
"Tidak paman, kumohon jangan terima pria tersebut untuk menjadi pengawal pribadiku. Dia tidak akan menjagaku melainkan mungkin saja melukai diriku." aku berkata dengan penuh harap bahwa paman tidak akan memperkerjakan Arkan.
"Sudahlah, dia yang terbaik untuk menjaga dirimu untuk saat ini. Kamu hanya perlu profesional, tidak perlu bawa masalalu kedalam pekerjaan. Ini juga untuk keselamatan dirimu, kamu aset terbaik di perusahaan. Cukup tersenyum dan menurut agar uang terus mengalir." Aku tidak habis pikir dengan perkataan paman.
"Bawa dia untuk berganti pakaian, benahi agar tetap terlihat begitu cantik. Sebentar lagi akan ada pemotretan." perintahnya pada Lucy.
Lucy menyeretku kedalam ruangan lalu mempermak wajahku. Selama pemotretan aku mati gaya karena pikiranku yang bekerliaran memikirkan Arkan. Sejak kapan dia keluar dari penjara? Bagaimana bisa dia melamar menjadi seorang pengawal padahal dia itu sudah kaya raya.
"Hey! Fokuslah, raut wajahmu itu jelek sekali. Lebih seksi sedikit, jika tidak aku tidak akan membayar dirimu." tegur fotografer, sontak aku langsung tersadar lalu fokus pada pemotretan. Sesudah ini pasti paman akan mengomel lagi.
Satu...dua...tiga...empat
"Okey bagus!" teriaknya menyudahi pemotretan.
Badanku pegal-pegal sekali, hari ini harus berganti pakaian sebanyak tiga kali. Ditambah mengubah gaya rambutlah yang begitu lama. Aku masuk kedalam ruangan istirahat, memakan beberapa cemilan yang berikan oleh kru.
Baru saja merasa begitu baik, aku sudah mendengar kabar mengenai jadwal yang akan padat akhir-akhir ini.
Aku melakukan rehearsal sebagai pembawa acara di ajang penghargaan bergengsi ditemani oleh Taylor juga June yang akan menggatikan Taylor ketika Taylor berada di kandidat kategori.
Rasanya badanku mau remuk, aku langsung masuk kedalam mobil setelah selesai. Aku merasa begitu beruntung karena memiliki supir pribadi. Selama 4 tahun lamanya aku menghandle semuanya dengan sendirian. Tidak butuh waktu lama aku rasa aku sudah tidak sadarkan diri.
Aku meregangkan tubuh, empuk sekali dan aku baru sadar bahwa aku sudah berada diranjang. Aku beringsut dari kasur lalu membuka tirai yang disapa oleh hangatnya sinar matahari. Siapa yang memindahkan aku kekamar?.
Aku pergi keluar dari kamar, menuruni tangga sembari memijat-mijat pundak.
"Apa Junior sudah bangun?" tanyaku duduk di kursi makan lalu meneguk air putih.
__ADS_1
"Junior sedang bermain ditaman." aku mengangguk-angguk lalu menyantap makanan yang sudah di siapkan oleh bibi Ahn.
Aku membawa makanan untuk menyuapi Junior. Ku geser pintu kaca sembari sedikit berteriak, "Junior sayang~ ayo sarapan~" panggilku melangkahkan kaki ke rumput.
Terdengar suara Junior seperti tengah mengobrol dengan seseorang. Aku mendekati suara tersebut dan mendapati Junior tengah bercakap dengan Arkan. Sontak aku langsung menggendong Junior.
"Sedang apa kamu disini? Kenapa kamu bisa tahu rumahku? DAN APA YANG KAMU LAKUKAN PADA JUNIOR?!" Aku berteriak kencang sekali. Ku peluk Junior begitu erat digendongan.
Arkan terdiam, dan aku bisa merasakan jantung Junior berdetak begitu kencang. "Junior, mami mau kamu masuk kerumah. Jangan keluar sampe mami izinkan." gumamku dan Junior mengangguk dengan kuping yang sangat merah. Saat ku turunkan, Junior langsung berlari kedalam rumah.
"Biar ku tanya sekali lagi, apa yang kamu lakukan disini?" tanyaku dengan begitu tegas.
Arkan masih terdiam memandangi diriku, aku bisa melihat matanya sedikit berair. Lalu perlahan Arkan melangkah mendekat. "Kamu hanya perlu menjawab, berhenti mendekat." dan Arkan langsung menghentikan langkahnya.
Aku bisa mendengar jika dia menelan ludah. "Manajer mu bilang, aku harus mulai mengawal dirimu." katanya. Namun aku benar-benar marah sekali pagi ini.
"Sebenarnya apa yang dirimu mau? Kamu tahu seberapa sulitnya aku untuk meninggalkan dirimu? Mengapa dengan mudahnya kamu muncul dihadapanku seperti ini. Kumohon biarkan hidupku tentram, aku benar-benar tidak mau terlempar lagi ke masalalu buruk itu. Kumohon menjauh dariku, biarkan aku menjalani hidupku dengan Junior. Aku sudah tidak membutuhkan dirimu lagi." aku menangis, aku berteriak, aku benar-benar tidak ingin berurusan lagi dengan Arkan.
"Apa Junior anakku?" tanyanya membuatku terdiam. Mendadak lidahku kelu, aku mematung untuk beberapa saat.
"Dia anakku. Bukan anakmu, sekarang kumohon pergilah. Aku ingin beristirahat."
"Aku sudah berjanji pada manajer untuk selalu menjaga dirimu. Dan itu adalah perintahnya untukku, aku tidak akan mengganggu dirimu lagi. Kamu bisa menjalani kehidupanmu yang baru, aku tidak akan ikut campur." katanya lalu melenggang pergi.
Aku masuk kedalam rumah lalu melamun merasa bahwa aku sudah begitu keterlaluan pada Arkan. Aku merasa menyesal karena sudah membentak dan mengatakan sesuatu yang tidak mengenakan. Namun aku juga merasa bahwa perbuatanku tadi itu benar. Lalu aku takut sekali jika Arkan mengambil Junior dariku, aku takut dia merenggut orang yang ku sayang lagi.
.
__ADS_1
.
Aku menyuruh Junior untuk pergi ke mobil terlebih dahulu karena pak Yu sudah berada di mobil. Aku mengambil beberapa pakaian lalu kusimpan di bagasi. Saat aku membuka pintu di sebelah pengemudi, aku mendapat Arkan sedang terduduk disana. Dia memakai pakaian khas seorang pengawal apalagi dengan aksesoris earphone Ht Walkie Talkie yang melekat di kupingnya.
Aku membuang dan menarik napas beberapa kali lalu masuk kedalam mobil. Ini pertama kalinya aku duduk sejajar di mobil dengan Junior. Junior menanyakan banyak hal mengenai buku ceritanya. Dia bilang ada beberapa yang tidak di mengerti, lalu aku pun membantunya agar ceritanya mudah di cerna.
Terlihat sekali di wajah Junior bahwa dia senang sekali aku membantunya. Seketika itu juga aku tersadar bahwasannya aku tidak menjadi ibu yang baik untuknya. Aku terlalu sibuk bekerja sampai-sampai menelantarkannya seperti ini. Setelah itu Junior jadi banyak bertanya mengenai cerita-cerita yang tidak mengerti dikarenakan buku ceritanya hanyalah berisikan gambar. Usianya baru 3 tahun, dan Junior sudah mulai bisa menyusun kata lebih baik lagi.
Aku mencium kepalanya lalu berkata, "bermain dengan baik ya, jangan sampai bertengkar." gumamku.
Junior tersenyum dan mengangguk dengan begitu semangat lalu berlari masuk ke taman bergabung dengan teman-temannya.
Aku terkejut ketika mendapati Arkan berada di belakangku. "Aku pikir ini keterlaluan, kamu kan bisa menjagaku dengan cara memperhatikan didalam mobil seberang sana." Aku meracau, kesal sekali.
"Saya hanya mencoba untuk berjaga-jaga." katanya dengan kosakata yang begitu formal.
Aku mencoba untuk tidak memperdulikannya. Aku menunggu lampu pejalan kaki menyala namun tiba-tiba saja ada seseorang yang mendorongku hingga aku nyaris terjatuh kejalanan dan mungkin terlindah jika seandainya Arkan tidak menarik tanganku. Kejadiannya begitu cepat sekali, aku tidak sadar bahwa sedang di dekap oleh Arkan.
"Anda baik-baik saja, nona?" tanyanya namun tidak menatapku, dia bertanya dengan tatapan yang lurus.
"Ya, terimakasih." kataku mendorong tubuhnya untuk menjauh. Setelah itu lampu pejalan kaki pun menyala, aku langsung berjalan masuk kedalam mobil.
Aku memasang seatbelt lalu memejamkan mata. Rasanya aku melenyap sesaat tadi. "Anda perlu minum agar sedikit membaik." Aku membuka mata, lalu meraih botol mineral yang diberikan oleh Arkan. Kemudian mobil pun melaju.
Aku menghabiskan air di dalam botol tersebut. Sesekali mencuri padangan untuk melihat Arkan di kaca spion depan. Dia tetap memandang lurus. Kosong.
Tadi ketika aku didekap olehnya, aku bisa merasakan detak jantung Arkan yang begitu kencang. Apa mungkin dia takut ? takut aku terluka?.
__ADS_1
TBC......