
Hari Kedua Cuti.
Aku dibuat geleng-geleng kepala oleh kelakuan Arkan dan Ipra. Ku pikir Ipra akan menjauh dariku tapi nyatanya tidak. Mereka berlomba-lomba untuk mengambil hatiku. Keduanya menempel padaku dan Junior sampai-sampai aku kewalahan dengan sikap mereka yang tidak mau kalah.
Untuk seusia Junior mungkin senang jika ada yang menemaninya bermain sementara aku? aku luar biasa risih dengan keberadaan mereka di rumahku ini.
"Aku cuti bukan untuk menerima tamu dari pagi sampai larut malam." gumamku sembari mencuci piring.
"Loh~ aku ini kan bukan tamu tapi calon penghuni rumah ini." seru Arkan mengeringkan alat dapur.
"Iya penghuni rumah ini, bukan sebagai suami tapi sebagai pembantu." Ipra ikut bersuara, kalimat Ipra membuat Arkan kesal. Hampir saja Arkan melempar piring yang di genggamnya ke pada Ipra, aku langsung melotot dan Arkan tidak jadi melempar piringnya.
"Apa kalian tidak ada yang harus dikerjakan?" tanyaku mematikan kran.
"Ini kan aku sedang bekerja sebagai pengawalmu. Harusnya kamu bertanya pasa lelaki pendek itu saja." Arkan menunjuk Ipra. Ya walaupun bagi Arkan pendek tapi jika Ipra sedang bersanding denganku Ipra tetap lebih tinggi dariku.
"Aku sudah menyuruh bawahanku untuk menggantikan aku." ucap Ipra sembari memainkan balok-balok bersama Junior.
Tiba-tiba saja pintu dan ponselku suara bersamaan. Arkan membukakan pintu dan aku menerima panggilan telfon. Lucy memberitahu aku bahwa ada beberapa barang pentingku yang tertinggal diruangan make up. Sehingga aku harus mengambilnya. Aku menoleh ke arah pintu, ternyata ada Nila dan ibunya disana. Yuan meminta bantuan padaku untuk menitip Nila, karena katanya dia harus pergi kepersidangan untuk mengurus perceraian sepasang suami istri. Aku baru tahu jika Yuan berprofesi sebagai pengacara. Dengan senang hati aku membantu Yuan.
Nila dan Junior ku titipkan pada Ipra karena aku harus mengambil barang bersama dengan Arkan. Ipra sempat mendebat, katanya biar dia saja yang menemani aku pergi tapi aku menolak. Ipra akan lebih baik menjaga anak-anak.
"Maaf sudah membuatmu risih." suara Arkan memecah keheningan didalam mobil.
"Tidak apa-apa. Aku sedikit terhibur kok." hanya sedikit saja, banyaknya aku kesal.
"Aku berencana membawamu bertemu dengan papa dan mama."
"Untuk apa?" tanyaku keheranan.
"Untuk menjaga hubungan saja, lagi pula mama memang sudah mengoceh ingin bertemu dengan kamu." jelas Arkan membuatku tidak percaya.
"Bukankah ibu tidak menyukai aku?"
"Kamu sendiri menyaksikan bagaimana ibu berubah kan saat di rumah sakit dulu." aku memutar memori otak pada kejadian dulu, dimana ibu berubah menjadi sedikit baik padaku.
"Apa ibu sudah membaik?"
"Hm~ jauh lebih baik dari sebelumnya."
"Syukurlah." aku tersenyum pada Arkan dan sepertinya itu membuat Arkan gemas. Dia mencubit pipiku sembari terkekeh.
"Kenapa manis banget sih." katanya semakin gemas.
Aku berjalan memasuki lobi yang di ikuti oleh Arkan di belakang. Di lobi lumayan banyak orang, tumben sekali. Aku melihat Lucy tengah berbicara dengan seseorang.
"Nona, saya perlu ke toilet dulu." ucap Arkan tiba-tiba formal. Aku mengangguk lalu Arkan pun lari-lari kecil sudah dibisa menahan.
__ADS_1
"Lucy?" panggilku.
Perempuan berambut pendek itu menoleh padaku, namun pandanganku teralihkan oleh seseorang yang tidak asing dimataku.
"Vino." gumamku nyaris tak bersuara.
"Kita bicarakan lagi ini nanti." katanya pada Lucy lalu bergegas pergi begitu saja.
Raut wajah Lucy menampakkan sejuta kebingungan begitupun denganku, aku bingung karena rupanya Lucy mengenal Vino. Di lift kami tidak saling berbicara, keadaannya sepi sekali. Aku ingin bertanya bagaimana bisa Lucy kenal dengan Vino, tetapi aku mengurungkan niatku karena aku tidak cukup dekat dengan Lucy untuk mengusik kehidupannya.
"Manager bilang barang-barang nona yang ini harus dibawa, pak Julian juga meminta nona untuk pindah keruangan yang baru. Yang agak luas dan lebih aman." jelasnya mengantarku keruangan yang baru. Saat Lucy membukakan pintunya untukku, aku cukup terkejut dengan fasilitas yang tambah layak untukku.
"Bagaimana apa kamu menyukainya?" tanya Julian yang tiba-tiba saja ada di belakangku.
"Ruangan ini dibuat khusus untuk model terbaik kami, yaitu kamu Geya." Julian mempersilahkan aku duduk di sofa.
"Apa managermu sudah memberitahu mengenai film layar lebar?"
Aku memiringkan kepala sedikit lalu mengetahui apa maksudnya semua ini. "Anda memberi fasilitas baru untuk saya, agar saya menerima tawaran sebagai figuran?" tanyaku. Pantas saja mengapa tiba-tiba mendapat kemewahan dimasa cutiku, ternyata karena peran figuran itu.
"Ini akan menguntungkan kamu Geya. Kamu bisa debut sebagai aktris dan tentunya penghasilanmu akan semakin banyak juga."
Aku mengkerutkan kening, "Dan juga akan semakin banyaknya peraturan untukku nantinya. Sudah cukup dengan status dan Junior yang di sembunyikan. Aku tidak mau menyembunyikan apapun lagi." Ageni terlalu mencekik untuk aku yang suka kebebasan.
"Itu semuanyakan untuk kebaikan karirmu juga. Agensi sudah memberikan semua fasilitas ini untukmu, setidaknya ikuti apa yang baik untuk karirmu." Julian melenggang pergi setelah memaksa aku untuk tetap debut sebagai aktris.
"Kamu ingin aku mendapatkan sasaeng fans yang lebih banyak?" tanyaku menutup pintu mobil.
"Tentu saja tidak, ku pikir menjadi aktris itu salah satu pekerjaan baik kan."
"Baik katamu? kalau aku menjadi seorang aktris maka aku akan beradu akting sebagai pasangan dengan lelaki manapun." aku kesal.
"Oh~ benar juga. Kalau begitu jangan jadi aktris dan berhenti saja sebagai model. Aku sudah muak dengan para lelaki mata buaya yang bisa melihat tubuh seksimu setiap waktu di majalah." seru Arkan kesal yang lucu.
"Sifat plin-plannya keluar." gumamku membuka botol minuman.
Tiba-tiba saja terlintas pertanyaan di benakku.
"Aku melihat Vino dan Lucy tadi, bagaimana bisa Lucy mengenal Vino?" aku asal bertanya saja pada Arkan yang mungkin tidak tahu menahu tentang itu.
"Kamu tidak tahu ya Lucy itu sudah menikah."
"Benarkah?" aku terkejut.
"Dia itu wajahnya saja yang polos dan muda aslinya lebih tua darimu. Lucy istri tuanya Vino."
Rasanya tenggorakanku kemasukan tutup botol minuman. Aku tersedak yang mengakibatkan muntah air, dengan sigap Arkan langsung membantu aku.
__ADS_1
"Sebegitu kagetnya kamu?"
"Bagaimana bisa aku tidak kaget. Uhuk! huk!. Ini berurusan dengan temanku Dinar." aku mengelus-elus leher mencoba untuk meredakan rasa panas yang ada didalam leher.
"Kemarin lusa baru saja Dinar memberitahu aku bahwa dia istri keduanya Vino, aku tidak pernah berfikir bahwa ternyata Lucy lah yang istri pertama Vino."
"Aku tidak kaget sama sekali karena aku sudah tahu itu sejak lama."
"Lantas mengapa kamu tidak memberitahu aku, setidaknya aku bisa membuat Dinar sedikit lebih baik!." mendadak aku dan Arkan mendebat pernikahan orang lain.
"Kenapa juga aku harus memberitahu dirimu? pada dasarnya itu bukan urusan kita kan Geya. Biarlah mereka mengurus masalah mereka sendiri." Arkan mencoba memberitahu aku, tetapi aku tak sependapat dengannya.
Arkan menarik napas lalu menggenggam tanganku. "Jangan libatkan dirimu hanya karena teman dekat. Bagaimana jika karena saranmu ternyata masalahnya semakin runyam, mereka sudah sangat dewasa untuk menyelesaikan semuanya Geya. Kamu cukup mendengarkan dan menemani Dinar saja." Arkan menatapku sangat lembut. Aku menelan ludah mencerna ucapan Arkan yang ternyata ada benarnya.
"Kita pulang ya, jangan pikirkan sesuatu yang tidak seharusnya kita pikirkan. Hm?" aku menggangguk saja menurut dengan apa yang dikatakan oleh Arkan walau sebenarnya aku tetap masih memikirkan Dinar.
Vino terlalu brengsek untuk Dinar.
.
.
Saat aku pulang aku mendapati Ipra, Nila dan Junior sudah terlelap di atas karpet. Mereka kelelahan bermain, cepat-cepat aku menyiapkan makan malam bersama dengan Arkan.
"Kita seperti memiliki tiga anak." bisik Arkan memelukku dari belakang. Aku terkekeh, "kenapa kamu berpikiran kaya gitu?".
"Kamu liat aja, kita pulang kerja dan mendapati dua bocah tertidur karena cape bermain lalu kita yang lelah seharian bekerja tetap menyiapkan makan untuk kelangsungan hidup tiga bocah itu." aku terkekeh lagi.
Ku iris tipis-tipis bawang, tiba-tiba saja Arkan mengecup leherku. "Wangi." gumamnya menempelkan lagi bibirnya di leherku.
Aku menggeliat, "Aku lagi masak Arkan." kataku mencoba menghentikan Arkan tetapi dia malah semakin panas. "Masaknya nanti aja, kan bisa beli." katanya memutar tubuhku lalu mencium bibirku. Tak ada penolakan dari dalam diriku, dan aku melupakan semua pikiran runyamku karena ciuman yang diberikan oleh Arkan. Dia menarik ikat rambutku membiarkan rambutku tergerai, itu karena Arkan lebih suka jika rambutku menutupi leher.
"Arkan." bisikku disela-sela ciuman. Aku tetap ingat harus masak makan malam.
"Aku harus~ hah~ masak~" Arkan tidak mendengarkan aku, dia tetap pada aktivitasnya.
Napasku tersenggal-senggal, sudah lama aku tidak merasakan perasaan seperti ini. Aku ingat ketika Arkan menyentuhku untuk pertama kalinya. Arkan mengecupku dan aku bisa merasakan bahwa Arkan tersenyum.
Dan tiba-tiba saja.
"Apa makanannya sudah jadi?"
Tbc......
Kata Arkan dalam hati "GANGGU TEROS!" 😂😂.
__ADS_1