
Prolog
*Semua tak lagi menjadi abu-abu walau mungkin sekarang menjadi hitam pekat.
Tangkai mawar itu berhasil aku genggam dengan rasa pilu yang teramat dalam.
Cairan merah di tanganku menjadi sebuah saksi betapa menyakitkannya ketika mawar yang indah kita genggam dengan sekuat tenaga agar tak hilang di ambil orang.
Dan aku tak pernah mau memikirkan jika suatu saat nanti aku harus memeluk sebuah kaktus*.
Chapter 1
Empat Tahun Kemudian.
'MODEL CANTIK GEYA DIKABARKAN TENGAH BERKENCAN DENGAN ATLET BASEBALL SHON.'
"Bukankah saya sudah mengatakannya padamu untuk tidak mencari masalah seperti ini?"
Aku tersinggung, "Apa paman baru saja menyalahkan aku? Aku tidak menyuruh para penguntit itu untuk membuat berita seperti ini. Itu hanyalah akal-akalan mereka saja menjual berita atas namaku agar mendapatkan uang yang banyak." kataku kesal.
"Ini berita ke enam mengenai kencan dirimu. Oh ya Tuhan saya benar-benar lelah dengan para wartawan diluar sana."
"Itu sudah seharusnya pekerjaan paman kan."
"Bisa-bisa saya berhenti menjadi manajer mu." Katanya keluar dari mobil terlebih dahulu.
Aku menggelengkan kepala melihat tingkahnya yang seperti itu. Dan juga, mengapa lagi-lagi berita mengenai kencan yang keluar. Aku tidak kencan dengan siapapun, dan juga saat itu aku hanya memberi tumpangan untuk Shon.
Aku meraih kacamata lalu memakainya, ketika pintu mobil terbuka aku mengeluarkan satu kakiku yang mengenakan high heels berwarna pink lalu seluruh tubuhku keluar dari mobil. Seketika itu juga kilatan-kilatan flash kamera menyerbuku bersamaan dengan pertanyaan mengenai berita artikel yang keluar.
Manajer bilang, aku tidak perlu mengatakan apa-apa cukup tersenyum saja. Dan aku mengikuti perkataannya, namun tubuhku di dorong keras sekali sampai-sampai membentur mobil.
"Apa benar anda berkencan dengan atlet Shon?"
"Apakah kalian sudah berpacaran sejak lama?"
"Tolong beri kami jawaban."
__ADS_1
Sial, aku benar-benar terpojok. Dan manajer hanya memandangi aku, setelah itu dia berlari dan mendekap tubuhku.
"Aduh~ tolong jangan sakiti model kami ini. Berhenti memotret ya, jika kalian berhenti saya akan memberi jawaban mengenai artikel tersebut. Hm, bagaimana? Setuju?" perlahan para wartawan langsung menyorot pada Manajer.
Lalu salah satu asistenku menarik tubuhku untuk masuk kedalam gedung. Aku menoleh kebelakang untuk melihat manajer dan pada saat itu juga aku bertabrakan dengan seorang pria yang memakai pakaian serba hitam tak lupa kacamata dan topinya juga hitam dan dilengannya terdapat sebuah tato. Tanpa melihat wajahnya aku sudah yakin bahwa dia pria tampan.
Pria tersebut langsung memohon maaf padaku lalu bergegas pergi keluar dari gedung.
Aku melaksanakan pemotretan produk make up dengan ocehan manajer yang masih kesal mengenai artikel kencan diriku. Katanya dia mulai kewalahan. "Kalau begitu berhenti aja." seruku sembari mengetik sebuah pesan untuk bibi Ahn.
"Hah, tega banget kamu bilang kaya gitu sama saya."
"Aku kan ga pernah minta paman untuk jadi menajerku." Paman terdiam seketika, lalu memutar arah pembicaraan ke jadwal pemotretan selanjutnya.
Aku meregangkan tubuhku ketika sampai di basemant. Sudah jam 2 siang, aku harus menjemput Junior karena bibi Ahn bilang mendadak ada urusan. Aku berjalan menuju mobilku terparkir, lumayan jauh karena mengharuskan aku berjalan lagi. Namun, tiba-tiba saja aku merasa ada seseorang yang memperhatikanku di belakang. Aku juga merasa ada suara langkah kaki ganda.
Fans fanatik lagi kah?. Aku pura-pura menjatuhkan kunci mobil. Saat aku meraihnya dan sedikit mengintip kebelakang, terdapat kaki sedang berhenti, lalu membelokkan langkahnya. Sudah pasti ini tidak beres. Aku berjalan dengan langkah yang cukup cepat, lalu masuk kedalam mobil dan keluar dari basemant dengan selamat.
Aku bernapas dengan lega karena kali ini aku baik-baik saja. Jalanan cukup ramai namun tidak macet, sehingga aku bisa menjemput Junior di taman bermain dengan lebih cepat.
Namun saat aku sampai, taman bermain sudah begitu sepi. Sontak jantungku langsung berdetak begitu kencang, aku berlari kesana kemari mencari Junior bahkan sampai berteriak memanggil namanya. Mendadak aku jadi begitu sulit bernapas, ku sentuh kening karena Junior tidak ketemu juga. Sampai pada akhirnya, "Mamii~" aku menoleh ke sumber suara dan langsung memeluknya dengan begitu erat. "Kamu dari mana? bukan kah sudah mami katakan untuk menunggu. Mami tidak suka kamu berkeliaran sendiri, dari mana kamu?!" volume suaraku meningkat ketika aku begitu panik.
"Jadi, anaknya mami ini dari mana tadi?" tanyaku sembari menyetir dengan perlahan.
"Junior....tadi....ambil bola...mami.." katanya dengan perlahan bersamaan dengan nada khas seorang anak kecil.
"Memangnya bola Junior, kemana?"
Junior menghentikan aktivitasnya yang sedang membuka-buka buku gambar anak. "Bola Junior...jauh..terlempar mami..untungnya...ada..om bertato..yang kembaliin..bolanya..Junior.." aku menahan tawa ketika Junior mulai menyusun kata dengan acak.
"Om bertato? Junior jangan dekat-dekat lagi dengan om itu ya~ Junior harus berhati-hati." Lalu Junior pun mengangguk dengan mantap menuruti peringatanku.
Malamnya, aku menyiapkan makan malam untuk Ayah, Junior dan bibi Ahn. Ayah sedang begitu asik memangku Junior sembari menceritakan cerita anak-anak. Sementara bibi Ahn menyiapkan piring-piring, ku letakkan lauk makan lalu pergi kedepan pintu karena suara bel.
Ku buka pintu, tertampak lah seorang lelaki jangkung dengan seragam khasnya yang masih melekat. Aku tersenyum lalu lelaki tersebut memelukku. Cepat-cepat aku mendorongnya dengan alasan aku bau karena beres memasak.
Dan suara teriakan yang nyaring terdengar dengan jelas, "Om Ipraaaaaaaa~" Junior berlari lalu memeluk Ipra, dan Ipra langsung menggendong Junior. Mereka membicarakan percakapan yang sama sekali tidak aku mengerti.
__ADS_1
"Okey, yuk kita makan dulu." ajakku.
Semuanya menikmati makan malam dengan santai. Namun malam ini ayah tidak bisa menginap dirumahku, alhasil Ipra lah yang menemani Junior sampai terlelap. Ku tatapi langit malam yang gelap sedikit kebiru-biruan. Mendadak aku teringat pada Arkan. Apa dia sudah keluar dari penjara? Apa pada akhirnya dia menikah dengan Alifa? Mungkinkah Arkan dan Alifa sudah hidup dengan bahagia?. Ku teguk sedikit anggur, lalu ketika aku menatap ke bawah. Mataku melotot, aku melihat seseorang tengah menatapi rumahku dibawah sana. Dia terlihat seperti seorang lelaki, dan kehadiran Ipra membuatku terkejut. Sampai ketika aku melihat lagi kebawah, lelaki tersebut sudah tidak ada.
"Kamu baik-baik aja?" tanya Ipra menyentuh lenganku.
"Aku lihat seseorang tadi disana." Ipra langsung melihat ke arah yang aku tunjukkan.
"Mungkin kamu terlalu banyak minum. Aku akan berjaga, istirahatlah." Aku menuruti perkataan Ipra.
Esoknya ketika aku hendak pergi bekerja, aku benar-benar kaget melihat mobilku sudah kotor dengan tulisan-tulisan kotor yang mengatai diriku. Ada banyak sekali goresan-goresan gambar seperti vandalisme. Teriakan ku berhasil terdengar oleh satpam dan Ipra. Kakiku lemas seketika, aku tak kuasa menahan beban tubuh sendiri.
Karena kejadian tersebut aku harus membeli mobil baru dan sementara waktu akan dicarikan sopir. Jujur sejak awal menjadi seorang model, Julian memang sudah menawarkan supir dan para penjaga untukku. Namun aku menolaknya dengan mentah-mentah karena ku pikir aku tidak akan memiliki banyak penggemar dan para haters. Dan seiring berjalannya waktu, aku mulai mendapatkan teror dari berbagai macam orang. Yang paling kutakuti adalah para peneror tersebut mengganggu anakku juga.
"Saya sudah mendapatkan kandidat supir dan penjaga pribadi."
"Apa mereka benar-benar bisa dipekerjakan?" tanya paman pada bawahannya tersebut.
"Ada supir yang mantan supir dari artis ternama yang meninggal dunia, beliau sudah mengabdi begitu lama. Untuk bodyguard, ada juga yang datanya cukup okey, dia adalah mantan dari prajurit tentara, saya rasa cocok sekali untuk mengawal nona Geya." jelasnya, dengan begitu manajer meminta terlebih dahulu calon supir yang masuk. Beliau di wawancarai oleh paman, dan beliau bisa menerima semua jadwal padatku.
Sampai pada calon bodyguard, Lucy meralat bahwasannya menjadi ada beberapa kandidat. Dan yang sesuailah yang akan menjadi pengawal pribadiku.
Aku meraih botol minum dan pada saat itu juga air minum yang hendak ku telan mendadak tersumbat membuatku kesulitan bernapas. Semua orang panik terlebih lagi paman. Aku terbatuk-batuk sampai rasanya dadakku itu begitu kasar, aku tak kuasa menelan air. Setelah merasa baikkan, aku langsung melihat lagi kandidat yang di katakan Lucy.
Dan.. "Arkan?!"
TBC....
Note :
Untuk chapter awal ini agak membosankan...
Nantikan kejutan-kejutan selanjutnya yaaaaa.....❤❤
Ipra 👇
__ADS_1