TIDAK DIINGINKAN

TIDAK DIINGINKAN
Chapter 14


__ADS_3

"Mau main golf?" tanyanya sembari menyantap camilan buatanku.


"Memangnya di hutan seperti ini ada?"


"Tentu saja ada." Arkan melangkah kedekat sebuah jendela yang ditutupi tirai, ketika dia menyingkap tirai tersebut terpampanglah sebuah lapangan golf yang sangat luas. Aku sangat terkejut karena bagaimana bisa ini berada dihutan.


"Lapangan itu pribadi milikmu?" Arkan mengangguk dengan mantap. Aku memicingkan mata lalu memukul-mukul tubuhnya.


"Kamu gila hah?, mengapa membuat lapangan golf seperti ini dihutan. Kamu tahu saat ini bumi sedang kritis, bagaimana bisa kamu menebang banyak pohon untuk kesenangan pribadi seperti ini?!" Arkan tidak menghindari pukulanku dia malah tertawa dan menikmatinya.


Aku terengah-engah karena terlalu bersemangat memukul Arkan. Ku singkap rambutku kebelakang dan pada saat itu juga tanganku di tarik oleh Arkan sampai aku menindih tubuhnya. Aku melotot hendak memukulnya lagi namun Arkan menahan tanganku. Dia tersenyum lalu mengecupku dengan sangat cepat. Mataku tambah melebar saat ia berbuat seperti itu. Arkan tertawa senang melihat ekspresiku. "Aku inget ekspresi ini, ini ekspresi sewaktu di pernikahan Dinar dan Vino." katanya terkekeh.


Aku berdesis, "Benar~ aku belum mendengar kabar Dinar setelah kejadian waktu itu."


"Dinar pulang kerumah Vino, dan mereka tinggal bersama lagi." kata Arkan sembari menyimpan tangan kanannya di bawah kepala sehingga menjadi bantal.


"Bagaimana bisa kamu tahu?"


"Aku bisa mengetahui segalanya." benar, Arkan kan memiliki cctv berjalan dimana pun.


Aku mengangguk-angguk lalu mengkerutkan kening, "Kamu mencari infomasi mengenai Vino dan Dinar?"


"Hm~" katanya membenarkan.


"Untuk apa?" tanyaku sedikit terkejut begitupun dengan Arkan dia juga mengeluarkan ekspresi terkejut.


"Em~ itu untuk... mengetahui apa mungkin Vino dan Dinar bertengkar lagi atau tidak." katanya menjelaskan. Aku percaya saja padanya, lagi pula sudah pasti begitukan.


Kami terdiam untuk beberapa saat, tangan kiri Arkan masih berada di atas pinggangku.


"Geya?" aku menoleh ketika Arkan memanggilku.


"Apa cincinnya tidak bisa dilepas saja ketika bersama denganku?"


Keningku berkerut-kerut, aku melihat ke arah cincin tunanganku dengan Ipra.


"Kenapa?" tanyaku.


"Kita ini kan sedang berselingkuh, seharusnya kamu melepas semua barangmu dengan pacarmu ketika bersama dengan selingkuhan, AW!." Arkan meringis ketika aku menyentil bibirnya.


"Sembarangan sekali, selingkuhan apaan." gumamku kesal. Aku bangkit dari atas tubuh Arkan lalu duduk di sofa, sementara itu Arkan meletakkan kepalanya di atas pahaku. Dia menarik tanganku dan memintaku untuk memainkan rambutnya. Aku menurutinya.


"Lalu apa namanya jika bukan selingkuh? Kita selalu bersama, kita memiliki perasaan cinta dan kita berciuman tadi. Apa namanya jika bukan berselingkuh?"


Aku menarik-narik rambut depan Arkan sembari memikirkan perkataan Arkan. Ada benarnya juga, ku pikir aku dan Arkan memang berselingkuh. Ku pandangi cincin tunangan yang semakin hari semakin mencekik diriku. Mau sampai kapan aku menyakiti Ipra?.

__ADS_1


"Kalau begitu apa aku harus memecatmu?" pertanyaanku ini membuat Arkan terkejut. Dia melotot dengan gemas padaku.


"Kamu tega melakukan itu? kamu lebih memilih Ipra di bandingkan aku?" tanya Arkan sangat kesal. Aku memainkan dagunya lalu tersenyum. "Aku ini akan menikah Arkan, ku pikir apa yang kita lakukan ini berlebihan."


"Aku hanya mencoba membuat dirimu tenang. Aku tahu kamu hanya bisa menjadi dirimu sendiri ketika bersama denganku. Aku tahu kamu hanya akan merasa aman ketika bersama dengan aku. Aku tahu itu." Arkan mendudukkan tubuhnya dengan menghadap ke arahku.


"Ku pikir ada benarnya perkataanmu saat itu, aku harus berhenti menyakiti diriku sendiri. Bagaimana jika kita pergi dari kota ini, ditempat yang baru kita bisa memulai lembaran baru juga. Aku akan menikahimu lagi, kita akan berkebun bersama, kita juga akan membuat adik untuk Junior." aku terkekeh ketika Arkan mengatakan itu.


"Kamu mau?" tanyanya dengan ekspresi memohon.


"Mau apa?" aku balik bertanya pura-pura tidak tahu.


"Membuat adik untuk Junior, aku benar-benar sudah siap sekarang ini. Rumah ini kedap suara, kamu bisa berteriak sepuasnya." Arkan menaik turun kan alisnya. Aku tidak mengerti bagaimana bisa aku menyukai Arkan yang seperti ini.


"Aku tidak mau." aku menolaknya mentah-mentah.


"Hah~ apa aku perlu melakukan sedikit kekerasan kepadamu? seperti contohnya menutup matamu dengan dasi, memborgol kedua tanganmu lalu memintamu untuk memanggilku daddy?" wajah Arkan mendekat padaku dan itu membuatku merinding. Dengan cepat aku mendorong wajah Arkan. "Kamu gila." gerutuku pergi dari ruang tamu menuju ruang keluarga untuk melihat Junior.


Namun, Junior tidak ada disana. Mendadak aku panik, aku mencarinya kesetiap ruangan. Rasanya jantungku mau copot tadi, saat aku membuka kamar mandi Junior tengah membuang air besar. Ekspresinya lucu sekali. Dia kesulitan untuk membuang kotorannya. Arkan sampai ketawa, dia mengelus-elus tubuh Junior dan menyemangati Junior.


Saat perjalanan pulang, ponselku mendapatkan banyak sekali pesan dan panggilan tidak terjawab dari Ipra. Aku menggigit bibir karena sudah pasti Ipra berada di rumahku saat ini dan jika dia lihat Arkan. Ipra akan marah besar.


Dan benar saja, baru saja Arkan keluar dari mobil. Ipra sudah memukulnya bahkan mungkin tidak akan berhenti jika aku tidak melerai amarahnya.


"Lu pikir lu siapa berani-beraninya bawa calon istri gue sampe pulang malem kaya gini. Lu itu cuma sampah yang udah dibuang."


"Gue punya berhak untuk dekat dengan Geya karena Junior." kata Arkan sembari meludahkan darah.


"Gue tau niat lu, niat lu itu bukan buat Junior tapi untuk dapetin lagi Geya. Gue tegaskan sama lu, lu udah ga punya berhak untuk deket-deket sama Geya."


Arkan tertawa hambar, dia melangkah mendekat kepada Ipra. "Geya itu baru calon lu, belum sepenuhnya milik lu. Gue bisa milikin Geya kapanpun bahkan seharian ini. Iya kan Ge?" Arkan menatapku dengan senyuman licik.


Mendadak aku kesulitan untuk menelan ludahku sendiri. Ketika Arkan pergi meninggalkan rumah, pak Yu membawa Junior masuk kedalam rumah sementara aku dan Ipra terdiam di halaman rumah. "Apa yang sudah kamu lakukan dengan Arkan di belakangku?"


Aku terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Aku benar-benar seperti orang yang kepergok selingkuh saat ini.


"Jawab." katanya memaksa.


"Aku tidak melakukan apapun dengannya. Arkan hanya mencoba untuk menenangkan aku dari terror akhir-akhir ini." jelasku dengan nada yang bergetar. Mendadak aku takut sekali kepada Ipra ketika dia sedang marah.


"Kamu bisa menelfonku kan? mengapa harus meminta Arkan untuk berada disisimu?"


"Aku tidak mau kamu peduli padaku karena aku meminta bantuan padamu. Jika memang kamu peduli padaku, kamu akan datang ketika mendengar beritanya dari siapapun. Setidaknya itu yang dilakukan Arkan untukku. Dia hanya mencoba agar aku tetap aman karena itu sudah tugasnya sebagai pengawalku."


"Pecat dia, aku akan mencarikan pengawal baru untukmu." katanya melangkah mendekat padaku lalu melepas jaket yang diberikan Arkan untukku dan menggantinya dengan jaket dirinya.

__ADS_1


"Aku tidak mau. Arkan sudah aku pekerjakan sampai waktu yang ditetapkan."


Ipra membuang napas frustasi, "Ayolah Geya~ aku benar-benar tidak ingin bertengkar denganmu hanya karena lelaki brengsek itu. Dengarkan aku, menurutlah padaku. Semuanya untuk kebaikanmu."


"Yang tahu baik atau tidaknya untukku hanya diriku sendiri. Pulanglah aku lelah." aku melangkah melewatinya namun Ipra menarik tanganku.


"Maafkan aku." katanya menyesal. Aku membuang napas lalu menggangguk.


"Aku akan menemanimu malam ini."


Ku tatap langit-langit atap, aku tidak pernah tahu jika Ipra memiliki sifat seperti itu. Mendadak aku tidak nyaman ketika dia mulai mengatur kehidupanku, apalagi saat dia akan memecat Arkan seenak jidatnya.


Aku tahu dia sangat takut aku rujuk dengan Arkan. Sekarang ini ada yang mengontrol perasaanku terhadap Arkan, cincin pertunangan.


Aku benar-benar bisa ingat Ipra ketika berada di sisi Arkan.


Disisi lain aku memikirkan bagaimana bisa Ipra tahu aku pergi dengan Arkan?.


.


.


Arkan Pov :


Ku lempar tubuhku keatas ranjang, sesekali menjilat darah yang ada di sudut bibir Arkan.


Aku melamun untuk beberapa saat sampai akhirnya ponselku berdering. Panggilan dari Joe. Aku berbincang dengannya sebentar untuk menerima informasi-informasi yang masih abu-abu di masa lalu. Mengenai Geya yang lupa ingatan saat kecil. Bagaimana bisa itu terjadi?.


Setelah panggilan berakhir, tiba-tiba saja pikiran jahat ku keluar. Mendadak aku ingin sekali menculik Geya. Aku tertawa sendiri ketika membayangkannya. Membayangkan Ipra tak jadi menikah dengan Geya.


Ku lirik jam tangan menunjukkan jam setengah sepuluh malam. Aku perlu bersenang-senang sejenak.


Ku nyalakan mesin mobil lalu melajukannya dengan santai. Bar tidak terlalu ramai malam ini. Aku berjalan melewati wanita-wanita malam yang hendak menggoda diriku. Aku berjalan ketempat yang memang sudah biasa berkumpul dengan teman-teman. Disana aku melihat Joe dan Ergy juga satu orang lagi aku tidak dapat melihatnya karena dia duduk membelakangi. Dan saat aku berjabat tangan dengan teman-temanku. Aku bisa melihah lelaki itu, dan ternyata aku mengenalinya. Dia adalah fans Geya yang saat itu ku tepis tangannya. Dia tersenyum padaku lalu mengulurkan tangannya untuk berkenalan denganku. "Rio." katanya sembari tersenyum.


Kami mengobrol banyak hal, aku tak ikut minum karena harus menyetir.


"Apa Geya baik-baik saja akhir-akhir ini?" Tanya Rio padaku.


Ku nyalakan api lalu mengisap dan mulutku mengeluarkan asap. "Ya dia aman." jawabku seadanya.


Aku menatap seorang wanita yang sedari tadi memandangiku. Dia duduk di dekat meja bar, wanita itu sesekali tersenyum padaku. Namun ku hiraukan. Ah, aku merindukan Geya gumamku dalam hati.


Rio gak berhenti membicarakan Geya, aku tidak suka karena ku pikir hanya aku seorang yang layak memandang Geya seperti ini apa. Lelaki ini benar-benar fanatik, bahkan case handphonenya saja sampai wajah Geya.


Aku berjalan keluar dari bar, wanita itu mengetuk kaca mobilku. Aku menurunkan kaca dengan malas. Dia memberiku secarik kertas lalu pergi. Saat aku membukanya di sana bertuliskan 'HATI-HATI'.

__ADS_1


Arkan Pov End.


TBC............


__ADS_2