TIDAK DIINGINKAN

TIDAK DIINGINKAN
Chapter 18


__ADS_3

"Riena?!" kataku tidak percaya.


Dia menoleh lalu melepas topengnya, dia benar Riena. Dia melangkah mendekat padaku lalu melempar ponselnya kelantai dengan sangat keras.


Riena menarik lakban yang ada di mulutku dengan cepat dan itu membuat kulitku sakit.


"Tidak menyenangkan sekali karena ternyata aku sudah ketahuan. Hah~ aku masih belum baik dalam hal menculik." tangannya menyentuh rahangku lalu mencengkeramnya.


"Aku sangat ingin memilikimu sepenuhnya Geya. Tapi sepertinya kamu ini seorang jal*ng, kamu menggoda setiap lelaki yang ada di dekatmu. Bahkan saat aku memotret dirimu kamu sengajakan menggigit bibir di hadapanku?" tubuhku merinding ketika jari-jari Riena meraba mulutku.


Dia hendak menciumku namun ku pukul wajahnya menggunakan kepalaku. Aku tak pernah berniat menggoda dirinya, aku seperti itu karena kebutuhan foto. Pekerjaan sialan yang bodoh!.


Riena marah karena aku sudah berani melawannya. Aku benar-benar tidak bisa melakukan apapun ketika wajahku di pegang oleh temannya sementara tangan-tangan Riena menyentuh tubuhku. Aku mencoba untuk melepas tali-tali yang ada di kedua lenganku namun tidak bisa.


"Arkan~" lirihku membuat Riena semakin geram dan dia menampar wajahku lalu menarik rambutku ke belakang. Sakit sekali.


"Jal*ng sialan!" umpatnya seketika itu juga aku menyemburkan ludah padanya.


Dan, suara dobrakan di pintu terbuka. Tak butuh waktu lama untuk membobol pintu jelek itu. Arkan melihatku yang sudah berpenampilan seperti gembel dan itu membuatnya marah. Arkan langsung menyerang Riena tanpa henti, bahkan dengan sekali pukulan saja teman Riena langsung tersungkur kesakitan.


Arkan menyiksa Riena dengan pukulan-pukulan emosi yang bergejolak. Riena memukul Arkan lalu tangannya mengeluarkan pisau lipat dan mulai mencari celah untuk melukai Arkan. Arkan berusaha untuk menghindar namun perutnya berhasil tersayat olehnya. Dan itu tidak membuat Arkan melemah, Arkan menarik tangan Riena lalu memutarnya sampai suara-suara tulangnya terdengar. Tangan Riena patah, "Ini adalah bayaran karena lu udah bikin tangan Geya patah waktu itu." katanya Arkan membuatku berpikir.


Apa Rienalah dibalik insiden kecelakaan jurang saat itu?.


Riena berteriak kesakitan ketika melihat tangannya sudah berputar kebelakang. Arkan mengambil pisau lipat tersebut dan membukakan tanganku, baru saja membuka tali di tangan kanan Arkan sudah di serang lagi oleh Riena. Riena benar-benar kuat, dengan tangannya yang patah dia masih bisa memukuli Arkan. Aku mencoba untuk melepas semua tali yang ada di tubuhku dan berhasil.


Aku melihat pisau tergeletak di lantai dan saat aku hendak meraihnya untuk melukai Riena. Sudah ada pisau terlebih dahulu di leherku, tubuhku menjadi kaku ketika pisau tersebut mulai menyayat pelan leherku. Mau sampai kapan leherku terus-terusan kena bahaya?.


Suara hantaman yang keras menggema diruangan kumuh ini. Arkan membenturkan kepala Riena ke sebuah meja besi, dan dia jatuh kelantai dengan darah segar yang keluar dari kepalanya.


"Arkan." panggilku membuat Arkan langsung berbalik. Dia terkejut ketika melihat aku sudah di sandera sekarang ini.


"Jangan mendekat!" katanya memperingati.


Tiba-tiba saja Arkan tersenyum dan dia memberi isyarat dengan matanya agar aku mencengkeram tangan si pria dengan sangat cepat lalu "Swarmer." katanya membuatku langsung menyerang lelaki ini. Karena kekuatan pukulanku tidak sebandingan dengan yang Arkan miliki alhasil sepertinya tidak membuat teman Riena ini kesakitan.


"Aku mendapatkan pukulan dari seekor kucing?" katanya mengejekku. Dan pada saat itu juga Arkan memukul kepala pria tersebut menggunakan tongkah golf yang ada diruangan.


Aku terkejut sekali ketika melihat Arkan melakukan ini. Dia sangat kejam dalam berkelahi.


Arkan merogoh celananya lalu mengeluarkan sapu tangan dan mengelap tangannya yang sudah dipakai memukul Riena. Seolah-olah jijik.


"Kamu baik-baik aja?" tanya Arkan padaku.


Aku menggeleng karena memang aku tidak merasa baik-baik saja. Aku takut sekali. Arkan membawaku keluar dari ruangan kumuh ini. Aku tidak tahu jika bahwasannya kami harus melewati lorong terlebih dahulu sebelum keluar dari rumahnya.


Di tembok lorong itu banyak sekali foto-fotoku, foto yang di potret oleh Riena. Dan~ fotoku saat aku sedang mandi. Tubuhku melemas ketika melihat itu, aku benar-benar sangat takut pada orang-orang seperti Riena. Rasanya aku tak bisa menahan beban tubuhku sendiri sampai pada akhirnya aku pingsan.


Aku terbangun diruangan yang tidak ku kenali sama sekali, di sebelahku ada Junior yang sedang terlelap. Aku langsung mendekapnya karena mendadak aku teringat dengan kejadian penculikan. "Mami kangen sama kamu nak." gumamku menciuminya dan mengusap-usap rambutnya. "Mami takut, mami meninggalkan kamu sendirian." perlahan air mataku keluar. Banyak sekali pikiran-pikiran buruk di kepalaku saat ini. Bagaimana jika aku berakhir dengan mati?.


Junior bergerak karena sepertinya tangisanku mengganggunya. "Mami sayang banget sama kamu sayang." ku kecup lagi pipinya.


"Sudah bangun?" aku langsung menoleh kesumber suara. Arkan tengah berdiri dengan celana pendek dan kaos hijau army ditangannya ada sebuah nampan yang berisikan makanan.


"Aku diapartemenmu?" tanyaku dan Arkan mengangguk.

__ADS_1


"Lukamu membaik?" Arkan mengangguk lagi.


"Syukurlah."


"Dirumahmu banyak sekali wartawan juga fans-fansmu. Mereka sampai menginap untuk menunggumu pulang."


"Apa Ipra baik-baik saja?"


"Mungkin tidak." jawaban Arkan membuatku terdiam. Aku menangis lagi mengingat pernikahan kami batal karena insiden gila ini. Pernikahan yang sudah ditunggu-tunggu oleh Ipra akhirnya membuahkan kekecewaan untuknya.


Mungkin memang bisa dilakukan lagi nanti tapi sudah pasti ada beberapa hal yang menjadi beda. Seperti takut batal lagi, misalnya.


Arkan mendekap tubuhku, tubuh Arkan hangat membuatku merasakan kenyamanan. "Tenangkan dirimu~ semua akan baik-baik saja. Ipra pasti akan mengerti." katanya yang justru membuatku semakin menangis keras.


Aku merasa sangat bersalah sudah membuat pernikahannya gagal. Bagaimana dengan Ipra disana, apa dia sangat-sangat kecewa padaku sekarang?.


Tiba-tiba saja ponsel Arkan berbunyi.


"Hmm?"


"....."


"Gue pikir untuk sementara aman."


"......"


"Lu mau ngomong sama dia?"


"....."


"Okey, nanti gue sampaiin."


Aku membuang napas pelan dan mengangguk saja. "Jangan cemberut gitu, dong."


Arkan mendongakkan kepalaku. "Oh iya, ada beberapa hal yang ingin aku beritahu sama kamu. Tapi mungkin kamu harus istirahat sekarang."


"Kasih tau sekarang aja."


"Aku engga mau bikin kamu kepikiran."


"Kalo kamu engga bilang, aku akan lebih kepikiran."


Arkan menimbang-nimbang, dan akhirnya dia pun bercerita.


"Begini, bawahanku sudah membawa Riena dan temannya ke penjara. Dan sudah tidak akan pernah ada lagi yang mengganggumu. Aku juga mendengar berita dari Rio kalau mereka adalah adik kakak kembar yang sama-sama suka padamu. Hanya saja perbedaannya adalah Riena jauh lebih fanatik juga Riena lah yang menyabotase jalanan di pegunungan saat itu. Aku tidak tahu dalam unsur apa dia berbuat seperti itu. Hanya saja aku pikir ini lebih mirip pada sasaeng fans. Mereka fansmu namun caranya salah yang menyebabkan dirimu celaka." jelas Arkan membuat tubuhku kembali merinding.


"Aku tidak tahu Rio berbeda dari Riena atau tidak. Yang terpenting aku rasa kamu tidak perlu terlalu percaya padanya, aku takut sesuatu yang lebih buruk terjadi lagi. Semoga saja kita berhenti berurusan dengan dua orang itu. Dan juga~ ini hanya sekedar saran dariku, ..... ku pikir kamu perlu berhenti bekerja menjadi seorang model." Arkan tersenyum kecut padaku.


"Ah~ lupakan saja itu hanya sekedar saran bodoh. Istirahatlah~ aku akan tidur di sofa." saat Arkan beranjak dari tempat duduk ku raih tangannya. "Jangan tinggalkan aku~" gumamku membuat Arkan terkejut. Dia terdiam menatapi aku dengan wajah yang mulai kemerahan.


"Temani aku sampai terlelap." pintaku.


Saat ini aku takut sekali jika ada seseorang yang memecahkan jendela lalu menculikku lagi. Atau tiba-tiba saja ada seseorang di bawah ranjangku.


"A...apa aku juga tidur di satu ra~ ranjang denganmu?"

__ADS_1


"Tidak, maksudku kamu duduk saja di kursi ini sampai aku terlelap." kataku naik ke atas kasur lalu menarik selimut.


"Hah~ aku pikir aku akan tidur bersamamu." katanya membuatku menahan senyum. Aku tahu apa yang ada pikiran Arkan saat ini.


Ku matikan lampu lalu mencoba untuk memejamkan mata tapi tidak bisa.


"Arkan~" aku memanggilnya.


"Hm?" dia menjawab dengan berdeham.


"Terimakasih."


"Untuk apa?"


"Untuk selalu berada disisiku, menjagaku dan menenangkan aku."


"Bukankah itu sudah menjadi tugas seorang suami?" katanya membuatku terkekeh di balik kegelapan kamar.


"Maksudmu tugas pengawalkan." aku mencoba membenarkan tapi sepertinya Arkan tidak setuju.


"Aku selalu menganggap bahwa kita masih suami istri sekarang ini." suara Arkan begitu lembut. "Sepertinya jika kamu tanya sampai kapan aku akan mencintaimu? jawabannya adalah tidak akan pernah berhenti bahkan sekalipun aku meninggal dunia, aku akan tetap mencintaimu. Sejati bukan?" aku bisa melihat dengan samar bahwa Arkan tengah tersenyum.


"Karma darimu benar-benar menyiksaku, Geya. Aku menyesal dahulu pernah menyakitimu." Arkan menghela napas mencoba mendinginkan kepalanya.


"Sudahlah lupakan, aku tak pernah dendam akan hal itu. Hanya saja mungkin sekarang ini sulit untukku memilih."


Aku bingung sekali akan perasaanku, aku mencintai Arkan juga Ipra.


"Apa aku boleh bertanya?"


"Bertanyalah." seruku memiringkan tubuh menghandap Arkan.


"Apa aku boleh berlomba dengan Ipra untuk mendapatkanmu kembali?"


Aku terdiam untuk beberapa saat memikirkan bahwa sepertinya sudah pasti Arkan lah yang menang.


"Arkan~"


"Ya Geya?"


"Kamu sangat ingin kembali memiliki aku?"


"Tentu saja." katanya antusias.


"Kalau begitu, semangatlah."


Arkan tersenyum sangat lebar ketika aku mengizinkannya untuk mencoba menarik hatiku kembali. Karena aku juga lebih menginginkan kembali kepada Arkan dibandingkan memulai baru bersama Ipra.


Dengan begini~ aku perlu mencari cara untuk perlahan membuat Ipra mengerti bahwa aku tidak bisa bersamanya sebertekad apapun.


"Maafkan aku."


Tbc........


Apa yang akan kalian pilih jika kalian sebagai Geya?

__ADS_1


Memilih Arkan karena cintanya yang besar atau memilih Ipra yang selalu menyabarkan dirinya untuk Geya ?.


Sampai bertemu di hari up selanjutnya yaa😉❤.


__ADS_2