TIDAK DIINGINKAN

TIDAK DIINGINKAN
Chapter 25


__ADS_3

Pernikahan kali ini tidak terbilang mewah, hanya orang-orang terdekat saja yang aku dan Arkan undang. Semuanya benar-benar mendadak, karena aku sengaja melakukan ini. Agar aku bisa terbebas dari jeratan agensi yang dibuat oleh Julian.


Kami dibuat begitu sibuk, prosesnya hanya lima hari tetapi sudah dapat segalanya. Arkan memang dapat di andalkan.


"Mami~"


"Hm?" aku menoleh pada Junior yang memakai tuxedo. Ini adalah kali kedua dia berpakaian rapih seperti ini, yang pertama saat acara pernikahanku dengan Ipra yang tidak jadi.


"Kenapa mami suka sekali menikah?" pertanyaan Junior membuat para perias asistenku tertawa.


"Kamu ini ada-ada saja~" aku mengusap-usap kepalanya.


Arkan menggunakan rumah barunya sebagai tempat pernikahan kami. Saat selesai meriasku, ayah masuk kedalam ruangan. Dia menggendong Junior dan melepas rasa rindunya. Aku tersenyum ketika kami bertemu mata.


"Jadilah pernikahan ini pernikahan yang terakhir bagimu dan jadilah istri paling bahagia di muka bumi ini." ayah mengecup ubun-ubunku. Beliau menangis terharu untuk yang kedua kalinya.


Saat lonceng berbunyi bersamaan dengan lantunan musik yang tenang. Junior berjalan di depanku, anak tampan itu menabur bunga-bunga di sepanjang karpet. Ini pukul sembilan pagi, cuacanya begitu cerah apalagi banyak burung-burung yang bernyanyi. Taman ini disulap olehnya menjadi tempat pernikahan paling indah yang pernah aku lihat. Aku menoleh pada ayah sembari sedikit menguatkan pegangan, rasanya ini seperti pertama kalinya aku menikah.


Arkan tersenyum padaku, dia sedang menungguku diujung sana. Empat tahun yang lalu, saat pernikahan pertama kami tak ada raut senang di wajahnya. Dahulu Arkan tidak menginginkan aku, dia membenciku bahkan tidak memberikan ciuman pertama kami di altar. Tapi sekarang semuanya berubah, kami menikah dengan didasari siap dan saling mencintai. Senyuman kami merekah ketika Arkan mengambil alih diriku, ayah sudah pada titik pencapaiannya. Mengantar aku pada sosok pria yang akan menjadi pendampingku dimasa depan.


"Kamu cantik~" bisiknya disela-sela pendeta siap memulai.


Mendadak aku ingin menangis, menangis karena senang. Apalagi ketika kami mulai mengucap ikatan janji suci.


"Di hadapan Tuhan, Imam, para orang tua, para saksi, saya Arkan Ardipa dengan niat yang suci dan ikhlas hati memilihmu Geya Lioran menjadi isteri saya. Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam untung dan malang, suka dan duka, sehat dan sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Saya akan selalu mencintai dan menghormatimu sepanjang hidup saya." tuturnya begitu lembut membuatku semakin ingin menangis. Terasa sekali jika Arkan mengucapkannya dari hati.


Aku menarik napas lalu menatap Arkan dengan lembut. "Di hadapan Tuhan, Imam, para orang tua, para saksi,  saya Geya Lioran, niat yang suci dan ikhlas hati memilihmu Arkan Ardipa menjadi suami saya. Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam untung dan malang, suka dan duka, sehat dan sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Saya akan selalu mencintai dan menghormatimu sepanjang~ hidup saya." ada rasa yang tidak bisa aku jabarkan, semuanya terasa mimpi namun nyata.


Pendeta mengucap penerimaan kesepakatan perkawinan kami pada semua hadirin yang ada disini. Beliau memerciki kedua cincin dengan air suci, dan mempersilahkan kami untuk memasang cincin secara bergantian. Arkan memasangnya dengan begitu pelan. Dan saat tiba giliranku, aku mencoba menenangkan diri agar tidak mengacaukan acara sakral ini dengan menjatuhkan cincin misalnya. Setelah itu selesai, Arkan menciumku membuatku terlempar ke masalalu. Banyak sekali lika-liku yang kami lalui bersama untuk sampai hari yang hebat ini.


Kami harus berpisah untuk merasakan begitu dahsyatnya rasa kasih sayang kami berdua. Aku nyaris menjadi milik orang lain, namun Tuhan tahu aku ini adalah tulang rusuknya Arkan. Sehingga pada akhirnya aku akan kembali pada tempat yang seharusnya.


Air mataku jatuh ketika kami berciuman. Sorak-sorai orang-orang membuatku yakin bahwa ini semua bukanlah sebuah mimpi.


"Aku mencintaimu." gumamnya membuat air mataku kembali jatuh. Begitupun dengan Arkan, matanya berkaca-kaca menahan agar tidak menangis.

__ADS_1


Junior berlari ke arah kami berdua dan dengan cekatan Arkan langsung menggedongnya. Aku tersenyum lagi entah yang keberapa, yang pasti kebahagiaanku sudah lengkap hari ini.


Kedua orang tua kami menangis terharu melihat akhirnya kami bisa kembali bersama.


Kak Arya dan kak Juan memberi ucapan selamat pada kami. Kak Arya juga memberi sebuah hadiah pernikahan berupa paket honeymoon yang membuatku tercengang.


"Kalau gitu, gue titip Junior sama lu ya. Jagain anak gue, jangan lu apa-apain." kata Arkan sedikit negatif thinking.


"Selamat ya~ akhirnya setelah banyak banget drama. Kalian bisa kembali bersama-sama." aku terkekeh ketika kak Juan mengatakan itu.


Semua keluarga Arkan dan aku tahu bagaimana perjalanan hidup kami ini.


Arkan memberiku waktu untuk bertemu dengan kerabat dan teman jauh yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Mereka tidak percaya jika ternyata aku ini menikahi seorang mantan prajurit yang sekarang menjadi pembisnis pendatang baru. Beberapa dari mereka iri padaku.


Aku menyunggingkan gigi ketika melihat Lucy juga hadir, aku tak mengundangnya karena dia orang agensi. Dia hadir karena Arkan yang mengundang.


"Selamat ya~" katanya tidak lagi menggunakan suara yang imut. Imejnya berubah drastis setelah aku memergoki dia dengan Vino.


Dan dengan bersamaan Dinar juga menghampiri aku. Detak jantungku berdetak panik, bagaimana jika mereka bertengkar disini?. Tetapi seolah-olah tidak ada masalah diantar keduanya. Mereka biasa saja bagaikan seorang teman baru, malu-malu canggung.


Aku cengengesan mendengar ucapan Dinar. "Yang mendadak itu suka jadi. Iya kan?" Dinar mengangguk saja. Dia terlihat begitu baik-baik saja, seperti tidak memiliki sebuah beban berat dipundaknya.


Tiba-tiba saja ada tangan yang melingkar di pinggangku, aku kaget karena aku pikir aku akan di culik lagi seperti dulu. Tapi ternyata itu Arkan.


"Okey~ sekarang waktunya kita pergi dari sini." gumamnya memberi isyarat pada Dinar untuk segera menjauhi kami.


"Baiklah-baiklah, aku tidak akan mengganggu pengantin tua ini."


Dinar selalu berhasil membuatku tertawa.


"Kapalnya sudah siap, dan kita tinggal terbang ketempat yang dikatakan oleh kak Arya."


"Kemana?"


"Bulan madu, sayang~." Arkan mengusap rambutku.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan Junior?" tanyaku panik.


"Serahkan pada mama." katanya, aku menoleh pada mama dan beliau memberi isyarat agar aku segera pergi dengan Arkan.


"Aku harus ganti baju." kataku namun Arkan melarangku.


"Gak usah~ biar aku yang lepas baju ini cantik ini disana." Arkan menarik tanganku untuk masuk kedalam limosin.


Kami berciuman di sepanjang perjalanan menuju bandara. Arkan terlalu nakal jika sudah sah seperti ini. Beberapa kali dia menggodaku dengan mengatakan, "Kamu berubah pikiran ingin menikah dengan aku pasti karena udah ga tahan juga?"


Ku pukul pundaknya, "Ish apaan sih, kok mikirnya kaya gitu."


"Ya abisnya setelah kejadian malam itu, kamu tiba-tiba minta aku lamar kamu."


"Gak ya, gak ada. Itu pikiran kamunya aja yang mesum." aku tetap menyanggahnya, sekarang ini aku malu sekali dituduh begitu olehnya.


"Jadi, kita bikin adik buat Junior kan?"


Aku memiringkan wajah, lalu menatap Arkan yang membuatnya kebingungan.


"Emangnya kamu ga mau nikmatin dulu masa setelah pernikahan?" tanyaku membuat Arkan langsung berubah pikiran.


"Kalo gitu tiga tahun lagi aja deh kasih adik buat Juniornya. Sekarang aku mau egois, kamu milik aku aja. Aku gak mau berbagi kamu dulu sama Junior." Katanya menciumku yang entah sudah berapa kali.


Dan sekarang aku tak keberatan jika Arkan ingin menyentuhku, karena dia sudah sah menjadi suami.


Tbc....


Note :


Diinginkan akan segera selesai dan dilanjut dengan perjalanan Junior dan Nila.


Apakah ada dari kalian yang ingin rikues, akhir seperti apa yang akan terjadi di naskah ini?. Atau terserah Author yang jahat dan jarang update ini?.


Sampai bertemu besok di episod ke 45 ya ~

__ADS_1


__ADS_2