TIDAK DIINGINKAN

TIDAK DIINGINKAN
X


__ADS_3

Ku nikmati angin malam sembari sesekali mendongak mengintip bintang-bintang yang menghiasi langit. Kami berjalan menyusuri jalanan yang sisi kanan dan kirinya pepohonan.


"Apa, aku boleh tau penyebab ibu kamu meninggal?" Sontak aku langsung menoleh pada Arkan.


"Ah, aku ga maksud buat kepo." katanya buru-buru. Aku tertawa kecil.


"Apa itu jadi pertanyaan kamu sewaktu kita menikah?"


"Yah~ aku sedikit bertanya-tanya soal ibumu itu." Aku menoleh padanya lalu tersenyum, setidaknya dia sudah memperhatikan keberadaan ibu saat itu.


"Kejadiannya sekitar 3 tahun yang lalu, ibu ditemukan tergeletak di sebuah jurang bebatuan. Saat itu ibu sedang ikut reuni SMA, aku tidak pernah tahu jika ternyata ibu memiliki masalah yang berat dengan ayah. Seingatku satu hari sebelum ibu pergi, beliau bertengkar terlebih dahulu bersama ayah. Ku pikir itu bukan sesuatu yang serius karena mereka memang sering bertengkar kecil mengenai pendapat. Tapi ternyata ibu bunuh diri, beliau tidak loncat melainkan menembak jantungnya sampai mungkin akhirnya terjatuh ke dasar jurang. Dramatis, bukan?" Aku menghirup udara menahan air mata agar tidak jatuh.


Arkan menarik tanganku lalu memelukku. "Nangis aja, keluarin semuanya. Aku ada disini untuk kamu." katanya memelukku begitu erat.


"Maaf, selama ini aku udah begitu jahat sama kamu." Arkan mencium ujung kepalaku. Untuk sesaat kami terdiam di posisi seperti ini, aku dapat mendengar suara detak jantung Arkan yang bahkan membuatku begitu tenang.


Aku sudah tidak lagi bimbang mengenai perasaan Arkan terhadapku. Aku sepenuhnya percaya pada Arkan mulai sekarang.


Aku mengerang merasa pegal-pegal, kubuka kedua mataku mencari Arkan. Dia tidak ada diranjang, aku menahan senyuman karena begitu senang akhirnya Arkan mengajakku untuk tinggal bersama dirumah dinas.


Dinar cemberut saat mengetahui aku akan pindah. "Menyebalkan, gue bener-bener nyesel ya kalo kalian udah saling cinta kaya gini. Siapa dong yang nemenin gue di mess, gue kan kurang deket sama anak-anak Kowad. Disini aja please....."


"Ga!" aku menolaknya mentah-mentah, lalu Dinar langsung melempar tasku ke tanah. Aku geleng-geleng kepala ketika melihatnya uring-uringan sendiri.


"Beib." Dinar langsung menoleh lalu memeluk lelaki kekar itu. Aku mengangkat alis pada Dinar meminta penjelasan.


"Ini Kapten Vino, pacar aku disini." katanya semakin menempel pada lelaki yang katanya bernama Vino.


Aku sih tidak aneh jika Dinar akan mendapatkan seorang kekasih di Komp ini. Hanya saja aku benar-benar mual melihat pasangan baru ini saling bercumbu dihadapanku. Aku memutar kedua mataku lalu menarik tasku yang tergeletak di tanah. Ku tinggalkan pasangan yang sedang terbakar api asmara. Tiba-tiba saja Ipra berlari kearahku, dia membantuku membawakan beberapa barang yang cukup berat.


"Kamu makin lengket ya sama Arkan."

__ADS_1


"Yah~" jawabku begitu senang.


"Aku boleh tanya sesuatu ga sama kamu?"


"Tanya aja, kamu mau tanya apa?"


"Apa yang bakal kamu lakuin kalo seseorang yang paling kamu sayang ternyata udah merenggut sesuatu yang paling berharga dari kehidupan kamu?" tanya, menatap lekat padaku.


"Em~ mungkin kecewa." jawabku asal, memangnya apa lagi jika selain kecewa?.


Iprq mengangguk-angguk lalu menyimpan koper dan tasku didepan pintu. "Kita bakal sering ketemu mulai sekarang." katanya bersamaan dengan pintu yang terbuka menampakkan Arkan dengan setelan boxer dan kaos hitam, ia memakai kacamata sementara rambutnya berantakan.


"Kalian gabakal sering ketemu." ucapnya ketus lalu menarikku seolah takut diambil oleh Ipra. Ipra menghembuskan napas lalu menyilangkan kedua tangannya didada. "Tenang bro~ gue gabakal ambil bini orang kok." katanya tapi Arkan semakin erat merangkulku.


"Kalo gitu pergi sana, lo tau lo ganggu waktu gue sama istri gue." usirnya menarikku ke kedalam lalu menarik koper dan tasku juga. Aku mengintip dari celah, Ipra melambaikan tangannya padaku. Aku tersenyum lalu membalas lambaian tangannya. Arkan menyadari aku sedang berinteraksi dengan Ipra. Dia melampiaskan kekesalannya dengan melempar tas kecilku ke kursi. Aku tertawa saja melihat tingkahnya yang menggemaskan.


"Harus ya senyum-senyum ke si Ipra?" Arkan mendaratkan bokongnya ke kursi.


"Aku ga suka ya kamu deket-deket sama dia."


"Loh, bukannya dulu kamu izinin aku buat deket sama Ipra kan?" Arkan langsung menoleh padaku dengan raut wajah yang kaget.


"Itu kan dulu~!" ucapnya melengking lalu memelukku tiba-tiba.


"Diem ya aku lagi marah. Jangan banyak gerak, aku mau peluk kamu aja kalo lagi marah biar marahnya cepet ilang." Ya Tuhan, aku tersenyum begitu senang juga ingin mencubitnya lagi. Suami siapa sih ini, lucu banget ga ketulungan.


Aku menepuk-nepuk punggungnnya sampai akhirnya ia melepaskan pelukkan. Bibirnya masih maju karena kesal, aku iseng mengecupnya. Tapi ternyata Arkan jauh lebih iseng, saat aku hendak melepas kecupan ia menahan kepalaku dengan tangannya alhasil bibir kami masih menempel.


.


.

__ADS_1


Ayah memintaku untuk datang kerumah, ayah bilang hari ini adalah hari ulang tahun ibu. Aku merasa menjadi anak yang benar-benar durhaka karena bisa-bisanya lupa ulang tahun ibu sendiri. Tadi dijalan aku dan Arkan mampir terlebih dahulu ke toko kue, ayah bilang ayah mengundang beberapa teman dekat ibu sehingga kami harus menjamunya dengan begitu baik.


Aku memasak untuk makan malam, Arkan sempat membantuku sebelum akhirnya ayah memanggilnya untuk mengangkat beberapa kursi. Ku simpan hidangan makan malam ke meja makan. Arkan membawa sebuah pigura yang menampakkan foto ibu. Ia meletakkannya di kursi yang sudah disediakan khusus untuk foto ibu. "Ibu cantik banget ya." Sanjungnya sembari melingkarkan tangannya di pinggangku.


"Iya dong jelas, anaknya aja cantikkan." kataku dengan percaya diri.


"Setuju." Sahutnya pergi entah kemana.


Acaranya pun mulai, bibi Ahn menyalakan dupa lalu memberi doa untuk ibu lalu disusul oleh aku, Arkan dan Ayah. Kami merayakan ulang tahun ibu dengan rasa yang pilu, terlebih untuk ayah. Beliau tidak berhenti menangis sembari menyalahkan dirinya karena bertengkar dengannya membuat ibu pergi meninggalkan kami berdua. Beginilah ayah setiap tahunnya, aku beruntung karena ayah masih bisa berpikir waras setelah ditinggalkan oleh ibu.


Bibi Ahn bilang ada rekan ibu yang akan ikut merayakan ulang tahun. Aku tidak pernah tahu karena ibu tidak mengenalkan wanita paruh baya ini padaku. Beliau bermarga Jung, dan ternyata Arkan sudah mengenal wanita ini. Dia bilang mengenal Ibu Jung dari ayahnya.


"Kamu baik-baik aja?" tanyaku ketika melihat wajah Arkan berkeringat. Ia mengangguk lalu mengipas-ngipas badannya.


"Ah~ rumah kecil seperti ini tentunya tidak cocok untuk tuan muda seperti Arkan." aku menoleh pada Bu Jung, benar pasti Arkan kepanasan. Ku nyalakan kipas angin tapi Arkan merengek kedinganan. Serba salah sekali.


"Sudah tiga tahun setelah Rena pergi meninggal kami semua, aku tidak bisa percaya ketika ia pergi meninggalkan keluarganya karena masalah sepele. Aku juga tahu jika Rena bukan seorang perempuan yang mudah berpikiran untuk bunuh diri. Tapi semuanya adalah kehendak Tuhan, semuanya memang bisa terjadi begitu saja." Wanita itu meminum anggurnya sedikit.


"Tapi, apakah aku boleh bertanya sesuatu? Dari mana Geya bertemu dengan Arkan?" tanyanya pada ayah.


"Papanya Arkan datang ke studio foto kami, lalu melamar anakku untuk nak Arkan." jawab ayah. Tiba-tiba saja aku merasa keadaannya menjadi sedikit aneh. Atmosfer di ruangan ini menjadi begitu dingin.


Wanita itu tersenyum lalu menatap pada Arkan. "Sudah aku duga, jika tuan Arman akan melakukan hal ini. Karena jika tidak, itu akan menjadi sebuah dosa besar bagi keluarganya."


Tbc...


Mohon maaf jika banyak sekali typo๐Ÿ™.



(Kebayang banget kan, Arkan bakal betahnya kaya apa kalo Geyanya se fashionable ini๐Ÿ˜„)

__ADS_1


__ADS_2