benar kecewa.
"Pernahkah barang sedetikpun kamu ingat padaku?" pertanyaan itu sedikit menusuk jantungku. Aku menggigit bibir begitu ragu untuk menjawab.
"Geya, beri aku kepastian bahwa kamu itu memang mencintai aku dan sudah melupakan Arkan." Ipra menggoyang-goyangkan bahuku, dia memaksaku untuk mengatakan yang sebenarnya.
Sampai sekarang aku tetap diam membisu entah harus berkata apa.
"Beritahu semuanya pada Ipra." suara Arkan terdengar dari kejauhan sana. Dia berjalan dengan santai, menatapku dengan tatapan yang dingin.
"Katakan agar semuanya jelas." Arkan pun sama seperti Ipra yang ingin sebuah kepastian.
"Begini saja, ku beritahu dirimu Ipra~" BUG! Sebuah pukulan melayang dan mendarat di wajah Arkan.
"Semuanya karena kehadiran lu! Seandainya lu gak pernah muncul lagi, kehidupan gua dan Geya akan baik-baik saja." Ipra berkata dengan emosi yang meledak-ledak. Dia tidak berhenti memukul Arkan, keduanya berkelahi.
Aku sudah lelah dengan perkelahian mereka berdua. Aku berteriak meminta mereka untuk berhenti.
"Kumohon berhenti bertengkar!."
__ADS_1
"BERI AKU KEPASTIAN!" katanya bersamaan.
Aku memejamkan mata, "Aku tak bisa memilih, karena aku menyayangi keduanya."
"Ayolah, jangan serakah seperti ini. Jika kamu laki-laki tidak masalah kamu menikahi keduanya, tapi kamu ini perempuan Geya. Tidak ada istri yang memiliki dua orang suami." ujarnya membuatku kesal.
"Aku tidak peduli dengan ucapanmu itu Arkan. Aku tidak bisa memilih sekarang. Beri aku waktu untuk mencari tahu siapa yang lebih layak untuk Junior dan aku." kataku dan sepertinya itu membuat Ipra kalah terlebih dahulu sebelum berperang.
"Apa kamu menginginkan aku untuk menyerah?" tanya Ipra melangkah padaku.
"Tidak, bukan seperti itu."
"Perjuanganku selama ini tidak ada nilainya untukmu?" rasanya jantungku mencelos keluar.
"Tidak, Ipra. Maksudku bukan seperti itu."
"Lantas apa? setelah empat tahun aku bersamamu, itu tak cukup untuk membuatmu langsung memilih aku? mengapa harus bertele-tele menunggu waktu lagi?!" Ipra sedikit membentak aku.
"Itu karena cinta Geya lebih besar untukku." gumam Arkan membuat Ipra semakin terbakar api amarah.
"Katakan padaku apa yang harus aku lakukan agar kamu memilih aku dan meninggalkan lelaki brengsek itu. Katakan Geya!"
Aku diam seribu bahasa, hembusan angin semakin menusuk sampai ketulang. Aku dapat melihat wajah Arkan yang tidak mengkhawatirkan apapun, dia tahu bahwa aku tetap tak bisa memilih Ipra. Dia lelaki paling menyulitkan aku perihal perasaan.
"Tidak ada." jawabku pelan.
"Kalau begitu mengapa kamu tidak bisa memilih aku?"
Aku menelan ludah dengan susah payah. "Yang di katakan Arkan benar."
Aku mendongak menatap wajah Ipra yang memiliki luka.
"Maaf, cintaku pada Arkan lebih besar dari pada untukmu."
.
.
.
Tbc......
__ADS_1
Untuk yang ikut aksi di jalanan~ stay safe selalu ya ❤.