
"Kita jalanin semuanya masing-masing. Ga perlu ikut campur privasi satu sama lain."
Aku menelan ludah dengan sekuat tenaga. "Apa itu yang kamu mau?" Arkan mengangguk dengan mantap. Untuk pertama kalinya aku mengeluarkan air mata dihadapannya.
"Okey~ pernikahan itu hanya permainan kan. Kita tidak pernah menikah, kita tidak pernah saling mengenal, dan juga tidak pernah ada kata 'kita'. Aku akan menuruti semua apa yang kamu mau, tapi seenggaknya biarkan aku buat melindungi sesuatu yang memang seharusnya aku lindungi." 'Pernikahan kita.' Batinku dikalimat terakhir.
Sekuat apapun kamu mencintai Alifa, Alifa tidak akan pernah bisa bersama kamu. Kekuatan cinta yang aku miliki, akan mempertahankan pernikahan ku dengan kamu. Akan ku pastikan suatu saat nanti kau tidak akan pernah bisa berpaling dari ku.
Empat Bulan Kemudian.
Hari ini kami semua akan ikut ke kompi senapan. Ketua senang bukan main karena akhirnya ada shooting yang lebih menegangkan dari marah-marah. Disana kami semua jadi sedikit ikut belajar. Beberapa kali aku menutup kuping karena ternyata suara tembakan itu keras sekali.
Ku tarik napas dalam-dalam, aku betulan menjadi seorang lajang selama 4 bulan ini.
Aku mencoba mengambil shoot yang bagus namun seseorang jalan kearahku. Aku tersenyum saat mulai mengenali wajahnya lewat kamera.
"Kamu sengaja ya menghalaunya."
Ipra mengangkat bahunya bodo amat.
"Aku ga suka ya kamu foto laki-laki lain selain aku." Lagi-lagi dia menggoda aku yang sudah menikah.
"Tolong sadar ya, aku ini punya suami."
"Tapi, kalian ga keliatan kaya suami istri." katanya datar.
"Iya bener~ kasian banget deh kamu, padahal cantik tapi sama Arkan dikhianatin." Aku melotot pada Dinar. Dia langsung tersenyum mengejek.
"Gosip tentang suami lo tuh udah kesebar. Para bawahan-bawahannya itu udah tau kalo si dokter itu tuh tinggal di rumah dinas si Arkan. Lo jadi istri galak dikit, napa!."
"Itu ga bener ko, Arkan cuma... cuma kasih tempat tinggal aja buat Alifa. Arkan ga ikut tidur dirumah dinas itu. Cuma buat sementara, sampai Alifa selesai tugas disini." jelas ku, kebohongan semuanya.
"Lo kalo mau boong itu ke orang yang lugu. Gue udah tau kok semuanya. Lo ga usah tutup-tutupin dari gue."
Ipra meletakkan tangannya di bahuku. "Mau liat sesuatu yang cantik?" belum sempat aku mengangguk. Ipra sudah menarik tanganku duluan. Aku menoleh ke belakang Dinar mengacungkan jempolnya padaku.
Ipra menutup kedua mataku dengan tangannya. Aku tidak tahu dia membawaku kemana. Yang pasti katanya ia ingin memberiku sebuah kejutan.
"Taraaaa~"
Mulutku menganga cukup lebar, rasanya aku melihat surga. Sebuah saung kecil dengan rumput-rumput rimbun di sekitarnya, bunga bermekaran warna-warni dimana-mana. Sangat cantik, dengan cepat aku memotretnya.
"Apakah aku boleh ke saung itu?" tanyaku dengan antusias, tapi Ipra menggeleng.
"Disana banyak ranjau. Itu hanya tipuan saja." aku cemberut dan memasang wajah memohon.
__ADS_1
"Aw" Ipra mencubit kedua pipiku.
"Kalian ga boleh main-main disini." Aku menoleh kesumber suara. Dengan gesit Ipra langsung memberi hormat padanya.
"Letnan Ipra, anda tahu ini daerah bahaya mengapa membawa orang lain kemari?"
"Siap, saya hanya ingin memberikan pemandangan yang bagus untuk nona Geya." Ipra mengucapkannya dengan sangat cepat. Aku tertawa namun Arkan menegurku.
"Kembalilah, sebelum ada yang terluka."
"Siap, pak." jawabnya dengan sangat tegas.
Ipra meraih tanganku begitu pun dengan Arkan. Kedua tanganku di pegang oleh mereka. Aku menoleh pada Arkan, "Tinggalkan Geya disini." Perintahnya pada Ipra.
Ipra menatapku dan aku tahu apa yang sedang ia lakukan. Aku mengangguk dan dia pun pergi terlebih dahulu.
"Kita harus pulang, nanti sore ibu akan meresmikan bisnis make upnya. Dan papa minta kamu buat ikut." Jelasnya sembari membuka pakaiannya.
"Kenapa kamu buka ba.." Aku mematung saat Arkan mengecup bibirku. Dia meletakkan pakaian atasannya di bahuku. Lalu menarik tanganku untuk pergi dari sini.
"Tunggu, aku harus minta izin dulu sama ketua."
Dan Arkan menghandle semuanya, dia tidak berhenti menarik tanganku. Semua orang yang ada disini menatap kearah kami.
"Arkan kamu mau kemana?" tanya Alifa.
Saat dirumah, Arkan memberiku sebuah kotak silver. Dia menyuruhku untuk memakai pakaian ini. Aku menatap padanya, "Kamu ga keberatan aku pake baju kaya gini?"
Aku dapat melihat jika Arkan merasa gelisah. "Sedikit." katanya malu-malu. Aku bilang jika aku tidak akan memakai pakaian ini jika dia keberatan, tapi Arkan memaksaku untuk memakainya.
"Bagaimana?" tanyaku saat Arkan masuk kedalam kamar mandi. Dia menatapku lewat pantulan kaca.
"Ipra benar, kau memang cantik memakai apapun." Tangannya melingkar di perutku, ia letakkan dagunya di bahuku.
"Wangi." gumamnya mengecup leherku.
"Ayo kita foto." ajakku.
"Aku gasuka ada orang lain yang sentuh-sentuh kamu." apa aku tidak salah dengar?. Kuletakkan ponsel.
"Tapi, bukannya kamu yang bilang kalau kita jalanin semuanya masing-masing aja. Ga perlu inget kalau kita pernah menikah."
Arkan tidak menjawab apapun.
Suara alunan musik menghiasi acara peresmian hari ini. Acaranya super-duper meriah, terlebih ibu begitu senang saat memotong pita. Aku langsung berhambur pada ayah. Aku merindukannya. Entah bagaimana awalnya, aku merasa hari ini aku jauh lebih dekat dengan kakak dan kakak iparnya Arkan.
__ADS_1
"Geya, selalu tampil cantik ya. Aku rasa mukanya memang udah cantik dari sananya."
"Jelas dong, liat ayahnya aja ganteng, gagah, kaya gini."
Aku tertawa saat papa mengatakan itu pada ayah.
"Apa saya boleh menawarkan sesuatu? Wajah anda sangat cantik, sepertinya cocok untuk model make up perusahaan kami. Hubungi saya jika anda berminat." Pria tersebut memberiku sebuah kartu nama lalu pergi begitu saja.
"Hajar Geya, udah jadi jurnalis jadi model juga. Cocok emang nih."
Aku melirik Arkan, dia tersenyum lalu meneguk minumannya. Sementara yang lain sudah mulai menyukai aku, ibu tidak. Beliau masih sama, tetap tidak menyukaiku.
"Arkan, ayo dong papa udah ga kuat nih pengen gendong cucu." Aku dan Arkan terdiam sejenak.
Cucu apanya, malam pertama saja masih belum pernah terjadi.
"Kenapa harus minta dari Arkan sih pah, kan ada kak Arya sama kak Ardan. Mereka nikah lebih dulu dari Arkan kan, papa harusnya minta sama mereka berdua. Arkan masih mau berduan sama Geya." Arkan merangkulku lalu mencium kepalaku.
"Ga salah kan kalo papanya nak Arkan minta seperti itu. Geya, ayah juga sama mau punya cucu." Kini ayah ikut-ikutan meminta.
Kami semua berbincang-bincang ringan menghilangkan stress.
Aku tahu apa yang dilakukan oleh Arkan hari ini hanyalah akting. Andai saja Arkan juga mencintaiku, aku rasa kami bisa mewujudkan apa yang papa dan ayah mau. Aku menatapinya di mobil, dan dia menyadari itu.
"Gausah liat-liat." ketus.
"Apa selama ini Alifa tinggal sama kamu dirumah dinas?" tanyaku ingin tahu.
"Apakah kalian tidur di satu ranjang?"
"Okey~ aku rasa kamu ga perlu jawab dua pertanyaan aku itu." aku meremas seatbelt, bodoh sekali. Mengapa aku harus mencampuri urusannya. Akan lebih baik jika aku tidak tahu. Sudahlah Geya, kamu ga perlu tau apapun lagi tentang Arkan dan Alifa.
"Aku ga tidur dirumah dinas dan juga ga tidur satu ranjang sama Alifa. Yang tempatin rumah dinas aku memang Alifa, tapi kita tidak tinggal bareng." rasanya aku bisa bernapas dengan lega ketika Arkan bilang tidak.
Arkan menghentikan mobilnya, "kenapa?"
"Kayanya mobil yang didepan itu mogok. Kamu tunggu disini okey." Arkan langsung keluar dari mobil lalu berlari menghampiri pria itu. Aku memperhatikan mereka dari dalam mobil. Pria blontos tersebut memeluk Arkan tiba-tiba lalu masuk kedalam mobilnya. Sementara Arkan dia jatuh ke jalanan. Dengan cepat aku keluar dari mobil.
"Kamu baik-baik aja?"
Wajah Arkan pucat ditambah seperti menahan nyeri.
"Perut.." katanya dengan susah payah. Aku langsung menarik tangan Arkan, dan tangannya di penuhi oleh darah.
Diperutnya terdapat luka tusuk cukup besar.
__ADS_1