TIDAK DIINGINKAN

TIDAK DIINGINKAN
Chapter 8


__ADS_3

Ku parkirkan mobil dihalaman rumah.


"Lesu banget bro~ si Ipra masih nempel sama Geya?" tanya Lix.


Aku membuka jas dan kemeja lalu mengambil kaos dari bagasi. "Ipra mau ngelamar Geya." gumamku menutup bagasi lalu melempar kunci mobil pada Lix.


"Serius? terus sekarang lu mau kaya gimana?"


"Itu urusan mereka." mood ku berubah menjadi tidak baik. Beberapa hari yang lalu rasanya aku kembali mendapatkan sebuah kehidupan, namun hari ini semuanya menjadi sirna lagi.


Bodoh, seharusnya aku tidak perlu mengejar kembali Geya. Toh, dia sudah pasti tidak lagi mencintai aku. Aku melangkah gontai ketika menaiki tangga, apa tujuan kehidupanku selanjutnya. Geya sudah pasti menerima Ipra, secara tidak terlihat risih sama sekali dari wajahnya ketika Ipra menempel pada Geya.


Ku jatuhkan tubuh ke ranjang, aku rindu tidur didekap oleh Geya. Ku rogoh saku celana lalu mengeluarkan sebuah foto dari dompet.


"Bagaimana bisa aku melupakan wanita secantik dirimu."



Ku pandangi foto Geya saat tengah hamil, aku tak pernah mengelus-elus perut itu. Aku juga tidak pernah tahu Geya mengidam apa ketika Junior ingin. Aku tak pernah tahu jam-jam ketika Junior menendang-nendang perut ibunya, tidak pernah tahu rasanya dimarahi ibu-ibu hamil. Dan, aku tak pernah tahu tangisan bayi Junior seperti apa.


"Aku sangat menyedihkan." gumamku meringkuk sembari memeluk foto.


.


.


Aku tidak tahu aku sudah berapa lama tertidur, yang pasti langit diluar sana sudah gelap. Aku turun kebawah setelah membersihkan diri, mendapati papa dan mama yang sedang siap-siap makan malam. Setelah berpisah dengan Geya, aku tak lagi tinggal dirumahku. Disana terlalu banyak kenangan ku bersama dengan Geya. Cepat atau lambat aku harus bisa melupakannya.


"Kamu masih bekerja sebagai pengawal?" tanya mama.

__ADS_1


Aku mengangguk.


"Mama pikir ini keterlaluan Arkan, kamu rela berhenti menjadi seorang tentara hanya untuk wanita yang bahkan tidak mendukungmu ketika kamu kesulitan."


"Aku dipecat ma." kataku membenarkan.


"Iya, setelah papa mu meminta atasan untuk memecatmu."


"Lagi pula memang sudah seharusnya aku ini dipecat ma~. Aku tidak bisa terus -terusan bekerja sebagai tentara dengan cara menyogok."


Sedari kecil aku tidak pernah mau mengikuti jejak papa dan kakak yang menjadi seorang tentara. Cita-citaku adalah seorang petani ladang di desa, aku sudah terlalu muak hidup di kota ketika usia delapan tahun. Keluarga ku terlalu keras, mereka menuntut ku untuk belajar dan belajar. Sampai pada ketika aku masuk SMA, pergaulanku salah ketika jatuh cinta. Ipra selalu mengingatkan aku bahwasannya bermain malam itu tidak baik walaupun kami laki-laki.


Aku merokok ketika usia 17 tahun lalu papa mengetahui itu dan memukulku. Tak berhenti dari itu saat aku usia 19 tahun, aku membuat tato dilengan kiriku. Dan tentu saja itu juga ketahuan oleh papa, aku disiksa bahkan tak diberi makan semalaman. Papa kecewa padaku, dia marah sekali karena anak bungsunya tumbuh menjadi seorang berandalan. Sebenarnya semua anak papa dan mama itu nakal, hanya saja aku yang sudah keterlaluan. Menurutku kenakalan yang aku buat itu sangat menyenangkan, bolospun dan tak mau belajar tidak jadi masalah bagiku karena keluargaku kaya. Aku bisa menggunakan uang untuk menutup mulut semua orang.


Setelah itu aku selalu diawasi oleh beliau, karena kasih sayangnya yang sangat begitu terasa. Mau tak mau aku mengikuti keinginan papa menjadi seorang tentara, papa memberiku covering lotion, alhasil tato itu tidak pernah terlihat. Namun sikapku yang nakal dan terlalu bar-bar mengakibatkan aku sering dapat teguran saat akademi.


Aku kehilangan arah sampai pada ketika papa bilang akan menikahkan aku dengan seseorang. Papa membujukku keras-kerasan dan aku mau dengan satu syarat aku ingin berhenti menjadi seorang tentara. Papa menyetujui keinginanku, seiring berjalannya waktu aku bisa beradaptasi dengan baik sebagai prajurit ketika setelah menikah dengan Geya.


Aku tak tertarik sama sekali padanya saat itu, hanya saja karena dia sering menggerutu sendiri membuatku memperhatikannya. Aku sadar bahwa Geya cantik dan sikapnya itu seperti angin. Dia akan bersikap baik jika aku bersikap baik padanya, begitupun sebaliknya. Sampai aku tahu, bahwa Geya menyembuhkan sakit hatiku dengan cara menumbuhkan cinta baru untuk dirinya.


Geya adalah satu-satunya orang yang bisa menyadarkan aku untuk hidup bersyukur. Latar kehidupan Geya yang sulit membuatku malu, Geya tidak pernah mengeluh. Sementara aku banyak mengeluh dan menggunakan kehidupan kaya raya untuk bersenang-senang saja. Aku selalu tertampar dengan sikap-sikap sederhananya Geya.


Hingga akhirnya, aku jatuh lagi kedalam jurang cinta yang amat dalam dan Geya tetap saja meninggalkan aku sama seperti Alifa dulu.


Ponselku bergetar menyadarkan aku dari lamunan yang panjang. Itu adalah panggilan dari Joe.


Arkan Pov End.


"Dimana Arkan?" tanyaku pada pak Yu.

__ADS_1


"Dia bilang, dia akan sedikit terlambat."


Aku membuang napas perlahan, rasanya aku tidak aman jika tidak ada Arkan disisiku. Aku mencoba mengiriminya pesan namun Arkan tidak menjawabnya sama sekali. Bahkan setelah kami bertemu dirumah untuk latihan boxing, karena tanganku patah alhasil Arkan hanya memberikan materi untukku. Mendadak dia menjadi guru bela diri untukku.


Julian bilang setelah aku menjadi model sudah pasti akan banyak orang jahat yang menerror dan itu benar terjadi.


Arkan mengajarkanku dengan serius, tidak ada candaan yang keluar dari mulutnya itu.


"Jika suatu saat saya tidak ada, dan nona dalam keadaan sedang dikejar oleh orang jahat. Nona perlu memukulnya seperti ini, dengan tenaga yang kuat." aku mengangguk menatapnya, dan Arkan langsung mengalihkan pandangannya. Ini sudah yang ke empat kali dia menghindari tatapanku.


"Nona jangan takut karena badan nona kecil, yang terpenting tekhnik yang nona gunakan benar sehingga nona bisa mengalahkan orang-orang yang sekalipun badannya dua kali lipat dari nona." katanya lalu memukul samsak dengan sangat kencang bahkan membuatku terkejut. Seperti ada amarah dalam pukulannya itu. Arkan tidak berhenti memukul samsaknya, dia terus-terusan memukul. "Arkan." panggilku membuatnya tersadar. Napasnya tidak beraturan, tatapannya yang tadi menyeramkan perlahan kembali seperti biasa.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanyaku mendekatinya. Saat aku hendak menyentuh pundaknya, Arkan langsung menepis tanganku.


"Pikirkan saja dirimu sendiri, tidak perlu memikirkan orang lain." jawaban Arkan membuatku terkejut, sebenarnya dia ini kenapa. Mengapa mendadak marah-marah seperti itu.


Sikapnya berubah, Arkan tidak seperti Arkan yang aku kenal. Dia berubah menjadi dingin padaku, bahkan Arkan marah ketika aku mengajaknya bercanda.


"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Kamu mengambaikan aku dan bahkan sempat marah-marah tidak jelas. Apa aku membuat kesalahan?" tanyaku padanya. Arkan terdiam, dia tampak terkejut ketika aku bertanya begitu padanya.


"Aku hanya sedang banyak pikirin akhir-akhir ini." jawabnya lagi-lagi tidak menatap mataku.


"Apa sekarang kamu jijik untuk melihat aku?" volume bicaraku meningkat. Tidak ada jawaban sama sekali, hening untuk beberapa saat yang terdengar hanyalah suara ac.


"Aku hanya mencoba untuk menjauh darimu."


TBC......


Bagaimana, apa kalian terkejut dengan kehidupan Arkan? sepertinya tidak ya wkwkkw.....

__ADS_1


__ADS_2