TIDAK DIINGINKAN

TIDAK DIINGINKAN
Chapter 5


__ADS_3

Berita mengenai aku yang masuk rumah sakit menyebar luas di sosial media. Dan, paman banyak sekali tersenyum hari ini. Hah~ tentu saja dia akan mendapatkan komisi yang cukup banyak setelah berita ini mencuat.


Aku berjalan keluar gedung ditemani oleh Lucy, namun tiba-tiba saja seseorang tengah berjalan cepat dan sepertinya dia tidak melihat kedepan alhasil membentur tubuhku dan sebuah foto keluar dari jaket hitamnya lalu berserakan dilantai, aku membantunya untuk mengumpulkan foto-foto tersebut. Fotonya menampakkan seorang bayi dan anak kecil. "Anak anda lucu sekali." kataku memberikan foto yang ku kumpulkan itu pada pemiliknya lagi.


"Dia bukan anak ku." gumamnya mengambil foto dari tanganku dengan cara yang galak. Pria tersebut langsung berjalan lagi lalu berhenti dihadapan lift khusus atasan.


"Kenapa pria mencurigakan seperti itu dibiarkan masuk kedalam gedung." aku mengangkat bahu tidak tahu.


Arkan membuka kan pintu untukku dan Lucy, kami akan melakukan pemotretan di dekat pantai siang ini. Cuacanya cerah sekali hari ini, ayah menyusul bersama Junior dan bibi Ahn. Mereka sedang bermain-main dengan ombak kecil. Setelah selesai berganti pakaian, aku mendekati Junior yang sedang bermain pasir.


"Mami.. mami cantik." gumamnya memelukku, sontak aku langsung tertawa.


"Mami.. om.. itu juga ganteng, cocok ama mami." Junior menunjuk kearah Arkan yang sedang duduk membaca majalah. Senyuman di mulutku perlahan pudar. "Junior, sudah makan?" tanyaku mengubah topik pembicaraan. Junior mengangguk saja lalu memain-mainkan pasir.


"Mami, teman-teman Juniol bilang meleka..akan.. belmain belsama papinya saat acala..." Junior menghentikan ucapannya, ia memasukkan beberapa kumang ke ember kecilnya.


"Saat acala... piknik ta..taman.. belmain..." lanjutnya dengan raut wajah yang muram.


"Papi..kan udah tua..mami.." katanya melihat pada ayah.


Benar, selama ini aku mengajarkan Junior untuk menyebut ayah dengan sebutan papi. Aku menoleh pada ayah yang tiba-tiba saja sudah bersama dengan Arkan, sejak kapan mereka menjadi akrab lagi?.


"Bagaimana jika berangkat dengan mami saja?"


"Ma..mami suka bohong, tiba-tiba.. mami ti..tidak bisa ikut." Junior menyendok pasir lalu dimasukkan juga kedalam ember. Rasanya aku di tampar oleh Junior. "Mau berangkat dengan om Ipra?" usulku lalu Junior mendongak menatapku dengan tatapan yang berbinar, bocah kecil ini tersenyum lalu mengangguk sangat bersemangat. Sepertinya Ipra memang membawa kebahagiaan untuk Junior, mendengar namanya saja sudah membuat Junior senang.


Selama pemotretan Arkan memandangiku terus menerus dan itu membuatku tidak nyaman. Fotografer nya mengizinkan Junior untuk foto bersamaku, dan Junior benar-benar mengerti gaya. Rasanya jauh lebih rileks ketika bekerja bersama anak sendiri, hanya saja kasihan Junior, dia pasti kelelahan.


Setelah aku selesai, sekarang giliran model yang lainnya untuk pemotretan. Lucy langsung memberikan aku sebuah handuk, tak lupa juga dengan Junior.


Junior produktif sekali hari ini, dia berlari kesana-kemari membuatku kewalahan. Namun, aku benar-benar menikmati hari ini.


"Berhenti menatapku, tatapanmu terlalu senonoh." tegurku mendaratkan bokong di kursi kayu.


"Saya sedari tadi memandangi Junior bukan nona." katanya membuatku melotot malu.


"Tidak usah berdalih." aku mengambil handuk basah lalu menempelkannya ke wajahku yang merasa begitu panas.


Dan sepertinya aku memang terlalu ke geeran, Arkan terus memperhatikan Junior bahkan dia meringis ngeri ketika melihat Junior akan terjatuh atau mendekati bahaya.

__ADS_1


"Apa tidak akan terjadi apa-apa pada bocah itu, saya rasa dia terlalu aktif." Arkan mulai cemas.


Aku tersenyum tipis, "biarkan saja, dia sedang ingin tahu mengenai banyak hal."


"Apa termasuk ingin tahu siapa ayahnya?" tanyanya langsung. Aku mengangkat alis terkejut, "sepertinya tidak." jawabku asal. Dan sejurus kemudian wajah Arkan berubah menjadi murung.


Tiba-tiba saja datang seorang penggemar yang sengaja datang ke pantai ini hanya untuk bertemu dan berfoto denganku. Aku benar-benar terharu sekali melihat beberapa fansku yang berjuang untuk bertemu denganku.


Semuanya mendapat giliran untuk foto, sampai pada fans seorang pria, dia hendak merangkul ku namun dengan cepat Arkan menepis tangan lelaki tersebut. "Sopan." tegurnya dengan begitu tegas. Aku tertawa pelan ketika melihat sisinya sebagai Letnan Kolonel keluar.


"Pak pengawal, ini makan siang untuk bapak." Lucy memberikan kardus makanan tersebut pada Arkan. Aku mengangkat alis ketika melihat Lucy senyum-senyum pada bodyguardku.


Arkan menerimanya dengan senyuman yang begitu menawan, dan itu membuat jantungku memainkan alat musik drum. Saat Arkan makan Lucy menemaninya.


"Pak pengawal mau kopi?"


"Pak pengawal butuh permen?"


"Pak pengawal mau istirahat?"


"Pak pengawal mau aku ambilkan sesuatu?"


Aku memijat kening lalu membuang napas, kupingku sudah jengah mendengar ocehan Lucy terhadap Arkan.


"Dia? pak pengawal?" tanyanya terkejut.


"Dan dia sudah punya anak." kataku menutup tirai jendela mobil.


"Benarkah itu? Pak pengawal terlihat seperti seorang bujangan. Ah~ bagaimana ini aku menyukai pak pengawal." dan Lucy langsung kaget sendiri karena tanpa dia sadari dia sudah menyatakan perasaannya pada Arkan.


Arkan tidak bersuara sama sekali, dia terdiam saja mendengar percakapanku dengan Lucy. "Kenapa tidak mencoba merebut pak pengawal dari isterinya." kataku asal bicara.


"Apakah itu boleh dilakukan?" aku terkekeh karena rupanya Lucy anak yang polos.


"Tentu saja tidak, aku hanya membual. Kamu itu masih belia, banyak diluar sana lelaki yang lebih pantas untuk perempuan ceria seperti mu." aku tersenyum padanya, aku dapat melihat wajah Lucy murung namun sejurus kemudian dia tersenyum dan "aku hanya kagum saja pada pak pengawal. Maaf kan aku karena sudah lancang menyatakan perasaan." katanya menyesal, Arkan hanya menjawab it's okay.


Sesampainya dirumah, bibi Ahn mengajak pak Yu dan Arkan untuk makan malam bersama. Junior sedang asik menonton film anak-anak bersama ayah. Lagi-lagi aku melihat kedekatan Arkan dan ayah, seperti tidak ada masalah antara keduanya.


Ayah memimpin doa untuk makan malam kami semua, saat aku hendak mengambil lauk kebetulan sekali Arkan juga mau mengambilnya. Alhasil aku mengambilkan ikan tersebut untuknya, Arkan berterimakasih lalu tersenyum. Dia, juga bilang dia merindukan masakkanku lalu bibi Ahn dan ayah menggoda diriku dengan menyebutkan kata rujuk. Aku tidak mengubris semua itu, aku kembali fokus menyuapi Junior.

__ADS_1


Selesai makan malam dan membersihkan piring-piring, aku melihat Arkan tengah membantu Junior membacakan buku cerita. Junior duduk di atas kaki Arkan, kepalanya menyandar pada dada pria tersebut. Aku menelan ludah karena melihat Junior begitu mirip dengan Arkan.


Tiba-tiba saja Junior berkata, "Mami... bolehkah om pengawal...yang...yang mene...maniii.. junioll ke acalaa..ta..taman belmain?"


Aku terdiam lalu menatap Arkan, "Kamu menyuruh Junior untuk mengatakan ini?" tuduhku padanya.


"Aku sama sekali tidak tahu mengenai acara yang di katakan oleh Junior dan tentu saja aku tidak menyuruhnya." kesalnya.


"Mami kan udah bilang, kamu akan pergi bersama om ipra."


"Gaaa~ juniol ga mauuuuuu..." mendadak Junior berubah menjadi rewel, dia hanya ingin pergi bersama dengan Arkan. Sementara itu aku takut Arkan membawa Junior kabur dari ku. Pikiranku negatif sekali.


"Mami ga izinin kamu buat berangkat sama om pengawal."


"Aku tidak akan melukai Junior." kata Arkan menurunkan Junior lalu menyuruhnya untuk masuk kedalam kamar, dan Junior menuruti perkataan Arkan.


"Apa yang kamu hasut pada Junior?"


Arkan membuang napas perlahan lalu berjalan mendekatiku. "Aku tidak pernah menghasut apapun, aku tahu Junior anakku. Aku tidak akan mengambil Junior darimu, semua yang diinginkan Junior tadi murni dari dirinya. Dan aku juga tidak akan memaksa dirimu untuk mengizinkan Junior pergi ke acara itu bersama ku."


Saat aku hendak berbicara ayah tiba dari belakangku.


"Kamu tidak perlu khawatir, ayah akan ikut ke acara taman bermainnya cucu ayah. Biarkan Arkan menemani Junior, dia juga butuh kedekatan dengan anaknya." kata ayah membuat hatiku tergerak, alhasil aku mengizinkannya untuk pergi menemani Junior. Arkan senang sekali bahkan dia sampai akan memelukku namun dengan cepat aku mendorong tubuhnya, keandaanya menjadi sedikit aneh.


Arkan banyak-banyak berterimakasih padaku.


Sampai pada hari keberangkatan, aku yang sedang mengobrol dengan Julian sesekali mengirim pesan pada ayah untuk menanyai keandaan Junior. Namun, ayah hanya menjawab semua aman dan mengirimi sebuah foto yang menunjukkan Arkan tengah menggendong Junior. Tanpa aku sadari, aku tersenyum melihat foto yang begitu enak di pandang ini.


"Jika kita berkolaborasi dengan model yang satu ini, aku rasa kita bisa mendapatkan keuntungan yang cukup banyak. Dan dia seniormu, kamu harus begitu sopan padanya. Pemotretannya akan dilakukan di villa milik ibuku." jelas Julian.


"Apa aku boleh tahu aku akan berkolaborasi dengan siapa?" tanyaku dan Julian memanggil model tersebut.


Aku melotot ketika mengetahui model yang dimaksud Julian adalah seseorang yang ku kenali di masalalu.


Dia adalah...


"Salam kenal, Saya Alifa."


TBC......

__ADS_1



Tipe hot daddy banget ga ya Arkan? wkwkwk.


__ADS_2