
Kakiku melangkah dengan gontai ketika harus mengubah pakaian pengantin untuk yang ke empat kalinya. Tak ada semangat dalam diriku.
"Jika memang tidak bisa dilanjutkan, bilang saja dari sekarang." seru ayah di balik pintu.
Aku memakai pakaian pengantin yang lebih simple sekarang. "Aku sudah memutuskan untuk menikah dengan Ipra, aku tak bisa menyakitinya lagi."
"Menikahinya tanpa rasa cinta juga sudah menyakiti Ipra tanpa kamu sadari."
Aku membuka pintu lalu, "Bagaimana dengan yang ini?" tanyaku.
"Anak ayah ini cocok memakai apapun." kata beliau memotretku tanpa aba-aba.
"Berkata jujur walau menyakitkan itu jauh lebih baik." ayah mulai membahas lagi perasaanku terhadap Ipra.
"Aku mencintai Ipra, ayah tidak perlu khawatir."
"Ayah lebih suka Arkan." gumamnya membuatku terkejut.
"Bagaimana bisa ayah menyukainya sementara Arkanlah yang membunuh istri ayah."
"Kamu sendiri masih mencintai Arkan walaupun sudah membunuh ibumu kan. Cinta itu memang sulit ditebak, sekalipun kita membencinya tapi kita memiliki rasa cinta terhadap orang tersebut perlahan kita pasti akan lupa dengan rasa bencinya. Begitu pun dengan ayah, ayah sudah sayang pada Arkan seperti dia itu anak ayah sendiri walaupun kesalahannya sangat fatal, ayah tetap sayang padanya." ayah tersenyum lalu menepuk pundakku.
"Jangan membuat dirimu kesulitan, hm." ayah mengedipkan sebelah matanya lalu mulai memotret diriku lagi.
Malamnya Ipra mengundang aku untuk makan malam dirumahnya. Keluarganya menyambutku dengan sangat begitu ramah. Ipra memiliki seorang adik perempuan yang masih remaja. Dia menempel sekali padaku. Aku senang karena rupanya keluarga Ipra menerima aku, terlebih mereka tidak memikirkan statusku sebagai single parent. Mereka menyarankan aku untuk membawa Junior lain kali.
Setelah makan malam, aku berdiam diri diatas balkon. Menikmati angin malam yang menerpa wajahku. Aku merindukan Arkan.
Tiba-tiba saja ada sebuah kain menempel di pundakku. Aku menoleh ternyata Ipra meletakkan selimut kecil untuk menghangatkan tubuhku.
Keadaannya masih hening, hanya suara gemuruh angin juga pepohonan. "Apa kamu senang bertemu dengan keluargaku?" tanya Ipra memulai pembicaraan.
"Hm~ aku senang."
"Syukurlah, mereka juga terlihat sekali menyukai dirimu. Aku rasa tak ada halangan untuk pernikahan kita ini." katanya dengan raut wajah yang sangat begitu senang.
Aku pun ikut senang.
"Kamu menerima lamaranku dengan sepenuh hatikan?" tanyanya lagi. Aku meraih tersenyum lalu mengangguk.
"Aku tidak mau jika kamu menerima aku dengan rasa kasihan. Apalagi sekarang ini Arkan selalu ada di sekitarmu, kamu masih mencintainya kan." air wajahnya berubah menjadi masam. Ipra mencoba untuk memaksakan diri agar tetap tersenyum.
"Aku memang tidak bisa menyangkalnya lagi, aku menyukaimu dan juga mencintai Arkan. Aku takut kehilangan kalian berdua." aku menarik napas lalu melanjutkan perkataanku, "Tapi Arkan merelakan aku untukmu. Perasaanku mungkin akan semakin dalam untukmu seiring berjalannya waktu." jelasku pada Ipra.
__ADS_1
Aku tahu kalimat-kalimatku itu mungkin masih abu-abu untuk Ipra.
Ipra meraih tanganku lalu menggenggamnya. "Aku mencintaimu." katanya.
"Aku tahu."
.
.
Sinar matahari menembus kedalam kamar dari celah-celah jendela. Tubuhku menggeliat dan membuka mata mendapati Junior tengah berbaring di sebelah ku. Sejak kapan dia pindah ?.
Ku naikkan selimut sampai ke lehernya, kuusap-usap rambut hitamnya yang lebat. Bulu matanya lentik sepertiku, aku iri pada Arkan karena wajah Junior lebih banyak mirip dengannya.
"Hah~ sudah saatnya Junior tahu bahwa Arkan itu adalah ayahnya." aku turun dari ranjang lalu menuju kelantai satu. Bibi Ahn tidak kemari hari ini. Katanya dia harus mengurus anaknya yang hendak masuk kuliah.
Ku tuangkan segelas air putih lalu meminumnya. Membuka semua tirai dan mendapati sebuah kotak silver di luar dekat pintu. Aku bergegas membuka kunci lalu membawa kotak tersebut ke meja.
"Sepertinya kotak ini dikirim dari bukan sembarangan orang." gumamku meraih gunting lalu mulai membuka selotipnya. Saat ku buka aku mendapati sebuah boneka dengan kepala, tangan, kaki yang terpisah. Juga bau-bau tak sedap yang ternyata di dalam kotak itu banyak sekali bangkai kecoa. Aku langsung menjerit ketika beberapa serangga keluar dari kotak.
Tubuhku merinding seketika, mendadak aku mual. Bukannya berlari ke kamar mandi melainkan aku berlari memanggil pak satpam, beliau langsung memindahkan kotak silver itu dan membunuh para serangga yang sudah berkeliaran di meja dan lantai. Kakiku lemas sekali, aku berdiam diri dikamar bersama Junior sampai Arkan tiba.
Arkan menggendong Junior lalu membawanya keluar bersama denganku. Aku tidak tahu dia mau membawa kami kemana. Yang pasti dia tidak berpakaian seperti pengawal kali ini jauh lebih santai.
"Hm~" jawabku berdeham.
"Ku pikir kamu harus membeli sebuah apartemen dan tinggal disana untuk beberapa waktu." katanya sembari fokus menyetir.
"Aku bisa membelikannya untukmu jika kamu mau, aku ingin kamu dan Junior aman juga nyaman." tambahnya.
"Tidak perlu, sungguh. Aku bisa tinggal bersama dengan ayah untuk beberapa waktu."
"Jangan sungkan, aku seperti ini karena sudah kewajibanku sebagai ayahnya Junior. Aku benar-benar ingin dia aman." Arkan tersenyum padaku lalu mengusap-usap rambut Junior.
Perjalanannya cukup jauh dan aku belum tahu Arkan membawa kami kemana. Yang pasti jalanannya bebatuan, banyak sekali daun-daun berguguran di sisi jalan kanan dan kiri. Ini masih di kota tetapi seperti berada didekat pegunungan.
Mobil Arkan berhenti, dia membuka sabuk pengaman lalu membukakan pintu mobil untukku. "Tempat apa ini?" tanyaku padanya.
"Nanti juga kamu akan tahu. Sini Jun." Arkan merain Junior dari pangkuanku.
Kami berjalan menaiki tangga yang sudah di penuhi oleh lumut. Untung saja aku tidak memakai high heels. Tangganya ada banyak sekali bahkan membuatku kelelahan, "Mau ku gendong?" tawarnya membuatku memicingkan mata.
"Aku masih kuat." kataku bangkit dari duduk.
__ADS_1
Junior cerewet sekali di atas punggung Arkan, mereka mengobrol dengan lancar seolah seorang sahabat. Arkan sesekali mengusili Junior, katanya dia akan meninggalkan Junior di sini lalu pergi bersama denganku. Aku tertawa ketika Junior panik, dia memukul-mukul Arkan karena kesal.
Sampai akhirnya kita sampai didekat rumah yang cukup besar. Aku menganga tidak percaya karena ada rumah modern di tengah hutan seperti ini.
"Ini rumahku." katanya dengan santai.
Arkan membuka kuncinya lalu memberitahuku kata sandi tersebut. Aku takjub dengan isi rumahnya yang sangat cantik minimalis. Simple namun menggoda.
"Ini juga di design oleh Ruang Riana, loh." katanya sombong.
Aku terkekeh saja. Aku melihat sekeliling rumahnya, ada kolam renang mini yang dibawahnya adalah aliran sungai jernih. Tempat ini benar-benar nyaman sekali ditambah dengan suara-suara alam yang membuat pikiran menjadi tenang. Seketika aku lupa dengan semua bebanku, aku memejamkan mata sembari menikmati kesunyian ini.
Tiba-tiba saja sebuah tangan melingkar di perutku. Ketika aku hendak menoleh Arkan melarangku, dia memintaku untuk tetap memejamkan mata dan menikmati semua kenyamanan ini. Kali ini aku juga dapat mendengar suara napas Arkan yang tenang beraturan. Dia tidak melepas pelukannya.
"Terimakasih." gumamku membuka mata.
"Untuk apa?" tanyanya, ku putar tubuhku untuk berhadapan dengannya lalu mendongak menatap Arkan. "Untuk semua ketenangan ini."
Arkan tersenyum lalu tangannya menyentuh rambutku dan mendarati di pipi kiriku. Dia mengusap-usapnya sembari menyelipkan rambutku ke belakang telinga. "Cantik." katanya dengan wajah yang semakin dekat dengan wajahku. Hidung kami bersentuhan, aku dapat merasakan napas Arkan di wajahku. Aku memejamkan mata seiring bibir kami akan bersentuhan.
"Mami~" aku langsung membuka mata lalu memiringkan wajah untuk melihat Junior. Dia tengah berdiri dengan tangan yang memegangi sebuah pigura kecil, disana terdapat foto pernikahanku dengan Arkan.
"Mami, mengapa om pengawal melotot begitu pada Junior." katanya menutup matanya menggunakan pigura, Junior takut karena Arkan melototinya. Aku langsung memukul Arkan karena berani begitu pada Junior.
"Anak mu mengganggu sekali momen ini. Sudah tiga kali." gumamnya dengan wajah yang kesal.
"Dia juga anakmu." kataku mendorong Arkan untuk menyingkir dari hadapanku.
"Ayo, sayang. Hiraukan saja om pengawal." aku menarik Junior kedalam rumah.
Junior bertanya padaku mengapa ada foto aku dengan Arkan. Hari ini aku memberi tahu Junior bahwa Arkan adalah ayahnya. Junior sedikit kebingungan karena selama ini ayah yang dia tahu adalah kakeknya. Namun, mendadak Junior berkata sesuatu yang membuatku dan Arkan tertawa. "Om pengawal jadi papinya Junior begitu, mami? jadi papi Junior eng...ga tua lagi?" tanyanya sembari menggoyang-goyangkan kakinya kebawah dan keatas.
"Mulai sekarang, Junior panggil om pengawal papi." kataku merapihkan rambutnya yang berantakan.
"Pap....pi muda~." panggilnya sembari tersenyum. Arkan tertawa senang ketika mendengar itu. Dia langsung memeluk Junior, menemaninya bermain sampai kelelahan. Arkan dan Junior tertidur di sofa bersama dengan mainan-mainan yang berserakan dimana-mana.
Ku bereskan semuanya dengan perasaan senang yang sepertinya akan meledak. Aku seperti menjadi seorang ibu dan istri saat ini. Ku pakaikan mereka selimut lalu mengecup dahi Junior, mendadak aku juga ingin memberikan kecupan selamat malam untuk Arkan. Alhasil ku daratkan bibirku di keningnya itu.
"Mimpi indah para jagoanku~"
TBC.......
__ADS_1