TIDAK DIINGINKAN

TIDAK DIINGINKAN
V


__ADS_3

Ku tatap langit-langit atap, walky talky milik Prida berbunyi sedari tadi. Aku ingin sekali menegurnya tapi takut. Untuk malam pertama di mess aku tidak bisa tidur sama sekali, sementara Dinar dia sudah tidur sedari tadi selesai makan malam. Ku lirik jam tangan menunjukkan set 11 malam.


Perlahan aku turun dari ranjang karena takut membangunkan yang lain. "Mau kemana?" tanya Prida pelan.


"Keluar sebentar."


"Jangan lama-lama." katanya memperingati.


Aku berjalan menyurusi lorong, sesekali aku mendengar suara canda tawa dari salah satu kamar. Saat aku sampai di gerbang menuju keluar asrama, para penjaga sempat mengintograsi. Tetapi ada anak buah Arkan disana jadi mereka mengizinkan aku untuk keluar. Ternyata begini ya menjadi seorang istri yang suaminya berjabat tinggi.


Ku nikmati angin malam sembari jalan kesembarang arah. Ternyata sudah malam beginipun para peserta akademi masih harus dididik. Kasihan sekali mereka. Beberapa prajurit yang datang kepernikahanku memberiku salam. Tanpa kusadari aku sudah berada di perumahan tentara. Tersirat didalam benakku untuk mencari rumah dinas Arkan. Tetapi aku mengurungkan niatku, aku berjalan berbalik arah namun berbalik lagi alhasil aku benar-benar mencari rumah yang di tempati oleh Arkan.


Karena warnanya hampir sama yang beda hanya ukurannya saja jadi aku mencari yang mudah ku kenali yaitu mobil miliknya. Aku celingukkan kekanan dan kekiri, beberapa dari mereka memelihara peliharaan seperti kucing dan domba. Sampai akhirnya aku melihat civic type r milik Arkan. Dia jarang sekali mamakai mobil dinas, dan bahkan aku tidak pernah melihat seperti apa mobil dinas miliknya.


Tiba-tiba saja aku merasa percuma. Untuk apa aku datang kemari, untuk melihat Arkan dan Alifa?. Oh yang benar saja, itu kan hanya akan membuatku sakit hati. Aku berjalan untuk pulang tetapi seseorang memanggilku.


"Ipra." gumamku sembari membalas lambaian tangannya. Lelaki itu menutup pintu rumahnya lalu menghampiriku, ku akui Ipra ini tampan hanya sekedar memakai kaos dan celana boxer.


"Mau ketemu suaminya ya~" Dia menggodaku. Aku menggeleng malas.


"Kalo bukan berarti mau ketemu sama aku?"


"Ish apa sih, aku cuma lagi jalan-jalan aja, cari angin." Aku mulai kesal.


"Mau mampir? kita minum teh hangat biar ga keselek es batu. Aw~" ku pukul dadanya cukup keras.


"Nyebelin!" Ipra terkekeh pelan melihat wajah kesalku.


Aku dan Ipra menoleh bersamaan ke arah suara pintu yang terbuka. Rasanya aku tidak bisa menelan ludahku sendiri ketika aku melihat Arkan keluar bersama Alifa yang sedang menggandeng tangannya. Mereka berpakaian rapih seperti akan pergi menghadiri acara. Acara apa dijam hampir tengah malam seperti ini?.

__ADS_1


Aku tidak melihat raut wajah terkejut di wajah Arkan. Namun, Alifa dengan cepat melepas gandengannya. "Hey~ kita ketemu lagi." katanya memelukku. Aku masih terdiam tidak bereaksi apapun.


"Kamu, lagi apa disini?" tanya Arkan memasukkan tangan kanannya kesaku celana.


"Emm~ itu aku~ aku lagi mau berkunjung kerumah Letnan Ipra. Iya kan Letnan?" Aku melotot pada Ipra untuk mengiyakan yang aku katakan.


"Ah iya, kita mau bicarain soal konten." katanya dengan sangat alami.


"Ditengah malam kaya gini? Memangnya gaada waktu besok? Kamu itu perempuan, seharusnya diem di mess." Aku mengangkat alis terkejut, apa dia baru saja menegurku?. Lalu dia sendiri akan pergi bersama wanita lain dan bahkan aku memergokinya sendiri tapi dia tidak gelisah sama sekali. Ingin sekali aku menonjok mulutnya itu.


"Selesaiin dengan cepet, udah gitu balik ke mess. Ayo Al." Mereka masuk kedalam mobil lalu pergi.


Aku tertegun tidak mengerti, aku tidak mengerti dengan apa yang ada dipikiran Arkan. Sebenarnya aku yang plin-plan atau dia. Dia bersikap aneh seolah boleh tak boleh. Seolah perhantian tak perhatian. Dan wanita sialan itu, boleh kan aku mencabik-cabik wajahnya yang sok baik hati padaku. Jelas-jelas dia ingin merebut Arkan dariku. .Argh~. Tanpa aku sadari aku menarik rambutku.


"Hey~ kamu bisa botak." untung saja Ipra memperingati aku.


"Aku cuma merasa bingung, Arkan bisa menceraikan aku kan jika dia mau. Begitupun dengan Alifa, dia bisa menggugat suaminya. Untuk alasan, itu bisa di buat-buat kan. Setelah itu mereka bisa bersama." aku menghembuskan napas tenang.


"Bercerai itu ga mudah seperti yang kamu bayangin. Mungkin Arkan sempat lupain Alifa kalo Alifa ga pernah hubungin lagi Arkan."


"Kamu pasti tau banyak tentang Arkan sama Alifa."


Ipra mengangguk, ada asap keluar dari mulutnya. "Aku itu temen mereka berdua, awalnya Alifa itu suka sama aku tapi aku tolak dia, tiba-tiba aja besoknya Arkan pacaran sama Alifa. Mereka pacaran selama 7 tahun, sewaktu Arkan bilang ke orang tuanya mau menikahi Alifa, papanya Arkan ga setuju. Setelah itu mereka putus lalu satu minggu kemudian Alifa menikah sama salah satu dokter kenalanku."


"Tapi kenapa papanya Arkan ga setuju?"


"Itu karena papanya Alifa." Aku mengkerutkan kening. Ipra menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum melanjutkan ceritanya.


"Papanya Alifa itu dulunya seorang pejabat menteri yang melakukan korupsi terbesar. Papanya pernah masuk bui, walaupun semua anak-anaknya itu berpendidikan bagus tetapi latar belakang orang tua itu lebih penting. Karena kebanyakan orang pasti akan berpikir buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Karena itu papanya Arkan tidak setuju walaupun ibunya sangat-sangat setuju." Jelas Ipra. Ternyata karena hal itu mereka tidak bisa bersama.

__ADS_1


Aku dan Ipra menghentikan langkah kaki ketika sebuah mobil ambulan melewati kami. Ipra menghentikan salah satu mobil lalu bertanya ada apa. Salah satu prajurit mengatakan bahwa ada siswa akademi yang mengalami ciri-ciri sakit usus buntu.


"Kasihan sekali, padahal cuma tinggal dua minggu lagi dia selesai akademi dan bakal di lantik. Tapi udah harus kick."


Dua Minggu Kemudian.


Aku dan Dinar keluar dari mess lalu berjalan melewati para tentara yang sedang berolahraga. Mereka semua menatapi kami secara bergantian, aku yang tidak terbiasa menjadi risih sementara Dinar tetap berjalan dengan percaya diri.


Setelah kejadian tersebut kami berdua di panggil oleh Letnan Kolonel. Arkan menegur ku dan Dinar karena cara berpakaian kami menganggu konsentrasi para lelaki disini.


"Nona, anda boleh keluar sekarang." perintahnya pada Dinar. Sementara aku masih harus diam diruangan ini.


"Padahal aku cuma mengenakan trening dan kaos, yang berpakaian minim itu kan Dinar. Kenapa kamu juga negur aku."


"Mengganggu konsentrasi itu ga harus pakaian minim. Pakaian ketat kaya gini juga mengganggu." Arkan melotot padaku.


Aneh, aku jadi kesal ketika melihat wajahnya. Aku teringat ketika kita hampir melakukan malam pertama. Wajahnya yang mesum itu aku ingat, tetapi disini dia menunjukkan wajahnya yang tegas dan galak.


"Papa minta aku sama kamu buat foto terus di pajang di ruangan ini."


"Aku ga punya baju dinas dan sebagianya. Foto aja sama Alifa, kalian kan cocok." aku mendengus.


"Kamu cemburu?" tanyanya membuat kaget.


"Cemburu apaan, aku kan sama kamu ga pernah saling cinta." tiba-tiba saja aku teringat dengan segala kekesalanku dan sifat benciku pada Alifa. Aku tidak sadar jika selama ini aku sudah jatuh cinta pada Arkan. Saat aku ditinggalkan olehnya aku merasa tidak rela. Aku benar-benar jatuh cinta padanya.


"Syukurlah~ Aku tau kedekatan kamu sama Ipra, kamu bisa berhubungan dengan dia begitupun aku bisa berhubungan dengan Alifa."


"Anggap saja kita tidak pernah menikah~"

__ADS_1


__ADS_2