
"Aku mencintaimu Geya~." bisik Arkan sembari tak berhenti melakukan aktivitasnya.
Tubuh kami di guyur dengan keringat, suhu ruangan menjadi begitu panas sedari dua hari yang lalu. Aku terengah-engah karenanya, sesekali mengerang bahkan mencakar punggung Arkan.
Ku gigit bibir bawahku karena tak kuasa merasakan perasaan yang membuncah begitu hebat. Mataku dibuat peram-melek, kami bertatapan untuk beberapa waktu. Arkan masih belum selesai, sementara aku selalu sudah sampai duluan.
Arkan lebih mendekatkan tubuhnya, dia mengecup leherku dan sesekali menggigitnya. Ku remas seprai putih yang mungkin sudah kotor oleh keringat kami, Arkan selalu senang ketika mendengar aku mengerang.
Arkan mengecupi setiap tubuhku dengan napa yang sudah benar-benar tidak stabil.
Diruangan yang cukup luas, tidak ada yang bisa mengalahkan suara kami berdua. Bahkan desiran ombak diluar sanapun tidak terdengar, yang jelas kudengar adalah suara napas Arkan dan tepukan pramuka. Ketika Arkan sudah akan sampai, temponya akan semakin cepat membuatku semakin tak kuasa merasakannya. Dia menciumku, membungkam mulut ini agar tidak mengerang terlalu keras karena itu akan membuat Arkan tidak akan berhenti.
Untung saja hanya ada satu tempat singgah, dipantai ini. Napas Arkan tersenggal-senggal menerpa wajahku. Kami saling bertatapan lalu tertawa kecil bersama. Arkan kelelahan, dia membaringkan tubuhnya diatas tubuhku sampai terlelap. Sementara aku terdiam dengan pikiran-pikiran yang masih menyangka bahwa ini adalah mimpi. Sentuhan Arkan itu nyata namun jika sudah selesai rasanya seperti mimpi.
Kuusap-usap rambutnya yang basah karena keringat. Aku tidak pernah menyangka bahwa cerita kehidupanku akan begitu berwarna. Berawal tidak mencintai sampai akhirnya saling mencintai adalah hal ajaib yang diberikan Tuhan. Dua insan yang tidak pernah kenal sama sekali lalu dipaksa untuk bersama bukanlah sesuatu yang buruk juga, jika kita bisa saling menerima perlahan kita benar-benar akan menjadi pasangan yang bahagia.
Sebenarnya siklusnya sama saja, dari yang tidak kenal, menjadi kenal, saling mengetahui satu sama lain, nyaman, dan akhirnya mencintai.
Tuhan selalu memberi jalan untuk orang yang sudah berjodoh.
.
.
.
Beberapa tahun kemudian.
Arkan sudah menjadi bos besar, namanya di ketahui banyak orang. Aku tidak lagi bekerja menjadi seorang model, dan itu menggeparkan beberapa negara. Apalagi saham Julian turun dengan drastis setelah aku tidak bekerja dengannya.
Lalu bagaimana dengan Ipra? entahlah~ sampai saat ini aku belum mendengar kabarnya. Bahkan Arkan pun tidak tahu dimana Ipra, katanya lelaki itu pergi meninggalkan negaranya untuk melupakan aku. Meninggalkan pekerjaannya sampai dipecat agar bisa memulai perjalanan hidup yang baru.
Aku sudah begitu jahat pada Ipra, beruntungnya keluarga Ipra tidak membenciku. Mereka benar-benar bisa mengerti.
Lantas apa yang di lakukan Vino pada kedua istrinya? Kini dia hanya fokus pada Dinar, Vino menceraikan Lucy dan Lucy menjadi wanita karir. Dia menyerahkan hak asuh anaknya pada Vino, sehingga Dinar menjadi ibu sambung bagi anak dari suami dan istri pertamanya.
__ADS_1
Sementara aku, aku fokus mengelola kebun Arkan dan juga mengurus Junior. Dia tumbuh menjadi seorang anak lelaki yang pintar, sekarang usianya menginjak delapan tahun dan sebentar lagi dia akan mendapatkan seorang adik.
Ya~ aku sedang hamil lima bulan, hanya tinggal empat bulan lagi anak kedua kami melihat dunia. Kami sangat menanti jabang ini lahir, apalagi Junior yang sudah mendekor kamar untuk adiknya. Dia tidak tahan ingin bermain dengan adiknya yang masih didalam kandungan.
"Sayang~ kamu harus banyak istirahat. Sini biar aku aja." Arkan mengambil alih kardus yang hendak aku angkat.
"Arkan, dokter bilang aku ini tidak boleh malas bergerak." kataku mengelus-elus perut yang seperti balon.
"Tapi gak angkat barang berat juga, sayang~" katanya mengencupku lalu mulai mengajak bicara perutku.
"Anak papi gak boleh susahin mami ya. Kalau kamu susahin mami, papi gak akan anggap kamu, AW!" Arkan mengerang kesakitan, aku memukulnya karena dia sudah meracau yang aneh-aneh.
"Bisa-bisanya mau bicara kaya gitu." aku mulai marah padanya. Aku tidak suka jika Arkan berbicara begitu.
"Aku bercanda sayang, dasar ya ibu-ibu hamil itu sensitif banget. Apalagi kalau ditanya berat badan."
Aku semakin kesal dengan ocehan Arkan, ku lempar bantal sofa kearahnya. Dan Arkan hanya cengengesan senang karena aku berhasil tergoda amarah olehnya.
"Dasar suami gila!." umpatku menaiki tangga.
Ku nikmati angin yang berhembus, aku dapat melihat Junior tengah bermain dengan Nila. Aku selalu meminta Junior untuk menemani Nila bermain, karena aku dapat kabar jika orang tuanya bercerai dan mengharuskan Nila hanya tinggal bersama dengan ayahnya. Aku selalu mencoba menjadi sosok ibu untuk Nila, mungkin ketika usianya masih belia begini dia akan menerima aku namun ketika sudah besar dan mengerti sepertinya akan cukup sulit. Apalagi sebentar lagi aku akan melahirkan, maka dari itu aku selalu menyuruh Junior berteman dengan Nila.
"Nanti bisa masuk angin." Arkan memelukku dari belakang.
"Aku udah nemuin nama untuk anak kedua ini." katanya terdengar semangat.
Namun, aku sudah merasakan tidak akan ada yang beres dengan nama yang dibuat Arkan.
"Apa itu?"
"Juned."
Sontak aku langsung menoleh dan memukulnya. Aku marah namun ingin tertawa juga.
"Nama apa itu. Engga gak ada ya." aku berkata sembari tertawa.
__ADS_1
"Itu memudahkan kita memanggil kedua anak kita sayang. Tinggal panggil Jun aja, mereka berdua akan langsung nyamperin."
"Engga, Arkan. Gimana kalo ternyata bayinya perempuan? kamu masih mau namain Juned juga?"
Arkan berpikir lagi, lalu mengangguk-angguk.
"Bener juga. Dah lah~ itu bisa dipikirin lagi nanti. Sekarang~" tiba-tiba Arkan mendekat lalu berbisik. "Aku minta jatah dong~ dah lama nih."
Sontak aku melotot, aku tahu Arkan sedang bercanda tapi aku tak kuasa untuk tidak menanggapinya. "Gila kamu, hah? kenapa bikin aku jengkel terus sih, ih~" aku merengek kesal. Dan, lagi-lagi Arkan hanya tertawa.
Gelak tawa kami selalu berkumandang dirumah yang penuh teror ini. Aku benar-benar merasa sangat bahagia dan menjadi istri paling bahagia dimuka bumi ini.
"Aku tidak pernah bisa berhenti mencintaimu, setiap detik, menit, jam, hari dan seterusnya rasa sayang dan cintaku semakin besar untukmu dan juga Junior. Aku mencintaimu Geya." Arkan tersenyum padaku, begitupun dengan yang aku rasakan untuk Arkan suamiku. Perasaan kami sama-sama melimpah.
"Aku juga mencintaimu, Arkan."
Kami berciuman dengan latar senja yang begitu cantik.
Walaupun matahati tenggelam, perasaanku pada Arkan tak akan pernah tenggelam.
Tamat.
Kok Author sedih ya, cerita ini tamat 😭😭😭😭😭. Kaya yang ngerasain lika-liku mereka hwaaaaa 😭😭.
TERIMAKASIH BANYAK UNTUK PARA PEMBACA SETIA SEKUEL TIDAK DIINGINKAN+ DIINGINKAN YANG SUDAH SENANTIASA MENUNGGU AUTHOR UPDATE. AUTHOR MENYAYANGI KALIAN SEMUA❤❤❤😭.
Mohon maaf jika selama proses on going, author membuat kalian lama menunggu dengan updatetannya. Maaf sekali🙏❤.
Penuh sayang dari Author❤😭.
Juga cinta kasih dari Geya dan Arkan untuk para penggemarnya❤❤😭.
I Love You❤.
__ADS_1
Sampai jumpai di naskah 7 Years I love you.😉.