
Ku raih tas berisikan laptop dan peralatan lainnya. Koperku tertinggal di mobil Arkan. Aku berjalan dengan lunglai dan berharap tidak bertemu dengannya seharian ini.
Seseorang menghampiriku, dia menggunakan kaos hijau yang basah oleh keringat dan celana army aku tidak tahu namanya. "Ga dateng bareng sama Arkan?" aku menggelengkan kepala.
"Tumben datengnya siang, temen-temen kamu yang lain udah dateng dari kemarin malem."
"Ah~ itu karena semalam aku menginap dirumah orang tuaku, jadi aku ga bisa dateng secepat itu."
"Sini biar aku bantuin." lelaki itu meraih tasku lalu membawanya kedalam mess.
"Met istirahat." aku tersenyum dan berterimakasih. Mess sedang sepi karena sepertinya para Kowad tengah pergi melakukan aktivitasnya.
Aku membereskan kasur yang akan aku tempati. Betapa terkejutnya aku ketika melihat ranjang milik Dinar, dia memasang kelambu sehingga seperti tenda. Semuanya berwarna ungu, terang sekali sudut kamar bagian timur. Dinar menghiasnya seperti kamar sendiri. Astaga tanpa aku sadari aku tertawa dan pemiliknya datang.
"Kenapa? ada yang salah sama kasur gue?" tanyanya galak.
"Engga kok engga, tapi memangnya gabakalan di marahin ya?" tanyaku menuruni tangga.
"Kalo gue kena marah, nih bakal gue hajar sama ini." Dinar membusungkan dadanya yang besar.
"Udah ayo, udah mau mulai nih syutingnya."
Aku bergegas mengambil kamera dan peralatan lainnya.
"Karena ini documentery film, kalian cukup melakukan aktivitas sehari-hari saja." ucap ketua lalu kami mulai meliput.
Aku memotret beberapa anggota yang sedang berbincang, sesekali juga memotret hewan-hewan yang berkeliaran. Sebuah batu kecil mendarat di kakiku, "Hey cantik, foto kita dong." aku menoleh ke sumber suara. Itu adalah suara lelaki yang tadi membantuku, dia bersama segerombolan lainnya memintaku untuk memotret kebersamaan mereka.
"Satu...Dua...Ti...Ga.. Okey hasilnya bagus."
"Lagi dong lagi~" mereka mengubah posisi lalu kembali bergaya.
"Okey~" sahutku.
"Sekali lagi, sekali lagi tunggu." Aku mengangguk saja karena ini sudah menjadi kebiasaanku dimintai memotret terus-menerus. Kali ini mereka mengajak seseorang untuk foto, senyumku perlahan luntur ketika melihat yang mereka seret adalah Arkan. Anak-anak itu menempatkan Arkan di tengah-tengah.
"Satu..Dua...Ti...Ga. Selesai~" Dan mereka semua langsung menyerbuku, ingin melihat hasil fotonya. Aku benar-benar berdesakan dengan delapan orang lelaki.
"Eh~ mata gue kelilipan itu di fotonya."
"Hahaha, liat-liat muka si musang."
__ADS_1
"Ini juga apaan badannya miring kaya mau patah gini."
Aku tertawa mendengarkan celotehan mereka semua. "Okey, cukup liat fotonya. Kembali tugas." Arkan membubarkan para anggotanya.
Aku kembali memotret kejadian-kajadian tidak terduga lainnya. Arkan menarik tanganku, lalu mengucapkan kata maaf. Aku menepisnya dan tidak ingin berbicara dengannya. Lagi. "Geya, aku minta maaf udah ninggalin kamu semalam. Kamu kenapa ga angkat telfon aku? Aku pikir kamu masih dirumah, tadi aku ketemu ayah dan katanya kamu udah pergi. Gey~"
Kali ini aku menepisnya cukup keras. "Ayo kita bersikap seolah kita tidak pernah kenal dan tidak pernah menikah." aku pergi meninggalkannya di lapangan. Aku tahu kali ini aku lah yang keterlaluan, aku tidak bisa mengerti Arkan. Aku hanya ingin dia sadar bahwa sekarang ini dia sudah menikah, dia sudah tidak seharusnya ikut campur urusan mantan kekasihnya sekalipun dia masih menyimpan rasa. Dia harus sadar bahwa aku ini adalah istrinya.
Aku pergi berjalan entah kemana, aku belum cukup tahu tempat-tempat yang ada disini.
"Kalo udah menikah itu kan seharusnya engga perlu tinggal di mess toh, lagipula letkol ini kan punya rumah dinas disini."
Ternyata ada banyak orang di tenda ini, aku masuk lalu memberi salam.
"Maaf mengganggu, saya Geya dari tim documentry." Sontak semuanya langsung memintaku untuk memotret mereka. Mereka dengan antusias melakukan pose candid.
"Cobalah, ini kue tentara." aku mencicipinya namun sekuat apapun aku menggigitnya kue itu tidak patah.
"Keras kan? Hahaha, anak ini polos banget." katanya, mereka menertawaiku.
"Ini minum es teh aja."
Aku pikir ibu-ibu yang tinggal disini tidak bergosip tapi nyatanya sama saja dan mungkin lebih parah.
"Iya~ Kemarin Dr. Alifa dateng dan nyari-nyari Letkol Arkan. Dia ga tau malu banget, padahal kan udah nikah tapi masih aja ngejar-ngejar Letkol."
Deg. Napasku berhenti untuk beberapa detik.
"Dan kemarin suami ku liat kalau Dr. Alifa masuk ke rumah dinas milik letkol. Kayanya mereka menginap disana, soalnya mobil Letkol masih terparkir. Sekitar jam 9 pagi waktu aku mau liat, mobilnya lagi coba keluar dari halaman rumah." Jelas salah satu ibu berambut pendek.
Es batu yang sedang ku mut mendadak masuk kekerongkongan dan terjebak di sana. Aku menyentuh leherku mencoba untuk mengeluarkannya. Orang-orang yang sedang bergosip itu mendadak menjadi panik, mereka mencoba membantuku yang tersedak.
"Aduh~ kenapa ini? keselek? bong-bong-bong-bong neng~"
"Air minum, kasih air minum cepetan."
Sesegera mungkin aku langsung meneguk air putih yang disodorkan untukku itu. Sepertinya es batunya mencair sedikit sehingga saat aku meneguk air, es itu ikut mengalir.
Rasanya ada banyak duri menancap di mataku, dadaku sesak luar biasa. Apa yang di katakan ibu-ibu ini benar?. Mengingat Arkan tidak pulang, itu artinya data yang di berikan oleh penggosip ini valid. Tiba-tiba saja air mataku mengalir, aku menangis terisak-isak.
"Eh~ kenapa lagi ini? kenapa nangis?"
__ADS_1
"Takut ya neng~ gapapa neng~ urang pukul geura es batunya~."
Aku terkekeh oleh sifat mereka yang mengganggapku seperti anak kecil.
"Ini letnan, gadis ini tadi keselek tiba-tiba."
Aku mendongak melihat keatas.
"Kamu gapapa?" tanyanya menjongkok kan tubuhnya di hadapanku.
Aku terkekeh malu, "Gapapa kok, cuma keselek es batu aja." aku mengusap air mata yang hendak keluar.
"Letnan, mendingan dibawa aja ke klinik, takutnya dia kena fobia es batu." Lelaki ini mengangkat alisnya lalu tertawa.
"Saya, ga apa apa kok bu. Cuma kaget aja."
"Aduh, maaf ya. Karena ibu yang kasih kamu es teh manis, nak Geya jadi keselek gini. Gimana kalo nak Geya jadi takut sama es batu, terus gamau minun minumannya yang ber es. Padahalkan es batu bikin seger nak, huhu maafin ibu, nak Geya jadi nangis kaget kaya tadi." Beliau menangis menunduk dihadapanku, beliau menyangka bahwa ini adalah salahnya. Padahal aku menangis karena Arkan, dan tersedak karena kaget.
"Ga apa-apa kok bu seriusan. Geya sehat kaya gini kok, tadi itu cuma kaget aja. Semuanya bukan salah ibu." kataku memeluk ibu.
Aku kembali beraktivitas, setelah kejadian tersebut aku menjadi dekat dengan istri pada tentara. Letnan yang dibawa oleh salah satu ibu-ibu itu bernama Ipra. Dia yang membantuku membawa barang saat itu, dan sekarang dia menemaniku mengambil beberapa video.
"Kamu cantik ya tiap hari, Arkan beruntung." aku tidak tahu ini sudah yang keberapa dia menyebutku cantik. Seandainya saja yang mengatakan ini adalah Arkan, aku pasti sangat senang.
"Kamu mau coba motret?" tawarku pada Ipra.
Ipra mengangguk antusias. Ku beritahu caranya lalu ia mulai memotret ke arah Dinar. Aku tertawa saat dia mengarah pada Dinar, yah~ Dinar itu salah satu perempuan yang membuat para prajurit cuci mata selama disini.
"Aku ga foto perempuan seksi itu kok, dan aku gasuka dia." katanya membela diri.
"Tapi kamu baru aja mengakui kalo dia itu seksi." aku menyikut lengannya.
"Tapi aku sukanya sama kamu."
*Ipra
*
__ADS_1