TIDAK DIINGINKAN

TIDAK DIINGINKAN
Chapter 9


__ADS_3

"Aku hanya mencoba untuk menjauh darimu." Arkan menyentuh kepalanya terlihat sekali jika dia sedang frustasi.


"Bukan kah seharusnya itu di lakukan sejak awal?" tanyaku membuatnya terdiam sejenak.


"Kamu benar, seharusnya aku tidak pernah muncul lagi dihadapanmu. Maaf, sudah merusak kebahagiaanmu bersama dengan Ipra." aku mengernyit ketika Arkan mengatakan itu.


"Aku pikir kamu perlu libur, kecelakaan di jurang waktu itu membuat otakmu sedikit bergeser sepertinya." Arkan bergeming untuk beberapa saat lalu dia mengangguk dan memutuskan untuk kembali pulang.


Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran Arkan, hanya saja aku tidak setuju ketika Arkan mengatakan bahwa dia sudah merusak kebahagiaanku dengan Ipra. Jika memang perlu jujur, aku tak lagi merasa benci padanya. Aku begitu tenang ketika ada Arkan disisiku.


Ku taruh sarung tinju di meja makan lalu mengambil buah apel untuk memaksa Junior makan buah-buahan. Aku mengupasnya sembari menonton televisi, disana diberitakan bahwa seorang idol telah melakukan bunuh diri di apartemen, dengan menyalakan sebuah gas mematikan. Akhir-akhir ini kasus bunuh diri semakin meningkat, selain itu juga terror menerror semakin marak di kalangan model.


Aku beruntung karena akhir-akhir ini tidak ada yang mengganggu, itu berkat Arkan. Junior tengah asik bermain bola bersama dengan pak Yu. Aku menyuruhnya untuk membuka mulut, dan Junior menuruti itu namun saat dia mulai mengunyah, Junior langsung memuntahkan apel tersebut. Dia merengek tidak mau, bahkan sampai memukul-mukul kecil pahaku saking kesalnya di beri buah-buahan.


"Sudah, nanti ketika besar juga jadi suka buah-buahan. Anak-anak memang seperti itu." ucap pak Yu.


"Dulu ketika cucu saya masih hidup, dia persis sekali seperti Junior tidak suka buah-buahan, namun ketika beranjak dewasa dia mulai penasaran seperti apa rasa buah sampai pada akhirnya dia suka dengan buah-buahan." aku terdiam ketika Pak Yu bercerita.


"Cucuku meninggal terlalu cepat, menjadi bintang yang terlalu bersinar itu sangat berbahaya. Anda perlu banyak berhati-hati." katanya memperingati aku.


Benar, menjadi seorang publik figur itu sangat beresiko. Terlebih jika memiliki banyak haters, sudah pasti hidupnya tidak pernah akan tentram.


Aku memanggil Junior untuk berhenti bermain, dia tidak boleh terlalu banyak bergerak karena baru saja keluar dari rumah sakit. Hanya saja, anak kecil itu memang mudah melupakan sesuatu, bahkan sepertinya tidak terjadi apa-apa padanya selama sembilan hari kebelakang. Kini Junior kembali sehat bugar.


Junior memintaku untuk menemaninya semalaman.


"Mami, celai itu apa?" aku bergeming ketika Junior melontarkan pertanyaan seperti itu.


"Kamu dengar dari siapa kata-kata itu?"


"Ina, kata ina ibunya mau celai~sa...ma ayahnya." Junior berkata sembari memutar-mutar tangan robot mainannya.


Tuhan, orang tua macam apa yang mengatakan hal tersebut kepada anaknya. "Ina ga pelnah... ba..wa ko..takk..ma..kan.."

__ADS_1


"Junior, sayang. Lebih baik kita ga mencampuri urusan orang lain."


"Tapi... Ina teman Juniollll.."


Aku tersenyum, "Bagaimana jika besok kita undang Ina untuk bermain disini, hm?"


Junior mengangguk lalu mengecup pipiku sembari mengatakan terimakasih. Anak ini benar-benar manis sekali, persis seperti papinya. Gumamku dalam hati, namun cepat-cepat aku tersadar lalu menampar pipi karena aku baru saja memikirkan Arkan.


Saat Junior sudah terlelap, aku masuk kedalam kamarku. Menyalakan televisi untuk menemani tidur, namun tiba-tiba saja ponselku berdering. Aku mengangkatnya tanpa melihat panggilan dari siapa. Yang ku dengar hanyalah suara napas, napas yang tenang namun keras. Sampai akhirnya aku melihat layar ponsel menunjukkan wajah seseorang. Itu bukanlah panggilan suara melainkan panggilan video, aku berteriak kencang sekali, tubuhku merinding seketika. Aku tak sadar jika aku sudah melempar ponsel ke lantai. Aku beringsut di ranjang lalu mengecek kembali ponsel, seseorang berperawakan laki-laki tengah tersenyum sembari menatapku dengan tatapan yang menyeramkan. Lalu, "Halo~" seketika itu juga aku kembali berteriak berlari ke luar kamar.


Saat aku membuka pintu aku terkejut lagi karena mendapati bibi Ahn berdiri diambang pintu, sontak aku langsung memeluknya. Bibi Ahn ikut panik, beliau mencoba menenangkan aku lalu bertanya mengapa aku teriak-teriak. Aku menceritakannya pada bibi Ahn, lalu bibi Ahn masuk kedalam kamar dan meraih ponselku. Dia mengeceknya, dan mengatakan padaku bahwa ponselku mati lalu saat bibi Ahn mencoba untuk menekan tombol power, PRANK!.


Kaca dikamarku pecah membuat bibi Ahn dan aku kaget berteriak, bahkan keluar kamar dan kami langsung menutup pintu kencang sekali. Setelah itu kami berlari kebawah sembari berteriak memanggil pak Yu dan pak satpam. Keadaan malam ini mencekam sekali, aku memeluk bibi Ahn saking takutnya. Aku melupakan Junior diatas, sehingga saat pak Yu dan pak satpam mengecek kamarku aku memintanya untuk membangunkan Junior.


Mereka kembali bersamaan dengan Junior yang masih terlelap, cepat-cepat aku menggendongnya. Pak Yu mendapatkan sebuah batu dengan tulisan 'Halo.' Mendadak tubuhku mengejang seketika, tulisan itu adalah kata-kata yang di sebutkan oleh pria ditelfon tadi.


Jantungku berdetak kencang sekali, bahkan rasanya aku kesulitan untuk bernapas membuat bibi Ahn memberiku segelas air putih. Aku mencoba untuk menelfon paman, namun tidak diangkat sama sekali. Begitupun dengan Lucy, nomornya tidak aktif dan saat aku menelfon Arkan dia langsung menreject panggilan dariku. Mendadak aku menjadi kesal pada Arkan karena bisa-bisanya dia mengabaikan telfon dariku.


Walaupun matahari sudah muncul aku tetap tidak mau naik keatas kamar. Aku menyuruh pak Yu untuk mengantar Junior kesekolah. Lalu mencoba lagi menelfon paman, kali ini beliau mengangkatnya. Aku menceritakan semua kejadian semalam, lalu beliau menjawab dengan sangat begitu santai. Dia bilang, itu memang sudah sering terjadi, aku hanya perlu terbiasa.


Dan dengan kebetulan Arkan baru saja datang, aku melampiaskan semua kekesalanku padanya. "Aku menelfonmu tadi malam, dan kamu menreject panggilanku? apakah itu yang dilakukan seorang pengawal ketika majikannya membutuhkan bantuan?"


"Bukankah anda menyuruh saya untuk libur?" dengan santainya Arkan bertanya balik padaku.


"Ya~ aku memang menyuruhmu untuk libur, tapi jika keadaannya seperti kemarin aku pikir kamu tetap bisa profesional dalam bekerja."


"Kalau begitu maafkan saya, saya sudah lalai." katanya membuatku semakin kesal. Tidak, buka kata-kata seperti itu yang aku inginkan. Aku berharap Arkan memeluk dan menenangkan aku. Aku takut sekali.


Aku berjalan dibelakang Arkan menatapi punggungnya yang lebar. Arkan menelisik ke luar jendela. "Jarak jendelanya dengan dasar tanah itu cukup jauh, apalagi ini adalah lantai dua. Kemungkinan pelakunya naik ke pohon tinggi itu, hanya saja mustahil juga karena jarak pohon dengan jendelanya sama-sama jauh kecuali dia menggunakan ketapel untuk melempar batu besar ini." jelasnya. Setelah itu dia tidak mengatakan apapun lagi.


Arkan mengantarku ke perusahaan untuk bertemu dengan Julian. Aku perlu menyerahkan ponsel yang kena terror, Julian bilang dia akan melacak nomor ponsel lelaki tersebut. Aku juga mengatakan padanya untuk menambah keketattan di rumahku, namun Julian menolak. Pemasaran yang aku lakukan itu tidak lah cukup untuk menambah pengawal. Levelku tidak lah setinggi Alifa, terlebih Alifa seorang dokter dan menyambi sebagai model. Pendapatannya jauh lebih besar dariku.


Saat aku keluar dari ruangan Julian, aku mendapati Lucy tengah bercengkrama dengan Arkan. Mereka tampak semakin dekat, bahkan aku bisa melihat Arkan mengusap-usap pundak Lucy. Aku membuang napas perlahan lalu memanggil Arkan, dan ketika aku berpamitan pada Lucy untuk pulang. "Pulangnya hati-hati ya." sontak aku langsung menoleh pada Arkan yang berkata dengan tutur lembut nan perhatian pada Lucy.

__ADS_1


Entahlah, aku tidak tahu dengan diriku saat ini. Hari ini benar-benar membuatku sakit kepala, tubuhku tidak berhenti bergetar ketika mengingat kejadian semalam. Ditambah lagi aku melihat sesuatu yang sama sekali tidak ingin aku lihat. Arkan dan Lucy, arghhhh aku tidak mau membayangkannya.


"Nona, anda baik-baik saja?" suara Arkan menyadarkan aku. Kebiasaanku menarik rambut kembali muncul.


"Hm." jawabku merapikan rambut.


"Nona, apa hari minggu nanti saya boleh mendapatkan libur lagi?"


Aku melirik Arkan di kaca spion depan, "Libur? apakah kamu memiliki acara penting?"


"Hm~ minggu depan Lucy ulang tahun. Saya mau membuatkan kejutan untuknya." rasanya ada sebuah cambuk yang memukul jantungku.


Aku terdiam-reaksi khasku saat syok. "Ah~ se..sepertinya kalian semakin dekat ya...."


Aku dapat melihat dengan jelas jika Arkan tersenyum begitu lebar, "Ya, saya merasa ada kecocokan dengan Lucy." katanya membuat suasana moodku semakin buruk.


"Kalo begitu kamu boleh libur~ bersenang-senanglah." aku tidak percaya bahwa aku melontarkan kalimat diatas.


Bodo amat dengan perasaanku saat ini, aku hanya terbawa perasaan kemarin-kemarin. Arkan itu memang mudah jatuh cinta kan? lagi pula mungkin tujuan utamanya bukan untuk membujukku rujuk, itu semua hanyalah bualannya. Dia pasti mencoba untuk merebut Junior dari ku lalu jatuh cinta pada Lucy dan mereka akan menikah setelah itu membesarkan Junior bersama.


"Hahah~ tak kan kubiarkan itu terjadi." gumamku sangat kesal. Mendadak otakku berimajinasi kesana-kemari. Rasanya kepalaku panas, dadaku sesak. Aku ingin berteriak keras sekali.


Saat Arkan beres memarkirkan mobil di garasi, aku membanting pintu mobil kencang sekali. Bahkan membuat Arkan kaget.


Aku masuk kedalam kamar Junior, disana tidak ada Junior. Sepertinya dia belum pulang dari taman bermain. Entah apa yang aku rasakan saat ini, yang pasti bukan ini yang aku inginkan. Yang ku butuhkan saat ini adalah seseorang memelukku dan menenangkan aku, menceritakan sesuatu yang lucu membuatku bahagia agar aku lupa dengan terror yang sudah terjadi. Namun, aku mendapatkan sesuatu yang bahkan membuat hatiku tersayat.


Ku pikir Arkan meminta libur hari minggu itu karena ulang tahunku tapi ternyata karena Lucy lah yang ulang tahun.


TBC......


Maaf sekali kemarin malam tidak sempat up, karena aku adalah penulis naskah yang dadakan sehingga ketika dapat kesibukan tidak sempat mengetik cerita.


Selalu jaga kesehatan yaa😉❤.

__ADS_1


__ADS_2