TIDAK DIINGINKAN

TIDAK DIINGINKAN
Chapter 24


__ADS_3

Aku mencoba meyakinkan Geya bahwasannya hubungan kami akan mulai harmonis dan romantis. Kemungkinan sekarang ini yang ada dibenak Geya adalah, aku sedang tak sungguh-sungguh. Dia terlalu takut kejadian dahulu terulang lagi.


Geya masih perlu menimbang-nimbang padahal aku pikir tidak ada yang perlu di pertimbangkan lagi. Kami hanya tinggal melaksanakan upacara pernikahan dan sebuahnya selesai.


Ku pandangi wajahnya yang sedang ditekuk, dia sedang memikirkan pekerjaannya. "Sayang, aku bisa bantu kamu buat keluar dari agensi." aku membuka pembicaraan.


Geya mendongak lalu bertanya, "Apa?"


"Kita menikah, go publik dan katakan pada semua orang bahwa kamu akan mulai fokus menjadi seorang istri."


Geya memutar bola matanya, "Itu cuma akal-akalan kamu aja kan."


"Ya ampun Geya, sebenarnya apa lagi yang kamu pikirkan? aku sudah kebelet ingin menikahi kamu." aku berseru dengan penuh kesal. Kesal karena Geya masih manunda-nunda pernikahan.


"Arkan, aku kan udah bilang sabar dulu."


"Nanti yang ada keburu ada penghalang lagi. Terus kita gak jadi nikah."


"Tunggu sampai aku menyelesaikan semuanya. Aku pasti kasih kamu jawaban."


"Lama." aku mulai kesal-kesal manja.


Geya terkekeh sembari mengusap-usap rambutku. Aku ingin sekali menerkamnya sekarang ini, tetapi aku perlu puasa sampai menikah nanti.


Esoknya aku mengantar Geya pergi ke agensi lalu menitipkan Junior ke day care, setelah itu barulah aku pergi ke perusahaan. Hari ini adalah hari resminya perusahaan diubah nama, "Ardipa Furnitur Home." begitu lah orang-orang mulai memanggilnya. Aku tersenyum begitu bangga karena pada akhirnya pencapaianku terwujudkan. Selain perusahaan ini, aku juga membuat sebuah perkebunan sayuran yang jaraknya lumayan sangat luas. Disana tertanam sawi, kol dan lain-lain.


Junior senang sekali ketika aku ajak ke perkebunan, dia berlari-lari di ladang sesekali nakal mencabut sayuran.


Geya, selalu enak untuk di pandang. Topi kebunnya menghiasi bagian kepalanya yang sangat cantik. Ku kecup bibir merahnya itu. Dan, dia hanya tersipu malu.


"Ini adalah cita-citaku sejak aku kecil." kataku penuh rada bangga.


"Selamat." ucapnya dengan senyuman yang begitu manis.


"Tapi, masih ada satu cita-cita lagi yang belum terwujud."


Geya merapikan pakaianku, "Apa itu?" tanyanya ingin tahu.


"Menikahimu."


Geya tersenyum saja, dia tidak menanggapinya. Hah~ dia itu menyebalkan sekali.


Menjadi CEO awal-awal begitu melelahkan, aku perlu meeting sana-sini agar mendapatkan koneksi bisnis yang lebih mudah. Beberapa CEO senior sangatlah menyebalkan, aku tak suka dengan mereka yang merasa sudah paling jago dalam berbisnis. Malas sekali.


Sekretaris Nam memberitahuku bahwa aku harus berterimakasih pada penasehat bisnis yang dikirim oleh paman. Aku tak tahu harus berterimakasih padanya seperti apa, alhasil ku ajak saja dia makan siang di restoran mewah.


Perempuan ini memiliki sifat yang begitu santai, senyumannya juga lumayan indah apalagi bodi badannya. Tapi sayang, dia tidak menarik sama sekali.

__ADS_1


Setelah selesai makan siang, dia meminta bantuan padaku untuk mengantarnya ke apartemen. Lili bilang, dia harus mengambil berkas yang ketinggalan. Saat aku sedang melihat-lihat isi apartemennya, tiba-tiba saja tubuhku ditarik jatuh ke atas sofa. Lili tersenyum lalu duduk diatas perutku. Aku mengangkat alis tidak mengerti dengan apa yang akan dia lakukan.


"Mr. Ardipa, aku tidak suka diberi ucapan terimakasih hanya sebatas makan siang." katanya meraba dadaku.


"Kamu mengertikan, Arkan?" Lili berbisik ketika menyebutkan namaku. Namun, tak ada reaksi apapun dari diriku.


Aku langsung mendorong tubuhnya kebelakang nyaris terjatuh dari sofa. Ku sapu pakaianku yang sudah di sentuh olehnya. Merasa jijik. "Saya pikir, anda adalah perempuan terhormat. Maka dari itu saya memberi ucapan terimakasih lewat makan siang. Tapi ternyata saya keliru, rupanya anda sama saja seperti perempuan yang sering saya temui dijalanan."


Lili masih menatapku dengan tenang. "Kenapa? bukannya kamu menyukai para wanita seperti aku?"


"Anda salah. Saya bergaul dengan mereka karena saya ada perlu, saya tidak punya waktu untuk perihal seperti ini. Mulai hari ini saya tidak perlu penasehat lagi, anda bisa berhenti dari detik ini juga. Permisi." aku melenggang pergi dari apartemennya.


Aku tak habisa pikir jika aku akan bertemu lagi dengan wanita-wanita yang kekurangan belaian. Hah~ aku benar-benar tidak sabar ingin menikah saja. Mengapa Geya harus menundanya sih.


Aku pergi masuk kedalam mobil, mendadak sekretaris Nam memintaku untuk melepas jas. Awalnya aku menghiraukannya tetapi Nam bilang dia harus mengecek jasku. Dan saat di cek, di saku atas jasku terdapat sebuah lipstick yang tidak lain adalah ulah dari Lili. Aku tertegun memikirkan apa yang sebenarnya dia mau.


Dan aku mulai berpikiran negatif pada paman, apa paman sedang merencanakan sesuatu?.


Aku pulang kerumah Geya, hari ini aku ingin menginap dirumahnya. Walaupun tidak tidur satu ranjang, setidaknya aku bisa berdekatan dengan Geya.


Geya bercerita mengenai Julian yang rewel. Geya juga mengatakan bahwa sebenarnya dahulu itu Julian jatuh hati pada Geya, mungkin sampai sekarang. Itu juga salah satu penyebab Geya tidak bisa keluar dari agensi, masalahnya Julian sudah memberi apapun yang dibutuhkan oleh Geya dan pamannya. Sehingga ketika Geya ingin berhenti, paman yang sekaligus sebagai managernya melarang Geya untuk keluar dari industri hiburan.


Dan~ sekarang perlahan aku mulai mengerti dengan masalalunya Geya bersama Julian. Mereka itu adalah teman kecil, dan saat kecil Julian pernah melamar Geya. Sementara itu, ada yang belum aku ceritakan pada Geya. Dahulu, saat aku sekolah di taman kanak-kanak Geya adalah temanku juga. Hanya saja kami tidak saling mengenal karena aku yang jarang datang kesekolah. Aku baru ingat ketika Jo memberiku sebuah data pribadi Geya. Dan, ternyata Tuhan memang sudah mendekatkan aku dan Geya hanya saja kami tidak sadar.


Geya menyandarkan kepalanya di pundakku, dia terlihat begitu lelah sekali.


"Hm?"


"Engga, hihi." aku terkekeh ketika mendengar Geya tertawa kecil.


Tiba-tiba saja ponselku mendapatkan sebuah pesan. Pesan dari Ergy.


Ergy bilang, Vino mulai berbuat onar di Komp. Dia sering sekali mabuk-mabukkan, bahkan katanya dikomplek prajurit sudah gempar berita tentang Vino yang memiliki istri dua.


Aku tidak kaget sama sekali tetapi berbeda dengan Geya, dia kaget dan mulai mengoceh lagi.


Aku yang sudah lelah mendengar Geya mengurus urusan orang lain. Ku cium bibirnya dan ku tarik rambutnya agar dia membuka mulut. Persetan dengan tidak melakukan sebelum menikah. Aku tak bisa menahannya lagi, dan aku pikir malam ini aku sudah rasuki oleh ribuan iblis.


Geya mencoba untuk menghentikan aku, namun aku tak mendengarkannya. Ku robek kaosnya, aku merindukan sosok Geya yang tidak memakai sehelai benangpun. Dia kaget ketika aku merobek pakaiannya. Aku mencoba untuk menciumnya lagi, namun sebuah vas bunga mendarat tepat di kepalaku. Vas itu menjari kepingan menyedihkan, darah segar keluar dari kepalaku.


Aku langsung sadar dengan apa yang aku lakukan pada Geya. Aku bisa melihat ada air mata disudut matanya, tetapi dia melupakan rasa marahnya padaku. Perasaan khawatirnya lebih besar, dia langsung mengambil kotak pengobatan.


"Maaf." gumamku sangat menyesal.


Geya tidak menjawab dia lebih memilih untuk fokus mengobati luka di kepalaku.


"Sayang~" aku memanggilnya dan Geya masih menghiraukan aku.

__ADS_1


Dia metutup kotak p3knya setelah selesai lalu menatap aku.


"Kamu seriuskan mengenai menikahi aku dan tidak akan mempermainkan perasaan aku?" tiba-tiba saja Geya menanyakan hal itu.


"Iya aku serius." aku menjawab tanpa ragu.


"Kalau begitu, lamar lagi aku sekarang."


"Hah?!" aku tercengang tidak percaya.


"Ya udah kalo emang gak mau menikah." Geya hendak beranjak untuk menyimpan kotak, namun dengan cepat aku menariknya untuk kembali duduk.


"Kenapa sih, sensian banget."


"Abisnya kamu kaya gitu." Geya memajukan bibirnya kesal.


"Ya udah sekarang aku ngelamar kamu lagi ya." ku tarik kedua tangannya dan ku tatap kedua bola mata Geya dengan lekat.


"Will you marry me, baby?"


Geya tersenyum lalu wajahnya mulai memerah. Dia mengangguk dan, "Yes, i will." Geya melontarkan kekehan yang membuat hatiku begitu senang luar biasa. Rasanya ada konser didalam perutku. Aku tidak tahu apa yang membuat Geya berubah pikiran, yang pasti akhirnya.


AKU BAKAL KAWIN!.


Arkan Pov End.


Tbc.....


Jangan lupa untuk mampir ke naskah yang lainnya ya.


1. 7 Years I love you - adalah kisah cintanya Junior dan Nila.


2. Teman bahagia - sebuah fanfiction BTS.


3. Taehyung Ice Daddy - Chat Story


4. Vivid Dream - End Story ( 2 chapter)


5. Menikah Muda - Proses


6. Kita yang tidak saling mengenal - proses


Untuk sementara Author fokus pada naskah tidak diinginkan ya.


Barang kali ada yang ingin berteman dengan Author di sosial media lainnya, bisa dm untuk saling follow yak Love 😉❤.


Insta : Megarianaa_

__ADS_1


Twt : @ditelanra


__ADS_2