
Acaranya meriah sekali, aku tidak tahu bahwa ternyata banyak musisi-musisi yang mengenal diriku sebagai model.
Dibackstage aku berinteraksi dengan beberapa anggota band.
"Kamu itu aslinya cantik banget dibandingkan lihat dimajalah ya." puji salah satu dari mereka. Aku tersenyum lalu berterimakasih.
Aku berjalan untuk pergi bergabung dengan artis-artis lainnya. Namun tiba-tiba saja ada seorang lelaki yang menabrak tubuhku dari belakang, saat aku menoleh tangan lelaki tersebut sudah di cengkeram oleh Arkan.
"Ow tolong, tanganku bisa patah." katanya panik, dia seorang kru.
Arkan menoleh padaku lalu melepas cengkeramannya.
"Anda baik-baik saja?" aku mengangguk, lalu melanjutkan langkah kaki dan duduk sejenak bersama teman-teman.
Beberapa Idol dari Korea datang mengisi acara ini, dan sepertinya isi gedung ini adalah semua fans boygrup yang sedang melejit itu.
"Wah~ tidak disangka kita sudah berada di penghujung acara. Aku selalu berharap tahun depan bisa diundang untuk mengisi acara ini lagi." aku terkekeh ketika June mengatakan itu.
"Benar, menjadi suatu kebanggaan sekali karena bisa mengisi acara bergengsi ini sampai akhir. Saya Geya Lioran."
"Dan saya June, sampai jumpa dan selamat malam."
Acara pun berakhir, aku berjalan sembari di buntuti oleh Arkan. Dia benar-benar mengawal dan profesional. Saat aku hendak membuka pintu mobil tiba-tiba saja Arkan melepas jasnya lalu memasangkannya di pundakku. "Saya tahu nona kedinginan dari tadi." katanya lalu membukakan pintu untukku.
Sesampainya dirumah, bibi Ahn masih terbangun.
"Junior sudah tidur?" tanyaku di ambang pintu.
"Belum, Junior rewel sekali hari ini. Bahkan sepertinya Ipra begitu kewalahan." Aku terdiam lalu menoleh pada Arkan. Dia menatapku lalu mengalihkan pandangannya.
"Kamu bisa pulang sekarang." kataku.
"Saya, akan berjaga di pos satpam." dia mundur selangkah lalu melenggang pergi.
Apa mungkin Arkan sudah tidak punya rumah?. Hah~ pikiran macam apa sih, tidak mungkin orang kaya sampai ke nadi itu berubah menjadi miskin.
Aku pergi ke kamar Junior mendapati Ipra tengah menggendongnya mencoba menidurkan Junior. Bocah lelaki itu sadar akan kehadiran ibunya. Junior langsung minta turun lalu berlari kearahku. "Mami Junior...mau ti...dur sama ma...mii.." gumamnya dengan wajah yang sudah lelah, terlihat matanya merah.
"Yu, mami temani tidur." Junior mengangguk lalu menarik tanganku keranjang.
Junior meraih buku ceritanya lalu meminta untuk di ceritakan. Aku tersenyum lalu mengangguk menyatakan bahwa aku akan membacakan cerita untuknya sampai terlelap.
"Kalo begitu aku akan menunggu diruang tamu." ucap Ipra menutup pintu.
__ADS_1
Aku mulai menceritakan kisah seorang gajah yang ingin bisa terbang seperti kupu-kupu. Gajah tersebut berteman dengan kupu-kupu yang begitu cantik, lalu memberitahu pada si kupu-kupu bahwa gajah ingin memiliki sayap agar bisa berpergian kemana saja sesuka hatinya. Namun kupu-kupu memberitahu gajah bahwa seharusnya dia sangat begitu bersyukur karena hidup menjadi seekor gajah itu bisa begitu lama, berbeda sekali dengan kehidupan kupu-kupu. Karena ketika sedang menjadi seekor ulat, dia sangat tidak disukai oleh manusia. Sementara saat berubah menjadi kupu-kupu yang cantik, para manusia mencoba untuk menangkapnya lalu setelah itu merusak sayap sehingga tidak bisa kembali terbang seperti yang dipikirkan oleh seekor gajah. Pada akhirnya gajah menyadari bahwa dirinya hanya kurang bersyukur dengan kehidupannya saat ini, setelah itu gajah pun mensyukuri kehidupannya.
Aku tersenyum melihat Junior yang sudah terlelap. Dia memegang lengan jas milik Arkan. Saat aku mencoba untuk melepasnya, Junior terusik nyaris bangun lagi. Alhasil aku melepas jas tersebut lalu membiarkannya tertidur bersama dengan Junior.
Ku seruput teh buatan Ipra, kami berbincang-bincang ringan sampai larut malam. Dia juga bertanya mengenai masa depan Junior, apa yang harus aku katakan pada Junior jika suatu saat nanti Junior menanyakan siapa ayahnya? kemana ayahnya pergi?. Aku benar-benar tidak memikirkan hal tersebut, apalagi mengingat Arkan sudah berada di sekitarku.
Tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu, Ipra langsung berjalan ke arah pintu lalu membukanya. Dan terdengarlah suara pukulan yang cukup keras, aku langsung berlari keluar. Ipra tengah mencengkeram baju Arkan dengan tangan yang hendak memukul.
"Apa yang kamu lakukan?!" tanyaku dengan nada yang sedikit naik.
"Bagaimana bisa Lo tau rumahnya Geya?" Ipra bertanya sembari marah pada Arkan. Namun Arkan tidak menjawabnya dia lebih memilih memandangku seolah menyuruhku untuk memberitahu Ipra.
Aku mengacak rambut lalu membuang napas dengan kasar. "Dia bekerja denganku sekarang." kataku membuat Ipra terkejut. Dia marah, sangat marah.
"Kamu mencoba untuk bunuh diri? Kamu tahu seberapa buruknya dia ini?." Ipra menatap Arkan lalu menarik kerah kemejanya. "Apa yang sebenernya lo mau? kenapa lo terus-terusan usik kehidupannya Geya? lo tau kan lo itu cuma membawa sial untuk Arkan. Lo harus sadar lo sama sekali ga pantes..."
"CUKUP!" Teriakku memotong perkataan Ipra. Aku merasa tidak terima dengan ucapannya. Aku tahu mungkin memang ada benarnya, namun ini terlalu keterlaluan. Tanpa aku sadari aku menyuruh Ipra untuk pergi. Dan telihat bahwa raut wajah Ipra tidak percaya aku mengusirnya.
"Kamu terluka?" tanyaku, Arkan menggeleng.
"Saya mau minta air hangat dan mengambil jas." gumamnya menjilat sudut bibirnya yang berdarah.
Aku mempersilahkan Arkan untuk masuk kedalam rumah.
"Design rumahnya bagus." komentarnya.
"Maaf, jasnya ada di kamar Junior. Dan dia memegang lengan jas tersebut, aku tidak bisa melepasnya karena takut Junior terbangun." terlihat sekilas jika Arkan mengulum senyuman. Dia mengangguk lalu berterimakasih untuk air hangatnya, setelah itu ia kembali ke pos.
.
.
"Aku dengar model make up nya Mrs. Ardipa sedang melejit lagi kali ini. Make up itu begitu terkenal bagus kan, hanya saja wajah si pemiliknya buruk. Aku rasa Mrs. Ardipa mengalami keracunan make up nya sendiri, dia itu kan wanita yang terlalu arogan. Aku senang ketika mendapati berita mengenai keluarganya yang terkena kasus." kata salah satu hairstylish ku.
"Anak bungsungnya itu masuk penjara kan?"
"Hm~ ada rumor yang mengatakan bahwa katanya, anaknya Mrs. Ardipa itu melakukan kekerasan pada bos kita ini." dia benar-benar tukang gosip.
"Benarkah?!"
"Iya, rumornya sudah menyebar 3 tahun yang lalu."
Aku berhenti menyeruput minuman, lalu meletakkan botol tersebut ke nakas dengan keras mengakibatkan suara hantaman. Para hairstylish ku kaget dan berhenti mengoceh.
__ADS_1
"Bisa tidak yang bekerja hanya tangan-tangan kalian saja?" mereka semua langsung menunduk dan mengangguk. Setelah itu keadaan menjadi hening. Menyebalkan sekali mendengarkan orang-orang bergosip mengenai ibunya Arkan. Mereka juga membicarakan sebuah insiden penganiayaan Arkan pada Julian.
Aku tidak habis pikir masih banyak yang menyebarkan rumor ini terhadap karyawan. Dan pula mereka berani sekali bergosip mengenai bosnya yang bahkan tidak pernah bertemu.
Sesi pemotretan bersama lipstick tidaklah terlalu lelah. Aku senang sekali jika melakukan foto dengan produk make up, karena setelahnya aku bisa mendapatkan produk tersebut dengan gratis.
Tiba-tiba saja ponselku bergetar, Lucy langsung memberikannya padaku. Dinar, dia menelponku. Suaranya terdengar seperti sedang menangis, dia memintaku untuk datang kerumahnya. Karena aku sedang bekerja saat ini, aku tidak bisa datang sekarang juga.
Malamnya aku pergi ke alamat yang di berikan oleh Dinar. Saat aku hendak keluar dari gerbang, Pak Yu bilang beliau akan mengantarnya. Namun, aku bilang aku hanya akan keluar sebentar. Lalu, Dinar kembali menelponku. Kali ini aku bisa mendengar bahwa dia berteriak meminta tolong, lalu setelah itu terdengar suara seperti pukulan dan Dinar kembali berteriak.
"Tolong...kumohon tolong aku!" teriaknya didalam ponsel.
"Dinar, tunggulah aku akan segera kesana."
Apa yang sebenarnya terjadi? Cepat-cepat aku langsung melajukan mobil tanpa menekan rem sama sekali. Karena ini sudah malam, jalanan kosong saat ini. Dari suara teriakannya yang bergetar, Dinar seperti ketakutan. Lalu suara pukulan yang aku dengar tadi, apa mungkin seseorang memukul Dinar?. Aku rasa Vino tidak mungkin melakukan itu.
Saat sampai, gerbang rumahnya tertutup namun tidak di kunci. Dan tidak ada penjaga juga, aku langsung berlari masuk kedalam. "Dinar?" panggilku, namun tidak ada jawaban.
Dan kemudian suara teriakan kembali terdengar. Itu adalah suara Dinar yang memanggil namaku. Sontak aku langsung menggedor-gedor pintu karena pintunya terkunci. Aku berlari mengelilingi rumahnya namun tidak ada satupun pintu yang tidak di kunci begitupun dengan jendela, hanya jendela lantai dua saja yang terbuka. Suara teriakan Dinar semakin kencang.
"Sial." aku mengumpat lalu mencoba mencari cara, aku memandang kesekeliling dan mendapati pot bunga. Ku raih pot tersebut lalu siap mengahatamnya ke kaca, namun seseorang mencegah dengan cara mengambil pot tersebut.
"Saya bisa mendobrak pintunya." ucapnya meletakkan kembali pot bunga.
"Bagaimana bisa kamu tahu aku disini?" tanyaku.
"Pak Yu mengatakan bahwa nona pergi sendirian menggunakan mobil yang cukup kencang. Saya sudah berjanji untuk selalu menjaga nona, saya menyusul kesini menggunakan motor yang ada di bagasi rumah nona. Maaf saya sudah lanca..." Ucapan Arkan terpotong oleh teriakan Dinar.
Kami kembali ke pintu utama lalu dengan sekali dobrakkan pintu itu langsung terbuka. Arkan kuat sekali. Aku berteriak memanggil nama Dinar, dan terdengarlah suara Dinar di salah satu ruangan.
"KUMOHON JANGAN!"
Tanpa pikir panjang Arkan langsung membobol lagi pintu ruangan tersebut. Aku mendapati Dinar dengan wajah yang babak belur, dihidungnya mengucur darah. Dan perutnya, dia tengah hamil. Sementara itu sepertinya Vino hendak memukul lagi Dinar menggunakan sabuk celananya.
Aku langsung berlari untuk mendekati Dinar, namun tubuhku di tendang oleh Vino. Tubuhku mendarat dengan membentur sebuah lampu hingga pecah. Aku meringis ketika tahu serpihan lampu menusuk telapak tanganku, ku tarik serpihan tersebut mengakibatkan darah segar mengalir keluar.
Aku tidak tahu sejak kapan Arkan sudah berada di dekatku. Yang pasti aku dapat melihat jendela kaca pecah, apa Arkan melempar Vino kebawah?. Dia merobek kemejanya lalu melilit tanganku, setelah itu membantuku untuk berdiri. "Aku bisa sendiri, tolong bantu Dinar saja." perintahku.
Dinar masih menangis sesegukan, dia mengusap-usap perutnya dengan gumaman yang tidak dapat didengar dengan jelas.
Arkan langsung menggendong Dinar, kami semua keluar dari rumah. Dan, sebuah lengan melingkar di leherku. Aku bisa merasakan ada benda tajam disana.
"Ssst, jika kamu berteriak aku akan membunuhmu."
__ADS_1
TBC.......