TIDAK DIINGINKAN

TIDAK DIINGINKAN
VII


__ADS_3

Arkan masih belum sadarkan diri, dia masih tertidur setelah melakukan operasi. Aku menggenggam tangannya tak berhenti berdoa juga menangis. Aku sangat takut sekali, aku takut Arkan akan meninggalkan aku sendirian di dunia ini. Aku benar-benar tidak bisa mengontrol pikiranku yang bercabang.


"Cepetlah buka mata Arkan, aku janji aku gabakal pernah ganggu hubungan kamu sama Alifa. Asalkan kamu bangun." ku letakkan tangannya dipipiku. Tangannya dingin sekali seperti es.


Pintu ruangan terbuka, aku hendak memeluk ibu tapi ibu menamparku dengan sangat kencang. Seketika suara bising menusuk telingaku, aku terdiam karena kaget luar biasa. "Inilah akibatnya untuk seorang tentara yang tidak menikah dengan seorang dokter! Papa liat? Dokter tadi bilang kalau Arkan kehilangan banyak darah! Itu karena perempuan miskin ini bahkan gabisa ngelakuin pertolongan pertama! Dia ini cuma bisa membahayakan anak kita!." Ibu marah, dia membentak-bentak papa sekaligus menyalahkannya.


Benar yang dikatakan ibu, seandainya saja Arkan menikah dengan seorang dokter sudah pasti keadaannya tidak akan terlalu buruk seperti ini. Aku meminta maaf pada ibu karena tidak bisa menjadi istri dan menantu yang baik. Aku bersujud di kakinya memohon maaf karena aku, Arkan koma seperti ini. Ibu menepis tanganku. "Pergi dari sini pembawa sial." air mataku jatuh tepat di kakinya.


"Bu~" terdengar suara papa yang meminta ibu untuk mengontrol emosinya.


"SAYA BILANG PERGI!." Teriaknya sembari melempar tasku.


Aku mengangguk, dengan berat hati aku pergi meninggalkan rumah sakit. Aku ingin sekali menemani Arkan, aku ingin berada disisinya saat ini. Tapi bagaimana jika justru aku hanya akan membuat masalah ketika disisinya.


"Aku kangen Arkan." lirihku bersamaan dengan air mata yang terus mengalir.


"Arkan~" Aku tidak tahan lagi melangkahkan kaki. Aku menangis sekencang-kencangnya, aku tidak mau menjauh lagi darinya. Aku ingin selalu berada disisinya, aku mencintai Arkan. Aku menyayanginya.


Tapi keadaan berkata lain, seorang prajurit seperti Arkan memang tidak cocok dengan diriku. Aku bahkan tak bisa melindunginya, aku tak bisa mengobatinya ketika dia kesakitan. Dan yang lebih menyedihkan, aku tidak akan pernah bisa berada disisinya.


Setelah kejadian itu, yang benar-benar membuatku harus tak pernah merasa kenal dengan Arkan. Aku tidak pernah mengujunginya secara buka-bukaan, sesekali aku datang kerumah sakit di malam hari. Itu pun masih takut ketahuan oleh ibu. Mengintipnya lewat jendela atau menanyakannya pada suster. Aku selalu menitipkan bunga lavender pada suster setiap hari rabu, tujuannya untuk di simpan diruangan Arkan agar tidak ada serangga. Dan hari ini kamis malam, aku tengah mengintip, rupanya Alifa berada disana. Mereka tengah mengobrol. Jujur saja, perasaanku begitu campur aduk. Aku benar-benar merasa kalah dari Alifa. Alifa bisa melakukan apapun dengan Arkan tanpa dicela oleh ibu.


"Geya~" seseorang menyentuh pundakku tiba-tiba. Aku nyaris saja teriak karena kaget. Aku mendapati Ipra, sepertinya dia mau menyelinap masuk keruangan Arkan. Ipra tersenyum padaku seolah tahu sesuatu.


"Kamu tunggu disini okey, ada yang mau aku bicarain sama kamu." Dia memberiku sebuah kunci mobil lalu masuk kedalam. Tidak selang beberapa waktu, Ipra sudah keluar.


Ipra mengajakku duduk dipojok rumah sakit dengan vending machine. "Kamu kemana aja sih? Hampir tiap hari aku nyariin kamu di mess. Tapi Dinar bilang, kamu masih menghilang. Aku pikir kamu lagi nemenin Arkan, sekitar satu minggu yang lalu kesini tapi Arkan bilang, kamu bahkan ga dateng untuk mengurusnya. Apa ada sesuatu yang terjadi?"

__ADS_1


Aku menunduk, mungkinkah Arkan sudah kecewa padaku saat ini?. Ingin sekali aku meminta Ipra untuk mengatakan pada Arkan bahwa aku di larang menemui Arkan oleh ibunya.


Aku menggelengkan kepala pelan. Ipra meraih tanganku lalu menggenggamnya. Dia menatapku dengan sendu. "Kalo kamu udah ga kuat bilang sama aku." aku mengkerutkan kening.


"Aku akan selalu ada disisi kamu. Menunggu kamu bercerai sama Arkan. Aku cinta sama kamu, Geya." lanjutnya membuatku terdiam tidak bisa berkata. Ipra baru saja menyatakan perasaannya terhadapku. Ku tarik tanganku dari genggamannya lalu memukul lengannya. "Makasih udah mau menghibur aku." kataku menganggap semuanya hanyalah sebuah lelucon.


Aku benar-benar terpikirkan oleh kata-katanya Ipra. Cara dia memandangku dan berkata bahwa dia menunggu akhir dari hubunganku dengan Arkan membuatku merasa seolah benar-benar menjadi manusia yang spesial. Tapi disisi lain aku tidak ingin berpisah dengan Arkan. Aku tidak pernah mau berpikir seperti itu lagi.


Ayah mengetahui semuanya, papa memberitahu beliau mengenai insiden Arkan. Rupanya ayah memang sudah menduga jika ibunya Arkan tidak suka padaku dan dirinya. Ayah memohon maaf padaku karena sudah egois, beliau bilang 'ayah cuma mau kasih kamu masa depan yang baik makanya ayah menyuruh kamu untuk nikah dengan Arkan'. Dan beruntungnya aku memiliki ayah seperti beliau. Beliau tidak menyarankan aku untuk berpisah, ayah memberitahuku bahwa memang seperti itulah pahitnya perjodohan. Ayah memintaku untuk bersabar dan tetap mempertahankan pernikahan, karena ayah sudah percaya pada Arkan. Ayah percaya pada kekuatan cintaku.


Aku membersihkan beberapa kamera dan pajangan-pajangan lainnya. Studio foto ayah sudah mulai sepi, hanya orang-orang tertentu saja yang berkunjung. Aku mengubah beberapa spot foto agar lebih terlihat kekinian.


"Selamat datang." sahutku ketika mendengar suara keringcing-pintu terbuka. Aku terdiam ketika melihatnya tengah berdiri. Dia disini berdiri tegak tidak lagi berbaring di atas ranjang.


Arkan membungkuk pada ayah lalu melangkahkan kakinya lebih dekat pada kami. Kami saling menatap tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Rasanya baru kemarin aku melihat ia masih tertidur tak berdaya.


"Aku kesini buat pemotretan kita." katanya membuatku tertawa kecil. Aku langsung mendekap tubuh Arkan, aku menangis. Menangis senang. "Jahat." gumamku di balik dadanya. Arkan menyentuh rambutku lalu mencoba untuk menenangkan aku.


"Bukan, bukan seperti itu. Aku cuma ga bisa kasih tau kamu alasannya." aku terisak-isak.


Arkan melepaskan pelukan lalu menangkup wajahku. "Cukup nangisnya. Kita kan mau foto." aku mengangguk.


Arkan memberiku sebuah tas kecil, didalamnya terdapat beberapa pakaian. Pertama-tama Arkan menyuruhku memakai pakaian berwarna krem sedikit kecoklatan. Aku memanggil ayah untuk meminta saran harus di bagaimanakan rambutku ini. Ayah merias rambutku sementara Arkan tengah bersiap di kamar ayah.


"Cantiknya anak ayah, kamu mirip banget sama ibu." aku tersenyum lalu memeluk ayah.


Ayah mengajakku untuk keluar ternyata Arkan sudah menunggu. Dia memakai pakaian yang selaras dengan berpaduan gaunku. Jas kotak-kotaknya sangat cocok ditubuhnya ditambah lagi Arkan memakai kacamata. Dan aku baru menyadari jika konsep kami ini klasik. Ayah memotret kami berdua. Rasanya seperti mimpi mengingat ini adalah pemotretan pertama kami. Saat hari pernikahan aku dan Arkan tidak melakukan pemotretan bahkan kami berdua sibuk melayani tamu masing-masing. Di sepanjang waktu hari penting itu, aku dan Arkan tidak berinteraksi sama sekali kecuali saat mengucapkan sumpah.

__ADS_1


Kami melakukan pemotretan cukup lama, apalagi mengganti pakaian sebanyak tiga kali. Ternyata begini saja rasanya cape. Saat sesi terakhir kami tutup dengan pemotretan bertiga. Ayah mengatur waktu di kamera, aku dan Arkan berdiri di sisi kanan dan kiri sementara ayah duduk dikursi tengah-tengah. Satu, dua, tiga sebuah kilatan keluar menandakan kami sudah dipotret. Ayah begitu semangat sekali, sesegera mungkin beliau melakukan pencetakan untuk foto terbaik kami.


Sementara itu, aku dan Arkan masuk kedalam kamar untuk mengganti pakaian.


Aku sibuk menghapus make up telihat di pantulan kaca jika Arkan tengah melihat-lihat pigura kecil yang menempel di dinding kamar.


"Ini, pasti ibu kamu." katanya.


"Hm~." gumamku sembari melangkah mendekat padanya.


"Sayang banget, ibu ga bisa foto sama kita." ucapku tersenyum getir. Arkan menoleh padaku lalu mengusap-usap rambutku.


"Kamu cantik banget." pujinya meraih pinggangku. Aku mendongak untuk menatapnya. "Kamu juga ganteng." kataku memuji balik.


Arkan tersenyum lalu memelukku lama sekali. Aku mengusap-usap punggungnya yang lebar, sesekali mencium aroma parfumnya. Perlahan aku bisa merasakan jika Arkan mengecup leherku. Aku menggeliat geli.


Aku bisa menghirup aroma pasta gigi dari mulutnya, apa dia sudah merencanakan ini dari awal?. Arkan membimbingku sampai ke ranjang, dia berada di atasku. Aku menarik dasi kupu-kupunya sehingga bibir kami bertemu.


Aku berharap hari ini waktu berjalan dengan sangat lambat. Aku ingin menghabiskan waktuku bersama Arkan. Aku tidak akan pernah lupa dengan sentuhannya, aku tidak akan pernah lupa dengan cara dia mengecupku. Aku akan terus mengingat kata-kata yang keluar dari mulutnya saat menyelesaikan masa puncaknya. "Aku mencintaimu." bisiknya di kupingku. Napas kami terengah-engah, aku menyentuh rambutnya lalu mengecup ubun-ubun Arkan. Kami sempat mengobrol sebelum akhirnya Arkan terlelap diatasku karena kelelahan.


~


Ekstra :


"Akhirnya bakal gendong cucu juga." Gumam Ayah Geya.


__ADS_1


(Kurang lebih seperti inilah pemotretan Geya dan Arkan. Dalam cerita foto ini akan di pajang di rumah dinas Arkan juga ruangan pribadinya.)


(Edit.)


__ADS_2