
Sinar matahari sangat terik sekali, rasanya kulitku terbakar walau sudah memakai sun block.
Aku mengatupkan bibir dan sesekali membuka bibir sedikit agar hasil fotonya sangat bagus. Photografer kali ini tidak banyak bicara dia okey-okey saja dengan pergerakan yang aku buat.
Dia menyarankan aku untuk menggunakan properti bola yang berukuran cukup besar, dan aku menurutinya. Sepertinya lelaki itu menyukai aku karena dia terlihat senang sekali memotret aku. Ketika jeda wajahnya berubah menjadi muram.
Lucy memberikanku handuk basah, sesekali dia bertanya padaku kemana perginya Arkan. Mengapa dia tidak bertugas hari ini?.
"Dia libur untuk mengasuh anaknya." kataku datar.
"Aku pikir pak pengawal bukan seorang duda, aku terkejut sekali saat dia mengakui diri bahwa dia adalah duda." Lucy menarik napas lalu membenarkan poninya.
"Dia duda yang sangat hot." tambahnya dan itu membuatku terkejut sedikit. Wanita polos seperti Lucy bisa mengakui hal seperti itu. Hah~ dia terlalu banyak bergaul dengan Arkan mesum.
Ponselku berdering, Arkan mengirimiku pesan sebuah foto. Disana tertampak Ibu Arkan dan Junior yang sedang mengobrol di taman. Tanpa ku sadari aku tersenyum, aku senang sekali melihat Junior mulai mengenali keluarga dari ayahnya. Dan sepertinya ibu tidak lagi memiliki sifat yang buruk, semenjak operasi waktu itu ibu benar-benar berubah.
Aku melanjutkan pemotretan untuk sesi terakhir. Saat aku sedang berada di tepian kolam renang sembari menyengir pada kamera. Aku melihat Ipra tengah melambai-lambaikan tangannya, dia menjemputku.
Photografer memintaku untuk fokus. "Dia itu calon suamimu?" tanyanya sembari memotretku.
"Hm~"
"Dia lebih cocok menjadi temanmu dibandingkan suami."
"Apa terlihat seperti itu?" tanyaku dan pria itu mengangguk.
"Ku pikir anda lebih cocok dengan seorang pria yang sedikit nakal." aku terkekeh mendengar sarannya. Mataku jatuh pada sebuah gelang cokelat yang sepertinya aku pernah lihat, namun aku lupa.
"Gelangmu cantik." pujiku.
"Ah~ gelang ini couple. Yang satu adikku yang pakai, kami kembar." aku terkejut ketika dia mengatakan itu. Aku menelisik wajahnya dan aku baru sadar bahwa dia mirip sekali dengan penggemarku saat di pantai.
"Adikku itu sangat suka padamu, dia fans Geya." aku tersenyum dan mengangguk ternyata benar.
__ADS_1
"Kamu kakaknya atau...."
"Kakaknya." jawabnya memotong kalimatku.
"Kita pernah bertemu di pantai, kita juga pernah foto bersama." jelasku.
"Benarkah? ku pikir kamu harus berhati-hati padanya. Dia itu sedikit aneh." lelaki yang tidak ku ketahui namanya ini merogoh celana lalu memberikan ku sebuah kartu nama.
"Kamu bisa memanggilku jika terjadi sesuatu." dia tersenyum dan menyudahi pemotretan ini.
Aku pandangi kartu nama pemberiannya, "Riena Aoki." gumamku.
"Dapat penggemar baru?" kedatangan Ipra sedikit mengagetkan aku.
"Tidak bukan, bukan apa-apa." jawabku menyimpan kartu nama tersebut kedalam pouch make up.
Ipra mengajakku untuk makan malam di restauran sejenak sebelum pulang kerumah.
"Apa kita perlu membungkus makanan untuk Junior?"
Dan~ keadaan berubah menjadi hening. Aku yang sedang melihat ponsel langsung melirik Ipra. Raut wajahnya tidak bersahabat sama sekali. Bahkan selama di perjalanan menuju rumah, mood Ipra buruk sekali.
"Kamu marah?" tanyaku.
"Sejak kapan Junior tahu bahwa Arkan ayahnya?" suara Ipra berubah menjadi seram.
"Sejak tiga hari yang lalu, ketika malamnya kamu dan Arkan bertengkar."
"Syukurlah jika Junior sudah tahu, aku turut senang." aku meringis ketika tahu Ipra sedang berbohong.
"Lain kali, Junior akan bersama denganku ketika kamu sedang bekerja."
Aku menarik napas, "Ku pikir itu tidak bisa, kamu juga perlu bertugas sebagai tentarakan. Lagi pula, seharusnya kami itu sibuk. Kamu sudah banyak cuti untukku."
__ADS_1
"Aku ini seorang atasan sekarang dan itu akan sedikit lebih mudah untukku libur." jelasnya memutar setir menuju garasi.
"Bekerjalah dengan benar sampai kamu benar-benar mendapatkan cuti pernikahan." aku membuka sabuk pengaman lalu keluar dari mobil.
"Kamu tahu, aku tidak bisa jauh-jauh dari ibu barang sekali saja. Maka dari itu aku selalu ingin bersama denganmu." katanya membuatku merinding.
"Kamu berlebihan." ledekku sembari memukul perutnya dan Ipra berlagak sok kesakitan.
"Aku akan menginap." katanya namun aku melarang Ipra.
"Besok kamu harus pergi ke perbatasankan. Pulang lah ke komplek, okey?"
Ipra cemberut dia meranik tanganku lalu memeluk dengan sangat erat. "Aku akan sangat merindukanmu." katanya di telingaku.
Aku mendongak menatapnya, "Kamu harus kembali." kataku seakan-akan aku akan ditinggalkan olehnya. Keadaan berubah menjadi sedikit menyeramkan, jantungku berdetak dengan sangat cepat. Aku merasakan perasaan yang tidak baik.
"Aku akan pulang, untukmu dan Junior." gumamnya, Ipra hendak menciumku namun ku cegah dengan telapak tanganku yang ku letakkan di mulutnya. "Bersabarlah, sampai pernikahan nanti." kataku dan Ipra mengangguk. Dia kembali memelukku dan mencium ujung kepalaku, setelah itu Ipra berpamitan untuk pergi ke Komp karena harus menyiapkan beberapa senjata.
Sementara itu, aku bermalam sendirian di rumahku yang selalu kena terror ini. Aku sedikit menyesal karena sudah menyuruh Ipra untuk pulang, namun aku tidak bisa jika dia harus menginap lagi.
Aku melamun ditemani oleh suara-suara dari televisi. Jika aku menikah dengan Ipra, apa mungkin aku akan kembali tinggal di komplek tentara? berbaur lagi bersama dengan istri-istri prajurit?. Mendadak aku teringat dengan semua masa lalu ku bersama dengan Arkan. Dimana aku mendengar gosip bahwa Alifa tinggal bersamanya di rumah dinas. Lalu mencari-cari rumah dinas yang mana dan yang ku temui adalah Alifa dan Arkan yang akan berkencan malam-malam.
Rupanya banyak sekali ceritaku dengan Arkan di komplek dinas itu. Apa kabar dengan Ergy, ya?. Apa dia sudah menikah sekarang?. Entahlah, setelah empat tahun ini aku tidak tahu kabar dari Komp Tamtama. Aku mencoba untuk memejamkan mata namun tidak bisa, sesekali aku melirik pada jendela yang waktu itu pecah. Aku mulai takut sekarang ini. Mendadak tubuhku gelisah dan mengeluarkan keringat dingin.
Ku raih ponsel untuk menyalakan sebuah lagu agar tidak terlalu sepi namun tetap saja sekencang apapun aku memutarnya aku dapat mendengar suara-suara aneh di luar. Aku mencoba memberanikan diri untuk tidak takut ketika mendengar suara gesekan dari kaca jendela. Aku menyingkapnya namun tidak ada apa-apa sama sekali. Komplek ku ini masih terbilang banyak lahan yang belum di bangun, dan kebetulan sisi kanan rumahku masih hamparan kosong yang ditemani dengan beberapa pohon besar saja.
Kerongkonganku menjadi serat karena bernapas terlalu keras. Aku turun kebawah untuk mengambil segelas air putih. Dan disinilah yang membuatku semakin takut, karena rumahku banyak sekali kaca jendela juga hanya ditutupi oleh tirai abu-abu yang transparan. Aku dapat melihat bayangan-bayangan pohon dan lain-lain. Aku mencoba untuk tidak menatap pada jendela namun mata ini bandal sekali sampai pada akhirnya aku memperhatikan kaca dekat taman. Disana aku dapat melihat bayang seperti manusia, tangannya tengah bergerak seperti tidak bisa di kendalikan.
Jantungku berdetak kencang sekali, mataku sedikit buram dan aku mencoba untuk memulihkan mataku terlebih dahulu. Aku masih bisa melihat bayang manusia itu. Ku raih benda keras yang ada di sekitarku, aku melangkah untuk membuka tirai jendela. Dan saat ku buka aku hanya mendapatkan sebuah pohon disana. Aku bisa bernapas dengan lega barang sedetik pun sampai pada akhirnya aku mendengar suara pintu terbuka, pintunya terbuka dengan sangat mulus tanpa ada paksaan sama sekali.
Aku menggigit bibir karena kali ini aku benar-benar merasa tidak aman. Aku membuka sandal lalu berjalan mengendap-endap untuk melihat siapa yang sudah masuk kedalam rumahku.
Dan, saat aku memiringkan wajah sedikit aku mendepati seorang pria dengan pakaian hitam. Rambutnya basah padahal di luar tidak hujan sama sekali, dia memakai jas hitam yang lebih mirip seperti jubah. Dia masih membelakangi aku sehingga aku tidak bisa melihat siapa dia. Namun, aku memanfaatkan keadaan ini untuk memukulnya saat aku mengangkat tangan tiba-tiba saja pria itu menoleh dan dia adalah ........
__ADS_1
Tbc..........