
"HAPPY BIRTHDAY!" Teriakku pada Arkan ketika ia membuka pintu. Arkan terdiam lalu tersenyum, namun raut wajahnya menampakkan jika ia kelelahan. Dia senang namun lelah.
"Ko bisa tau tanggal ultah aku?" tanyanya duduk di kursi.
"Sewaktu pendaftaran ke KUA." kataku menyimpan kue tart di meja. Lilinnya masih menyala.
"Ayo mekuis." Lalu Arkan pun menautkan kedua jarinya, memejamkan mata dan mulailah berdoa. Begitupun dengan aku, aku ikut membuat permohonan. Permohonanku adalah, aku ingin selalu bersama Arkan dengan cinta dan rasa sayang yang terus melimpah setiap detik, menit, jam, hari, bulan, tahunnya. Tiba-tiba saja Arkan mengecup bibirku, "Aku mencintaimu." ucapnya.
"Aku juga mencintaimu." jawabku lalu kami berciuman.
Esoknya, aku tertawa ketika melihat lilin meleleh sampai menyatu dengan krim kue. Namun Arkan tetap memakannya, dia memilah-milah agar lelehan lilinnya tidak termakan. Arkan juga membagikannya pada tetangga-tetangga sekitar.
Aku dan Arkan berdiri tepat di depan pintu rumah dinasnya Ipra. Arkan bilang dia mau memberikan potongan kue besar ini untuk teman terbaiknya itu. Namun Arkan mengatakannya dengan sedikit menekan si kata 'terbaik.'.
Ipra keluar dengan rambut yang acak-acakan. Dia telanjang dada dan hanya menggunakan boxer saja. Arkan langsung melempar kue tersebut ke dadanya Ipra. Aku terkejut sama seperti Ipra.
"Apasi, tiba-tiba dateng. Tiba-tiba nempelin kue di dada, gue lagi ga ulang tahun." katanya kesal.
"Kamu ngapain sih, sayang. Itu kan ga baik." aku menegurnya.
"Aku gamau kamu liat otot orang lain selain otot-otot aku. Lagian lo ngapain sih keluar ga pake baju, gimana kalo atasan yang dateng."
"Gue sengaja ga pake baju karena gue liat di jendela ada Geya, gue kira ga ada lo." Ipra mengucapkan itu dengan santai.
"Alasan bodoh macam apa itu. Yaudah, gue kesini cuma mau kasih lo kue itu. Selamat menikmati, gue aminin deh do'a dari lo." Arkan menarik tanganku dengan cepat, sontak aku langsung meminta maaf pada Ipra karena sikap Arkan.
Dirumah aku memarahinya, aku tidak suka jika dia seperti itu. Sekalipun orang tersebut benar-benar sangat dekat dengannya. Itu berbuatan yang jelek.
"Iya maaf~" Arkan menyesal, dia memelukku.
"Kamu harus minta maaf sama Ipra." Aku mengusap-usap rambutnya pelan.
"Ayo, minta maaf sekarang." gumamku mencium ubun-ubunnya. Tangan Arkan mencoba untuk meraih ponselnya yang terletak di meja. Lalu ia menekan nomor Ipra dan memanggil panggilan.
"Mau apa?"
"Kamu bilang aku harus minta maaf ke Ipra."
Aku langsung merebut ponsel Arkan dan mematikan panggilan tersebut.
"Minta maaf kerumahnya sekarang." kataku tegas. Arkan cemberut namun ia menurutinya.
Aku mengintip lewat jendela, Arkan tengah mengetuk pintu Ipra. Lalu Ipra keluar dengan memakai pakaian sekarang. Mereka berbincang cukup lama, sampai akhirnya aku tidak melihat mereka berinteraksi. Arkan kembali kerumah, lalu mengajakku untuk pergi kekamar. Arkan suka sekali menjadikan dadaku sebagai bantal.
Aku bertanya pada Arkan apa Ipra memaafkannya, dan Arkan bilang iya. Syukurlah kalau begitu, aku tidak mau mereka bertengkar atau sebagainya.
Sorenya Arkan mengajakku pergi ke kota, untuk membeli beberapa bahan dapur dan bahan kamar mandi. Arkan juga merengek ingin membeli sebuah konsol game playstation 5. Aku benar-benar kaget dengan harganya, Arkan langsung membelinya tanpa memikirkan apapun. Aku benar-benar menjerit, karena aku rasa aku bisa merenovasi sebagian studio foto ayah dengan uang konsol game tersebut.
Wajahnya sumringah sekali, dia seperti anak kecil hari ini.
Aku menunggu Arkan di mobil, karena dia bilang ada sesuatu yang belum terbeli. Sehingga dia kembali masuk kedalam mall, sementara aku memasukkan belanjaan kedalam bagasi.
__ADS_1
"Hey?" aku langsung menoleh ke sumber suara.
"Julian, bu~ Jung?" aku bertanya sedikit terbata.
"Ah~ anda masih mengenali saya rupanya." aku mengangguk saja.
"Dimana Arkan? ko kamu sendirian?" aku bilang pada Julian, jika Arkan masih didalam mall.
Tiba-tiba saja Julian memberitahuku bahwa bu Jung itu adalah ibunya. Aku terkejut karena sepertinya dunia ini benar-benar sempit. Julian bertanya padaku mengapa aku tidak menelponnya.
"Ah~ maaf aku membuang nomormu karena aku takut suamiku marah."
Julian tertawa hambar, "Kamu tahu, kamu akan sangat membutuhkan nomor tersebut. Sayang sekali kamu sudah membuangnya. Sepertinya kamu tidak penasaran dengan informasi yang aku kumpulkan mengenai Arkan."
"Kalau begitu kami harus permisi. Sampai jumpa di lain waktu." Mereka berdua pergi meninggalkan aku. Tak lama setelah itu Arkan tiba, tanpa membawa apapun. Lantas apa yang dia beli?.
Aku terdiam di sepanjang perjalanan pulang. Kami pulang kerumah milik Arkan. Dia bilang dia tidak mau pulang ke rumah dinas hari ini. Jujur saja Arkan merasa sesak diam dirumah dinas, karena katanya kecil.
Aku membereskan semua belanjaan, memasukkan beberapa bahan ke dalam kulkas. Namun pikiranku melayang kemana-mana. Aku terus memikirkan ucapan Julian, kali ini aku benar-benar penasaran dengan informasi yang di maksud oleh Julian.
Aku menatap Arkan sejenak, dia sedang sibuk bermain game barunya. Apa sebenarnya ada yang Arkan sembunyikan dari aku?. Mengenai dia yang mau melindungi aku, mengenai dia yang akan selalu membuat aku berada disisinya. Melindungi aku dari apa? lalu apa Arkan berpikir aku akan pergi meninggalkannya?.
Tiba-tiba saja ponsel Arkan berdering, dia langsung mengangkatnya lalu pergi keluar rumah.
Disisi lain aku tidak merasa curiga apapun pada Arkan. Aku lebih curiga pada Julian, namun aku benar-benar pusing sekali sekarang ini.
Saat kami pulang ke rumah dinas, beberapa orang sudah mengerumuni rumah. Arkan membanting pintu mobil lalu berjalan mendekat kerumah begitupun dengan aku. Aku kebingungan tidak mengerti mengapa banyak sekali orang berpangkat lebih tinggi disini.
"Sodara Arkan, kami mendapatkan kabar bahwa anda sudah melakukan beberapa pelanggaran, anda akan kami tahan untuk beberapa hari kedepan untuk di interogasi."
Seorang wanita berambut panjang yang di ikat seperti buntut kuda tersebut menanyakan beberapa hal kepadaku. Dia juga memberitahuku penyebab dari mengapa suamiku di panggil, itu karena Arkan sudah membiarkan Alifa menginap dirumah dinas. Memakai kendaraan dinas untuk berkencan dengan Alifa. Untuk sementara ini Arkan di skors, dia dilarang memakai aset dinas. Dan wanita itu bilang ada sesuatu yang harus di selidiki mengenai Arkan.
Aku tersenyum ketika keluar dari ruangan, wajah Arkan terlihat sekali masam. Dia bahkan sudah melepas seragamannya, dia hanya menggunakan celana trening dan kaos hijau. Saat hendak keluar Arkan disuruh untuk mengumpulkan kunci mobil, juga lencana-lencananya. Dia masih bisa bergurau bersama temannya itu.
"Kita pulang kerumah aku ya." serunya menautkan jari-jarinya ditanganku.
Malamnya kami tidak tidur satu ranjang, Arkan tidur di sofa dengan tv yang masih menyala. "Tagihan listriknya bisa naik." gumamku sembari menyelimuti Arkan. Wajahnya cerah sekali, matanya terlihat sembab. Apa mungkin Arkan habis menangis?. Tanpa aku sadari aku ketiduran dengan posisi duduk. Tubuhku mati rasa rasanya, sakit sekali ketika aku mencoba meluruskan kaki. Arkan sudah tidak ada disofa, bodyguard bilang Arkan pergi untuk mengurus sesuatu.
Ayah menelpon ku dan menanyakan apa yang terjadi, aku menceritakan semuanya. Terdengar sekali jika ayah kaget dengan perlakuan Arkan yang seperti itu. Kentara sekali jika dia tidak menyukai ku dulu. Namun aku memastikan pada ayah jika saat ini Arkan sudah mencintai juga menyayangi aku.
Tak lama setelah panggilan telfon ayah mati, seseorang menelfonku. Nomornya tidak ku kenal, dan setelah ku angkat itu adalah nomor ponsel direktur make up yang menawariku untuk menjadi modelnya. Direktur bilang ayah yang memberikan nomor ponselku padanya. Dia memberikan pekerjaan untukku, namun aku belum tertarik sama sekali untuk terjun ke industri permodelan. Direktur ini memaksa sekali ini mewawancarai aku, aku meminta izin terlebih dahulu pada Arkan dan mengatakan kabar mengenai tawaran kerja ini. Arkan menyerahkannya padaku, dia juga menyuruhku untuk ikut wawancara.
Alhasil aku mencobanya, gedungnya luar biasa besar dan tinggi. Lix, salah satu bodyguard Arkan menemaniku, karena itu juga perintah dari Arkan.
Saat aku masuk kedalam, aku tidak berkedip untuk beberapa saat. Julian, dia direktur yang menelfonku. Bibirnya tersenyum cukup lebar. "Aku ga nyangka kalo pada akhirnya, kamu bakal mau juga untuk wawancara." katanya sembari memberi isyarat pada Lix untuk keluar. Namun dengan tegas Lix menolak, "Saya tidak akan keluar kecuali ibu yang meminta." katanya. Julian cukup kaget begitupun dengan aku, aku merasa seperti orang penting karena dijaga seperti ini.
Akhirnya Julian melakukan wawancara padaku. Dia menanyakan beberapa hal sampai pada akhirnya. "Aku mungkin kamu ada rencana untuk menikah lagi?"
"Saya rasa pertanyaan ini terlalu menyimpang." jawabku kesal.
Dia tersenyum, "Aku dengar Arkan di skors. Wah~ aku benar-benar ga sabar melihat kejutan-kejutan lainnya."
__ADS_1
Aku mengangka alis, "Apa maksudmu?"
"Sekarang kau ingin tahu?" tanyanya mencodongkan tubuhnya mendekat padaku.
"Sudah aku katakan bukan, aku mengetahui banyak hal mengenai Arkan. Dan itu semua berhubungan denganmu. Kamu mulai penasaran sekarang?"
Jantungku mulai berpacu kencang.
"Kamu mau tau sendiri atau mungkin mau mengetahuinya dari aku?"
"Apa yang kamu tahu mengenai Arkan?" tanyaku.
"Bu~ maaf sekali mengganggu obrolannya, keadaan ibu mertua sedikit tidak beres." Aku langsung bergegas pergi ketika Lix mengatakan itu. Namun saat aku sampai di rumah sakit, ibu tengah tertidur pulas ditemani oleh papa. Aku menayakannya pada papa namun papa kebingungan, beliau bilang ibu baik-baik saja hari ini bahkan dua hari lagi ibu sudah diperbolehkan untuk pulang.
Saat di mobil perjalanan pulang, aku menatapi Lix. Mengapa dia harus berbohong padaku, mengatakan bahwa ibu tidak baik-baik saja ketika aku ingin tahu mengenai Arkan. Apa mungkin Lix sudah mengetahui mengenai Arkan, atau bahkan mungkin hanya aku saja yang tidak tahu. Sikap ibu ketika melototi Arkan dihari pertama ibu masuk rumah sakit. Ucapan bu Jung mengenai dosa besar, lalu clue-clue yang diberikan oleh Julian. Dan juga perilaku ibu yang memperlakukanku lebih baik dari sebelumnya.
"Bu~ kami sudah sampai." Tegur Lix dan aku pun tersadar. Aku keluar dari mobil lalu masuk kedalam rumah, Arkan sedang memasak disana. Dia menyambutku dengan ciuman hangat.
"Mau mandi terlebih dahulu atau makan dulu?"
"Makan." gumamku menarik kursi lalu duduk, ku pandangi Arkan yang lihai memasak. Punggungnya yang lebar itu pasti bisa menutupi sesuatu yang besar.
"Bagaimana wawancaranya?"
"Cukup lancar dan cukup mengejutkan, Direktur dari bisnis make up tersebut adalah Julian. Begitu sempitnya duniaku ini." aku menyantap nasi.
"Ah~ kamu dari mana? ko ga kasih tau aku kalo kamu ada urusan di luar."
"Ada yang harus aku urus mengenai kurir yang mengirimi aku paket beberapa waktu yang lalu. Kurir itu cukup menggangguku."
"Mengganggu? apa ada yang sedang tidak beres?" tanyaku mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan Arkan.
"Masalah kecil." jawabnya tenang. Sial aku tidak bisa melontarkan pertanyaan apapun lagi. Pada akhirnya aku hanya mengangguk.
Setelah beberapa hari.
Arkan di panggil lagi untuk ditanyakan mengenai kepergiannya ke Amsterdam dulu. Selagi Arkan di interogasi dia memintaku untuk mengambil beberapa barang di ruang kerjanya, dia juga memintaku untuk membawa pulang foto pernikahan yang terpajang diruangan ini. Aku mengumpulkan buku-buku yang sudah di list oleh Arkan. Juga beberapa flashdisk data mengenai pekerjaannya.
Aku mencari kardus untuk memasukkan benda-benda ini. Sampai pada akhirnya aku menemukan satu kardus di bawah meja. Aku membukanya, dan disana ada satu buah buku yang terlihat sudah lusuh. Aku meraihnya dan membuka buku tersebut.
'SEBUAH KEKEJAMAN SEORANG PRAJURIT ARKAN'
Deg. Aku kaget sekali ketika mendapati bacaan tersebut di awal halaman. Dan saat aku membuka halaman selanjutnya disana tertulis sebuah tanggal bulan dan tahun juga penggalan dari sebuah berita koran.
'Seorang Prajurit *** terlihat menembak seorang wanita asia hingga tewas. Lalu membuangnya ke jurang.'
Ketika aku membuka halaman selanjutnya, rasanya jantungku copot jatuh ke lantai. Tanganku bergetar luar biasa, rasanya aku ingin muntah saking syoknya. Dan pada saat itu juga Arkan datang, kami saling bertatapan. Arkan melotot ketika pandangannya jatuh ke sebuah buku yang sedang aku pegang. Dia mendekat padaku namun dengan cepat aku menghindarinya.
"Tolong jangan mendekat!" kataku dengan nada yang bergetar.
"Aku bisa menjelaskan semuanya." Arkan tetap bersikeras mendekat dan mencoba meraih buku yang ku pegang ini.
__ADS_1
"MENJAUH AKU MOHON MENJAUH DARI KU!" Aku berteriak membentak dirinya. Air mataku jatuh, aku menangis. Aku mencoba menatap kembali foto ini barangkali aku salah mengenali namun rupanya benar. Ini adalah foto ibu yang berada dijurang.
TBC.....